MasukKeesokan paginya, Kyrra yang sudah siap berangkat ke kampus menghampiri ranjang. Andrea masih terlelap di balik selimut—dengan rambut sedikit berantakan dan wajah yang tampak begitu tenang.Cowok itu membungkuk, lalu mengecup lembut dahi kekasihnya."Hmm… kamu udah mau berangkat?" gumam Andrea dengan mata masih terpejam."Iya, Sayang," ucap Kyrran dengan suara rendah.Andrea bergerak sedikit, berniat membuka mata, tetapi Kyrran lebih dulu mengusap kepalanya dengan lembut."Aku anterin sampai depan pintu," tawar gadis itu dengan suara serak khas bangun tidur."Enggak usah, Sayang. Kamu lanjut tidur aja." Kyrran merapikan selimut yang menutupi tubuh Andrea. "Aku sudah siapin sarapan buat kamu di meja. Jangan lupa makan sebelum berangkat ke kampus ya."Kali ini, Andrea membuka mata perlahan. Ia mendongak menatap cowok yang berdiri di sisi ranjang itu, kemudian tersenyum kecil."Makasih ya, Baby Ran Sayang," ucap Andrea.Kyrran membalas senyum Andrea dengan kecupan singkat di kening gadi
Andrea bersandar pada headboard tempat tidur sembari membaca buku jurnalistik yang berada di tangannya. Sesekali, gadis itu membalik halaman, larut dalam bacaan hingga tak menyadari Kyrran baru saja keluar dari kamar mandi.Sekitar beberapa menit, Kyrran berjalan mendekat dengan mengenakan piama kimono biru navy. Rambut hitam legamnya masih sedikit lembap, beberapa helainya jatuh di dahi.Saat Andrea mengangkat pandangannya dari buku, gadis itu menahan napas sekilas lantaran cowoknya itu selalu sukses mencuri perhatiannya.'Astaga, Baby Ran makin ganteng saja sih,' batinnya.Andrea lekas mengalihkan pandangan, berpura-pura kembali membaca. Namun, sudut bibirnya telanjur terangkat, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang muncul di wajahnya.Sementara itu, tanpa banyak bicara, Kyrran naik ke atas kasur. Bukannya mengambil tempat di samping Andrea, cowok itu justru merebahkan kepala di perut Andrea, lalu melingkarkan kedua lengan di pinggang gadisnya itu.Andrea sontak menunduk, jemari
Andrea mengalungkan lengannya lebih erat di tengkuk Kyrran. "Kamu sudah ingat sesuatu?" tanyanya penuh harap.Kyrran menatap Andrea lekat-lekat, meniti setiap fitur wajah cantik gadisnya itu. Lantas ia menggeleng pelan. "Belum, Sayang. Aku cuma menebak cepat."Kyrran mengalihkan pandangan ke layar laptop. "Aku pikir, mungkin passwordnya nama kamu. Soalnya, setelah kita kembali bersama, aku melakukan hal yang sama. Aku memakai nama kamu atau tanggal ulang tahun kamu untuk password dan PIN."Andrea terdiam sesaat sebelum senyumnya mengembang. "Dan kamu benar, Baby Ran."Kyrran mengangguk. "Hm."Gadis itu kemudian mengangkat tangannya, mengusap lembut rahang kekasihnya dengan ibu jari. Ada kehangatan yang memenuhi tatapannya saat memandangi wajah yang begitu ia cintai.Kyrran tersenyum tipis, lalu menangkap tangan Andrea dan mengecup punggungnya sekilas."Untuk beberapa waktu ini, aku justru mengingat potongan-potongan sewa
"Nanti kamu lihat sendiri, Baby Ran," ujar Andrea. Gadis itu kemudian bangkit dari sofa dan menarik tangan Kyrran menuju tangga.Cowok itu menurut saja, meskipun sepanjang perjalanan ia terus mencoba mengorek informasi dari gadisnya itu. Namun, Andrea tetap bergeming.Sesampainya di lantai dua, mereka berhenti tepat di depan kamar Kyrran.Andrea lalu mengeluarkan sehelai kain hitam dari saku celananya. Senyum merekah di bibir merah mudanya.Kyrran menatap benda itu, lalu kembali memandang wajah Andrea. "Kamu mau apa, Sayang?""Mata kamu harus ditutup dulu," kata Andrea. Ia berdiri di hadapan Kyrran, menarik cowoknya membungkuk, lalu mengikatkan kain hitam tersebut dengan hati-hati untuk menutupi mata Kyrran.Cowok itu lagi-lagi menuruti Andrea."Sebentar ya, Sayang," tutur gadis itu. Andrea lalu memastikan kainnya terpasang dengan nyaman, kemudian menggenggam kedua tangan Kyrran."Ayo, Baby Ran, kita masuk," aja
Andrea tiba di apartemen Kyrran menjelang pukul delapan malam. Gadis itu turun dari mobil sambil membawa tas laptop dan dua papar bag di tangannya. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, ia melangkah menuju lift.Setelah tiba di salah satu lantai teratas, Andrea keluar dari lift dengan senyum jahil yang mengembang di bibir pink gadis itu.Malam ini, Andrea sengaja tidak memberi tahu Kyrran bahwa dirinya akan datang. Ia ingin memberikan kejutan kecil untuk cowoknya itu.Kebetulan, Kyrran masih berada di kampus. Sebagai mahasiswa kedokteran semester tiga, cowok itu harus menyelesaikan praktikum keterampilan klinis yang dilanjutkan dengan evaluasi kelompok. Andrea tahu kegiatan tersebut bisa berlangsung hingga malam, jadi ia memutuskan memanfaatkan waktu untuk menyiapkan sesuatu.Begitu memasuki apartemen cowoknya, Andrea langsung menuju lantai dua. Kamar Kyrran menjadi tujuan pertamanya.Setelah meletakkan tas laptop di meja,
"Huekk!"Tubuh Cassandra di pelukan Andrea mendadak menegang. Gadis itu terkesiap mendengar sahabatnya mual.Cassandra sendiri buru-buru melepaskan pelukan itu dan berlari ke arah wastafel."Cassie!" seru Andrea menyusul.Cassandra membungkuk di depan wastafel sambil menahan mual. Andrea segera mengusap pelan punggung sahabatnya, berusaha membantu menenangkannya."Kamu kenapa?" tanya Andrea, khawatir."Aku…" Cassandra menelan ludah dan menarik napas panjang. Beberapa saat kemudian ia menoleh. Wajahnya tampak pucat, sementara bibirnya masih sedikit basah karena baru saja berkumur."Aku kayaknya masuk angin, Rea," ucap Cassandra, tersenyum kaku.Andrea kemudian membantu Cassandra berjalan menuju sofa di ruangan tengah unit mereka."Duduk dulu, Cassie," ucap Andrea lembut.Setelah memastikan sahabatnya duduk dengan nyaman, Andrea mengambil segelas air dan menyerahkannya."Minum dulu," kat
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h







