Share

BAB. 7

last update publish date: 2026-01-19 17:36:22

Ia mengangkat kepala, dan dunia seolah berhenti. Zein berdiri tepat di depannya.

Wajah pria itu dingin. Mata coklat gelapnya seperti menelan cahaya.

Jasmine menelan ludah.

“Ka… kau?”

Ia menoleh ke sekeliling, lalu matanya membulat melihat ruangan itu adalah ruang makan.

“Kenapa aku balik ke sini lagi?!” Tangannya mengepal frustrasi. “Aish! Sia-sia semua usaha kaburku…”

Zein menatapnya tanpa ekspresi.

Sementara Jasmine? Dia tampak seperti mangsa yang benar-benar terpojok.

Langkah kaki Zein mendekat, tidak terburu-buru, tidak panik, tapi berat dan terkendali. Ia berhenti tepat di depan Jasmine. Wajahnya datar, tatapannya dingin.

Jasmine mundur setapak.

“A-aku cuma… mau lihat-lihat pemandangan,” katanya gugup.

Zein maju satu langkah. Jasmine langsung berbalik dan lari.

“Berhenti, Jasmine.” Suara Zein rendah, tidak keras, tapi cukup membuat udara seolah membeku.

Jasmine tidak berhenti. Ia berlari sampai ujung lorong.

Buntu.

Ia menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada dinding dan jendela tinggi, tidak ada pintu lain. Napasnya tersengal, dada naik turun cepat.

Zein mendekat dengan langkah tenang, seperti predator yang tahu mangsanya sudah terpojok.

“Aku tidak mau mati!” teriak Jasmine panik. “Aku masih muda! Aku belum sempat menikmati hidup!”

Dalam satu gerakan cepat, pergelangan tangannya ditangkap Zein.

“LEPAS!” Jasmine meronta, menendang, dan memukul dada Zein. “MONSTER! AKU BUKAN TAWANANMU!”

Zein menarik Jasmine mendekat hingga tubuh mereka bertabrakan, lalu mendorongnya ke dinding. Dengan satu tangan, ia mengunci kedua pergelangan tangan Jasmine di atas kepalanya.

Jasmine berhenti meronta. Napas mereka beradu.

Tatapan Zein mengeras. Tangannya yang mengepal terangkat, urat di punggung tangannya menegang seolah ingin memukul, tapi dia menahannya.

Jasmine menatapnya dengan mata membelalak.

“K-kau mau memukulku?” bisiknya gemetar.

Zein perlahan menurunkan tangannya. Tatapannya kembali dingin, terkunci pada Jasmine.

“Kau membuat kekacauan,” katanya datar.

“Aku cuma mau pulang…” tubuh Jasmine bergetar.

Zein masih menatap Jasmine sebentar sebelum akhirnya melepaskan dan sedikit berbalik.

“Bawa dia ke kamar,” perintahnya pada pengawal yang baru datang. “Kunci pintunya. Jangan beri makan sampai dia belajar patuh.”

“Hei, kau orang gila!” Jasmine berusaha menerjang Zein dengan kepalan kecilnya, tapi pengawal lebih cepat menggenggam lengannya dan menariknya pergi.

“LEPASKAN AKU!” suara Jasmine menggema di lorong.

Ia menoleh ke belakang dan berteriak, “Hei! Kau monster! Lepaskan aku!”

Langkah-langkah itu menjauh. Lorong kembali sunyi.

Zein tetap berdiri di tempatnya. Tangannya masih mengepal. Rahangnya mengeras. Napasnya terdengar berat.

Ia memejamkan mata beberapa detik, lalu menghembuskan napas perlahan, seolah sedang menekan sesuatu yang tak boleh lolos.

.

.

BRAK!

Pintu kamar itu terbanting terbuka.

Tubuh Jasmine hampir terjungkal saat seorang pengawal mendorongnya masuk.

“Masuk.”

“Aku tidak mau—tolong—!”

Pintu itu pun tertutup tepat di depan wajahnya.

Klik.

Suara kunci diputar dari luar.

Sunyi.

Jasmine berdiri terpaku beberapa detik, lalu menghantam daun pintu itu dengan kedua tangannya.

“BUKA PINTUNYA!” teriaknya panik. “Kalian tidak bisa menahanku di sini! BUKA!”

Tak ada jawaban.

BRAK. BRAK. BRAK.

Ia memukul lagi, lebih keras.

“Toloooong—! Aku tidak mau di sini! Aku mau pulang!”

Suara itu memantul di dinding kamar yang terlalu besar dan terlalu mewah untuk sebuah penjara.

Tenaga Jasmine akhirnya habis. Ia meluncur turun, punggungnya bersandar di pintu. Napasnya terputus-putus, tenggorokannya perih karena berteriak.

Perlahan, air mata jatuh.

“Apa salahku…?” gumamnya lirih. “Kenapa aku diperlakukan seperti ini…?”

Tangannya mencengkeram ujung gaun yang dikenakannya.

“Bi Martha…”

Nama itu lolos begitu saja dari bibirnya.

Wajah wanita tua itu muncul di benaknya: senyum lembut, pelukan hangat, dan cara Martha selalu memanggil Jasmine dengan penuh kasih.

Air mata Jasmine mengalir lebih deras.

“Bi Martha… aku takut…” bisiknya seperti anak kecil. “Aku tidak kenal siapa pun di sini, aku sendirian…”

Dadanya terasa sesak.

Dengan langkah goyah, Jasmine bangkit dan berjalan menuju ranjang, lalu menjatuhkan diri di atasnya, tubuhnya meringkuk.

Di luar sana, mansion ini dipenuhi orang: pengawal, pelayan, dan suara langkah kaki yang bergema. Namun di dalam kamar ini, ia sendirian.

Tak lama kemudian, tangisnya perlahan mulai mereda, napasnya juga mulai tenang. Matanya masih basah saat kelopak itu akhirnya terlalu berat untuk ditahan.

Jasmine tertidur dengan satu nama terakhir terucap di bibirnya: Martha.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 110

    Sendok terakhir diletakkan perlahan. Jasmine menarik napas kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun matanya tetap tertuju pada Martha, seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun. Jeda beberapa detik, lalu Jasmine tiba-tiba berdiri. Gerakannya cepat dan antusias. “Ayo, Bibi!” katanya, suaranya langsung hidup, penuh semangat. “Ke kamarku. Kita ngobrol di sana.” Ia bahkan sudah menarik pergelangan tangan Martha sedikit. “Aku mau cerita banyak… dan aku juga mau dengar semua cerita dari Bibi. Aku akan tunjukkan kamarku juga—” “Nanti, ya Nona.” Kata-kata itu memotong dengan lembut, namun cukup untuk membuat langkah Jasmine terhenti. Jasmine menoleh cepat. “Maksudnya…?” Martha tersenyum kecil. Ada rasa bersalah di sana, tapi juga ketegasan. “Tidak sekarang, Nona…” Jasmine mengerutkan kening. “Tapi—” “Saya masih ada pekerjaan,” lanjut Martha pelan. “Tuan Zein sudah memberikan saya kesempatan bekerja di sini… saya tidak boleh menyia-nyiakannya.” Nada suarany

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 109

    Martha terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan.“Bukan sekarang, Nona…”Jasmine langsung mengerutkan kening.“Kenapa?”Martha tersenyum lembut.“Akan saya ceritakan… nanti.”“Tapi Bi—”“Sekarang…” Martha menepuk pelan punggung tangan Jasmine, “…lebih baik Nona sarapan dulu.”Jasmine menatap Martha tidak percaya.“Aku tidak mau makan,” katanya cepat. “Aku cuma mau bicara sama Bibi.”“Jasmine...”Zein yang sejak tadi hanya dia, akhirnya mulai membuka suara. Nadanya tenang dan rendah, namun cukup untuk membuat Jasmine menoleh padanya.Zein melangkah mendekat.“Sarapan dulu,” ujarnya singkat sambil mengusap lembut puncak kepala Jasmine, penuh sayang.Jasmine menatapnya, masih ada sisa rasa penasaran di matanya.“Kamu tahu sesuatu, kan?” tanyanya langsung pada Zein. “Kamu harus jelasin ini—”“Iya, Sayang... nanti,” potong Zein tanpa menaikkan suara. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Martha.“Bagaimana menurutmu, Martha?”Martha sedikit menunduk, lalu menjawab pelan, “Benar sekali,

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 108

    Jasmine menggeleng pelan, lalu matanya melebar seketika.“B-Bi Martha?” suaranya jatuh pelan, tidak percaya.Wanita tua itu menatapnya dengan lembut, tatapan itu benar-benar sama seperti dulu.“Iya…” jawabnya pelan. “Ini saya, Nona Jasmine.”Hening.Jasmine terdiam, tidak langsung mendekat, tidak langsung percaya.Tangannya perlahan terangkat, mengucek matanya berkali-kali, lalu berkedip cepat, menatap kembali. Ia takut pandangannya mengabur lagi seperti kemarin dan salah mengenali orang.Namun wajah itu tetap sama. Tidak mengabur, tidak hilang. Itu Nyata.“Tidak mungkin…” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Ini… bukan mimpi… kan…?”Martha tidak menjawab dengan kata-kata.Hanya menatap Jasmine dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Detik berikutnya, air mata Jasmine jatuh tanpa bisa ditahan.“Bi Martha…!”Ia langsung berlari, memeluk wanita itu erat, seolah takut sosok itu akan menghilang jika dilepaskan.Martha membalas pelukan itu dengan sama eratnya, tangannya mengusap punggung Jasm

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 107

    Malam sudah larut saat mobil hitam itu memasuki halaman mansion. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang di jalan setapak. Suasana sunyi, hanya beberapa pengawal yang berjaga. Mobil berhenti. Liam turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang. Zein keluar tanpa banyak bicara. Wajahnya kembali seperti biasa—tenang, dingin, dan tidak terbaca. Tidak ada sisa emosi yang sempat muncul di markas tadi. “Tuan,” ucap Liam singkat. Zein melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Besok pagi,” katanya tanpa menoleh, “bawa dia ke mansion.” Liam tidak langsung menjawab, tapi hanya dalam satu detik ia mengerti. “Baik, Tuan.”Zein mengangguk tipis. Tanpa berkata lagi, ia melangkah masuk ke dalam mansion. Lorong panjang itu kembali menyambutnya dengan keheningan.Langkahnya pelan dan terukur, tapi kali ini ada tujuan yang lebih jelas. Tanpa singgah ke mana pun, ia langsung menuju lantai dua mansion itu—ke satu tempat, ke satu orang. Pintu kamar di hadapannya terbuka per

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 106

    Beberapa hari kemudian...Siang merambat pelan di balik dinding kaca tebal. Langit tampak cerah, tapi kehangatan itu seolah tidak pernah benar-benar masuk ke dalam ruangan itu.Ruang kerja Zein di markas Blackthorne Syndicate tetap sama seperti biasa—hening, rapi, dan dingin.Di balik meja besar berlapis kayu gelap, Zein duduk tegak. Jasnya masih sempurna, seolah waktu tidak pernah menyentuhnya sejak pagi.Beberapa berkas terbuka di hadapannya. Dokumen kerja sama, angka-angka, nama-nama sekutu, dan tanda tangan yang nilainya jauh melampaui sekadar bisnis.Zein menelusuri satu halaman dari berkas terakhir. Tatapannya bergerak perlahan, baris demi baris, tajam, teliti, tidak ada yang terlewat satu pun.Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Sekali, dua kali, lalu berhenti. Seolah keputusan sudah terbentuk bahkan sebelum seluruh isi dokumen selesai dibaca.Keheningan menggantung, hanya suara halus kertas yang bergeser, lalu tiba-tiba pintu terbuka dari luar tanpa suara berlebihan.

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 105

    Jasmine terdiam beberapa detik.Tatapannya bertemu dengan mata Zein yang masih menatapnya—dalam, tanpa berpaling, seolah benar-benar menunggu. Ada sesuatu di sana, lembut namun juga tidak mau kalah.Jasmine menghela napas pelan.“Dasar kamu…” gumamnya lirih.Namun pada akhirnya, ia menunduk.Cup.Bibirnya menyentuh pipi Zein singkat, hangat, dan seharusnya cukup. Namun, Zein tidak menjauh, justru sudut bibirnya terangkat tipis.“Bukan di situ, Sayang...”Jasmine langsung mengernyit.“Zein kamu itu—”Zein menggeleng pelan, memotong kalimat Jasmine. Matanya tidak lepas darinya.“Yang ini,” katanya sambil tatapannya turun ke bibir Jasmine.Jasmine tercekat.“Nakal.”“Serius.”Jasmine menatap Zein beberapa detik, seperti sedang menimbang, atau mungkin hanya pura-pura bertahan. Namun pada akhirnya, ia menyerah.Perlahan, Jasmine mendekat. Jarak di antara mereka menghilang sedikit demi sedikit. Napas mereka bersentuhan hangat, dekat, dan saat bibir mereka akhirnya bertemu, tidak ada keragua

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 60

    Suara itu tidak tinggi atau mengancam, tapi Jasmine tahu Zein sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih dari sekadar pelukan. Untuk pertama kalinya, Jasmine ragu... apakah ia benar-benar ingin mendorong Zein? Zein tersenyum tipis di balik helaian rambut Jasmine. “Sekarang,” gumamnya pelan, “tid

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 58

    Zein tetap di posisinya, tidak menjauh sedikit pun. Bibirnya tersungging tipis. Dengan setelan piyama hitam yang dikenakan dan rambutnya yang sedikit berantakan, ia tampak terlalu santai untuk seorang pria yang tiba-tiba muncul di kamar seorang gadis tengah malam.“Zein—!” Jasmine memukul ringan le

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 54

    Jasmine menangkap perubahan di wajah Zein, tapi ia memilih untuk tidak bertanya. Tatapan pria itu bergeser, bukan panik atau marah, melainkan seperti seseorang yang baru saja menemukan potongan terakhir dari teka-teki yang sudah lama ia cari. Dengan perlahan, ia berdiri.

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 52

    Hanya sunyi yang menjawab pertanyaan itu.Jasmine menutup matanya rapat. Beberapa detik berlalu sebelum sesuatu di dalam dirinya mengeras.“Tidak!”Ia membuka mata cepat. Tatapannya berubah, lebih jernih, lebih sadar. Nyata bukan berarti benar.Ia merapatkan selimut ke tubuhnya dan berdiri. Kamar i

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status