LOGINFestival Halloween Alveroz High telah usai. Suara musik, tawa dan riuh tepuk tangan kini tersisa sebagai gema samar di ingatan. Namun entah kenapa perasaan asing yang menjerat hati Andrea tidak ikut terusir. Kamarnya di asrama terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu meja menyala lembut, menerangi sebagian ruangan, sementara sisanya tenggelam dalam bayangan. Andrea duduk di kursi belajarnya, mengenakan piyama—atasan bertali spageti yang jatuh ringan di bahunya, dipadukan celana pendek, mengekspos kulit putihnya yang mulus dan bening. Bando berwarna ungu lembut menahan rambut hitamnya yang tergerai lurus. Gadis itu meniup napas pelan, lalu tanpa sadar tangannya yang menggenggam pensil bergerak, menyentuh kertas kosong di buku sketsanya—buku yang biasanya Andrea pakai untuk mencatat, menggambar alur serta merancang skenario investigasinya. Hanya saja, ada yang tidak biasa kali ini. Garis yang Andrea bentuk berbeda, pensilnya bergerak lincah menciptakan wajah Kyrran. Halaman
"Bukan," jawab Andrea jujur. Kyrran menarik wajahnya menjauh, kemudian berdiri tegak sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Tatapannya tidak lepas dari netra kecokelatan Andrea. "Kalau Maxwell?" tanya Kyrran lagi. Andrea mengulum bibirnya sejenak sebelum bersuara. "Jelas bukan dia. Aku gak suka sama cowok playboy," terang Andrea. "Memangnya ada apa dengan tipe cowok idamanku?" lanjut gadis itu bertanya, nadanya penasaran. "Cuma nanya," sahut Kyrran datar, "jangan sampai kamu fokus mencari tipe cowok idamanmu dan mengabaikan tugasmu sebagai bawahanku, ingat kalau aku punya foto itu."Andrea memutar bola matanya malas, lalu menatap Kyrran tajam. "Ya, aku tahu.""Bagus, sekarang aku punya tugas penting untukmu," ungkap Kyrran dengan nada datarnya. Dalam hati Andrea berharap tugas yang dimaksud Kyrran setidaknya tidak terlalu ribet seperti yang lalu. "Jadi asisten olahraga pagi kamu lagi?"
"Kamu siapa!?" bentak Andrea pelan sambil menarik tangannya. Ia meronta kecil, berusaha melepaskan diri di tengah gelap yang masih menelan seluruh ruangan.Namun, genggaman di pergelangan tangannya tidak mengendur. Langkah Andrea terseret di antara kerumunan dan bahunya menabrak seseorang, tapi ia bahkan tidak sempat menoleh.Saat cahaya festival dari luar menerpa matanya, Andrea bisa dengan jelas sosok yang menariknya. "Kyrran!?" celetuk Andrea. Yang dipanggil namanya menoleh sekilas, memandang Andrea dari balik bahunya. "Ya, ini Kyrran," sahut cowok itu dingin, lalu menoleh ke depan. Rahang Andrea mengetat di tengah napasnya yang tersengal. Entah sudah berapa kali dia diseret dalam satu malam. Namun, pada akhirnya Andrea membiarkan pergelangan tangan ditarik tanpa meronta, seolah bagian dari dirinya memilih diam.Kyrran sendiri tidak mengatakan apa pun lagi dan terus berjalan meninggalkan suara
"Andrea Ilsa Shimano," desis Natasya dengan matanya yang berkaca tajam. Sekretaris OSIS itu berdiri di depan wastafel sambil menundukkan wajahnya. Kedua tangan Natasya berada di bawah aliran air, saling bergesekan dengan keras, berulang, tanpa ritme yang jelas. Ia mencoba menenangkan dirinya, namun yang gadis itu lakukan saat ini tidak cukup untuk meredakan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Dia terus menggosok tangannya di bawah aliran air keran. Kukunya menggesek kulit, telapak tangannya saling menekan dan merah mulai menjalar di sepanjang jari lentiknya, namun Natasya tidak peduli. Gerakannya justru semakin cepat dan keras. Pantulan wajahnya di cermin terlihat samar karena uap air, lalu matanya semakin tajam. Jawaban Kyrran atas pertanyaannya kembali terlintas. Ada jeda panjang sebelum cowok itu membalas dan Natasya berharap Kyrran menjawab tegas kalau dia tidak jatuh hati pada Andrea—tetapi Kyrran malah mengatakan kalau itu bukan urusan Natasya. Sial. Natas
Dari sudut ruangan yang sedikit tersembunyi di balik struktur dekorasi, bayangan dari kain hitam dan tiang lampu jatuh di wajah Kyrran, memotong ekspresinya jadi samar. Kedua tangan Ketua OSIS itu masuk ke dalam saku celana, bahunya tegap dan iris dinginnya mengikuti setiap langkah Andrea di tengah lantai dansa—bersama Derby. Wajahnya datar seperti biasa, namun tidak ada yang akan menyangka ada sesuatu yang beringsut di dalam dadanya, bahkan dirinya sendiri. Pandangan Kyrran melekat erat pada Andrea, seperti ada sesuatu seperti daya rekat yang tak kasatmata, menempelkan pandangannya pada gadis itu dan menolak dilepaskan. Namun rahang Kyrran mengeras pelan, bahunya menegang setiap kali Andrea tersenyum lebar pada Derby dan bergerak lebih dekat dengan cowok tersebut."Apa berdansa harus sedekat itu?" desis Kyrran tanpa sadar. Perasaannya bergejolak tak nyaman, sehingga ia paksa tatapannya beralih sejenak meski tak lama kemudia
Sadar jika anggota Kyrran’s Guardian Angels pasti ada di sekitarnya, Andrea segera mengalihkan tatapannya dari Kyrran. Andrea meneguk lagi minumannya, lalu membiarkan manik kecokelatannya bergerak, menyapu kerumunan tanpa terlihat mencurigakan. "Hai, my queen."Suara itu muncul dari samping Andrea, terdengar percaya diri. Andrea menoleh dan menemukan Maxwell yang sudah berdiri di hadapannya dan menampilkan senyum santai yang menghiasi wajah cowok playboy itu. "Tahu kamu pakai kostum Red Riding Hood secantik ini, aku pasti pakai kostum Woodsman," ujar Maxwell dengan nada menggodanya yang khas. Alis Andrea menukik tipis disusul sudut-sudut bibirnya yang tertarik, menciptakan senyum kaku."Sendirian aja nih?" ujar Maxwell. "Enggak juga, aku bareng teman-temanku dan aku cuma lagi ambil minum," jawab Andrea seadanya, dengan nada yang tidak menunjukkan minat untuk melanjutkan percakapan. "Baby… kamu di







