LOGIN"Bukan," jawab Andrea jujur.
Kyrran menarik wajahnya menjauh, kemudian berdiri tegak sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Tatapannya tidak lepas dari netra kecokelatan Andrea."Kalau Maxwell?" tanya Kyrran lagi.Andrea mengulum bibirnya sejenak sebelum bersuara. "Jelas bukan dia. Aku gak suka sama cowok playboy," terang Andrea."Memangnya ada apa dengan tipe cowok idamanku?" lanjut gadis itu bertanya, nadanya penasaran."Cuma nanya"Ya, kamu memang mengganggu pikiranku, Andrea," gumam Kyrran, berbaring di atas kasurnya sambil memejamkan mata. Dia teringat perkataan Andrea di area tersembunyi samping gimnasium—yang entah kenapa tidak Kyrran tanggapi tadi ketika bersama gadis itu. Beberapa jenak kemudian, Kyrran menyingkap tatapannya pelan, iris hitamnya menelusuri langit-langit yang kosong. Kyrran salah menerka kalau apa yang terjadi antara dia dan Andrea bisa berlalu begitu saja. Namun, hari demi hari yang terjadi justru sebaliknya. Cowok itu mulai menyadari sesuatu yang mengganggu. Matanya selalu mencari sosok Andrea lebih dulu di mana pun. Telinganya terlalu mudah mengenali suara Andrea. Setiap berada di dekat gadis itu, Kyrran sering kali menahan diri untuk tidak meraup bibir gadis itu. Apapun yang Kyrran lakukan selalu terselip sosok Andrea di pikirannya, bahkan di setiap hampanya gadis itu selalu menerobos masuk. Dan yang pali
"Kubilang bukan apa-apa!" Andrea menaruh buku-buku cowok itu di meja dan membentangkan tangan di hadapan Kyrran. Ketos galak itu menyipitkan mata, pasalnya Andrea makin mencurigakan. Dia kemudian bergerak cepat, tangan panjang Kyrran menyambar buku sketsa itu dari atas meja. "Eh, Kyrran!" Andrea membelalak kaget. "Balikin gak!" Cowok itu mundur beberapa langkah, menjauh dengan santai dan buku itu tetap berada di tangan Kyrran, ia mengopernya ke tangannya yang satu dari belakang, seperti dia mengecoh lawan saat bermain basket. Andrea berusaha merebut buku itu, namun apa daya Kyrran malah sengaja mengulurkan buku itu tinggi-tinggi. "Seriously, Kyrran!" "What’s your problem!" Andrea meloncat kecil, berusaha menggapai buku sketsanya, sayangnya gagal. Setiap kali Andrea melompat, Kyrran juga semakin menjauhkan buku itu dari jangkauan tangan Andrea.
Festival Halloween Alveroz High telah usai. Suara musik, tawa dan riuh tepuk tangan kini tersisa sebagai gema samar di ingatan. Namun entah kenapa perasaan asing yang menjerat hati Andrea tidak ikut terusir. Kamarnya di asrama terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu meja menyala lembut, menerangi sebagian ruangan, sementara sisanya tenggelam dalam bayangan. Andrea duduk di kursi belajarnya, mengenakan piyama—atasan bertali spageti yang jatuh ringan di bahunya, dipadukan celana pendek, mengekspos kulit putihnya yang mulus dan bening. Bando berwarna ungu lembut menahan rambut hitamnya yang tergerai lurus. Gadis itu meniup napas pelan, lalu tanpa sadar tangannya yang menggenggam pensil bergerak, menyentuh kertas kosong di buku sketsanya—buku yang biasanya Andrea pakai untuk mencatat, menggambar alur serta merancang skenario investigasinya. Hanya saja, ada yang tidak biasa kali ini. Garis yang Andrea bentuk berbeda, pensilnya bergerak lincah menciptakan wajah Kyrran. Halaman
"Bukan," jawab Andrea jujur. Kyrran menarik wajahnya menjauh, kemudian berdiri tegak sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Tatapannya tidak lepas dari netra kecokelatan Andrea. "Kalau Maxwell?" tanya Kyrran lagi. Andrea mengulum bibirnya sejenak sebelum bersuara. "Jelas bukan dia. Aku gak suka sama cowok playboy," terang Andrea. "Memangnya ada apa dengan tipe cowok idamanku?" lanjut gadis itu bertanya, nadanya penasaran. "Cuma nanya," sahut Kyrran datar, "jangan sampai kamu fokus mencari tipe cowok idamanmu dan mengabaikan tugasmu sebagai bawahanku, ingat kalau aku punya foto itu."Andrea memutar bola matanya malas, lalu menatap Kyrran tajam. "Ya, aku tahu.""Bagus, sekarang aku punya tugas penting untukmu," ungkap Kyrran dengan nada datarnya. Dalam hati Andrea berharap tugas yang dimaksud Kyrran setidaknya tidak terlalu ribet seperti yang lalu. "Jadi asisten olahraga pagi kamu lagi?"
"Kamu siapa!?" bentak Andrea pelan sambil menarik tangannya. Ia meronta kecil, berusaha melepaskan diri di tengah gelap yang masih menelan seluruh ruangan.Namun, genggaman di pergelangan tangannya tidak mengendur. Langkah Andrea terseret di antara kerumunan dan bahunya menabrak seseorang, tapi ia bahkan tidak sempat menoleh.Saat cahaya festival dari luar menerpa matanya, Andrea bisa dengan jelas sosok yang menariknya. "Kyrran!?" celetuk Andrea. Yang dipanggil namanya menoleh sekilas, memandang Andrea dari balik bahunya. "Ya, ini Kyrran," sahut cowok itu dingin, lalu menoleh ke depan. Rahang Andrea mengetat di tengah napasnya yang tersengal. Entah sudah berapa kali dia diseret dalam satu malam. Namun, pada akhirnya Andrea membiarkan pergelangan tangan ditarik tanpa meronta, seolah bagian dari dirinya memilih diam.Kyrran sendiri tidak mengatakan apa pun lagi dan terus berjalan meninggalkan suara
"Andrea Ilsa Shimano," desis Natasya dengan matanya yang berkaca tajam. Sekretaris OSIS itu berdiri di depan wastafel sambil menundukkan wajahnya. Kedua tangan Natasya berada di bawah aliran air, saling bergesekan dengan keras, berulang, tanpa ritme yang jelas. Ia mencoba menenangkan dirinya, namun yang gadis itu lakukan saat ini tidak cukup untuk meredakan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Dia terus menggosok tangannya di bawah aliran air keran. Kukunya menggesek kulit, telapak tangannya saling menekan dan merah mulai menjalar di sepanjang jari lentiknya, namun Natasya tidak peduli. Gerakannya justru semakin cepat dan keras. Pantulan wajahnya di cermin terlihat samar karena uap air, lalu matanya semakin tajam. Jawaban Kyrran atas pertanyaannya kembali terlintas. Ada jeda panjang sebelum cowok itu membalas dan Natasya berharap Kyrran menjawab tegas kalau dia tidak jatuh hati pada Andrea—tetapi Kyrran malah mengatakan kalau itu bukan urusan Natasya. Sial. Natas







