Masuk"Aku..." Lana menjeda kalimatnya sambil menghela napas panjang. Mata amber-nya mengerjap, mulai berkaca-kaca. "Jujur, Mas... aku sedang melakukan tes DNA untuk Eden. Aku memakai sampel rambut yang aku cabut malam itu, waktu aku memijatmu. Ada rasa penolakan dalam diriku, aku sangat berharap Eden bukan anakmu." Lana memutar badan membelakangi suaminya, lalu menggigit kukunya dengan cemas—sebuah kebiasaan lama yang muncul saat ia sangat tertekan. "Tidak bisa kubayangkan jika Eden ternyata benar anakmu. Dia ada di rumah ini, dan selama ini aku mengasuhnya murni karena kasihan dia akan berakhir di panti asuhan sementara ibunya bekerja di Kanada." Lana menepuk dadanya pelan, mencoba menghalau rasa sesak yang kian menghimpit. "Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi binar mata Eden dan panggilannya padaku sebagai 'Mama' jika besok hasilnya ternyata positif." Reyner mematung. Rokok yang baru saja ia nyalakan terabaikan begitu saja di asbak. Pernyataan Lana barusan seperti hantaman goda
Rey kembali mengenakan celana pendeknya, lalu melangkah keluar menuju teras samping yang menghadap langsung ke kolam renang minimalis mereka. Ia menyulut sebatang rokok, mengisapnya kuat-kuat hingga bara di ujungnya memerah terang di kegelapan malam. Asap mengepul, menutupi wajahnya yang tampak frustrasi. Rey benar-benar tidak habis pikir kenapa sikap Lana berubah drastis. Masalah Mitha sudah tuntas, dan ia jelas-jelas berada di pihak Lana.Baginya, Lana adalah prioritas utama—wanita yang telah memberinya seorang putra tampan dan menyempurnakan hidupnya.Keheningan malam itu hanya dipecah oleh suara gemericik air kolam. Rey menyandarkan punggungnya di pagar pembatas, menatap pantulan lampu taman yang bergoyang di permukaan air. Ia merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar urusan keluarga Lana yang sedang disembunyikan istrinya.Lana perlahan menyusul ke teras, hanya mengenakan jubah tidur sutranya yang tipis. Ia berdiri di ambang pintu, menatap pung
Malam itu, setelah Rezza dan Dinda pulang ke Surabaya, Lana berbaring menatap langit-langit kamar. Ia menunggu esok, saat hasil tes DNA membuktikan apakah Eden benar-benar anak biologis Rey. Jujur, ia belum siap jika hasilnya positif. Memang hubungan Rey dan Kimmy terjadi sebelum Lana hadir, namun tetap saja rasanya perih.Rey keluar dengan bertelanjang dada dari kamar mandi, lalu mengambil kaus untuk tidur. "Apa yang kamu pikirkan, Lan? Sepertinya ada yang mengganggumu," tanya Rey. Ia menengok sekilas sebelum mengenakan kaus itu dan berbaring di sebelah istrinya. Ia tak tahu bahwa kini Lana sedang menjadikannya target dalam pertaruhan tes DNA.Lana tidak menoleh, matanya masih terpaku pada langit-langit. "Hanya memikirkan hari esok," jawabnya singkat dengan nada suara yang datar. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya. "Besok akan menjadi penentu, Mas. Entah itu awal yang baru, atau justru akhir dari segalanya.""Maksudmu? Cerit
Suasana makan malam di ruang makan yang mewah itu terasa kaku di tengah keheningan yang menyesakkan. "Lana, Papa sudah dengar semuanya. Mitha memang salah, tapi penjara bukan tempat untuknya. Dia adikmu." Lana tidak mendongak, ia tetap tenang memotong daging di piringnya. "Dia bukan hanya salah, Pa. Dia menyabotase perusahaan. Kerugiannya tidak sedikit." "Papamu benar, Lana. Mitha masih muda, masa depannya hancur kalau punya catatan kriminal. Tolong, cabut laporannya. Tante mohon, sebagai sesama wanita." Lana lalu menatap ibu tirinya itu dengan datar. "Tante bicara soal masa depan? Mitha tidak memikirkan masa depan perusahaan saya saat dia merusak dokumen manifes itu." "Lana, cukup. Papa akan ganti semua kerugian materialnya. Berapa pun. Asalkan malam ini juga kamu hubungi polisi untuk memulangkan Mitha." Reyner, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Maaf, Pa. Tapi ini bukan
Ponsel Lana berdering di tengah rapat bersama tim kreatif. Layar menampilkan nama 'Papa'. Lana menghela napas sejenak, lalu menoleh ke arah stafnya."Sebentar ya, Indra. Lanjutkan dulu, Papaku menelepon.""Baik, Bu."Lana melangkah keluar ruangan, sudah bisa memprediksi ke mana arah pembicaraan ini."Halo, Pa. Ada apa?""Lana, Papa ke Jakarta hari ini. Ini soal Mitha, kamu jangan menghindar.""Oh, Papa menemuiku jauh-jauh hanya untuk Mitha?" Lana tersenyum getir. Untuk anak sambungnya, sang papa rela bersusah payah, sementara saat Lana pindah ke Jakarta dulu, ayahnya bahkan tidak pernah berbasa-basi menanyakan kabar. "Silakan datang ke Bogor, pintuku selalu terbuka untuk Papa. Sampai nanti, Pa. Aku sedang bekerja mengurus kekacauan yang dibuat Mitha karena ku rugi ratusan juta."Lana langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu balasan.****Lana melangkah masuk ke ruangannya setelah rapat u
Setelah telepon terputus, kegaduhan terjadi di rumah Rezza. Dinda meledak histreris, membuang apa pun yang ada di dekatnya ke lantai."Pokoknya Mitha harus keluar, Mas! Aku tidak mau tahu!" teriak Dinda dengan napas memburu. Ia menatap Rezza tajam, mulai melancarkan jurus manipulatifnya. "Kalau kamu memang mencintaiku seperti yang selalu kamu katakan, buktikan sekarang! Apa kamu tega melihat istrimu ini mati perlahan karena memikirkan anaknya di penjara?"Rezza terpaku di tempatnya. Hatinya berkecamuk hebat. Mengganti kerugian yang diperbuat Mitha bukanlah nominal yang kecil; jujur, angka itu sangat memberatkan finansialnya. Namun, melihat air mata Dinda, pertahanannya runtuh."Siapkan barang-barangmu. Kita berangkat ke Jakarta malam ini juga," perintah Rezza akhirnya.Ia memutuskan untuk menemui Lana secara langsung. Dari Surabaya ke Jakarta, Rezza rela menempuh perjalanan udara demi memohon pada putri kandungnya itu—meski ia tahu, menghadap
"Jangan lupa, kau bahkan setuju untuk mendepak Lana sebelum dia benar-benar hamil, kan? Jangan munafik, kau tidak takut karena merasa Lana bisa saja hamil lebih dulu darimu yang sudah lama menjadi menantu keluarga Julian," geram Kimmy. "Ingat, kita sama-sama busuk." tambah Kimmy.
"Halo, Lana. Belum tidur?" "Belum," sahut Lana singkat. "Apa yang sedang kamu kerjakan?" Suara Reyner terdengar lebih lembut, mengiringi sayup-sayup musik klasik yang mengalun dari kamar Lana. "Mengetik naskah untuk platform menulis. Selain bekerja sebagai pialang, aku punya alter ego sebagai
Sore itu, di sebuah warung makan sederhana setelah pulang dari proyek, Reyner membuka ponselnya. Ada beberapa pesan masuk terkait pekerjaan, foto Lana yang memamerkan menu masakan hari ini, dan satu pesan dari nomor tak dikenal. Pesan itu berisi lampiran foto: Lana tampak akrab dengan seorang pri
Pagi itu, Reyner bersiap berangkat ke Semarang. Lana tampak sibuk menyiapkan sarapan, sebuah pemandangan layaknya suami istri yang saling mencintai, namun sama-sama terhalang gengsi.Di meja makan tersaji bandeng goreng, sayur bayam, dan sambal terasi hasil ulekan cobek barunya.







