แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Devienne Noraine
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-21 17:37:26

Perlahan, Darius berbalik.

Gerakannya luwes namun penuh ancaman. Matanya, tajam dan fokus, menatap lurus ke arah tirai beludru merah.

Tidak ada keraguan di sana. Dia mengetahuinya.

Insting Kiara berteriak untuk lari, tapi ke mana?

Darius tidak berteriak memanggil pengawal. Dia hanya memasukkan satu tangan ke saku celananya, lalu berjalan santai mendekati jendela.

Pria itu berhenti tepat di depan tirai. Kiara bisa mencium aroma tubuhnya dengan jelas sekarang.

Tangan besar Darius terulur. Jari-jarinya yang panjang menyentuh kain beludru itu.

Sreeek!

Tirai disibakkan dengan satu gerakan kasar. Kiara menutup wajahnya.

"Aku tidak tahu kalau aku punya masalah hama di Penthouse-ku," gumam Darius. Suaranya rendah, berat, dan bergetar di dada Kiara.

Kiara terlonjak mundur, punggungnya membentur kaca jendela yang dingin. "S-saya... saya bisa jelaskan..."

Darius tidak membiarkannya bicara. Matanya menyapu penampilan Kiara dari ujung rambut yang berantakan hingga ujung kaki. Dia melihat seragam pelayan yang salah ukuran, noda debu di pipi Kiara, dan sepatu kets dekil itu.

"Pelayan tidak punya akses ke lantai ini," kata Darius pelan, namun setiap suku kata terasa tajam. Dia melangkah maju, mengikis jarak, memaksakan dominasinya. Tubuhnya yang menjulang membuat Kiara merasa kerdil dan tak berdaya. "Dan pelayan di The Elysium tidak memakai sepatu kets murahan."

Kiara mencoba mencari celah untuk lari. Kiri tertutup tubuh kekar Darius. Kanan adalah dinding. Belakang adalah kaca jendela lantai 55.

"Siapa yang mengirimmu?" tanya Darius. Tangan kanannya terulur secepat kilat. Jari-jari kuat pria itu sudah mencengkeram rahangnya.

Cengkeramannya kuat, tidak menyakitkan tapi tegas, memaksa Kiara mendongak menatap wajahnya. Ibu jari Darius menekan pipi Kiara, mengunci wajah gadis itu.

"Jawab aku," desisnya. "Kau mata-mata Lau? Polisi? Atau pelacur yang salah kamar?"

"Bukan!" bantah Kiara, suaranya pecah. Air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku... Aku mencari adikku! Namanya Sari! Dia hilang dua minggu lalu dan jejak terakhirnya ada di sini. Aku hanya ingin tahu dia di mana!"

Darius menatap mata Kiara dalam-dalam, mencari kebohongan. Selama sepuluh detik yang menyiksa, hanya ada suara napas Kiara yang memburu.

Perlahan, cengkeraman di rahang Kiara melonggar. Tangan Darius turun, menyentuh leher gadis itu. Telapak tangannya yang hangat dan kasar menempel di sana, ibu jarinya menekan lembut di atas denyut nadi Kiara yang berdetak liar.

"Detak jantungmu 140 per menit," gumam Darius. "Kau jujur. Atau kau pembohong yang sangat, sangat gugup."

"Tolong, Tuan," bisik Kiara, air matanya akhirnya menetes, membasahi ibu jari Darius. "Saya akan pergi. Saya janji tidak akan bicara soal pria yang dipukul itu. Saya... saya cuma mau adik saya."

Darius mendengus. Tawa kecil yang kering dan tanpa humor keluar dari bibirnya. "Kau melihat wajahku saat aku memberikan perintah penyiksaan, Tikus Kecil. Kau mendengar nama pengkhianat itu. Di duniaku, informasi adalah mata uang, dan saksi mata adalah beban."

Dia mendekatkan wajahnya, hidungnya nyaris bersentuhan dengan hidung Kiara. "Dan beban harus dimusnahkan."

Darah Kiara seolah berhenti mengalir. "Anda... Anda mau membunuh saya?"

Darius tidak menjawab langsung. Dia melepaskan leher Kiara, lalu berjalan mundur perlahan menuju meja kerjanya. Dia menekan sebuah tombol merah di telepon interkom.

"Kirim keamanan ke Penthouse," perintahnya singkat.

Kiara mematung. Kakinya ingin berlari, tapi otaknya tahu itu sia-sia. Pintu ada di seberang ruangan. Darius ada di antara dia dan pintu.

Namun, Darius tidak membiarkannya hanya menunggu nasib. Dalam dua langkah lebar, pria itu kembali mendekat, kali ini mengurung Kiara dengan menumpukan satu tangannya ke kaca di samping kepala gadis itu.

"Aku belum selesai bicara," bisik Darius tepat di telinga Kiara. Napas hangatnya menyapu kulit sensitif di leher gadis itu, membuat Kiara merinding hebat.

"Kau punya dua pilihan, Tikus Kecil," ujar Darius pelan. "Pertama, aku serahkan kau pada keamanan. Mereka akan menginterogasimu dengan cara yang menakutkan. Setelah itu... yah, Laut Cina Selatan cukup dalam untuk menyembunyikan tubuh sekecil ini."

Kiara terisak pelan, tubuhnya merosot sedikit, tapi tertahan oleh tubuh Darius yang begitu dekat.

"Atau..." Jari telunjuk Darius menyentuh dagu Kiara, mengangkat wajahnya lagi. "Kau tetap di sini."

Kiara menatapnya dengan pandangan kabur karena air mata. "A-apa?"

"Kau bilang kau mencari adikmu," kata Darius. Matanya berkilat licik, penuh perhitungan. "Aku memiliki kota ini. Tidak ada yang bergerak di Makau tanpa sepengetahuanku. Jika adikmu masih bernapas di kota ini, aku bisa menemukannya."

Harapan membuncah di dada Kiara, liar dan menyakitkan. "Anda bisa menemukannya?"

"Bisa. Itu hal mudah bagiku," jawab Darius sombong. "Tapi jasaku sangat mahal. Dan nyawamu yang sudah melihat kejadian tadi juga ada harganya."

"Saya... saya tidak punya uang," cicit Kiara putus asa. "Saya hanya mahasiswa..."

Darius tersenyum miring. Kali ini, senyum itu terlihat lebih gelap.

"Aku tidak butuh uangmu. Asetku sudah cukup untuk membeli negara kecil."

Darius mencondongkan tubuhnya, menekan Kiara semakin rapat ke kaca.

"Bayar aku dengan kepatuhanmu," bisik Darius. Suaranya berubah menjadi geraman rendah yang sensual. "Jadilah milikku. Tinggal di sini, di bawah atapku, di bawah pengawasanku. Kau akan melakukan apa yang kukatakan, kapan pun aku mengatakannya. Sebagai gantinya, kau tetap hidup, dan aku akan menyeret adikmu kembali padamu."

Kiara ternganga, syok. "Itu gila. Anda gila. Saya bukan pelacur."

"Aku tidak memintamu menjadi pelacur. Aku memintamu menjadi milikku," koreksi Darius tajam. "Itu konsep yang berbeda. Dan ini bukan negosiasi. Ini ultimatum."

Suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari luar koridor. Keamanan sudah datang.

"Waktumu habis," desak Darius. Tatapannya menuntut, memaksa, dan mutlak. "Pilih. Keamanan, atau aku?"

Kiara menatap mata hitam kelam itu.

Suara ketukan keras terdengar di pintu. "Tuan Gan? Keamanan."

Darius tidak menoleh ke pintu. Dia terus menatap Kiara.

Dengan tangan gemetar dan hati yang hancur, Kiara mengangguk pelan.

"Saya terima," bisiknya nyaris tak terdengar, suaranya pecah.

Sudut bibir Darius terangkat membentuk senyum kemenangan.

"Pilihan bagus," bisik Darius.

Dia berbalik ke arah pintu, membukanya sedikit tanpa membiarkan pengawal melihat ke dalam. "Bawa pergi sisa sampah yang ada di lorong belakang. Di sini bersih. Alarm itu kesalahan teknis."

"Baik, Tuan."

Pintu tertutup kembali dan dikunci. Bunyi klik kunci otomatis itu terdengar seperti vonis penjara bagi Kiara.

Darius berbalik, menatap Kiara yang masih gemetar di sudut ruangan, terlihat kecil dan rapuh.

"Namamu," tuntutnya.

"Kiara," jawabnya pelan.

"Nah, Kiara," Darius melangkah mendekat, mengulurkan tangannya. Bukan untuk bersalaman, tapi gesture yang menuntut untuk diraih. Matanya menyiratkan kepemilikan mutlak. "Selamat datang di The Elysium. Mulai detik ini, kau bukan lagi tamu, dan kau bukan lagi orang bebas."

Kiara menatap tangan besar itu. Tangan yang baru saja memerintahkan penyiksaan, kini menawarkan perlindungan beracun. Dengan ragu, ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Darius.

Darius menggenggamnya erat, menarik Kiara mendekat hingga dada mereka hampir bersentuhan.

"Kau adalah tawananku."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 17

    Mobil berbelok tajam, memasuki sebuah gerbang besar berbentuk mulut naga emas yang tampak norak namun mengintimidasi. "Dengar, Kiara," suara Darius berubah serius. Dia memutar tubuhnya menghadap Kiara, meletakkan satu tangan di sandaran kursi gadis itu, mengurungnya. "Tempat ini berbeda dengan The Elysium. Kasinoku adalah bisnis. Tempat ini adalah rumah jagal. Di sini, orang mempertaruhkan bukan cuma uang, tapi jari, istri, bahkan nyawa." Darius menatap mata Kiara tajam. "Tugasmu sederhana. Kamu adalah trophy woman-ku. Hiasan cantik di lenganku. Jangan bicara kecuali ditanya. Jangan menatap mata siapa pun lebih dari dua detik. Dan..., jangan lepaskan lenganku." "Aku mengerti," cicit Kiara. "Tersenyumlah," perintah Darius, jarinya menyentuh dagu Kiara, memaksanya mendongak. "Kamu sedang bersama Darius Gan, Raja Kasino Makau. Kamu harus terlihat seolah kamu memiliki dunia, bukan seolah kamu takut padanya." Mobil berhenti. Pintu dibuka oleh valet yang terlihat kasar dan ber

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 16

    "Apakah..." Kiara mencoba bicara, suaranya serak karena gugup. "Apakah ini cukup tertutup?" Darius tidak langsung menjawab. Dia meletakkan gelasnya di meja tanpa mengalihkan pandangan dari Kiara. Dia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Setiap langkah Darius mendekat, jantung Kiara berpacu semakin cepat. Aroma Oud dan Leather pria itu semakin kuat, bercampur dengan aroma parfum mahal yang baru saja disemprotkan Julian ke tubuh Kiara, kombinasi aroma mereka menciptakan feromon yang memusingkan. Darius berhenti tepat di depan Kiara. Jarak mereka kurang dari lima sentimeter. Tangan Darius terulur. Kiara menahan napas, mengira Darius akan menyentuh wajahnya. Tapi tangan Darius turun ke pinggang Kiara. Telapak tangannya yang besar dan hangat menempel di atas kain beludru itu, meremas pelan pinggang ramping Kiara, menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Kiara tersentak, tangannya refleks menumpu di dada bidang Darius untuk menjaga keseimbangan. Di balik kemeja s

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 15

    Pukul 18:30 Matahari telah sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit Makau yang kini berwarna ungu lebam sebelum akhirnya menyerah pada kegelapan malam. Kiara duduk diam di depan cermin rias di kamar tamunya. Dia merasa bukan seperti manusia lagi, melainkan sebuah kanvas kosong yang sedang dilukis paksa. Tiga orang telah masuk ke kamarnya setengah jam yang lalu. Mereka bukan pelayan housekeeping seperti Bibi Mei. Mereka adalah tim profesional yang dipimpin oleh seorang pria bernama Julian. "Jangan bergerak, Sayang. Eyeliner-mu bisa miring," tegur Julian dengan bahasa Inggris beraksen Prancis yang kental. Tangannya yang memegang kuas rias bergerak lincah di sekitar mata Kiara. "Tuan Gan bilang tertutup, tapi dia tidak bilang membosankan," gumam Julian pada asistennya yang sedang menata rambut Kiara. "Buat rambutnya tergerai, tapi bergelombang rapi. Sleek and dangerous. Kita tidak mau dia terlihat seperti anak sekolah yang mau pergi les." Kiara memejamkan mata, membiarkan wajahnya

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 14

    "Kamu pikir aku hanya duduk diam sementara kamu bermain detektif dengan Google?" tanya Darius sambil berjalan menuju bar mininya, menuang air mineral. "Aku sudah menyuruh tim IT-ku melacak jejak digital adikmu."Layar menyala. Sebuah rekaman CCTV berkualitas rendah muncul.Di sudut kanan atas, tertera tanggal: 14 Mei. Pukul 23:45. Lokasi: Loading Dock, The Elysium - Sektor Selatan."Ini rekaman dari kamera keamanan belakang kasinoku," jelas Darius. "Area ini biasanya hanya untuk truk pengantar logistik makanan."Kiara melangkah mendekati layar, matanya terpaku pada gambar hitam putih itu.Di layar, terlihat seorang gadis muda dengan gaun pesta yang berkilauan sedang berjalan cepat, sesekali menoleh ke belakang dengan panik."Sari," bisik Kiara. Dia mengenali postur tubuh itu. Mengenali cara jalan adiknya yang sedikit berjinjit.Sari terlihat memegang sebuah tas tangan kecil di dadanya. Dia bersembunyi di balik tumpukan krat minuman kosong.Lalu, sebuah mobil van hitam berhenti. Pintu

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 13

    "Anda brengsek," desis Kiara. Darius memutar kursinya perlahan. Dia menatap Kiara yang masih berdiri di bawah lampu sorot, tampak rapuh namun berapi-api. "Kamu merasa malu?" tanya Darius tenang. "Anda menjadikan saya tontonan!" jerit Kiara. "Anda membiarkan mereka menatap saya seperti pelacur!" "Aku tidak melakukan apa-apa," bantah Darius. Dia berdiri, berjalan mendekati Kiara, masuk ke dalam lingkaran cahaya itu. "Aku hanya menyuruhmu berdiri. Pikiran merekalah yang kotor. Dan rasa malumu... itu datang dari ketidakberdayaanmu sendiri." Darius berhenti tepat di depan Kiara. Dia mengangkat tangan, menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Sentuhannya kasar namun anehnya tidak menyakitkan. "Ingat perasaan ini, Kiara," bisik Darius. "Ingat betapa tidak enaknya menjadi objek. Ingat betapa lemahnya posisimu saat kamu tidak memegang kendali." Darius mencondongkan wajahnya, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Kiara. "Kamu mencoba meretas TV-ku karena ka

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 12

    Kiara meletakkan tablet kerjanya di atas meja. Napasnya sedikit tertahan, menunggu vonis yang akan diberikan Darius padanya. Darius mengambil tablet itu. Matanya yang tajam menyapu layar, membaca baris demi baris laporan yang telah dikerjakan Kiara. Hening. Hanya ada suara denting es di gelas Darius yang sesekali ia putar. Wajah Darius datar, tidak terbaca. Dia men-scroll layar sampai ke halaman terakhir, di mana Kiara melingkari angka kerugian akibat mark-up harga daging Wagyu di cabang Singapura. Perlahan, Darius meletakkan tablet itu kembali ke meja dan menatap Kiara. "Menarik," gumamnya. Satu kata itu keluar tanpa nada mengejek. Murni pengakuan profesional. "Kau menemukan pola yang dilewatkan oleh tim auditku selama dua kuartal. Manajer Pembelian di Singapura... si brengsek itu ternyata bermain dengan pemasok." Dada Kiara membuncah sedikit karena rasa bangga. "Datanya jelas, Tuan. Angkanya sesuai." "Benar," Darius mengangguk, lalu meneguk habis minumannya. "Kamu membuk

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status