เข้าสู่ระบบPertanyaan mendesak yang dilontarkan Freya menggantung pekat di udara, menyisakan ketegangan baru yang amat intim.Axel tidak langsung menjawab.Pria itu justru melangkah makin dekat, menatap lekat wajah Freya dengan intensitas yang begitu membakar hingga membuat dada Freya berdebar tak menentu."Ketegangan bisnis dan perjanjian utang itu tidak ada hubungannya dengan keturunan kita kelak, Freya," ucap Axel dengan suara rendah nan berat, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya."Kita bisa melakukannya setiap hari agar rahimmu segera terisi benihku."Mendengar ucapan yang teramat gamblang itu, Freya seketika menelan ludahnya dengan susah payah.Rasa hangat menyergap wajahnya, disusul gelombang desakan emosi yang bercampur antara kepasrahan dan gairah yang membingungkan.Freya menatap Axel yang mulai memajukan tubuhnya seraya membuka kancing kemejanya satu per satu secara perlahan."Apakah... apakah itu artinya kau akan menyentuhku sekarang?" tanya Freya dengan nada suara yang terputu
Pasca-santap siang yang menguras emosi usai, rombongan keluarga besar Leonardo membagi aktivitas mereka di kediaman utama.Langkah kaki beraturan dari para pria terdengar menggema saat Ayah Juan, Verrel, dan Axel melangkah menyendiri menuju ruang kerja pribadi di lantai dua.Ruangan bernuansa kayu mahoni tebal itu seketika diisolasi untuk membahas urusan akuisisi bisnis serta strategi ekspansi perusahaan keluarga yang sempat tertunda.Di dalam ruang kerja yang tenang, Ayah Juan berjalan mendekati meja kerja utama, lalu memutar tubuhnya menatap Axel. Pria tua itu menyunggingkan senyum tipis yang amat jarang diperlihatkannya."Pengakuan Freya di meja makan tadi sangat mengesankan, Axel," buka Ayah Juan dengan suara berat nan mantap."Aku bangga melihat bagaimana kau membimbingnya. Rumah tanggamu tampak jauh lebih harmonis dari yang kubayangkan."Axel yang sedang berdiri merapikan kancing kemejanya hanya mengangguk kaku. "Freya tahu betul posisi dan tanggung jawabnya, Ayah."Ayah Juan me
Ketegangan membeku yang sempat menguasai ruang makan perlahan-lahan mencair seiring dengan respons yang diberikan oleh para sesepuh keluarga.Ayah Juan menyandarkan punggungnya di kursi kayu jati berukir mewah, menganggukkan kepala secara perlahan dengan raut wajah puas dan bangga atas ketegasan serta keanggunan yang ditunjukkan oleh menantunya."Pernyataan yang amat bermartabat, Freya," puji Ayah Juan dengan nada suara berat yang tak lagi kaku."Keluarga Leonardo memang membutuhkan sosok pendamping yang memiliki keteguhan hati serta keberanian untuk berdiri tegap di situasi sulit."Dada Freya bergetar pelan mendengar pengakuan tersebut. Rasa sesak yang sejak awal menghimpit ulu hatinya perlahan surut, berganti dengan helaan napas lega yang tertahan.Verrel menimpali dari sisinya dengan senyuman tipis yang hangat, menyilangkan kedua tangannya santai."Saya harus mengakui, kejujuran dan ketenanganmu dalam mempertahankan kehormatan rumah tangga di bawah tekanan interogasi tadi amat meng
Dampak dari pengakuan tulus Freya mengguncang bagian terdalam dari diri Axel.Pria yang biasanya selalu memegang kendali penuh atas emosi dan ekspresi wajahnya itu seketika terdiam seribu bahasa di tempatnya.Tatapan mata elang Axel mendadak membeku, tertuju amat tajam pada sosok Freya yang masih berdiri tegak dengan keanggunan kaku di sampingnya.Di balik topeng datarnya yang kian mengeras, benak Axel bergolak hebat, mencoba mencerna dan menguraikan barisan kalimat yang baru saja diucapkan oleh istrinya di hadapan seluruh klan Leonardo.Ketegangan internal yang membakar dada Axel berpusat pada benturan psikologis yang teramat rumit.Pria itu terjebak dalam dilema dan kebingungan mendalam: apakah jawaban luar biasa yang diberikan Freya hanyalah sebuah bentuk sandiwara yang dipersiapkan dengan sangat sempurna demi menjaga harga diri serta mematuhi perintahnya untuk tampil tanpa cela, ataukah kalimat-kalimat emosional itu sungguh-sungguh merupakan ungkapan hati nurani Freya yang jujur d
Freya memalingkan wajahnya sejenak, menatap lurus ke dalam manik mata elang milik Axel yang berdiri tepat di sampingnya.Dalam sepersekian detik keheningan yang menyiksa itu, Freya menyerap ketegangan suaminya.Ia merasakan bagaimana cengkeraman jemari kekar Axel di pinggangnya kian mengerat, sebuah pijatan intim yang seolah menyalurkan seluruh sisa daya untuk menopang tubuhnya.Freya mengumpulkan seluruh sisa keberanian di dalam dadanya sebelum akhirnya memutar tubuhnya kembali menghadap Ibu Manda secara utuh.Dengan dagu terangkat dan suara yang tetap tenang namun bergetar penuh penghayatan mendalam, Freya mematahkan kecurigaan Ibu Manda secara tegas dan gamblang.Topik pembicaraan malam itu sepenuhnya berfokus pada pembelaan emosional Freya atas kehormatan pernikahannya yang selama ini dipertanyakan."Jika Ibu menduga bahwa pernikahan ini hanyalah sekadar transaksi dingin, kesepakatan bisnis, atau perjanjian di atas kertas formalitas belaka..." buka Freya dengan nada suara yang ter
"Cukup, Ibu! Pertanyaan Ibu benar-benar sudah sangat melintasi batas kesopanan!" tegur Evelyn tajam seraya menatap dengan penuh amarah saat menatap Manda."Freya adalah Nyonya rumah di sini. Dia sudah menyambut kita semua dengan sangat baik sejak kita menginjakkan kaki di vila ini. Tidak sepantasnya Ibu mempermalukannya seperti ini di meja makan, apalagi tidak menghargai keputusan Axel dalam memilih pasangan hidupnya!"Manda memiringkan kepalanya sedikit, menatap putri kandungnya dengan raut wajah tak percaya sekaligus tersinggung.Perdebatan kecil seketika meletus di meja makan saat kedua wanita berdarah bangsawan itu saling melempar argumen yang kian memanas mengenai batasan privasi anak dan hak orang tua untuk tahu."Jangan mengguruiku, Evelyn!" balas Manda dengan intonasi yang tak kalah tinggi dan sengit."Aku adalah ibunya! Sebagai seorang ibu, aku berhak tahu apakah putraku menikah dengan wanita yang benar-benar mencintainya atau hanya dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Ka







