Partager

Perkenalan#1

Auteur: Na_Vya
last update Date de publication: 2025-07-23 12:08:48

Misya akui jika pemuda yang entah datangnya dari mana ini cukup mempunyai tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Tanpa sungkan meminta izin di hadapannya, lalu memperkenalkan diri.

"Glenn." Senyum Glenn begitu lebar saat menyodorkan tangan ke hadapan wanita cantik, yang tengah menatapnya penuh tanya. Pemuda itu sangat yakin jika dia tidak akan mendapat penolakan.

Sementara Misya semakin bingung sekaligus curiga. Dalam hati dia bertanya-tanya—sebenarnya apa motif pemuda itu.

'Ini anak emang ganteng, sih. Cukup berani juga.' Misya membatin sambil menelisik wajah Glenn yang terbilang ganteng.

Setelah cukup menimbang-nimbang, akhirnya Misya membalas uluran tangan Glenn. "Misya."

Senyum Glenn semakin lebar ketika target di hadapannya mau membalas uluran tangannya. "Namanya cantik," pujinya.

"Makasih." Misya menarik tangannya perlahan dari genggaman Glenn. Dia lantas sengaja mengalihkan pandangan ke arah lain agar pemuda yang baru saja memujinya 'cantik' itu tidak menyadari kalau saat ini dirinya sedang tersipu.

"Haish... Cuma gara-gara dipuji cantik, aku jadi ge-er gini, sih. Mana yang muji masih bocah. Misya, kamu kenapa jadi kayak anak ABG, sih? Inget, kamu ke sini cuma karena ada janji sama mami Kumala.'

Misya mengusap tengkuk, sambil mengedarkan pandangan, kalau-kalau mami Kumala datang. Niatnya datang ke sini memang untuk menemui mami Kumala, yang katanya ingin memperkenalkannya pada seseorang.

Solusi dari mami tempo hari memang terdengar gila. Namun, Misya yang sudah tidak memiliki cara lain akhirnya bersedia menerima solusi itu. Dia berharap, laki-laki yang akan menjadi suami pura-puranya bisa diajak bekerja sama.

"Nyari siapa?" tanya Glenn sebab Misya terlihat seperti sedang mencari keberadaan seseorang. Apa jangan-jangan, Misya memang sedang menunggu kedatangan seseorang? pikir Glenn, yang mulai merasa ketar-ketir.

"Aku lagi nungguin orang," sahut Misya.

Tuh, kaaaan....

Glenn menghela panjang, lalu menyondongkan badan. Dia asal menebak, "Pacar?"

Tebakan itu memaksa Misya untuk memandang Glenn. Sepasang matanya memicing sambil membatin, 'Ini anak kenapa kepo banget, sih? Untung ganteng, kalo enggak udah kuusir dari tadi.'

Tak kunjung dijawab, Glenn lantas menyimpulkan, "Berarti tebakanku bener. Kamu lagi nunggu pacar."

Misya tersenyum, lalu membantah, "Sayangnya, tebakanmu salah."

Andai benar pun, mana mungkin dia janjian dengan pacarnya di tempat berisik ini.

Rasanya seperti mendapat angin segar. Glenn kembali beringsut maju. "Oh, bukan pacar, ya? Kalo bukan pacar, terus siapa, dong?"

"Ada deh..." Misya menyesap minumannya yang masih tersisa. Kemudian, dia balik bertanya, "Kamu sendiri, ngapain?" Dia mengembalikan gelasnya.

"Aku?" Glenn menunjuk dirinya.

Misya mengangguk. "Hmm."

"Kalo aku, sih memang sering di sini."

"Sering? Berarti tiap hari ke sini? Emangnya gak ada tempat lain?"

"Ya ada, sih. Cuma kebetulan, tempat nyari duitnya di sini," kata Glenn, yang tak ragu membicarakan mengenai pekerjaannya.

"Kerja? Di sini? Kerja apa?" Kini, Misya yang terlihat penasaran dan antusias mendengar jawaban Glenn. Menurutnya, pemuda di hadapannya ini tidak gengsian.

Glenn menggaruk dagu, dan berkata, "Kalo aku kasih tau, kemungkinan kamu bakal kaget atau gak percaya."

"Kerjanya apa, sih? Bisa sampe bikin orang kaget." Misya sungguh penasaran—memikirkan pekerjaan Glenn di tempat ini. Sampai-sampai wanita itu menelisik wajah Glenn yang bila diperhatikan semakin memesona.

'Ck! Sadar Misya! Kamu gak boleh tertarik sama cowok ini. Inget! Kamu harus secepatnya cari calon suami.' Misya menggeleng cepat, mengenyahkan pikiran konyol dari kepala.

Melihat lawan bicaranya penasaran dan bertingkah lucu membuat Glenn tidak bisa menahan senyum. Baru kali ini dia berhadapan dengan wanita sepolos Misya.

Disela saling pandang, ponsel Glenn bergetar. Pemuda itu bergegas mengambilnya dari saku jaket. Sebuah pesan dari mami Kumala, yang menanyakan keberadaan Glenn.

Secepatnya Glenn membalas pesan dari mami Kumala. Setelah itu dia memasukkannya kembali.

Tak berselang lama, giliran ponsel Misya yang bergetar. Wanita cantik itu segera menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Pesan dari mami Kumala segera dia balas.

Glenn memerhatikan Misya yang sibuk berbalas pesan. Sejurus kemudian pandangannya beralih pada Dika dan Azka yang nampak penasaran di tempatnya. Glenn menyeringai lebar seraya mengacungkan jempol kanan. Azka dan Dika balas mengacungkan kedua jempol mereka.

Misya selesai berbalas pesan dengan mami Kumala, yang katanya sedang dalam perjalanan. Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar—tak sabar menunggu kedatangan mami Kumala dan pria yang akan diajak bekerja sama olehnya.

'Kira-kira orangnya gimana, ya? Aku takut kalo gak sesuai ekspektasi.' Misya bertanya-tanya dalam hati, dengan raut gelisah bukan main.

"Kenapa? Kok kayak gelisah gitu?" Glenn bertanya.

"Enggak pa-pa," jawab Misya, lalu menghabiskan sisa minumannya.

Melihat Misya kehabisan minumnya, Glenn berinisiatif menawarkan air mineral. "Mau kuambilin air mineral?"

"Boleh."

"Ok. Tunggu di sini. Aku ambilin." Glenn berdiri, lalu pergi ke tempat Azka.

Di saat menunggu Glenn kembali, ponsel Misya tiba-tiba berdering. "Papi?"

🌸🌸🌸

bersambung....

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Jerat Hasrat Berondong Kesayangan    Air mata penyesalan~

    "Wah, kenapa kamu repot-repot gini, Glenn." Pak Gunawan menyeru antara perasaan senang sekaligus merasa tidak enak, karena Glenn memberinya sepasang sepatu olahraga. Sepatu berwarna putih dari merk cukup terkenal dibeli oleh Glenn sesuai dengan hobi Pak Gunawan yang menyukai badminton. Harganya juga tidak terlalu mahal, tidak murah juga. Cukup pas untuk isi kantong pemuda itu. Glenn membelinya dengan uang tabungannya sendiri bukan uang bayaran dari Misya. "Om suka, gak?" tanya Glenn. "kalo gak ada Misya aku gak bakal tau ukuran sepatu Om." Sudut mata Glenn melirik Misya yang duduk di samping papinya, sedangkan wanita itu tersenyum tipis. "Suka-suka," seru Gunawan sambil mencoba sepasang sepatu barunya yang sangat pas dan nyaman. "Nyaman." Pak Gunawan berdiri, dan berjalan mondar-mandir. Papinya Misya terlihat antusias serta sangat menghargai pemberian Glenn. "Makasih, ya," ucapnya, lalu kembali duduk dan melepas sepatu bergantian. "Langsung om coba besok pagi buat joging." "

  • Jerat Hasrat Berondong Kesayangan    Perlakuan hangat~

    Hari ini rencananya, sepulang sekolah Rindu berniat membeli kado natal untuk ibu. Dia dan teman-teman dekatnya pun mampir ke Mall. Namun pada saat hendak memasuki Mall, gadis itu tidak sengaja melihat Glenn yang sedang bicara dengan seorang perempuan di parkiran. Lantaran penasaran, Rindu langsung menghampiri Glenn, dan bertanya. Glenn yang sudah terlanjur kepergok pastinya tidak bisa menghindar. Apalagi sang adik yang memergokinya. Pemuda itu lantas membawa Rindu ke foodcurt yang ada di dalam Mall. Ketiganya duduk di meja paling ujung. Glenn dan Misya duduk berdampingan, sedangkan Rindu duduk berhadapan dengan abangnya. Glenn memesan makanan dan minuman terlebih dahulu. Dan sambil menunggu pesanan datang, dia mungkin akan mulai memberi penjelasan. Tapi, bagaimana? Bagaimana caranya Glenn menjelaskan. Glenn menghela frustrasi. Memikirkannya saja membuat kepalanya berdenyut. Dari tempatnya duduk, sepasang mata Rindu menatap bergantian Glenn dan wanita yang belum pe

  • Jerat Hasrat Berondong Kesayangan    Gak sengaja ketemu~

    Sorenya setelah mengobrol dengan sang ibu di telepon, Glenn berniat ingin memberi hadiah natal untuk orang-orang terdekatnya. Natal tahun ini tentu berbeda dengan natal di tahun-tahun sebelumnya. Namun, meski jauh dari keluarga, Glenn tetap merasa bersyukur atas berkat dari Tuhan, yang telah mempertemukannya dengan Misya. Seorang wanita cantik berhati tulus dan sangat baik. Berhubung dia iseng kalau pergi sendirian ke pusat perbelanjaan, Glenn memutuskan untuk mengajak Misya. Dia juga kepikiran membelikan sesuatu untuk Pak Gunawan. Masa iya, Glenn tidak memberi kado apa-apa untuk sang mertua? Ya.. walau bisa dibilang, Pak Gunawan tidak memerlukan hal-hal demikian. Dari apartemen, Glenn yang sore itu berpenampilan santai langsung mendatangi Misya ke toko. Tanpa mengabari terlebih dahulu tentunya. Suasana toko masih agak ramai pengunjung. Dan kedatangan Glenn di sana pastinya menarik perhatian para kaum betina. Hampir seluruh mata tertuju pada pemuda yang mengenakan celana je

  • Jerat Hasrat Berondong Kesayangan    Rindu masakan ibu~

    Sebenarnya malam ini Glenn diminta untuk menginap lagi di rumah Gunawan. Namun, pemuda itu beralasan jika besok dia ada jadwal ke luar kota untuk pemotretan. Sedikit kecewa lantaran Gunawan masih ingin menghabiskan waktu bersama sang calon menantu. "Ya udah. Kita ketemu lusa, pas misa natal," kata Gunawan yang baru saja tiba di rumahnya. Glenn mengangguk. "Siap, Om." "Papi masuk dulu. Kalian pulangnya hati-hati." Gunawan memandang bergantian Misya dan Glenn sesaat, selanjutnya dia pun masuk. "Aku anter kamu pulang," ucap Glenn, pada Misya yang sudah berjalan lebih dulu menuju mobilnya sendiri, dan mengabaikannya. Pemuda itu menahan pergelangan tangan Misya saat hendak membuka pintu mobil. "Sya..." Misya menoleh, menatap Glenn agak tajam, dan menjawab, "Misya 'kan bawa mobil sendiri. Kamu gak liat?" Nada bicara wanita itu mungkin agak sedikit ketus, lantaran keputusan Glenn yang lagi-lagi tanpa sepengetahuannya. Glenn mengangguk. "Liat, kok." "Terus, ini apa? Kamu nahan tangan

  • Jerat Hasrat Berondong Kesayangan    Ada peluang~

    Misya nyaris mematung di kursinya, setelah mendengar pengakuan Glenn yang sangat-sangat jujur. Sebentar, ini Glenn beneran ungkapin perasaannya ke Misya 'kan? Atau ... Cuma mau bikin Misya ge-er? Sudut mata Misya bergerak, menghadap ke arah jendela lagi. Tetapi, detak jantungnya makin keras, dan mendadak dia kegerahan. Wanita itu memejam sambil membatin, 'Ya ampun Misya... Gak boleh ge-er. Gak boleh.' "Sya...." Glenn heran sebab Misya sama sekali tak bergeming seolah tidak menganggap kejujurannya barusan. "kamu... denger aku 'kan tadi?" Misya menelan ludah, dan hanya bergumam, "Hmm." Senyum Glenn terbit, tetapi sesaat kemudian senyum itu sirna saat dia bertanya, "Kamu... gak masalah kalo aku suka kamu?" Misya diam, tetapi ingatannya soal tanda lahir yang dimiliki Glenn tiba-tiba muncul di kepala. 'Apa bener kalo Glenn itu Leon? Tanda lahirnya sama.' Jika tanda lahir yang dimiliki Glenn memang mirip dengan tanda lahir yang dimiliki Leon, Misya rasa dia perlu menggali

  • Jerat Hasrat Berondong Kesayangan    Jujur~

    Beberapa saat yang lalu... Misya baru saja menyelesaikan catatan seperti biasa sebelum dia meninggalkan toko, saat bunyi ponsel mengalihkan perhatian. Dia meraih benda pipih yang tergeletak di samping laptop. Nama 'papi' tertera di layar. "Halo, Pi?" Misya menutup buku, dan beranjak dari duduknya. Menuju sofa, lalu menghempas tubuhnya di benda empuk itu. "Kamu masih di toko?" tanya Gunawan. "Iya, Pi. Baru beres nyatet buat bahan besok. Ada apa, Pi?" Ketika bertanya, nama 'Glenn' terlintas di pikiran wanita itu, membuat jantungnya tiba-tiba berdebar tidak jelas. "Kamu ke sini, ya. Ke kantor papi. Nemenin Glenn. Kasian dia, papi tinggal meeting." Tubuh Misya sontak menegak. "Glenn masih sama Papi?" Diliriknya sekilas jam di dinding. Pukul enam, hampir petang. "Iya. Kamu cepetan ke sini. Langsung ke ruangan biasanya. Dia nunggu di sana." Pak Gunawan menjelaskan panjang lebar. "Nanti habis selesai meeting, kita makan malem bareng." Misya bergegas berdiri, sambil meny

  • Jerat Hasrat Berondong Kesayangan    Dilema Glenn~

    🍁🍁🍁"Glenn, udah siang. Kamu gak kuliah?"Suara ketukan pintu diiringi dengan suara panggilan perempuan paruh baya dari luar kamar, membuat seorang pemuda yang sedang asyik terlelap sontak membuka mata, dan seketika menyahut, "Iya, Bu. Bentar lagi Glenn bangun." Sambil menyibak selimut, lalu men

  • Jerat Hasrat Berondong Kesayangan    Solusi dari mami~

    Sudah tiga hari sejak Misya menerjma kesepakatan dari ayahnya. Itu artinya, sudah berkurang pula batas waktu yang dia miliki untuk mencari seorang laki-laki yang bisa dijadikan suami. Misya hampir gila memikirkan cara agar dia bisa segera mendapatkan calon suami.Namun, bagaimana caranya?Misya yan

  • Jerat Hasrat Berondong Kesayangan    Syarat dari papi~

    Langkah Misya lebar-lebar menelusuri setiap lorong rumah sakit, yang cukup lengang. Mulutnya tak berhenti berdoa untuk keselamatan sang papi yang katanya jatuh pingsan di kantor.Langkah Misya baru berhenti, ketika tiba di depan pintu ruang VIP rumah sakit swasta itu. Debaran jantungnya masih berke

  • Jerat Hasrat Berondong Kesayangan    Dilabrak~

    "Dasar pelakor gak punya malu!" Hinaan itu meluncur dari mulut seorang perempuan beserta segelas air, yang dia siramkan ke wajah seorang perempuan lain yang duduk di hadapannya. Rautnya terlihat murka dan sangat marah, sebab dia pikir jika perempuan itu sudah merayu suaminya. Sementara Misya yang

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status