تسجيل الدخولReyner menyentak kemejanya hingga beberapa kancing terlepas dan mencampakkannya sembarang tempat. Gerakannya tergesa, didorong oleh gairah yang sudah di ujung tanduk. Melalui tatapan sayunya, ia bisa melihat Lana benar-benar menikmati setiap sentuhannya—jauh berbeda dengan semalam saat sang istri menyambutnya dengan beban pikiran yang tertahan. Reyner menarik thong Lana ke bawah, melewati lekuk kakinya yang masih terbungkus pump heels. Bukannya langsung melakukan penetrasi, Reyner justru berlutut di lantai. Ia menumpu tubuhnya, lalu dengan perlahan mulai mengecup dan menjilati jemari kaki Lana yang bersih dan terawat. "Ughhh.... hmmmm,," desah Lana tertahan, kepalanya mendongak dengan mata terpejam erat sementara jemarinya mencengkeram pinggiran meja kerja demi menyalurkan sensasi menggelitik yang aneh sekaligus nikmat. Reyner mendongak, menikmati ekspresi pasrah istrinya sebelum kembali bangkit. Ia tidak ingin terburu-buru mer
"Maafkan aku, Mas. Aku sempat meragukanmu," bisik Lana di tengah tangisnya yang pecah, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reyner. Cengkeramannya pada kemeja sang suami mengerat, menyalurkan rasa bersalah yang sempat mengendap di hatinya. Reyner tidak langsung menjawab. Ia justru semakin mendekap tubuh Lana, membiarkan istrinya menumpahkan seluruh sisa sesak yang mengganjal. Tangannya yang besar bergerak lembut, mengusap punggung dan sesekali mengecup puncak kepala Lana dengan penuh kasih. Setelah beberapa saat, Reyner melonggarkan pelukannya sedikit. Ia menangkup wajah Lana dengan kedua tangan, lalu menghapus sisa air mata di pipi istrinya menggunakan ibu jari. "Hei, lihat aku," pinta Reyner lembut, memaksa mata amber yang sedang sayu Lana untuk menatapnya. Reyner tersenyum tipis, tatapannya begitu hangat dan penuh pengertian. "Jangan minta maaf. Kamu sama sekali enggak salah, Sayang. Wajar kalau kamu ragu se
Lana melirik jam di sudut layar laptopnya. Pukul sepuluh pagi. Biasanya, pada jam seperti ini Reyner sedang sibuk-sibuknya memimpin rapat atau memeriksa berkas di kantor. Namun, Lana tahu ia tidak akan bisa fokus bekerja seharian jika tidak membagikan kabar ini sekarang juga.Dengan jantung yang masih bertalu karena rasa lega, ia mencari kontak suaminya dan menekan tombol panggil.Ponsel di seberang sana berdering. Satu kali, dua kali, tiga kali... Lana menggigit bibir bawahnya cemas, cengkeramannya pada ponsel mengerat. Tepat pada deringan keempat, panggilan itu tersambung."Ya, Sayang? Ada apa?" Suara berat dan serak khas milik Reyner terdengar di speaker. Ada latar belakang suara riuh rendah khas suasana kantor, namun nada bicara pria itu langsung melunak begitu menyapa istrinya.Mendengar suara itu, tenggorokan Lana mendadak tercekat. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mendesak keluar."Mas..." panggil Lana lirih, suaranya agak berge
Pagi itu di galeri perhiasannya, sebuah notifikasi surel masuk ke laptop Lana. Ia menatap layar dengan binar cemas."Duh, jadi deg-degan. Dibuka sekarang enggak, ya? Atau tunggu nanti saja pas bareng Mas Rey?" gumamnya lirih pada diri sendiri.Pikirannya mendadak kalut. Badai gairah yang ia lewati semalam bersama suaminya ternyata tetap tidak mampu meredam kegelisahan yang membayangi sejak kemarin. Rasa penasaran dan ketakutan kini berebut tempat di dadanya, membuat jemarinya yang menggantung di atas mouse pad mendadak terasa dingin.Lana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian berpacu. Setelah menimbang beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk mengklik surel tersebut. Setidaknya, ia harus tahu isinya terlebih dahulu daripada tersiksa oleh asumsi yang berputar-putar di kepalanya sendiri.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Lana mengarahkan kursor dan membuka pesan itu. Begitu deretan kalimat di layar terbaca ol
Reyner menatap istrinya sesaat. Lengan yang mengalung di lehernya itu seolah menjadi lampu hijau dari Lana. Tanpa bicara, Reyner mulai mengecup leher jenjang istrinya, memberikan jejak godaan dengan kecupan dan gigitan kecil di sana.Tangan Reyner kemudian beralih menyentuh tali kimono tipis yang dikenakan Lana. "Boleh, kan?"Lana memejamkan mata, deru napasnya mulai tidak beraturan saat merasakan sentuhan Reyner di kulitnya. Ia menarik tengkuk suaminya agar semakin mendekat, lalu berbisik pelan tepat di telinga pria itu."Jangan bertanya lagi, Mas. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan.""Nungging, Sayang. Aku ingin mengeksplorasi keindahan tubuhmu," bisik Reyner parau, menuntun Lana agar berbalik.Lana hanya menurut dengan napas yang masih memburu. Ia mengambil posisi merangkak di atas ranjang, membiarkan rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian punggung. Dari posisi ini, ia bisa merasakan tatapan lapar Reyner yang menelusur
"Aku..." Lana menjeda kalimatnya sambil menghela napas panjang. Mata amber-nya mengerjap, mulai berkaca-kaca. "Jujur, Mas... aku sedang melakukan tes DNA untuk Eden. Aku memakai sampel rambut yang aku cabut malam itu, waktu aku memijatmu. Ada rasa penolakan dalam diriku, aku sangat berharap Eden bukan anakmu." Lana memutar badan membelakangi suaminya, lalu menggigit kukunya dengan cemas—sebuah kebiasaan lama yang muncul saat ia sangat tertekan. "Tidak bisa kubayangkan jika Eden ternyata benar anakmu. Dia ada di rumah ini, dan selama ini aku mengasuhnya murni karena kasihan dia akan berakhir di panti asuhan sementara ibunya bekerja di Kanada." Lana menepuk dadanya pelan, mencoba menghalau rasa sesak yang kian menghimpit. "Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi binar mata Eden dan panggilannya padaku sebagai 'Mama' jika besok hasilnya ternyata positif." Reyner mematung. Rokok yang baru saja ia nyalakan terabaikan begitu saja di asbak. Pernyataan Lana barusan seperti hantaman goda
Pagi itu, Reyner bersiap berangkat ke Semarang. Lana tampak sibuk menyiapkan sarapan, sebuah pemandangan layaknya suami istri yang saling mencintai, namun sama-sama terhalang gengsi.Di meja makan tersaji bandeng goreng, sayur bayam, dan sambal terasi hasil ulekan cobek barunya.
"Tapi dia bebas menyentuhmu..." "Dia tidak bebas, Lana! Berhenti memutarbalikkan fakta." Rey mendengus kasar sembari kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Statusmu sebagai istriku itu mutlak di mata hukum dan keluargaku. Jangan perna
Tak berapa lama, Lana keluar dengan pakaian berbeda. Sebuah tas selempang tersampir di bahunya, sementara tangannya menggenggam kunci mobil."Mau ke mana kamu, Lan? Kabur?""Kabur? Itu bukan gayaku untuk menyerahkanmu secara cuma-cuma pada Kimmy," ucapnya sambil tertaw
"Halo, pagi Mama," sapa Lana lembut. "Bagaimana kabarmu? Nyenyak tidurnya semalam?" "Nyenyak, Ma, Alhamdulillah." "Apa Rey masih ketus padamu?" Rey yang sedari tadi menyimak langsung memasang muka keruh di depan Lana. Lana melirik Rey sambil menahan tawa, lalu menjawab tenang, "Tidak kok,







