LOGINKetegangan membeku yang sempat menguasai ruang makan perlahan-lahan mencair seiring dengan respons yang diberikan oleh para sesepuh keluarga.Ayah Juan menyandarkan punggungnya di kursi kayu jati berukir mewah, menganggukkan kepala secara perlahan dengan raut wajah puas dan bangga atas ketegasan serta keanggunan yang ditunjukkan oleh menantunya."Pernyataan yang amat bermartabat, Freya," puji Ayah Juan dengan nada suara berat yang tak lagi kaku."Keluarga Leonardo memang membutuhkan sosok pendamping yang memiliki keteguhan hati serta keberanian untuk berdiri tegap di situasi sulit."Dada Freya bergetar pelan mendengar pengakuan tersebut. Rasa sesak yang sejak awal menghimpit ulu hatinya perlahan surut, berganti dengan helaan napas lega yang tertahan.Verrel menimpali dari sisinya dengan senyuman tipis yang hangat, menyilangkan kedua tangannya santai."Saya harus mengakui, kejujuran dan ketenanganmu dalam mempertahankan kehormatan rumah tangga di bawah tekanan interogasi tadi amat meng
Dampak dari pengakuan tulus Freya mengguncang bagian terdalam dari diri Axel.Pria yang biasanya selalu memegang kendali penuh atas emosi dan ekspresi wajahnya itu seketika terdiam seribu bahasa di tempatnya.Tatapan mata elang Axel mendadak membeku, tertuju amat tajam pada sosok Freya yang masih berdiri tegak dengan keanggunan kaku di sampingnya.Di balik topeng datarnya yang kian mengeras, benak Axel bergolak hebat, mencoba mencerna dan menguraikan barisan kalimat yang baru saja diucapkan oleh istrinya di hadapan seluruh klan Leonardo.Ketegangan internal yang membakar dada Axel berpusat pada benturan psikologis yang teramat rumit.Pria itu terjebak dalam dilema dan kebingungan mendalam: apakah jawaban luar biasa yang diberikan Freya hanyalah sebuah bentuk sandiwara yang dipersiapkan dengan sangat sempurna demi menjaga harga diri serta mematuhi perintahnya untuk tampil tanpa cela, ataukah kalimat-kalimat emosional itu sungguh-sungguh merupakan ungkapan hati nurani Freya yang jujur d
Freya memalingkan wajahnya sejenak, menatap lurus ke dalam manik mata elang milik Axel yang berdiri tepat di sampingnya.Dalam sepersekian detik keheningan yang menyiksa itu, Freya menyerap ketegangan suaminya.Ia merasakan bagaimana cengkeraman jemari kekar Axel di pinggangnya kian mengerat, sebuah pijatan intim yang seolah menyalurkan seluruh sisa daya untuk menopang tubuhnya.Freya mengumpulkan seluruh sisa keberanian di dalam dadanya sebelum akhirnya memutar tubuhnya kembali menghadap Ibu Manda secara utuh.Dengan dagu terangkat dan suara yang tetap tenang namun bergetar penuh penghayatan mendalam, Freya mematahkan kecurigaan Ibu Manda secara tegas dan gamblang.Topik pembicaraan malam itu sepenuhnya berfokus pada pembelaan emosional Freya atas kehormatan pernikahannya yang selama ini dipertanyakan."Jika Ibu menduga bahwa pernikahan ini hanyalah sekadar transaksi dingin, kesepakatan bisnis, atau perjanjian di atas kertas formalitas belaka..." buka Freya dengan nada suara yang ter
"Cukup, Ibu! Pertanyaan Ibu benar-benar sudah sangat melintasi batas kesopanan!" tegur Evelyn tajam seraya menatap dengan penuh amarah saat menatap Manda."Freya adalah Nyonya rumah di sini. Dia sudah menyambut kita semua dengan sangat baik sejak kita menginjakkan kaki di vila ini. Tidak sepantasnya Ibu mempermalukannya seperti ini di meja makan, apalagi tidak menghargai keputusan Axel dalam memilih pasangan hidupnya!"Manda memiringkan kepalanya sedikit, menatap putri kandungnya dengan raut wajah tak percaya sekaligus tersinggung.Perdebatan kecil seketika meletus di meja makan saat kedua wanita berdarah bangsawan itu saling melempar argumen yang kian memanas mengenai batasan privasi anak dan hak orang tua untuk tahu."Jangan mengguruiku, Evelyn!" balas Manda dengan intonasi yang tak kalah tinggi dan sengit."Aku adalah ibunya! Sebagai seorang ibu, aku berhak tahu apakah putraku menikah dengan wanita yang benar-benar mencintainya atau hanya dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Ka
Sajian hidangan utama berupa potong daging wagyu dengan saus truffle mulai dinikmati di atas meja mahoni, namun tekanan psikologis di ruangan itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.Keheningan yang menyelimuti hanya dihiasi oleh denting halus pisau dan garpu perak di atas porselen mahal.Helena, dengan sudut pandang medisnya yang amat analitis dan dingin, memperhatikan setiap gerak-gerik serta ketegangan terselubung di antara Axel dan Freya dari seberang meja sebelum akhirnya ikut angkat bicara."Freya," panggil Helena dengan nada suara datar, menusuk keheningan tanpa basa-basi."Sebagai seorang dokter, aku bisa melihat tingkat stres yang sangat tinggi pada garis wajah Axel.“Bisnis Holding Leonardo menuntut stamina fisik dan kestabilan emosi yang ekstrem. Apakah kau sudah benar-benar siap secara fisik dan mental untuk mendampinginya setiap hari?"Freya meletakkan pisaunya perlahan, meremas serbet linen di pangkuannya dengan jemari dingin."Saya selalu berusaha memberika
Suasana ruang makan utama kediaman Leonardo malam itu terasa teramat megah sekaligus mencekam.Pelayan berseragam rapi melangkah tanpa suara, menyajikan hidangan pembuka berupa appetizer laut berkelas tinggi.Namun, suasana hangat yang sempat diimpikan Freya seketika menguap, berganti menjadi arena wawancara terselubung yang amat menegangkan.Manda, yang duduk di sisi kiri meja dengan gaun mewahnya, mengamati Freya yang duduk tepat di samping Axel.Dengan kepribadiannya yang cerewet dan selalu ingin mendominasi setiap pembicaraan, Manda membuka diskusi seraya mengibaskan serbet linen di pangkuannya."Harus kuakui, perubahan penampilanmu malam ini sangat mencolok, Freya," buka Manda dengan suara nyaring yang seketika menarik perhatian seluruh meja.Matanya menyapu wajah dan postur tubuh Freya secara terang-terangan. "Kulit wajahmu tampak jauh lebih segar, bercahaya, dan berkelas. Garis bahumu juga lebih tegap dari terakhir kali aku lihat saat Axel mengirimkan fotomu padaku."Freya ters







