MasukSetelah beberapa puluh chapter manis-manis, nextnya akan masuk ke konflik besar. Selamat membaca para kakak readers kesayangan^^
Tangan besar Kyrran menangkup wajah Andrea dengan lembut. "Sayang… kamu kenapa?"Tentu Kyrran bingung kenapa tiba-tiba Andrea menangis. Siang tadi mereka masih bertukar pesan dengan mesra.Andrea kemudian membenamkan wajah di dada bidang Kyrran dan melingkarkan lengannya erat di punggung cowok itu."Maaf, Kyrran… Maafin aku…" ucap Andrea terisak.Kyrran bela memeluk Andrea, satu tangannya mengelus kepala Andrea. "Ada apa, Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba jadi begini?""Kamu ketahuan kakek kamu kalau sekolah di sini?" tanya Kyrran lembut.Andrea menggeleng di dada bidang Kyrran yang kini basah oleh air matanya."Maaf karena gak tau apa-apa…" Andrea terisak lagi. "Maaf karena pernah tanya cita-cita kamu apa… maaf karena menuntut kamu untuk menyampaikan hal yang sulit kamu ungkapkan. Maaf… Maaf…" Andrea tersedu-sedu.Kyrran awalnya bingung dengan ucapan Andrea, namun saat gadis itu menyinggung soal cita-cita, Kyrran l
"Eutanasia…?" lirih Andrea.Awalnya ia mengira dirinya salah dengar dan salah menangkap maksud kalimat yang baru saja disampaikan Darell.Tetapi Darell benar-benar mengatakan kalau Kyrran sempat ingin melakukan eutanasia. Cowok yang dicintainya itu pernah sampai pada titik di mana ia ingin mengakhiri semuanya.Dada gadis itu langsung terasa sesak. Seolah ada tali tak terlihat yang mengikat jantungnya erat-erat.Kali ini ia mengerti kenapa saat awal mereka terlibat satu sama lain, Kyrran selalu mengatakan untuk tidak jatuh cinta dengannya. Ia juga sudah tahu makna dari kata-kata Kyrran saat mengatakan kalau cowok itu punya rahasia lain.Kyrran tahu umurnya tidak bertahan lama.Sementara itu Darell melanjutkan. "Aku juga gak tahu soal itu, Andrea. Sampai ketika Kyrran masuk rumah sakit waktu duel tinju dengan Maxwell, aku curiga ada yang tidak beres karena Kyrran ditangani serius waktu itu. Aku minta dokter Armand untuk jujur. Setelah itu aku ke kamarnya di asrama dan menemukan dokumen
"Ya, you must be proud, Andrea," kata Regina, tersenyum lembut. Andrea ikut mengulas senyum. "Pacar aku juga salah satu korban penculikan anak itu, Kak. Mungkin Kakak kenal." "Sangat banyak anak yang diculik waktu itu, Andrea dan hanya sedikit dari kami yang saling mengenal, karena beberapa ada yang dikurung dan gak selamat." "Begitu ya, Kak." Regina menyesap minumannya, kemudian menatap Andrea penasaran. "Hm, tapi pacar kamu siapa, Andrea?" "Namanya Kyrran, Kak," jawab Andrea, lalu meraih gelasnya dan menghisap sedotan minumannya. Mendengar nama itu, Regina membeku, pegangan di cangkir putihnya mengendur lalu perlahan-lahan ia turunkan. "Bisa saya lihat fotonya?" tanya Regina. Andrea mengulum bibirnya sekilas, lalu mengangguk sambil mengeluarkan ponselnya dari tas dan berkutat sejenak dengan benda pipih itu. Setelah menemukan foto Kyrran, Andrea mendorong ponselnya ke depan Regina. "Itu, Kak, foto pacar saya." Melihat foto di layar ponsel Andrea membuat Regina terbelalak tip
[Apa benar kamu putri dari Anastasia Shimano dan Ryuji Shimano?]Andrea menghela napas sebelum mengetik jawaban.[Ya. Saya putri mereka. Anda siapa?]Gadis itu melipat dan menggigit bibirnya bergantian sembari menunggu jawaban orang misterius itu.Sekitar lima menit kemudian, nomor tak dikenal itu memanggil. Andrea sempat ragu untuk menerimanya. Tapi karena menyangkut kedua orang tuanya, Andraea akhirnya mengusap ikon hijau untuk mengangkat telepon tersebut."Halo, Andrea." Suara lembut wanita di seberang sana menyapa Andrea.Gadis itu berkedip pelan. Bahkan orang itu tahu nama Andrea."Halo, ini dengan siapa ya sebenarnya?" tanya Andrea waspada."Terima kasih sebelumnya sudah mau membalas pesan dan mengangkat telepon saya. Maaf tidak memperkenalkan diri terlebih dulu."Wanita itu berdeham sebelum melanjutkan. "Nama saya Regina, saya adalah salah satu korban penculikan yang pernah diselamatkan orang tua
"Harusnya aku yang bertanya… kamu kenapa?" tutur Andrea, tatapannya terkunci serius pada iris hitam Kyrran. Cowok itu terdiam beberapa saat, menurunkan hening di antara mereka berdua. Andrea melanjutkan. "Di restoran tadi kamu aneh. Kamu gak tertarik sama pembahasan kuliah." Kyrran mencoba tersenyum tipis. Namun Andrea tidak membiarkannya mengalihkan topik. "Semua orang ngomongin masa depan, universitas, jurusan, rencana setelah lulus." Suara Andrea melembut. "Tapi kamu kelihatan bingung dan aku gak punya clue apapun tentang itu, Kyrran." Kyrran menunduk sebentar. "Rea…" Ucapan cowok itu tertahan dan hal tersebut membuat dada Andrea terasa sesak. Andrea menggigit bibir bawahnya. "Aku mulai ngerasa ada sesuatu yang kamu sembunyiin," kata Andrea, ia melepaskan tangannya dari genggaman Kyrran. Cowok itu menghela napas dan membuat Andrea semakin yakin ada sesuatu.
"Baby Ran, look! Kostum aku udah pas, kan?" Andrea keluar dari ruang ganti toko kostum sambil merapikan ujung rambutnya. Begitu melihatnya, Kyrran membeku di tempat. Matanya terpaku pada kecantikan pacarnya. Namun, setelah menyadari sesuatu, ia melirik ke kiri dan kanan, mengawasi cowok-cowok lain tidak melihat ke arah Andrea. "Bagus, kan?" tanya Andrea sambil berputar kecil. Kostum mermaid yang dikenakan pacarnya memang cantik. Kain berwarna biru kehijauan berkilau di bawah lampu toko. Detail mutiara menghiasi bahu dan pinggangnya, membuatnya terlihat seperti putri laut dalam dongeng. Masalahnya, bagian atas kostum itu terlalu terbuka. Kyrran beranjak dari sofa, menghampiri Andrea dengan tatapan setajam pedang. "Kenapa?" tanya gadis itu bingung. Kyrran melepas jaket yang dikenakannya sebagai Pirate Captain lalu menyampirkannya di bahu Andrea. "Ganti kostum yang lain saja, Sayang." Andrea melihat dirinya di cermin. "Jelek ya?" Kyrran berbisik di telinga pacarnya itu. "Enggak
'Jangan… jangan di depan Andrea.' Kyrran membatin frustasi.Tiba-tiba saja dengung di kepalanya muncul lagi dan terasa menyengat. Pandangan Andrea di depan matanya sedikit bergoyang. Dalam waktu singkat dia mendaratkan dahinya ke pundak Andrea. "Kyrran, kamu kenapa!?" sahut gad
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Pandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api. Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal. Jemari gadis itu me
Setelah kegiatan di klub jurnalistik selesai, Andrea bergegas keluar, langkah sepatunya menyusuri koridor yang lengang. Dia harus menemui Kyrran demi keselamatan naskahnya malam ini. "Ada-ada saja," geram Andrea, berjalan cepat sambil menunduk, kedua ibu jarinya menari di layar. [Kamu di mana]







