เข้าสู่ระบบSajian hidangan utama berupa potong daging wagyu dengan saus truffle mulai dinikmati di atas meja mahoni, namun tekanan psikologis di ruangan itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.Keheningan yang menyelimuti hanya dihiasi oleh denting halus pisau dan garpu perak di atas porselen mahal.Helena, dengan sudut pandang medisnya yang amat analitis dan dingin, memperhatikan setiap gerak-gerik serta ketegangan terselubung di antara Axel dan Freya dari seberang meja sebelum akhirnya ikut angkat bicara."Freya," panggil Helena dengan nada suara datar, menusuk keheningan tanpa basa-basi."Sebagai seorang dokter, aku bisa melihat tingkat stres yang sangat tinggi pada garis wajah Axel.“Bisnis Holding Leonardo menuntut stamina fisik dan kestabilan emosi yang ekstrem. Apakah kau sudah benar-benar siap secara fisik dan mental untuk mendampinginya setiap hari?"Freya meletakkan pisaunya perlahan, meremas serbet linen di pangkuannya dengan jemari dingin."Saya selalu berusaha memberika
Suasana ruang makan utama kediaman Leonardo malam itu terasa teramat megah sekaligus mencekam.Pelayan berseragam rapi melangkah tanpa suara, menyajikan hidangan pembuka berupa appetizer laut berkelas tinggi.Namun, suasana hangat yang sempat diimpikan Freya seketika menguap, berganti menjadi arena wawancara terselubung yang amat menegangkan.Manda, yang duduk di sisi kiri meja dengan gaun mewahnya, mengamati Freya yang duduk tepat di samping Axel.Dengan kepribadiannya yang cerewet dan selalu ingin mendominasi setiap pembicaraan, Manda membuka diskusi seraya mengibaskan serbet linen di pangkuannya."Harus kuakui, perubahan penampilanmu malam ini sangat mencolok, Freya," buka Manda dengan suara nyaring yang seketika menarik perhatian seluruh meja.Matanya menyapu wajah dan postur tubuh Freya secara terang-terangan. "Kulit wajahmu tampak jauh lebih segar, bercahaya, dan berkelas. Garis bahumu juga lebih tegap dari terakhir kali aku lihat saat Axel mengirimkan fotomu padaku."Freya ters
Deru mesin dari deretan mobil mewah yang berhenti berturutan di area carport utama menandai dimulainya badai bagi ketenangan Freya.Pintu jati berukuran raksasa di foyer depan terbuka lebar oleh para pelayan, menyambut kedatangan rombongan inti keluarga besar Leonardo yang melangkah masuk satu per satu.Aura kemewahan yang menyengat serta dominasi yang amat pekat seketika menyapu bersih ketenangan di dalam rumah.Juan memimpin di barisan paling depan, melangkah tegap dengan ekspresi kaku nan berwibawa khas seorang patriarch klan besar.Tepat di sampingnya, Manda tampil flamboyan dengan gaun sutra berkilau dan deretan perhiasan berlian yang memantulkan pendar dingin.Di belakang mereka, Helena didampingi suaminya, Verrel, yang bersikap tenang namun mengamati situasi dengan cermat.Sementara itu, Evelyn melangkah paling akhir, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kode dukungan secara tersembunyi ke arah Freya."Selamat datang kembali di rumah, Ayah, Ibu," sapa Axel dengan suara b
Kedatangan keluarga besar Leonardo disambut oleh pendar cahaya matahari yang dingin di balik tirai kaca kamar utama.Freya berdiri membisu di depan cermin besar berbingkai ukiran emas, mengenakan gaun formal berwarna pastel yang dirancang sangat anggun.Kain gaun berkualitas tinggi itu membalut tubuhnya dengan indah, namun bagi Freya, pakaian tersebut terasa amat berat, bagaikan baju zirah kaku yang siap menahannya di tengah medan pertempuran sosialita.Dada Freya berdegup kencang secara tak teratur, meresapi rasa panik yang merayap cepat dari telapak kakinya yang dingin hingga ke ulu hati.Bayangan ancaman Manda melalui sambungan telepon beberapa hari lalu terus berulang di dalam benaknya, memperjelas bahwa hari ini adalah hari penghakiman atas kepantasannya sebagai istri putra mahkota keluarga Leonardo.Langkah kaki yang berat dan teratur memecah keheningan kamar. Axel melangkah mendekat dari arah belakang, bayangan tubuhnya yang tegap dan dominan memenuhi pendar cermin di hadapan F
Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra kamar tidur utama, memantul di atas cermin tinggi berukir emas tempat Axel berdiri merapikan kemejanya.Kehangatan dan intensitas yang tercipta di atas ranjang semalam tidak serta-merta melenyapkan rasa penasaran dan ganjalan yang mengendap di dalam dada Freya.Luka atas pembatasan ruang gerak dan perlakuan Axel terhadap Thomas masih tertanam utuh, menuntut kejelasan yang jujur dari bibir suaminya.Freya bangkit dari tepi tempat tidur, merapikan gaun terusan sederhananya seraya mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki.Langkah kakinya perlahan mengikis jarak, berhenti beberapa tapak di belakang tubuh tegap Axel yang sibuk memasang jam tangan kemewahannya."Axel..." sapa Freya pelan, suaranya bergetar halus namun sebisa mungkin diusahakan tenang dan sarat penuntutan.Axel tidak memutar tubuhnya, hanya melirik singkat pantulan bayangan Freya di cermin. "Ada apa, Freya? Kita harus segera turun untuk memeriksa sisa persiapan."Freya menel
Malam makin melarut di kediaman utama Leonardo, namun atmosfer di dalam kamar tidur utama terasa kian pekat oleh ketegangan tersembunyi.Sinar rembulan yang menembus jendela kaca raksasa hanya mampu menyinari keheningan yang kaku.Axel, yang berdiri di tepi jendela seraya menyesap wiskinya, menyadari sepenuhnya sikap dingin dan kebisuan Freya.Sejak insiden di dapur dengan Thomas, istrinya itu secara sengaja menarik diri, membangun dinding pertahanan yang begitu tebal dan tak tersentuh.Axel meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan denting halus. Pandangan mata elangnya mengunci sosok Freya yang sedang duduk mematung di tepi peraduan.Wanita itu hanya mengenakan gaun tidur sutra tipis, memandangi jemarinya yang saling bertaut kencang di atas pangkuan.Rasa bersalah, cemburu yang masih tersisa, dan dorongan protektif yang besar bergolak sengit di dalam dada Axel. Pria itu tidak bisa lagi menahan jarak emosional yang menyiksa ini.Dengan langkah perlahan namun mantap, Axel mengik







