Masuk"Yang cowok-cowoknya jangan deh, nanti malah bocor," tolak Elyse pelan.
"Tenang saja, kamu kayak gak tahu cowok-cowok di geng kita aja," kata Noela. "Waktu masalahku dengan si Teler, mereka support, kan?""Eh, tapi kalau kita bahas di grup, nanti ketahuan dong kalau Jolina, Noela dan Andrea mau kasih surprise kue cokelat ke Jeremy, Derby dan Kyrran," jelas Elyse."Elyse benar juga, jadi kenapa enggak kita yang cewek-ceweknya saja," tambah Cassandra."Oke, kSetelah liburan musim panas berlalu, Andrea akhirnya memasuki senior year. Dia sudah jadi siswi kelas dua belas sekarang.Beruntung sampai detik ini, Andrea tidak ketahuan kakeknya kalau dirinya sekolah di Alveroz High dan Daisy penggantinya di Mirelle Girls Academy menjalankan peran sebagai Andrea Beaumont dengan baik.Asrama Alveroz High kembali ramai. Mobil-mobil berdatangan sejak pagi. Siswa-siswa baru membawa koper besar, kardus, dan tas yang hampir lebih besar daripada tubuh mereka sendiri.Koridor yang sempat sepi selama liburan kini kembali dipenuhi suara obrolan.Andrea berdiri di depan gedung asrama putri sambil memandangi keramaian tersebut. Dia menyapa balik adik-adik kelas baru yang melewatinya.Gadis itu kemudian melangkahkan sepatunya menuju gerbang asrama putri. Tujuannya ingin ke gedung utama untuk ke menghadiri rapat klub jurnalistik.Dia sambil berbalas pesan dengan Daisy, membahas pembaruan kesepakatan mereka.
"Kyrran… kamu sakit kepala lagi?" tanya Andrea penuh perhatian, walaupun sedikit kaget karena tiba-tiba Kyrran berbaring di pahanya.Kyrran terdiam beberapa detik sebelum mengangguk tipis."Hm… sedikit," suara cowok itu parau. Rahangnya terlihat mengeras.Andrea kemudian mengusap tangan Kyrran yang menggenggam satu tangannya. "Aku pijit ya kepalanya.""Iya…" sahut Kyrran pelan, ia masih memejamkan mata. Genggamannya mengendur, membiarkan tangan Andrea bergeser.Jari-jari gadis itu kemudian bergerak perlahan memijat pelipis Kyrran dengan tekanan ringan dan selembut mungkin.Beberapa saat kemudian, cowok itu perlahan membuka mata. Pandangan mereka bertemu, terkunci satu sama lain.Pijatan lembut jari Andrea di pelipis Kyrran membuat wajah tegang cowok itu sedikit melunak."Kamu mikirin kegiatan OSIS yang akan datang ya?" tebak Andrea pelan.Kyrran mengerjap pelan sebelum menjawab. "Iya, setelah liburan in
"Kalian ganti pakaian?" Andrea memicing heran.Vanko menjawab santai. "Iya, tadi aku sama Derby sempat jatuh kesandung di jalur setapak. Kotor banget, jadi sekalian ganti.""Oh…" Andrea mengangguk pelan.Padahal di balik wajah santai Vanko dan Derby, keduanya sedang mati-matian menjaga ekspresi agar tetap biasa saja. Pasalnya hanya mereka yang tahu apa yang sebenarnya terjadi beberapa saat lalu. Dan mereka juga tahu alasan mengapa rahasia itu harus tetap menjadi rahasia.Di tengah keheningan yang mulai menyelimuti kelompok itu, Andrea mengeluh. Nadanya penuh kekhawatiran. "Kyrran sebenarnya ke mana sih?""Aku di sini."Suara dingin itu membuat semua kepala spontan menoleh. Andrea yang mengenali pemilik suara ikut berbalik dan membeku.Di ujung area kolam renang, Kyrran berdiri santai dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia sudah berganti pakaian. Kemeja linen hitam berlengan pendek yang dikenakannya kini mengga
"Arghh…"Dengungan yang sejak tadi menghantam kepala Kyrran perlahan mereda. Rasa sakit yang menusuk pelipisnya juga tidak lagi sebrutal beberapa menit sebelumnya. Napas Kyrran terdengar berat saat ia membuka mata perlahan.Suasana di sekitarnya gelap, hanya cahaya bulan dan lampu-lampu samar yang menyelinap di antara pepohonan.Kyrran mengernyit bingung. Cowok itu mencoba mengingat apa yang terjadi.Terakhir yang Kyrran ingat, dirinya masih berada di sekitar kompleks vila. Kyrran meninggalkan area barbeque untuk menyusul Andrea.Cowok itu kemudian berdiri dengan susah payah. Kakinya masih terasa lemas. Satu tangannya mencengkeram rambutnya sendiri, berusaha meredakan sisa nyeri yang berdenyut di kepalanya.Pandangan cowok itu beredar pelan ke sekeliling dan semakin lama alisnya semakin bertaut.Kyrran akhirnya sadar kalau dia tidak berada di area vila. Di hadapannya terbentang jalan setapak sempit yang diapit semak dan
"Jadi Kyrran pernah naksir cewek lain," gerutu Andrea. Ia berdiri di depan wastafel dalam toilet.Gadis itu menampung air dingin dengan kedua telapak tangan, lalu membasuh wajahnya perlahan.Air yang menetes di pipinya sedikit banyak meredakan panas yang sejak tadi memenuhi wajahnya saat Kyrran menceritakan crush pertamanya."Padahal dia crush sekaligus cinta pertamaku, tapi dia ternyata punya crush sebelum aku," sungutnya lagi, lalu menghela napas berat.Dada Andrea berdebar tak karuan. Meskipun Kyrran penah mengaku kalau cinta pertama dan ciuman pertamanya itu Andrea, tetapi tahu Kyrran punya crush pertama membuatnya tetap kesal.Andrea menggeleng pelan."Apa sih yang aku pikirin… wajar kalau Kyrran punya crush pertama."Andrea menarik napas panjang beberapa kali hingga detak jantungnya mulai tenang.Sekitar lima belas menit kemudian, Andrea memutuskan kembali ke area barbeque. Suara tawa teman-temannya kembal
Di bawah langit musim panas yang biru cerah, Andrea dan Kyrran beserta delapan anggota geng OTTD akhirnya bisa menikmati liburan setelah satu tahun ajaran yang melelahkan di pulau pribadi milik Jergar—kakak pertama si kembar Kyrran dan Noela.Hari-hari mereka di pulau tersebut dihabiskan dengan berbagai kegiatan. Ada yang bermain paddle board, berlomba berenang hingga ke dermaga kecil, sementara yang lain sibuk mengabadikan momen dengan kamera. Bahkan Elyse yang beberapa waktu lalu masih patah hati karena pengakuannya ditolak Darell, perlahan kembali tertawa lepas. Wajah murung gadis berkacamata itu menghilang sedikit demi sedikit setiap kali Andrea, Noela, Jolina dan Cassandra menyeretnya ikut bermain atau bercanda."Aku bisa melupakan Kak Darell!" teriak Elyse, meluapkan isi hatinya.Andrea dan tiga gadis lainnya ikut berteriak, menghibur Elyse.Menjelang senja, mereka bersepuluh berkumpul di tepi pantai untuk foto bersama. Para gadis mengenakan
'Jangan… jangan di depan Andrea.' Kyrran membatin frustasi.Tiba-tiba saja dengung di kepalanya muncul lagi dan terasa menyengat. Pandangan Andrea di depan matanya sedikit bergoyang. Dalam waktu singkat dia mendaratkan dahinya ke pundak Andrea. "Kyrran, kamu kenapa!?" sahut gad
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Pandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api. Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal. Jemari gadis itu me
Setelah kegiatan di klub jurnalistik selesai, Andrea bergegas keluar, langkah sepatunya menyusuri koridor yang lengang. Dia harus menemui Kyrran demi keselamatan naskahnya malam ini. "Ada-ada saja," geram Andrea, berjalan cepat sambil menunduk, kedua ibu jarinya menari di layar. [Kamu di mana]







