ANMELDENHai semua, Jika kalian berkenan follow sosial mediaku ya Ig-Tiktok @vanillaicecreamm2025 yuk...
"Gaya apa saja, yang penting cepat selesai."Reyner seketika berhenti. "Tadi menantangku, ck! Belum apa-apa sudah menyerah.""Masalahnya, kalau kakiku gempor, besok aku tidak bisa jalan menemanimu ke bank," protes Lana. "Masa iya aku harus mengesot?""Bawel, banyak alasan. Sekarang diamlah. Biar suamimu ini yang bekerja keras, kamu cukup menerima hasilnya saja," ucap Reyner sambil menjawil gemas hidung mancung Lana.Lana hanya bisa pasrah saat tubuhnya diangkat dan dibaringkan dengan lembut di atas sofa. Ia melingkarkan lengannya di leher Reyner, menatap mata suaminya dengan sisa-sisa tenaga yang ada."Janji ya, setelah ini langsung tidur. Jangan sampai aku pingsan karena ulahmu yang tidak tahu waktu itu."Napas keduanya memburu, saling berkejaran di keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara detak jantung yang menggila. Reyner mempercepat ritmenya, mengunci tatapan Lana yang mulai sayu dan dipenuhi kabut kenikmatan. Tubuh
"Tidak, hanya berjaga-jaga saja, Sayang. Dulu, Kimmy pernah melihatku membuka brankas ini. Itu kebodohanku karena terlalu percaya padanya. Aku akan memindahkan semua ini ke safe deposit box besok pagi. Kamu ikut, ya?""Tentu, ngomong-ngomong, ada kabar terbaru apa dari Hans temanmu?" tanya Lana sembari meletakkan cangkir teh di meja kerja.Reyner meraih ponselnya, lalu menunjukkan laporan terbaru. Ia menceritakan bahwa Kimmy baru saja merangsek masuk ke panti pijat milik Garry dan keluar tiga puluh menit kemudian dengan mata sembab dan wajah penuh tangis.Lana menyesap tehnya perlahan, matanya menatap tajam foto di layar ponsel Reyner. "Menangis setelah bertemu kakaknya? Pasti ada perselisihan besar di antara mereka. Mungkin 'kakak-beradik' itu mulai tidak sejalan dalam pembagian hasil atau rencana mereka.""Daripada pusing memikirkan mereka, bagaimana kalau kita mencoba kursi tantra ini?" ucap Reyner dengan kilatan ambigu yang hanya dip
Suara ketukan pintu yang keras bergema di ruangan itu. "Mas, buka! Cepat!" Teriakan Kimmy seketika membuyarkan niat Garry yang baru saja hendak melangkah maju menerkam Dita."Shit! Dia datang," maki Garry kesal"Kau aman hari ini, Dita. Buka pintunya, kau boleh pergi."Pintu terbuka tepat saat wajah Kimmy yang memerah karena marah muncul di ambang pintu. Bagi Dita, kehadiran Kimmy adalah penyelamatan. Ia segera melangkah cepat, meninggalkan kakak-beradik dengan hubungan janggal itu tanpa menoleh lagi.Kimmy menatap Garry yang hanya mengenakan boxer dengan napas memburu. Meski pemandangan itu sudah biasa baginya, ada rasa panas yang membakar dadanya melihat Dita keluar dari sana dengan rambut sedikit berantakan."Layanan pijat atau layanan ranjang, Mas? Kamu bilang ada urusan, jadi ini urusannya? tapi kenapa masih saja mencari terapis bisu itu?"Kimmy membanting tasnya ke sofa, matanya berkaca-kaca menahan cemburu yang tak seharusnya ia mil
"Lalu kau? Kenapa menurut saja saat Lana menyuruhmu pulang ke Jakarta? Kau juga punya hak atas diri Reyner. Harusnya kau bisa berdrama masuk rumah sakit karena mual hebat," ganti Intan memprovokasi Kimmy."Aku tidak yakin Reyner mau mengurusku. Dia itu patuh sekali pada Lana. Aku juga heran kenapa Reyner seperti kerbau dicucuk hidungnya," jawab Kimmy sengit.Intan tertawa hambar. "Kau lupa? Lana itu cerdas. Dia mantan pialang dan lulusan University of Melbourne. Kemampuan persuasifnya sebagai agen pialang dalam membujuk klien tentu dia terapkan juga pada Reyner," ucap Intan sembari mencondongkan tubuh.Intan mendesah panjang. "Dulu, waktu sama Roy juga begitu. Hampir tiga tahun mereka pacaran. Tapi ayah mertuaku tidak suka; Lana terlalu dominan. Papa Julian tidak menyukai menantu yang terlalu menyetir anak laki-lakinya.""Dan kau bangga karena Papa Julian memilihmu?" sindir Kimmy sinis."Tentu, kenapa tidak?" jawab Intan sambil mengi
"Pernah beberapa kali, ditawari diskon khusus malah kadang gratis. Tapi aku tidak tertarik mencobanya. Aku cuma sempat lihat Garry memamerkan foto terapis-terapisnya di ponsel dengan baju minim," jawab Reyner datar."Lalu? Kamu tidak tertarik sama sekali?""Aku punya obsesi pada kebersihan dan hidup tidak free-sex" meski ragu, Lana mengangguk. Reyner bangkit dari sofa, mengambil kunci mobilnya dengan gerakan tegas. Tatapannya menatap lurus pada nama panti pijat yang tertera di layar ponsel Lana."Velvet Sanctuary... aku tahu area itu. Tempat itu cuma kedok untuk bisnis kotor Garry. Aku akan ke sana sekarang, Lan. Kamu tetap di rumah, jangan buka pintu untuk siapa pun.""Rey, jangan sendirian. Ajaklah teman atau sewa bodyguard," ucap Lana khawatir. "Apa yang akan kamu katakan pada Garry? Kita baru saja sampai. Kenapa tidak besok saja?"Reyner menghela napas, lalu menggenggam jemari Lana untuk menenangkannya. Matanya memancar
"Sini, sambil tiduran," ajak Lana sembari menarik lengan Reyner untuk berdiskusi santai. "Kamu ada modal berapa? Aku punya uang hasil kerjaku selama lima tahun jadi pialang, atau mobilku saja yang dijual. Kebetulan apartemenku juga mau aku kosongkan untuk disewakan, lumayan untuk tambah modal," ucap Lana.Reyner merebahkan diri, menarik Lana ke pelukannya. "Simpan uangmu untuk persalinan nanti, Lan. Aku sudah punya tabungan cukup untuk menyewa studio kecil sebagai awal.""Baiklah...""Tolong isi daya ponselku, Lan. Sudah lowbat," ujar Reyner teringat. Lana pun menerima ponsel suaminya."Boleh aku buka media sosialmu? Aku penasaran siapa saja yang kamu ikuti, apakah ada Kimmy?""Buka saja, aku tidak menyembunyikan apa pun. Kimmy sudah lama aku unfollow sejak dia mengirim foto editan murahan itu.""Rey, lihat daftar permintaan pertemananku. Banyak sekali, gadis-gadis muda semua.""Biarkan saja, jangan sembarangan di







