Mag-log inMobil hitam berhenti di depan gerbang besar yang menjulang, dengan lambang keluarga Santoso terukir angkuh di atas pintu besi. Hawa dingin malam seakan tersapu oleh aura bangunan itu. Risa terdiam di kursi penumpang, jemarinya menggenggam ujung jaket yang dipinjamkan Dante.
“Turunlah,” suara Dante berat, singkat.
Risa menelan ludah. Begitu kaki mungilnya menyentuh bebatuan halus halaman depan, lampu-lampu otomatis menyala. Rumah besar itu tampak megah dan asing sekaligus menakutkan baginya. Sudah lebih dari dua tahun ia tidak menginjakkan kaki di sini, dan kini kembali dengan status berbeda—sebagai perempuan yang gagal mempertahankan rumah tangganya.
Pintu terbuka. Seorang pelayan paruh baya menunduk hormat pada Dante, lalu menoleh ke arah Risa dengan mata melebar. Ada raut terkejut, seolah melihat hantu. “Nona Risa…” suaranya tercekat.
Risa buru-buru menunduk, dadanya sesak. Ia ingin membaur, ingin tak terlihat.
Dante hanya memberi tatapan tegas. “Siapkan kamar tamu utama. Dan jangan biarkan siapa pun ganggu Risa malam ini.”
“Baik, Tuan.” Pelayan itu segera berlalu.
Risa melangkah pelan di belakang Dante. Karpet mewah di bawah kakinya tidak mampu menenangkan hatinya yang berdebar. Udara rumah ini masih sama—wangi kayu tua bercampur aroma bunga segar yang selalu ditaruh di vas besar. Tapi bagi Risa, wangi itu membawa terlalu banyak kenangan.
Di tangga besar, langkah Dante terhenti. Ia menoleh sekilas. “Kenapa gemetar?”
“A… aku tidak gemetar,” jawab Risa buru-buru, meski jelas tangannya masih bergetar saat memegang pegangan tas kecilnya.
Tatapan mata Dante menusuk, seakan menembus semua kebohongan. Ia menghela napas pendek, lalu menuntunnya naik ke lantai dua.
Kamar tamu utama terbuka. Risa masuk perlahan. Ruangan itu luas, dengan ranjang putih besar, tirai tebal, dan balkon menghadap halaman. Terlalu mewah untuknya. Ia menelan perasaan rendah diri yang mendadak muncul.
“Beristirahatlah,” kata Dante, menurunkan nada suaranya. “Kau sudah cukup menderita hari ini.”
Risa menunduk. “Om… aku—aku tidak seharusnya kembali. Rumah ini… bukan untukku lagi.”
Sejenak ruangan hening. Dante melangkah mendekat. Bayangan tubuhnya menutupi cahaya lampu, membuat Risa merasa semakin kecil.
“Kau putri keluarga Santoso. Dan rumah ini selalu untukmu,” ucapnya perlahan, tapi tegas.
Risa mengangkat kepala. Tatapan Dante membuat dadanya berdebar aneh. Ada sesuatu di balik sorot matanya—bukan hanya kasih seorang ayah, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, tak mampu ia definisikan.
Ia buru-buru berpaling, mencari pelarian. “Aku… mau mandi sebentar.”
Dante hanya mengangguk, lalu berbalik menuju pintu. “Baik. Ada pakaian bersih di lemari. Kalau kurang, katakan saja.”
Begitu pintu tertutup, Risa menghembuskan napas keras, punggungnya menempel di dinding. Jantungnya berdegup tak terkendali. Tatapan itu… tatapan yang membuatnya merasa dilindungi sekaligus terperangkap.
Air hangat mengalir dari pancuran, menyapu sisa dingin dan hujan. Risa menutup mata, membiarkan tubuhnya rileks. Namun, bayangan wajah Dante terus muncul—sorot matanya, suaranya yang berat, pelukannya yang hangat di rumah sakit tadi.
Ia menggigit bibir, kesal pada dirinya sendiri. Kenapa aku memikirkannya seperti ini? Dia ayah angkatku…
Ketika selesai mandi, ia melilitkan handuk, keluar perlahan. Udara kamar masih dingin. Ia berjalan ke lemari, mencari pakaian. Baru saja ia menarik sebuah gaun tidur putih tipis, pintu kamar berderit terbuka.
Risa tersentak.
Dante berdiri di ambang pintu. Pandangannya langsung tertumbuk pada sosok Risa dengan handuk yang menempel di tubuh, kulitnya masih basah berkilau karena sisa air. Seketika rahangnya mengeras, sorot matanya berubah rumit—antara terkejut, menahan sesuatu, dan marah pada dirinya sendiri.
“Om…!” Risa buru-buru menutupi dada dengan gaun di tangannya. Pipinya merona, tubuhnya kaku. “K… kenapa masuk tanpa mengetuk?”
Dante terdiam sejenak. Ia menoleh ke samping, berusaha menguasai diri. “Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Pakaian tambahan akan diantar sebentar lagi.”
Risa menunduk, wajahnya panas. Ia tahu Dante sedang berusaha keras menjaga batas, tapi udara di antara mereka kini terlalu tebal, penuh ketegangan.
“Maaf…” suara Dante serak. Ia menarik napas panjang, lalu mundur setapak. “Aku seharusnya mengetuk.”
Risa masih terpaku di tempat. Nafasnya naik-turun, tubuhnya masih terasa panas meski dingin malam merayap masuk lewat celah balkon. Dengan cepat ia mengenakan gaun tidur tipis itu, lalu melangkah ke arah ranjang.
Namun langkahnya goyah. Kakinya licin terkena sisa air yang menetes dari rambut.
“A—ahh!” serunya lirih.
Tubuhnya hampir terhempas ke lantai, tapi sepasang tangan kuat lebih dulu menangkapnya.
Risa terperanjat. Tubuhnya mendarat di dada bidang Dante. Saat itu juga, handuk yang melilit lehernya terlepas sebagian, melorot hingga bahunya terekspos. Kulitnya yang masih basah bersentuhan langsung dengan kemeja Dante yang dingin karena udara malam.
Jantungnya melonjak, darah berdesir liar.
“Risa…” suara Dante berat, nyaris berbisik di atas kepalanya. Nafasnya hangat, turun mengenai pelipisnya. “Kau bisa terluka.”
Risa buru-buru menegakkan tubuhnya, meraih handuk untuk menutupi dada yang sedikit terbuka. Wajahnya merah padam, bibirnya bergetar. “A—aku… aku baik-baik aja.”
Tapi Dante tidak segera melepas. Jemarinya masih menahan pinggang Risa, terlalu erat untuk disebut kebetulan. Tatapannya jatuh pada wajah pucatnya, lalu turun sesaat ke leher yang masih basah. Sorot matanya menggelap.
Risa menelan ludah, tubuhnya kaku. Ia tahu ia seharusnya mundur, tapi lututnya masih lemas.
Akhirnya Dante menarik napas panjang, melepaskannya dengan gerakan cepat, seolah sadar dirinya hampir melewati batas. Ia mundur setapak, rahangnya mengeras. “Hati-hati. Jangan gegabah.”
Pintu menutup kembali.
Risa berdiri terpaku, jantungnya berdentum keras di dada. Tangan kecilnya meremas kain gaun tidur itu, tubuhnya masih bergetar.
Ini… salah…
Pagi datang tanpa suara, menyusup pelan melalui celah tirai yang setengah terbuka. Cahaya matahari jatuh tipis di sudut ruangan, menyentuh lantai dan naik perlahan ke sisi ranjang tempat Risa terbaring.Tidak ada bunyi selain detak alat medis yang teratur dan napas yang terdengar pelan, seolah dunia sengaja berjalan lebih lambat di tempat itu.Kelopak mata Risa bergerak.Awalnya hanya sedikit, berat seperti tertahan sesuatu yang tidak terlihat. Lalu perlahan, sangat perlahan, matanya terbuka. Pandangannya buram, tidak fokus, hanya warna putih yang memenuhi penglihatannya. Ia mengedip sekali, dua kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya dan keadaan yang terasa asing.Beberapa detik berlalu sebelum semuanya mulai jelas.Langit-langit putih. Dinding ruangan. Aroma obat yang khas.Dan… seseorang di sampingnya.Risa mengalihkan pandangan ke arah itu.Dante duduk di sana.Tubuhnya sedikit membungkuk, seolah ia sudah terlalu lama berada di posisi itu tanpa benar-benar bergerak. Wajahnya
Sunyi.Lorong itu terasa semakin dingin. Eden tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah lebih waspada, lebih serius.“Itu tidak mungkin,” katanya setelah beberapa detik. “Semua sudah kita—”“Dia tidak punya bukti,” potong Vivian cepat.Kali ini suaranya lebih tajam.“Tapi dia mulai menghubungkannya.” Ia memalingkan wajah, menatap ke ujung lorong yang kosong. “Dan itu cukup berbahaya.”Eden mengamati Vivian sejenak.Ia jarang melihat wanita itu dalam keadaan seperti ini gelisah, tapi bukan panik. Lebih seperti… seseorang yang mulai mempertimbangkan langkah berikutnya.“Apa yang akan Anda lakukan?” tanya Eden hati-hati.Vivian terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum ia tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak hangat dan tidak juga menenangkan.“Belum saatnya,” jawabnya pelan. Tatapannya kembali tajam, kali ini lebih dingin dari sebelumnya. “Selama dia belum punya bukti, dia tidak akan bergerak sembarangan.”Eden mengangguk kecil, meskipun ia tahu… itu buk
Vivian masih berdiri di sana, tidak langsung beranjak meskipun kalimat Dante sudah cukup jelas untuk mengusirnya.Udara di dalam ruangan terasa berat, seolah setiap tarikan napas membawa sesuatu yang tidak terlihat namun menekan. Ia menatap Dante lama, dalam, seperti mencoba menemukan sisa dari pria yang dulu selalu memberinya ruang, meskipun hanya sebatas formalitas. Namun kali ini tidak ada celah. Tidak ada kompromi. Tidak ada perhatian yang tersisa untuknya.Dante bahkan tidak menoleh.Sejak tadi, pandangannya hanya tertuju pada Risa.Dan itu cukup untuk membuat Vivian mengerti… bahwa ia sudah benar-benar tersingkir.Perlahan, Vivian menundukkan wajah. Bibirnya sempat terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu membela diri, atau mungkin sekadar meminta untuk tidak diperlakukan seperti ini. Tapi pada akhirnya, tidak ada satu kata pun yang keluar.Ia tidak punya tempat lagi di ruangan itu.Dengan langkah pelan, ia berbalik.Suara sepatunya terdengar samar di lantai, teredam oleh sunyi
Ruangan kembali sunyi dan beberapa detik berlalu sebelum Dante akhirnya berbalik.“Nenek,” panggilnya.Wanita tua itu mengangkat wajah.“Lebih baik Anda kembali ke rumah,” kata Dante pelan. “Bersama Diana.”Diana yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu sedikit terkejut, namun tetap menjaga ekspresinya.“Nanti aku di sini,” lanjut Dante. “Aku yang akan menunggu dia.”Nenek menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya mengangguk pelan.“Kalau begitu… jaga dia baik-baik,” ucapnya lirih.Dante tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap Risa wanita yang terbaring lemah di hadapannya,yang bahkan belum tahu bahwa saat ia membuka mata nanti, akan ada bagian dari dirinya yang telah hilang selamanya.Pintu ruang rawat itu menutup dengan bunyi pelan nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menandai bahwa ruangan itu kini benar-benar terpisah dari dunia luar.Langkah kaki nenek dan Diana perlahan menghilang di lorong, meninggalkan keheningan yang terasa semakin dalam.
Tepat setelah kata-kata itu menggantung di udara, suara mekanis pelan terdengar dari pintu ruang operasi.Klik.Pintu itu terbuka perlahan.Seorang dokter keluar dengan langkah tenang namun cepat, masker masih menutupi setengah wajahnya, hanya menyisakan sorot mata yang serius dan lelah. Cahaya terang dari dalam ruangan menyelinap keluar sejenak sebelum pintu kembali menutup di belakangnya.Dante adalah orang pertama yang bergerak.Tanpa menunggu, tanpa ragu, ia melangkah lebar menghampiri dokter itu. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari, seolah satu detik saja terlalu lama untuk ditunggu.“Wali pasien atas nama Risa Santoso?” tanya dokter tersebut, suaranya profesional, datar, seperti yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat serupa.“Saya.”Jawaban itu keluar cepat, tegas dan tanpa jeda.Dokter itu mengangguk pelan, menatap Dante beberapa detik, seolah menyiapkan kalimat yang harus ia sampaikan.“Pasien sudah melewati masa kritisnya.”Kalimat itu terdengar jelas.Dan dalam s
Lorong rumah sakit itu panjang… dan terasa terlalu sunyi.Lampu putih di langit-langit menyala dingin, memantulkan bayangan langkah kaki yang terburu-buru. Suara sepatu Dante menggema pelan saat ia berlari kecil, napasnya tak beraturan, jasnya bahkan belum sempat ia rapikan sejak keluar dari mobil.Di ujung lorong, lampu merah di atas ruang operasi masih menyala.Dan di sana Vivian duduk dengan tubuh gemetar, wajahnya pucat, tangannya saling menggenggam erat seolah menahan dirinya sendiri agar tidak runtuh.Begitu melihat Dante datang, Vivian langsung berdiri.“Dan—”Namun Dante sudah lebih dulu mendekat, langkahnya cepat, tatapannya tajam.“Sebenarnya bagaimana kamu menjaganya?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.Vivian terdiam sesaat, lalu menggeleng cepat, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Aku… aku benar-benar minta maaf,” ucapnya terbata. “Aku nggak tahu akan jadi seperti ini, Dante… aku—”“Lalu apa yang terjadi?” potong Dante, nadanya naik sedikit. “Bagaimana keadaannya w
Pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya.Langit di luar jendela berwarna biru pucat, matahari naik perlahan seolah enggan terburu-buru. Cahaya lembutnya masuk melalui kaca besar ruang makan, jatuh di lantai marmer dan memantul ke meja panjang tempat Dante dan Risa duduk berhadapan.Meja itu sela
Dante pulang setelah menyelesaikan studi dan resmi menjadi pewaris keluarga Santoso. Langkahnya tergesa menuju rumah kecil di pinggir kota, rumah yang dulu ia berikan pada Erlang dan Ruby.Namun yang menyambutnya bukan suara tertawa Clarissa… bukan Ruby yang cerewet menyapanya lewat jendela…Yang a
Ruby menutup mata, air matanya jatuh ke pipi Clarissa.Jauh di negara lain, Dante berdiri di tengah lorong kampus yang dingin, tapi dadanya panas penuh kemarahan, bukan pada Ruby, bukan pada Clarissa… tapi pa
Rumah kecil di pinggir kota itu masih baru, catnya belum benar-benar kering, bau kayu dari rangka bangunan masih menusuk hidung. Rumah itu sederhana, tapi sangat aman. Dante yang membangunnya diam-diam, memastikan siapa pun musuh keluarga Santoso tak bisa menemukannya. Itulah rumah yang akan dihuni







