Share

Bab 5

Author: Lalapoo
last update publish date: 2025-09-29 13:32:16

Pagi itu udara masih segar, kabut tipis menggantung di pekarangan rumah Santoso. Burung gereja ribut di pohon mangga, menyambut datangnya hari baru. Risa turun lebih dulu, rambutnya masih acak, wajahnya polos setelah semalaman gelisah.

Ruang makan sudah penuh. Nyonya Santoso tersenyum hangat, bahkan Kakek Santoso yang jarang bicara mengangguk kecil. “Risa… kau pulang juga akhirnya,” suaranya berat tapi teduh. “Rumah ini selalu untukmu.”

Dadanya hangat. Risa menunduk, menahan air mata yang hampir pecah. Ia tak menyangka akan diterima dengan begitu mudah. “Terima kasih, Kek…”

Obrolan sarapan mengalir ringan. Tentang kuliah, kabar desa, juga rencana keluarga. Risa mencoba menjawab, meski kadang suaranya bergetar. Ia merasa seolah kembali jadi bagian dari keluarga—setidaknya di hadapan mereka.

Namun, di ujung meja, Dante hanya diam. Tangan besarnya menggenggam cangkir kopi, tapi matanya tak pernah lepas dari setiap detail tubuh Risa. Sejak tadi ia memperhatikan gerak kecil gadis itu—cara ia menunduk terlalu lama, cara senyumnya lebih mirip tameng daripada bahagia.

Dan sesuatu di dadanya terus mengusik.

Ketika sarapan selesai, semua beranjak. Kakek Santoso menepuk pundak Risa, penuh kasih. “Anggap saja kemarin tak pernah terjadi. Kau tetap cucu kami.”

Risa mengangguk, senyumnya tipis tapi tulus. Ia merasa diterima, tapi di balik itu tetap ada bayangan gelap yang tak ia bagi pada siapa pun.

Mereka keluar ke teras. Cahaya matahari menerobos, jatuh di wajah Risa. Saat ia mengangkat rambut ke belakang telinga, Dante terhenti. Pandangannya memaku pada kulit pucat di lengan—lebam samar kebiruan. Dan bukan hanya itu. Ketika Risa bergerak, kerah bajunya sedikit bergeser, memperlihatkan semburat ungu tipis di bawah tulang selangka, merambat ke leher.

Darah Dante mendidih. Rahangnya mengeras, napasnya berat. Itu bukan jatuh biasa. Itu jelas bekas tekanan.

“Siapa yang melakukan itu?” suaranya rendah, hampir seperti geraman.

Risa tersentak. Senyumnya buyar, berganti gugup. Ia buru-buru merapatkan kerah baju, menunduk. “Aku… gapapa, Om.”

Dante melangkah, jaraknya makin sempit. Tubuh Risa terdesak ke dinding kayu teras. Tangannya bergetar memegang ujung baju, matanya berusaha menghindar.

“Jangan bohong.” Nafasnya hangat di dekat wajah gadis itu, membuat bulu kuduk Risa berdiri.

“A-aku..” suaranya tercekat.

Tangannya terangkat, singgah sejenak di pipinya, menyingkirkan helaian rambut yang menempel. Sentuhan itu kecil, tapi cukup membuat udara di antara mereka berat, pekat.

Mata mereka bertemu. Dante bisa mendengar detak jantungnya sendiri, keras, liar. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Sekejap saja lagi, bibirnya bisa jatuh di atas bibir mungil itu.

Risa menahan napas, wajahnya memerah. Ia tak bergerak, tak menolak, tapi juga tak menerima. Hanya mata lebarnya yang bergetar, campuran takut dan sesuatu yang lebih dalam.

Dante hampir hilang kendali. Hanya tinggal satu tarikan nafas lagi.

Tapi suara engsel berderit memecah tegang. Pintu ruang makan terbuka. 

Seperti tersengat, gadis itu buru-buru menunduk dan menjauh, wajahnya merah padam. Ia berlari kecil masuk kembali, menyisakan udara yang masih pekat.

Dante tetap berdiri di teras, rahangnya mengeras, dadanya naik-turun. Matanya gelap, masih menatap pintu tempat Risa menghilang.

Sialan. Kenapa ini jadi begini?

Risaa berlari masuk ke kamarnya, menutup pintu, lalu bersandar lemah. Jantungnya berdetak kencang, sulit ia kendalikan. Tadi, ia hampir saja melakukan kesalahan besar.

Rasa lama yang sempat terkubur kembali muncul, melahap dirinya. Lelaki itu… bayangannya begitu jelas di pikirannya.

Risaa mendongak, menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Namun kenangan masa lalu terus datang, mengingatkan sesuatu yang tak pernah bisa ia hapus.

Dia… cinta pertamanya.

Bagi banyak orang, cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Namun Dante hanya ayah angkatnya,  dan cinta Risaa tidak semurni itu. Cintanya lebih dalam dan gelap. Apa yang barusan terjadi membuat bara di dalam dirinya semakin menyala.

Batinnya berperang, antara boleh atau tidak. Napasnya memburu, langkahnya terhuyung saat ia berlari ke arah jendela. Dari sana, ia masih bisa melihat Dante berdiri di teras, seolah menunggu.

“Apa dia tahu perasaanku?” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 162

    Pagi datang tanpa suara, menyusup pelan melalui celah tirai yang setengah terbuka. Cahaya matahari jatuh tipis di sudut ruangan, menyentuh lantai dan naik perlahan ke sisi ranjang tempat Risa terbaring.Tidak ada bunyi selain detak alat medis yang teratur dan napas yang terdengar pelan, seolah dunia sengaja berjalan lebih lambat di tempat itu.Kelopak mata Risa bergerak.Awalnya hanya sedikit, berat seperti tertahan sesuatu yang tidak terlihat. Lalu perlahan, sangat perlahan, matanya terbuka. Pandangannya buram, tidak fokus, hanya warna putih yang memenuhi penglihatannya. Ia mengedip sekali, dua kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya dan keadaan yang terasa asing.Beberapa detik berlalu sebelum semuanya mulai jelas.Langit-langit putih. Dinding ruangan. Aroma obat yang khas.Dan… seseorang di sampingnya.Risa mengalihkan pandangan ke arah itu.Dante duduk di sana.Tubuhnya sedikit membungkuk, seolah ia sudah terlalu lama berada di posisi itu tanpa benar-benar bergerak. Wajahnya

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 161

    Sunyi.Lorong itu terasa semakin dingin. Eden tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah lebih waspada, lebih serius.“Itu tidak mungkin,” katanya setelah beberapa detik. “Semua sudah kita—”“Dia tidak punya bukti,” potong Vivian cepat.Kali ini suaranya lebih tajam.“Tapi dia mulai menghubungkannya.” Ia memalingkan wajah, menatap ke ujung lorong yang kosong. “Dan itu cukup berbahaya.”Eden mengamati Vivian sejenak.Ia jarang melihat wanita itu dalam keadaan seperti ini gelisah, tapi bukan panik. Lebih seperti… seseorang yang mulai mempertimbangkan langkah berikutnya.“Apa yang akan Anda lakukan?” tanya Eden hati-hati.Vivian terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum ia tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak hangat dan tidak juga menenangkan.“Belum saatnya,” jawabnya pelan. Tatapannya kembali tajam, kali ini lebih dingin dari sebelumnya. “Selama dia belum punya bukti, dia tidak akan bergerak sembarangan.”Eden mengangguk kecil, meskipun ia tahu… itu buk

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 160

    Vivian masih berdiri di sana, tidak langsung beranjak meskipun kalimat Dante sudah cukup jelas untuk mengusirnya.Udara di dalam ruangan terasa berat, seolah setiap tarikan napas membawa sesuatu yang tidak terlihat namun menekan. Ia menatap Dante lama, dalam, seperti mencoba menemukan sisa dari pria yang dulu selalu memberinya ruang, meskipun hanya sebatas formalitas. Namun kali ini tidak ada celah. Tidak ada kompromi. Tidak ada perhatian yang tersisa untuknya.Dante bahkan tidak menoleh.Sejak tadi, pandangannya hanya tertuju pada Risa.Dan itu cukup untuk membuat Vivian mengerti… bahwa ia sudah benar-benar tersingkir.Perlahan, Vivian menundukkan wajah. Bibirnya sempat terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu membela diri, atau mungkin sekadar meminta untuk tidak diperlakukan seperti ini. Tapi pada akhirnya, tidak ada satu kata pun yang keluar.Ia tidak punya tempat lagi di ruangan itu.Dengan langkah pelan, ia berbalik.Suara sepatunya terdengar samar di lantai, teredam oleh sunyi

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 159

    Ruangan kembali sunyi dan beberapa detik berlalu sebelum Dante akhirnya berbalik.“Nenek,” panggilnya.Wanita tua itu mengangkat wajah.“Lebih baik Anda kembali ke rumah,” kata Dante pelan. “Bersama Diana.”Diana yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu sedikit terkejut, namun tetap menjaga ekspresinya.“Nanti aku di sini,” lanjut Dante. “Aku yang akan menunggu dia.”Nenek menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya mengangguk pelan.“Kalau begitu… jaga dia baik-baik,” ucapnya lirih.Dante tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap Risa wanita yang terbaring lemah di hadapannya,yang bahkan belum tahu bahwa saat ia membuka mata nanti, akan ada bagian dari dirinya yang telah hilang selamanya.Pintu ruang rawat itu menutup dengan bunyi pelan nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menandai bahwa ruangan itu kini benar-benar terpisah dari dunia luar.Langkah kaki nenek dan Diana perlahan menghilang di lorong, meninggalkan keheningan yang terasa semakin dalam.

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 158

    Tepat setelah kata-kata itu menggantung di udara, suara mekanis pelan terdengar dari pintu ruang operasi.Klik.Pintu itu terbuka perlahan.Seorang dokter keluar dengan langkah tenang namun cepat, masker masih menutupi setengah wajahnya, hanya menyisakan sorot mata yang serius dan lelah. Cahaya terang dari dalam ruangan menyelinap keluar sejenak sebelum pintu kembali menutup di belakangnya.Dante adalah orang pertama yang bergerak.Tanpa menunggu, tanpa ragu, ia melangkah lebar menghampiri dokter itu. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari, seolah satu detik saja terlalu lama untuk ditunggu.“Wali pasien atas nama Risa Santoso?” tanya dokter tersebut, suaranya profesional, datar, seperti yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat serupa.“Saya.”Jawaban itu keluar cepat, tegas dan tanpa jeda.Dokter itu mengangguk pelan, menatap Dante beberapa detik, seolah menyiapkan kalimat yang harus ia sampaikan.“Pasien sudah melewati masa kritisnya.”Kalimat itu terdengar jelas.Dan dalam s

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 157

    Lorong rumah sakit itu panjang… dan terasa terlalu sunyi.Lampu putih di langit-langit menyala dingin, memantulkan bayangan langkah kaki yang terburu-buru. Suara sepatu Dante menggema pelan saat ia berlari kecil, napasnya tak beraturan, jasnya bahkan belum sempat ia rapikan sejak keluar dari mobil.Di ujung lorong, lampu merah di atas ruang operasi masih menyala.Dan di sana Vivian duduk dengan tubuh gemetar, wajahnya pucat, tangannya saling menggenggam erat seolah menahan dirinya sendiri agar tidak runtuh.Begitu melihat Dante datang, Vivian langsung berdiri.“Dan—”Namun Dante sudah lebih dulu mendekat, langkahnya cepat, tatapannya tajam.“Sebenarnya bagaimana kamu menjaganya?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.Vivian terdiam sesaat, lalu menggeleng cepat, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Aku… aku benar-benar minta maaf,” ucapnya terbata. “Aku nggak tahu akan jadi seperti ini, Dante… aku—”“Lalu apa yang terjadi?” potong Dante, nadanya naik sedikit. “Bagaimana keadaannya w

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 148

    Bertahun-tahun yang lalu, Suara langkah siswa bersahutan, ruang kelas sudah mulai kosong.Ruby menutup bukunya dan memasukkannya ke tas, ketika suara Vivian terdengar dari belakang.“Kamu punya hubungan apa sama Tuan Muda Santoso?”Nada Vivian terdengar penasaran… tapi ada sesuatu di balik itu. Se

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 146

    Risa tengah duduk di depan cermin ketika Dante keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, menetes perlahan di tengkuknya.“Ada sesuatu?” tanya Risa, melihat tatapan Dante yang terasa berbeda.Dante mendekat sambil mengembuskan napas pelan. “Aku memang mau ngomong sesuatu.” Ia mengulurkan ta

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 145

    “Cilok? Apa itu?” Dante mengerutkan dahi, benar-benar bingung.“Hah?” Risa spontan memandangnya seolah baru mendengar hal paling mengejutkan di dunia.Dante menatapnya dengan wajah polos yang membuat Risa ingin menepuk dahinya sendiri.“Kamu nggak tahu cilok?” tanya Risa memastikan.Dante menggeleng

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 144

    Dante baru saja melangkah keluar mobil ketika ia melihat seseorang berdiri tepat di tengah jalan menuju gerbang rumah besar itu. Darma. Wajahnya tegang, seolah sejak tadi menunggu hanya untuk menghadang Dante.“Apa?” tanya Dante datar, terlalu lelah untuk pura-pura sopan.“Tuan Besar memintaku menj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status