INICIAR SESIÓNIa mengangkat kepala, dan dunia seolah berhenti. Zein berdiri tepat di depannya.
Wajah pria itu dingin. Mata coklat gelapnya seperti menelan cahaya. Jasmine menelan ludah. “Ka… kau?” Ia menoleh ke sekeliling, lalu matanya membulat melihat ruangan itu adalah ruang makan. “Kenapa aku balik ke sini lagi?!” Tangannya mengepal frustrasi. “Aish! Sia-sia semua usaha kaburku…” Zein menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Jasmine? Dia tampak seperti mangsa yang benar-benar terpojok. Langkah kaki Zein mendekat, tidak terburu-buru, tidak panik, tapi berat dan terkendali. Ia berhenti tepat di depan Jasmine. Wajahnya datar, tatapannya dingin. Jasmine mundur setapak. “A-aku cuma… mau lihat-lihat pemandangan,” katanya gugup. Zein maju satu langkah. Jasmine langsung berbalik dan lari. “Berhenti, Jasmine.” Suara Zein rendah, tidak keras, tapi cukup membuat udara seolah membeku. Jasmine tidak berhenti. Ia berlari sampai ujung lorong. Buntu. Ia menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada dinding dan jendela tinggi, tidak ada pintu lain. Napasnya tersengal, dada naik turun cepat. Zein mendekat dengan langkah tenang, seperti predator yang tahu mangsanya sudah terpojok. “Aku tidak mau mati!” teriak Jasmine panik. “Aku masih muda! Aku belum sempat menikmati hidup!” Dalam satu gerakan cepat, pergelangan tangannya ditangkap Zein. “LEPAS!” Jasmine meronta, menendang, dan memukul dada Zein. “MONSTER! AKU BUKAN TAWANANMU!” Zein menarik Jasmine mendekat hingga tubuh mereka bertabrakan, lalu mendorongnya ke dinding. Dengan satu tangan, ia mengunci kedua pergelangan tangan Jasmine di atas kepalanya. Jasmine berhenti meronta. Napas mereka beradu. Tatapan Zein mengeras. Tangannya yang mengepal terangkat, urat di punggung tangannya menegang seolah ingin memukul, tapi dia menahannya. Jasmine menatapnya dengan mata membelalak. “K-kau mau memukulku?” bisiknya gemetar. Zein perlahan menurunkan tangannya. Tatapannya kembali dingin, terkunci pada Jasmine. “Kau membuat kekacauan,” katanya datar. “Aku cuma mau pulang…” tubuh Jasmine bergetar. Zein masih menatap Jasmine sebentar sebelum akhirnya melepaskan dan sedikit berbalik. “Bawa dia ke kamar,” perintahnya pada pengawal yang baru datang. “Kunci pintunya. Jangan beri makan sampai dia belajar patuh.” “Hei, kau orang gila!” Jasmine berusaha menerjang Zein dengan kepalan kecilnya, tapi pengawal lebih cepat menggenggam lengannya dan menariknya pergi. “LEPASKAN AKU!” suara Jasmine menggema di lorong. Ia menoleh ke belakang dan berteriak, “Hei! Kau monster! Lepaskan aku!” Langkah-langkah itu menjauh. Lorong kembali sunyi. Zein tetap berdiri di tempatnya. Tangannya masih mengepal. Rahangnya mengeras. Napasnya terdengar berat. Ia memejamkan mata beberapa detik, lalu menghembuskan napas perlahan, seolah sedang menekan sesuatu yang tak boleh lolos. . . BRAK! Pintu kamar itu terbanting terbuka. Tubuh Jasmine hampir terjungkal saat seorang pengawal mendorongnya masuk. “Masuk.” “Aku tidak mau—tolong—!” Pintu itu pun tertutup tepat di depan wajahnya. Klik. Suara kunci diputar dari luar. Sunyi. Jasmine berdiri terpaku beberapa detik, lalu menghantam daun pintu itu dengan kedua tangannya. “BUKA PINTUNYA!” teriaknya panik. “Kalian tidak bisa menahanku di sini! BUKA!” Tak ada jawaban. BRAK. BRAK. BRAK. Ia memukul lagi, lebih keras. “Toloooong—! Aku tidak mau di sini! Aku mau pulang!” Suara itu memantul di dinding kamar yang terlalu besar dan terlalu mewah untuk sebuah penjara. Tenaga Jasmine akhirnya habis. Ia meluncur turun, punggungnya bersandar di pintu. Napasnya terputus-putus, tenggorokannya perih karena berteriak. Perlahan, air mata jatuh. “Apa salahku…?” gumamnya lirih. “Kenapa aku diperlakukan seperti ini…?” Tangannya mencengkeram ujung gaun yang dikenakannya. “Bi Martha…” Nama itu lolos begitu saja dari bibirnya. Wajah wanita tua itu muncul di benaknya: senyum lembut, pelukan hangat, dan cara Martha selalu memanggil Jasmine dengan penuh kasih. Air mata Jasmine mengalir lebih deras. “Bi Martha… aku takut…” bisiknya seperti anak kecil. “Aku tidak kenal siapa pun di sini, aku sendirian…” Dadanya terasa sesak. Dengan langkah goyah, Jasmine bangkit dan berjalan menuju ranjang, lalu menjatuhkan diri di atasnya, tubuhnya meringkuk. Di luar sana, mansion ini dipenuhi orang: pengawal, pelayan, dan suara langkah kaki yang bergema. Namun di dalam kamar ini, ia sendirian. Tak lama kemudian, tangisnya perlahan mulai mereda, napasnya juga mulai tenang. Matanya masih basah saat kelopak itu akhirnya terlalu berat untuk ditahan. Jasmine tertidur dengan satu nama terakhir terucap di bibirnya: Martha. *****Dengan gerakan pasti, Zein melepas celana piyamanya tanpa ragu dan melemparkannya begitu saja, tak sabar melanjutkan permainan panas di pagi itu.Tanpa aba-aba, tubuhnya membungkuk, tangannya menyentuh kaki Jasmine yang putih dan halus, hendak membukanya lebar-lebar. Ia sudah tak tahan lagi, ingin segera merasakan dan memanjakan lipatan tersembunyi milik sang gadis yang sudah cukup basah itu. “Ah, Zein... kamu mau apa di sana?” suara Jasmine bergetar, terkejut. Jemarinya refleks menahan tangan Zein sambil merapatkan pahanya.Zein mengangkat wajah, tatapannya nakal.“Aku mau memberimu pengalaman yang bikin kamu melayang dan lupa dunia, Sayang,” bisiknya pelan namun menggoda.Dengan gerakan lembut, Zein kembali membuka kaki Jasmine dan melipat lututnya. Detik itu juga, matanya terpaku pada lipatan tersembunyi milik Jasmine yang putih mulus tanpa satu pun bulu. Napasnya tertahan sesaat, jakunnya naik turun saat menelan ludah, tak mampu mengalihkan pandangan dari keindahan lipatan sempi
Jasmine seketika membuka matanya. Tatapannya segera bertemu dengan wajah Zein yang berada sangat dekat di depannya. Keduanya saling menatap, napas mereka masih saling bertabrakan, hangat, tersisa dari ciuman panjang barusan. Tak ada yang langsung bicara, hanya tatapan dan detak jantung yang sama-sama belum kembali normal. Tangan Zein yang semakin menjalar membuat Jasmine semakin menegang menahan setiap sentuhan itu, apalagi saat Zein menekan satu tonjolan di area sensitifnya di bawah sana.Udara di kamar itu semakin panas. “Boleh kan... aku sentuh ini?” tanya Zein dengan suara serak, sementara satu tangannya masih menyentuh lipatan yang kini sudah basah, seolah enggan melepaskan kehangatan yang terasa di telapak tangannya.Tatapan Jasmine meredup, campuran antara takut dan hasrat yang membuncah. Napasnya masih terengah, tapi akhirnya ia mengangguk pelan. Pagi ini Jasmine benar-benar tak ingin menghentikan semuanya. Ia mengizinkan Zein melakukan apa pun pada tubuhnya.Rencana yang s
Nama itu terucap pelan, hampir seperti napas yang tertahan. Mata Jasmine membulat sempurna, bukan hanya karena terkejut, tapi juga karena apa yang kini terpampang di hadapannya terasa sangat nyata. Tubuh atletis itu bukan lagi sekadar bayangan samar di balik pakaian yang selama ini dikenakan Zein. Garis ototnya tegas. Perut sixpack yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi pada aktor-aktor drama romantis yang selalu tampak sempurna dan tak tersentuh, sekarang ada tepat di depan matanya. Dekat dan nyata.Jasmine menelan ludah, tanpa sadar tatapannya turun perlahan mengikuti kontur tubuh Zein dengan rasa takjub yang bahkan tidak ia sembunyikan.Zein mengikuti arah pandang Jasmine. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Jangan tatap seperti itu,” gumamnya rendah.Jasmine tersentak, tapi tak benar-benar mengalihkan pandangannya. “Seperti apa?” tanyanya pelan, suara yang tadi tegas kini berubah lebih lembut. “Seperti kamu sedang menahan sesuatu.” Jantung Jasmine berdegup lebih cep
Bibir Zein masih menempel erat pada bibir Jasmine yang mulai melebur bersama desahan dan napas beratnya. Tangannya cekatan menyusup ke dalam kain penyangga, menyentuh bantalan kenyal itu—meremas dan memilin ujung-ujung merah jambu dengan perlahan. Sesekali ia menahan napas, tenggelam dalam kehangatan yang mereka ciptakan bersama. “Enghh... Zein...” suara Jasmine terdengar lemah, nyaris tertahan. Tubuhnya makin tertarik, seolah larut dalam gelombang kenikmatan. Setiap sentuhan Zein yang menyusuri lekuk lembut itu membuat bulu kuduk Jasmine berdiri, jantungnya berdegup cepat, seakan melayang tanpa arah. Bibir Zein perlahan beranjak dari bibir Jasmine, berkeliling menyusuri seluruh wajah gadis itu—dari pipi yang hangat, rahang yang tegang, pelipis yang halus, hingga kening yang berkerut tipis—sebelum kembali menumpuk ke bibir manis itu dengan kecupan dan lumatan penuh rasa. “Ah, Zein...” desah Jasmine bergetar, suaranya menahan segala gelombang perasaan yang membuncah di dadanya.
Jasmine mengerjap bingung. “Olahraga?” ulangnya pelan. “Pagi-pagi?” Zein hanya menatap gadis itu, sudut bibirnya terangkat samar. Tatapan itu membuat jantung Jasmine berdegup lebih cepat, bukan karena dia mengerti, tapi justru karena tidak mengerti sama sekali. “Iya,” jawab Zein santai. “Aktivitas yang bisa meningkatkan detak jantung. Melatih napas. Mengeluarkan keringat.” Jasmine langsung refleks melihat ke sekeliling kamar. “Kita tidak punya treadmill.” Zein terdiam sejenak, lalu tertawa rendah. Bukan tawa keras, tapi lebih seperti getaran hangat di dada yang masih sangat dekat dengan wajah Jasmine. “Kau pikir aku bicara soal alat?” “Ya memang olahraga pakai alat, kan? Atau lari pagi?” Jasmine tampak benar-benar berpikir keras. “Tapi... kamu tadi bilang sesuatu yang sudah jadi milikmu…” Ia berhenti sendiri. Pipi gadis itu mulai memerah perlahan. Zein menikmati setiap detik kebingungan itu. “Mine,” panggilnya lembut. Jasmine menoleh. “Detak jantungmu sudah naik
Jasmine bisa merasakan napas hangat Zein menyentuh kulitnya. Tatapan pria itu gelap dan dalam, tanpa sedikit pun godaan. Tak ada ruang untuk bercanda.Jasmine ingin mundur, tapi dirinya sudah terkurung di antara tubuh Zein dan kasur. Pelukan Zein tidak menyakitkan, tapi hanya memastikan.Zein mengangkat satu tangan perlahan. Ujung jarinya menyentuh rambut Jasmine yang terurai di pipinya. Dengan gerakan hati-hati, ia menyibakkannya lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan itu lembut, seolah sedang merapikan sesuatu yang sangat berharga.“Kenapa kamu gemetar?” gumamnya pelan.Jasmine tidak menjawab, karena dirinya pun tak yakin apa yang membuat tubuhnya bergetar seperti itu. Bukan sepenuhnya takut, juga bukan sepenuhnya berani. Namun malam ini, Zein terasa berbeda—lebih tenang, lebih pasti. Dan itu jauh lebih mengguncang daripada sikap posesifnya sebelumnya.Perlahan, Zein menunduk. Bibirnya menyentuh pipi Jasmine, bukan sekadar kecupan ringan. Ia menahannya di sana sepersekian







