แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Devienne Noraine
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-21 18:28:42

Suara pintu mahoni ganda itu tertutup dengan bunyi yang berat dan mematikan, seolah menyegel nasib di baliknya. Detik berikutnya, terdengar bunyi klik digital dari sistem penguncian otomatis, disusul dengungan halus namun tegas dari baut baja yang meluncur masuk ke dalam kusen pintu.

Kiara berdiri mematung di ruang depan yang luas. Punggungnya masih menghadap pintu, tangannya gemetar hebat di sisi tubuhnya. Udara di dalam Penthouse ini terasa berbeda dari koridor di luar. Lebih dingin. Lebih bersih. Dan jauh lebih menekan.

Di belakangnya, Darius Gan tidak langsung bicara. Pria itu berjalan melewati Kiara, langkah kakinya di atas lantai marmer hitam nyaris tak terdengar, seperti seekor kucing besar yang sedang berpatroli di wilayah kekuasaannya.

Kiara berbalik perlahan, matanya mengikuti pergerakan pria itu.

Ruangan ini adalah definisi dari kesunyian yang mahal. Dinding kaca setinggi enam meter memperlihatkan panorama Makau yang berkelap-kelip di kejauhan, tapi di sini, di ketinggian lantai 55, hiruk-pikuk kota itu hanyalah bisu.

Darius berjalan menuju sebuah bar pribadi yang terbuat dari onyx hitam dengan pencahayaan latar berwarna kuning keemasan. Dia membuka jas nya, melemparkannya sembarangan ke sandaran sofa kulit Italia seharga mobil sport, lalu mulai melonggarkan dasinya.

Gerakan itu santai, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja memerintahkan penyiksaan di ruangan yang sama beberapa menit lalu.

"Kau masih berdiri di sana?" suara Darius memecah keheningan. Baritonnya rendah, bergema sedikit di ruangan yang luas itu.

Tanpa menoleh, Darius meraih sebuah botol kristal berisi cairan berwarna ambar tua. Dia menuangkannya ke dalam gelas dengan bunyi klink yang tajam.

"Masuklah," perintahnya, lalu menyesap minumannya. "Kecuali kau lebih suka berdiri di depan pintu seperti patung penyambut tamu."

Kiara memaksakan kakinya untuk melangkah. Sepatu kets kanvasnya berdecit pelan di lantai marmer yang licin, bunyi yang terdengar sangat murahan dan kontras di tempat semewah ini. Dia berhenti di dekat punggung sofa, menjaga jarak aman dari Darius.

"Apa yang akan terjadi sekarang?" tanya Kiara. Dia membenci betapa kecil suaranya terdengar. "Anda bilang... saya harus menjadi milik Anda. Apa artinya itu? Apa yang Anda inginkan dari saya malam ini?"

Darius berbalik. Dia bersandar santai pada pinggiran meja bar, memegang gelas wiskinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masuk ke saku celana. Tatapan matanya menyapu Kiara dari ujung rambut yang berantakan hingga ujung kaki. Tatapan itu bukan tatapan nafsu yang menjijikkan, melainkan tatapan analitis seorang pemilik yang sedang menilai aset barunya.

"Tenanglah, Tikus Kecil," jawab Darius dengan nada mengejek yang halus. "Aku tidak berniat menyentuhmu malam ini. Kau terlihat berantakan, bau keringat, dan jujur saja... kau gemetar seperti daun kering. Itu tidak membangkitkan selera."

Wajah Kiara memanas karena hinaan itu. Tapi di sisi lain, ada rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya.

"Tapi," Darius menegakkan tubuhnya, lalu mulai berjalan perlahan mendekati Kiara. Setiap langkahnya memancarkan aura dominasi yang membuat oksigen di sekitar Kiara menipis. "Karena kau sudah setuju dengan kontrak kita, ada beberapa hal yang harus diluruskan sebelum kau tidur."

Kiara mundur selangkah, insting pertahanannya menyala. Tapi Darius terus maju sampai jarak mereka hanya tersisa satu langkah.

Di jarak sedekat ini, aroma tubuh pria itu menghantam indra penciuman Kiara dengan kekuatan penuh.

Ini adalah aroma yang kompleks, gelap, dan mengintimidasi.

Itu adalah aroma uang. Aroma kekuasaan mutlak. Aroma bahaya yang dibalut setelan sutra.

"Aturan main," bisik Darius, menatap lurus ke dalam mata Kiara. "Di The Elysium, kata-kataku adalah hukum. Dan di Penthouse ini, kata-kataku adalah Tuhan."

Kiara menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Aturan apa?"

Darius mengangkat jari telunjuknya yang panjang.

"Satu: Jangan pernah mencoba kabur."

Suaranya tenang, tapi matanya berkilat dingin. "Tempat ini dirancang seperti benteng. Lift pribadi hanya merespons sidik jari dan retina mataku, atau kartu akses level tertinggi milik kepala keamananku. Tangga darurat dikunci secara magnetis dan dilengkapi sensor gerak serta kamera termal. Jendela ini," Darius menunjuk kaca raksasa di samping mereka, "adalah kaca anti-peluru berlapis tiga yang tidak bisa dipecahkan dengan kursi atau vas bunga."

Darius maju setengah langkah lagi, mengikis jarak. Kiara bisa merasakan hawa panas tubuhnya.

"Jika kau mencoba lari dan tertangkap oleh anak buahku di bawah, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu. Mereka dilatih untuk melumpuhkan penyusup, bukan untuk bersikap sopan pada gadis yang tersesat. Jadi, kecuali kau punya sayap untuk terbang dari balkon lantai 55, buang pikiran bodoh itu."

Kiara meremas ujung kemeja seragamnya. Dia mengangguk kaku. Dia sudah melihat apa yang terjadi pada pria bernama Lau tadi. Dia tidak ingin bernasib sama.

"Dua," jari kedua Darius terangkat. "Jangan menyentuh barang-barangku tanpa izin."

Darius mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. "Setiap benda di sini punya tempatnya sendiri. Dokumen di meja, buku di rak, koleksi di lemari kaca... aku tahu persis letak setiap milimeternya. Aku benci ketidakteraturan. Aku benci orang yang lancang. Kau boleh duduk di sofa, kau boleh minum air dari dapur, tapi jangan pernah masuk ke ruang kerjaku atau kamar pribadiku. Itu zona terlarang. Mengerti?"

"Saya mengerti," jawab Kiara cepat. "Saya tidak tertarik dengan barang-barang Anda."

"Bagus," Darius menyeringai tipis. "Dan Tiga..."

Jari ketiga terangkat. Kali ini, Darius menatap Kiara dengan intensitas yang membuat lutut gadis itu goyah.

" Jangan pernah membantahku."

Kiara mengerjap. "Apa?"

"Kau punya mulut yang cukup tajam untuk ukuran tawanan," kata Darius pelan. "Aku melihat caramu menatapku tadi. Ada pemberontakan di matamu. Simpan itu. Di sini, kau tidak punya hak veto. Kau tidak punya hak suara. Ketika aku menyuruhmu duduk, kau duduk. Ketika aku menyuruhmu bicara, kau bicara. Dan ketika aku menyuruhmu diam..." Darius mendekatkan wajahnya, "...kau diam."

Darah Kiara mendidih. Rasa takutnya berbenturan dengan harga dirinya. "Saya manusia, bukan anjing peliharaan."

"Saat ini, statusmu lebih rendah dari anjing peliharaanku," balas Darius kejam. "Anjingku setia. Kau? Kau hanyalah beban yang kubiarkan hidup karena aku sedang bermurah hati."

Darius meneguk sisa minumannya dalam sekali teguk, lalu meletakkan gelas kosong itu di meja konsol di samping mereka dengan bunyi yang keras.

"Sekarang, serahkan," katanya sambil menengadahkan tangan kanan di depan Kiara.

Kiara bingung. "Serahkan apa?"

"Ponselmu," perintah Darius datar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 17

    Mobil berbelok tajam, memasuki sebuah gerbang besar berbentuk mulut naga emas yang tampak norak namun mengintimidasi. "Dengar, Kiara," suara Darius berubah serius. Dia memutar tubuhnya menghadap Kiara, meletakkan satu tangan di sandaran kursi gadis itu, mengurungnya. "Tempat ini berbeda dengan The Elysium. Kasinoku adalah bisnis. Tempat ini adalah rumah jagal. Di sini, orang mempertaruhkan bukan cuma uang, tapi jari, istri, bahkan nyawa." Darius menatap mata Kiara tajam. "Tugasmu sederhana. Kamu adalah trophy woman-ku. Hiasan cantik di lenganku. Jangan bicara kecuali ditanya. Jangan menatap mata siapa pun lebih dari dua detik. Dan..., jangan lepaskan lenganku." "Aku mengerti," cicit Kiara. "Tersenyumlah," perintah Darius, jarinya menyentuh dagu Kiara, memaksanya mendongak. "Kamu sedang bersama Darius Gan, Raja Kasino Makau. Kamu harus terlihat seolah kamu memiliki dunia, bukan seolah kamu takut padanya." Mobil berhenti. Pintu dibuka oleh valet yang terlihat kasar dan ber

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 16

    "Apakah..." Kiara mencoba bicara, suaranya serak karena gugup. "Apakah ini cukup tertutup?" Darius tidak langsung menjawab. Dia meletakkan gelasnya di meja tanpa mengalihkan pandangan dari Kiara. Dia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Setiap langkah Darius mendekat, jantung Kiara berpacu semakin cepat. Aroma Oud dan Leather pria itu semakin kuat, bercampur dengan aroma parfum mahal yang baru saja disemprotkan Julian ke tubuh Kiara, kombinasi aroma mereka menciptakan feromon yang memusingkan. Darius berhenti tepat di depan Kiara. Jarak mereka kurang dari lima sentimeter. Tangan Darius terulur. Kiara menahan napas, mengira Darius akan menyentuh wajahnya. Tapi tangan Darius turun ke pinggang Kiara. Telapak tangannya yang besar dan hangat menempel di atas kain beludru itu, meremas pelan pinggang ramping Kiara, menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Kiara tersentak, tangannya refleks menumpu di dada bidang Darius untuk menjaga keseimbangan. Di balik kemeja s

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 15

    Pukul 18:30 Matahari telah sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit Makau yang kini berwarna ungu lebam sebelum akhirnya menyerah pada kegelapan malam. Kiara duduk diam di depan cermin rias di kamar tamunya. Dia merasa bukan seperti manusia lagi, melainkan sebuah kanvas kosong yang sedang dilukis paksa. Tiga orang telah masuk ke kamarnya setengah jam yang lalu. Mereka bukan pelayan housekeeping seperti Bibi Mei. Mereka adalah tim profesional yang dipimpin oleh seorang pria bernama Julian. "Jangan bergerak, Sayang. Eyeliner-mu bisa miring," tegur Julian dengan bahasa Inggris beraksen Prancis yang kental. Tangannya yang memegang kuas rias bergerak lincah di sekitar mata Kiara. "Tuan Gan bilang tertutup, tapi dia tidak bilang membosankan," gumam Julian pada asistennya yang sedang menata rambut Kiara. "Buat rambutnya tergerai, tapi bergelombang rapi. Sleek and dangerous. Kita tidak mau dia terlihat seperti anak sekolah yang mau pergi les." Kiara memejamkan mata, membiarkan wajahnya

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 14

    "Kamu pikir aku hanya duduk diam sementara kamu bermain detektif dengan Google?" tanya Darius sambil berjalan menuju bar mininya, menuang air mineral. "Aku sudah menyuruh tim IT-ku melacak jejak digital adikmu."Layar menyala. Sebuah rekaman CCTV berkualitas rendah muncul.Di sudut kanan atas, tertera tanggal: 14 Mei. Pukul 23:45. Lokasi: Loading Dock, The Elysium - Sektor Selatan."Ini rekaman dari kamera keamanan belakang kasinoku," jelas Darius. "Area ini biasanya hanya untuk truk pengantar logistik makanan."Kiara melangkah mendekati layar, matanya terpaku pada gambar hitam putih itu.Di layar, terlihat seorang gadis muda dengan gaun pesta yang berkilauan sedang berjalan cepat, sesekali menoleh ke belakang dengan panik."Sari," bisik Kiara. Dia mengenali postur tubuh itu. Mengenali cara jalan adiknya yang sedikit berjinjit.Sari terlihat memegang sebuah tas tangan kecil di dadanya. Dia bersembunyi di balik tumpukan krat minuman kosong.Lalu, sebuah mobil van hitam berhenti. Pintu

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 13

    "Anda brengsek," desis Kiara. Darius memutar kursinya perlahan. Dia menatap Kiara yang masih berdiri di bawah lampu sorot, tampak rapuh namun berapi-api. "Kamu merasa malu?" tanya Darius tenang. "Anda menjadikan saya tontonan!" jerit Kiara. "Anda membiarkan mereka menatap saya seperti pelacur!" "Aku tidak melakukan apa-apa," bantah Darius. Dia berdiri, berjalan mendekati Kiara, masuk ke dalam lingkaran cahaya itu. "Aku hanya menyuruhmu berdiri. Pikiran merekalah yang kotor. Dan rasa malumu... itu datang dari ketidakberdayaanmu sendiri." Darius berhenti tepat di depan Kiara. Dia mengangkat tangan, menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Sentuhannya kasar namun anehnya tidak menyakitkan. "Ingat perasaan ini, Kiara," bisik Darius. "Ingat betapa tidak enaknya menjadi objek. Ingat betapa lemahnya posisimu saat kamu tidak memegang kendali." Darius mencondongkan wajahnya, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Kiara. "Kamu mencoba meretas TV-ku karena ka

  • Jerat Liar Sang Taipan   Bab 12

    Kiara meletakkan tablet kerjanya di atas meja. Napasnya sedikit tertahan, menunggu vonis yang akan diberikan Darius padanya. Darius mengambil tablet itu. Matanya yang tajam menyapu layar, membaca baris demi baris laporan yang telah dikerjakan Kiara. Hening. Hanya ada suara denting es di gelas Darius yang sesekali ia putar. Wajah Darius datar, tidak terbaca. Dia men-scroll layar sampai ke halaman terakhir, di mana Kiara melingkari angka kerugian akibat mark-up harga daging Wagyu di cabang Singapura. Perlahan, Darius meletakkan tablet itu kembali ke meja dan menatap Kiara. "Menarik," gumamnya. Satu kata itu keluar tanpa nada mengejek. Murni pengakuan profesional. "Kau menemukan pola yang dilewatkan oleh tim auditku selama dua kuartal. Manajer Pembelian di Singapura... si brengsek itu ternyata bermain dengan pemasok." Dada Kiara membuncah sedikit karena rasa bangga. "Datanya jelas, Tuan. Angkanya sesuai." "Benar," Darius mengangguk, lalu meneguk habis minumannya. "Kamu membuk

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status