LOGINPerlahan, Darius berbalik.
Gerakannya luwes namun penuh ancaman. Matanya, tajam dan fokus, menatap lurus ke arah tirai beludru merah. Tidak ada keraguan di sana. Dia mengetahuinya. Insting Kiara berteriak untuk lari, tapi ke mana? Darius tidak berteriak memanggil pengawal. Dia hanya memasukkan satu tangan ke saku celananya, lalu berjalan santai mendekati jendela. Pria itu berhenti tepat di depan tirai. Kiara bisa mencium aroma tubuhnya dengan jelas sekarang. Tangan besar Darius terulur. Jari-jarinya yang panjang menyentuh kain beludru itu. Sreeek! Tirai disibakkan dengan satu gerakan kasar. Kiara menutup wajahnya. "Aku tidak tahu kalau aku punya masalah hama di Penthouse-ku," gumam Darius. Suaranya rendah, berat, dan bergetar di dada Kiara. Kiara terlonjak mundur, punggungnya membentur kaca jendela yang dingin. "S-saya... saya bisa jelaskan..." Darius tidak membiarkannya bicara. Matanya menyapu penampilan Kiara dari ujung rambut yang berantakan hingga ujung kaki. Dia melihat seragam pelayan yang salah ukuran, noda debu di pipi Kiara, dan sepatu kets dekil itu. "Pelayan tidak punya akses ke lantai ini," kata Darius pelan, namun setiap suku kata terasa tajam. Dia melangkah maju, mengikis jarak, memaksakan dominasinya. Tubuhnya yang menjulang membuat Kiara merasa kerdil dan tak berdaya. "Dan pelayan di The Elysium tidak memakai sepatu kets murahan." Kiara mencoba mencari celah untuk lari. Kiri tertutup tubuh kekar Darius. Kanan adalah dinding. Belakang adalah kaca jendela lantai 55. "Siapa yang mengirimmu?" tanya Darius. Tangan kanannya terulur secepat kilat. Jari-jari kuat pria itu sudah mencengkeram rahangnya. Cengkeramannya kuat, tidak menyakitkan tapi tegas, memaksa Kiara mendongak menatap wajahnya. Ibu jari Darius menekan pipi Kiara, mengunci wajah gadis itu. "Jawab aku," desisnya. "Kau mata-mata Lau? Polisi? Atau pelacur yang salah kamar?" "Bukan!" bantah Kiara, suaranya pecah. Air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku... Aku mencari adikku! Namanya Sari! Dia hilang dua minggu lalu dan jejak terakhirnya ada di sini. Aku hanya ingin tahu dia di mana!" Darius menatap mata Kiara dalam-dalam, mencari kebohongan. Selama sepuluh detik yang menyiksa, hanya ada suara napas Kiara yang memburu. Perlahan, cengkeraman di rahang Kiara melonggar. Tangan Darius turun, menyentuh leher gadis itu. Telapak tangannya yang hangat dan kasar menempel di sana, ibu jarinya menekan lembut di atas denyut nadi Kiara yang berdetak liar. "Detak jantungmu 140 per menit," gumam Darius. "Kau jujur. Atau kau pembohong yang sangat, sangat gugup." "Tolong, Tuan," bisik Kiara, air matanya akhirnya menetes, membasahi ibu jari Darius. "Saya akan pergi. Saya janji tidak akan bicara soal pria yang dipukul itu. Saya... saya cuma mau adik saya." Darius mendengus. Tawa kecil yang kering dan tanpa humor keluar dari bibirnya. "Kau melihat wajahku saat aku memberikan perintah penyiksaan, Tikus Kecil. Kau mendengar nama pengkhianat itu. Di duniaku, informasi adalah mata uang, dan saksi mata adalah beban." Dia mendekatkan wajahnya, hidungnya nyaris bersentuhan dengan hidung Kiara. "Dan beban harus dimusnahkan." Darah Kiara seolah berhenti mengalir. "Anda... Anda mau membunuh saya?" Darius tidak menjawab langsung. Dia melepaskan leher Kiara, lalu berjalan mundur perlahan menuju meja kerjanya. Dia menekan sebuah tombol merah di telepon interkom. "Kirim keamanan ke Penthouse," perintahnya singkat. Kiara mematung. Kakinya ingin berlari, tapi otaknya tahu itu sia-sia. Pintu ada di seberang ruangan. Darius ada di antara dia dan pintu. Namun, Darius tidak membiarkannya hanya menunggu nasib. Dalam dua langkah lebar, pria itu kembali mendekat, kali ini mengurung Kiara dengan menumpukan satu tangannya ke kaca di samping kepala gadis itu. "Aku belum selesai bicara," bisik Darius tepat di telinga Kiara. Napas hangatnya menyapu kulit sensitif di leher gadis itu, membuat Kiara merinding hebat. "Kau punya dua pilihan, Tikus Kecil," ujar Darius pelan. "Pertama, aku serahkan kau pada keamanan. Mereka akan menginterogasimu dengan cara yang menakutkan. Setelah itu... yah, Laut Cina Selatan cukup dalam untuk menyembunyikan tubuh sekecil ini." Kiara terisak pelan, tubuhnya merosot sedikit, tapi tertahan oleh tubuh Darius yang begitu dekat. "Atau..." Jari telunjuk Darius menyentuh dagu Kiara, mengangkat wajahnya lagi. "Kau tetap di sini." Kiara menatapnya dengan pandangan kabur karena air mata. "A-apa?" "Kau bilang kau mencari adikmu," kata Darius. Matanya berkilat licik, penuh perhitungan. "Aku memiliki kota ini. Tidak ada yang bergerak di Makau tanpa sepengetahuanku. Jika adikmu masih bernapas di kota ini, aku bisa menemukannya." Harapan membuncah di dada Kiara, liar dan menyakitkan. "Anda bisa menemukannya?" "Bisa. Itu hal mudah bagiku," jawab Darius sombong. "Tapi jasaku sangat mahal. Dan nyawamu yang sudah melihat kejadian tadi juga ada harganya." "Saya... saya tidak punya uang," cicit Kiara putus asa. "Saya hanya mahasiswa..." Darius tersenyum miring. Kali ini, senyum itu terlihat lebih gelap. "Aku tidak butuh uangmu. Asetku sudah cukup untuk membeli negara kecil." Darius mencondongkan tubuhnya, menekan Kiara semakin rapat ke kaca. "Bayar aku dengan kepatuhanmu," bisik Darius. Suaranya berubah menjadi geraman rendah yang sensual. "Jadilah milikku. Tinggal di sini, di bawah atapku, di bawah pengawasanku. Kau akan melakukan apa yang kukatakan, kapan pun aku mengatakannya. Sebagai gantinya, kau tetap hidup, dan aku akan menyeret adikmu kembali padamu." Kiara ternganga, syok. "Itu gila. Anda gila. Saya bukan pelacur." "Aku tidak memintamu menjadi pelacur. Aku memintamu menjadi milikku," koreksi Darius tajam. "Itu konsep yang berbeda. Dan ini bukan negosiasi. Ini ultimatum." Suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari luar koridor. Keamanan sudah datang. "Waktumu habis," desak Darius. Tatapannya menuntut, memaksa, dan mutlak. "Pilih. Keamanan, atau aku?" Kiara menatap mata hitam kelam itu. Suara ketukan keras terdengar di pintu. "Tuan Gan? Keamanan." Darius tidak menoleh ke pintu. Dia terus menatap Kiara. Dengan tangan gemetar dan hati yang hancur, Kiara mengangguk pelan. "Saya terima," bisiknya nyaris tak terdengar, suaranya pecah. Sudut bibir Darius terangkat membentuk senyum kemenangan. "Pilihan bagus," bisik Darius. Dia berbalik ke arah pintu, membukanya sedikit tanpa membiarkan pengawal melihat ke dalam. "Bawa pergi sisa sampah yang ada di lorong belakang. Di sini bersih. Alarm itu kesalahan teknis." "Baik, Tuan." Pintu tertutup kembali dan dikunci. Bunyi klik kunci otomatis itu terdengar seperti vonis penjara bagi Kiara. Darius berbalik, menatap Kiara yang masih gemetar di sudut ruangan, terlihat kecil dan rapuh. "Namamu," tuntutnya. "Kiara," jawabnya pelan. "Nah, Kiara," Darius melangkah mendekat, mengulurkan tangannya. Bukan untuk bersalaman, tapi gesture yang menuntut untuk diraih. Matanya menyiratkan kepemilikan mutlak. "Selamat datang di The Elysium. Mulai detik ini, kau bukan lagi tamu, dan kau bukan lagi orang bebas." Kiara menatap tangan besar itu. Tangan yang baru saja memerintahkan penyiksaan, kini menawarkan perlindungan beracun. Dengan ragu, ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Darius. Darius menggenggamnya erat, menarik Kiara mendekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. "Kau adalah tawananku.""Tadi itu aku deg-degan banget, waktu kamu menatap tajam Madam Rose," kata Kiara, memecah keheningan di dalam mobil yang sedang melaju ke distrik Kowloon.Darius terkekeh pelan. Dia bersandar nyaman di jok kulit. "Kamu juga cerdas Kiara, bisa memecahkan teka-teki itu kurang dari 10 menit.""Terimakasih atas pujiannya, Tuan Gan," ucap Kiara sambil memperbaiki posisi duduknya.Darius tersenyum tipis. Tangannya terulur, hendak mengusap punggung tangan Kiara yang terasa dingin. Namun, gerakan itu terhenti di udara. Mata Darius menangkap sesuatu dari kaca spion tengah.Senyum di wajah pria itu lenyap seketika. Rahangnya mengeras. Suasana hangat di dalam mobil seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang mencekik.Darius membungkuk dan menarik sebuah tuas tersembunyi di bawah joknya. Dia mengeluarkan sebuah pistol Glock hitam pekat. Perut Kiara seketika melilit dan napasnya tercekat. Dia menatap senjata api di tangan Darius dengan ngeri. Realita kembali menghantamnya tanpa ampun; pria
Pukul 19:45 - Aberdeen HarbourRestoran terapung Jumbo Kingdom tampak seperti istana naga yang terdampar di tengah laut hitam. Ribuan lampion merah dan lampu neon emas memantul di permukaan air yang berminyak.Darius menuntun Kiara meniti jembatan kayu menuju dermaga restoran. Langkah mereka disambut oleh goyangan lembut lantai kayu yang mengikuti irama ombak."Jangan melihat ke bawah," bisik Darius, merasakan tangan Kiara yang berkeringat dingin dalam genggamannya. "Air di sini kotor. Dan penuh dengan rahasia yang dibuang orang."Mereka tidak diarahkan ke ruang makan utama, tetapi mereka diarahkan menuju paviliun privat di lantai teratas—area terlarang bagi publik.Di ujung meja bundar besar yang terbuat dari kayu rosewood, duduklah seorang wanita tua.Madam Rose.Dia tidak terlihat seperti kriminal. Dia terlihat seperti nenek bangsawan dari dinasti yang telah runtuh. Rambut putihnya disanggul rapi dengan tusuk konde giok. Dia mengenakan Cheongsam sutra ungu tua, dan jari-jarinya yan
Pukul 18:00 Koper-koper mewah milik Darius sudah diletakkan rapi di walk-in closet. Di luar jendela raksasa, langit Hong Kong mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Namun, pemandangan di dalam kamar Suite itu jauh lebih menarik—dan menegangkan. Kiara berdiri di tengah ruangan, menatap gaun yang disiapkan Darius di atas tempat tidur King Size itu. Itu bukan gaun malam biasa. Itu adalah Cheongsam modern berbahan sutra hitam dengan bordir naga emas yang rumit. Potongannya sangat tradisional di bagian kerah tinggi, namun sangat modern di bagian bawah. Belahannya naik tinggi hingga nyaris mencapai pinggul. "Kamu ingin aku memakai ini?" tanya Kiara, menoleh pada Darius yang sedang melepas kemejanya santai. Darius melempar kemejanya ke kursi, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang kekar dan berotot. Dia berjalan mendekat, aroma tubuhnya yang maskulin langsung menguasai ruangan. "Madam Rose adalah wanita tradisional Hong Kong yang konservatif tapi menghargai keindahan," jelas
Tangan Darius tidak tinggal diam. Jari-jarinya yang kasar namun terampil menyusup ke balik kerah jumpsuit Kiara, mengusap tulang selangkanya, lalu turun perlahan menutupi payudaranya. "Mmmhh..." erang Kiara tertahan. Tubuhnya otomatis melengkung mencari kehangatan tangan pria itu. Darius meremasnya dengan tekanan yang pas, memancing desahan yang lebih panjang dari bibir Kiara. "Kamu sangat responsif," puji Darius, suaranya berubah menjadi geraman serak. Dia melumat bibir Kiara. Bukan ciuman kasar, tapi ciuman dalam yang basah, menuntut, dan penuh kepemilikan. Lidahnya menginvasi mulut Kiara, mengecap rasa manis yang kini menjadi candu barunya. Kiara membalas ciuman itu dengan rakus. Tangan mungilnya menelusup ke rambut hitam Darius, menariknya lebih dekat. "Nghh... Darius..." desah Kiara di sela-sela ciuman mereka saat tangan Darius yang lain mulai mengusap paha bagian dalamnya, mengarah ke pusat gairahnya. "Kamu basah lagi, Kiara," goda Darius di sela napasnya yang membur
Dia menyingkirkan kemeja itu sepenuhnya, membuangnya ke lantai. Mata Darius menggelap saat menatap tubuh Kiara yang kini tak terhalang apa pun. Darius menindihnya, kulit mereka akhirnya bersentuhan sempurna. Pria itu menyatukan bibir mereka kembali, kali ini dengan ritme yang lebih dalam dan ritmis, menuntut penyerahan total. "Aahhh Darius, pelan-pelan." "Kenapa? Apakah ini pertama kali untukmu?" Tanya Darius. Kiara menganggukkan kepalanya perlahan, dia merasa canggung dan malu, walaupun dia sangat menginginkannya. Penyatuan mereka terjadi dengan lembut. Segala frustrasi, amarah, dan ketertarikan yang sudah mereka tekan sejak malam-malam sebelumnya tertuang hari ini. Kiara mencengkeram seprai hitam itu dengan kuat, meneriakkan nama Darius saat pria itu membawanya melambung ke puncak kenikmatan yang membutakan, menghapus semua sisa keraguan dan rasa sakit hatinya. " Pukul 13:00 Siang Kiara keluar dari mobil. Kakinya masih terasa sedikit gemetar dan ada rasa pegal yang me
Pukul 09:00 Pagi Kesadaran kembali pada Kiara dalam bentuk denyutan tumpul di belakang kepala, seolah ada orkes drum kecil yang sedang latihan di dalam tengkoraknya. Kiara mengerang pelan, mencoba memblokir sinar matahari yang menusuk masuk lewat celah tirai. Dia membenamkan wajahnya ke bantal. Tunggu. Bantal ini baunya berbeda. Biasanya bantal di kamarnya berbau lavender dan deterjen steril. Tapi bantal ini... bantal ini memiliki aroma yang berbeda dari biasanya. Berbau Oud, tembakau mahal, dan musk maskulin yang pekat. Aroma yang begitu familiar, begitu memabukkan, hingga membuat perut Kiara bergejolak. Kiara membuka mata dengan cepat. Panik menyergap. Dia tidak berada di kamarnya yang bernuansa krem. Dia berada di sebuah kamar yang sangat luas didominasi warna hitam, abu-abu arang, dan kayu gelap. Jendela kaca setinggi enam meter menampilkan pemandangan yang menyilaukan. Kamar Utama, kamar Darius Gan. Kiara mencoba duduk, tapi kepalanya berputar. Dia melihat ke ba







