MasukBab 6
Mobil melaju membelah jalanan. Angga hanya diam tak merespon celotehan Kayla. Tangannya terkepal memikirkan Kinan pernah berhubungan dengan Bram. Siapa yang tak tau Bram. Lelaki penikmat selangkangan, tak ada wanita yang tak di ‘pakai’ oleh Bram jika sudah menyandang status pacarnya. Angga berusaha meredakan gejolak di dada. Apakah dia sanggup menerima Kinanti jika gadis ini sudah pernah meyerahkan kehormatannya pada lelaki lain? Apakah dia merelakan benihnya membuahi janin Kinanti jika wanita itu sudah ternoda?? Isi kepala Angga berisik dengan hal-hal yang dia pikir wanita harus memiliki kesucian. Hingga akhirnya mobil tiba di depan rumah yang lebih megah dari rumah Angga. “Ayo turun.” Kayla turun dan berlari ke arah Anwar yang sedang menikmati teh di halaman sambil membaca majalah bisnis. “Kek. Aku langsung berangkat,” ucap Angga setelah mencium tangan Anwar. “Ajak istrimu ke sini nanti malam, kita adakan pertemuan keluarga. Kakek ingin mengenalnya.” “Iya Kek.” Lelaki ini pergi setelah mencium gadis kecil di pangkuan Anwar. Terdengar di telinga Angga Kayla menceritakan bertemu dengan mamah yang lain di rumahnya. Bibir Angga tersenyum mengingat Kinanti. Pasti yang Kinanti tau dia sekarang adalah seorang pelakor. “Ki, kamu jadian sama Pak Pras??” “Nggak lah, dia udah punya istri, nggak mau gue di cap pelakor, kaya nggak ada bujang aja. Mending gue jadi perawan tua dari pada jadi pelakor.” Mengingat masa dulu membuat aura Angga berseri-seri, tetapi sesaat kemudian ada kemarahan terpancar wajahnya. Kinanti duduk di atas ranjang menggenggam ponselnya. Pikirannya semakin kacau setelah mendengar perkataan Angga tadi. Pasti Angga berfikir dia seorang wanita murahan. Kinan menghela nafas merebahkan tubuh di kasur. Tangannya mengotak Atik gawai panggilan tak terjawab dan puluhan pesan dari Nindia. [Gue aman dari para penagih hutang, tapi sekarang yang menjadi ancaman gue, Pak Angga. Gue udah jadi tahanan Pak Angga, Nin. 😭] Send. [Gue dikasih cuti 1 Minggu buat memuaskannya, Nind. 😭]. Emot nangis di sematkan oleh Kinan di setiap pesannya. Pesan terkirim tapi belum di baca oleh Nindia. Pasti lagi pada Meeting, pikir Kinanti. Dia bangun dari rebahan menuju balkon, di lihatnya tanaman bunga di bawah sana bermekaran. Bibirnya terulas senyum, kaki melangkah keluar kamar menuruni anak tangga menuju taman bunga. Dia duduk di sana menghirup udara dalam-dalam, berdoa pada Tuhan pencipta alam agar memberikannya hidup yang baik. Dua pria duduk berhadapan saling tatap. Terlihat jelas ada keterkejutan dari cara mereka memandang. “Dunia sebesar daun kelor, Bro. Ketemu lagi kita di sini. Dan lo, keren banget. Nggak nyangka lo bakal sesukses ini.” Bram tersenyum ramah penuh pesona. Nindia tak pernah mengalihkan tatapan dari pria berkemeja biru ini. Angga tak menanggapi banyak celotehan yang keluar dari bibir Bram. Secara profesional Angga menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Bram, ia tak lagi mengingat masa lalu, menurutnya bisnis is bisnis, kerjasama harus terjalin apapun masa lalu mereka. Bram berdiri setelah semua di setujui, menjabat tangan Angga. “Gue salut sama lo Bro. Lagi pula wanita itu banyak, hanya seorang Kinanti tak akan bisa menggagalkan bisnis iya kan, Bro!!” Senyum Bram penuh percaya diri. Angga hanya sedikit mengulas senyum, tak menanggapi. “Semua wanita sama, setelah kita puas dapat dengan mudah dapat kita campakkan.” Raut wajah Angga seketika berubah. “Jika sudah tak ada yang di bicarakan saya permisi.” Lelaki atletis ini pergi meninggalkan Bram, di ikuti oleh Nindia yang terkejut dengan perkataan Bram barusan. Kinan? Apakah Kinan yang di maksud adalah sahabatnya? Kenapa Pak Angga langsung tegang begitu? Pikir Nindi. “Kamu pulang naik taksi, aku ada urusan lain.” Suara dingin Angga terdengar menyeramkan di telinga Nindi, baru kali ini Nindi mendengar suara tanpa ekspresi dari Angga Wijaya Kusuma. Wanita beranak satu ini mengangguk paham. Dia mendesah pasrah, memanggil taksi yang berjajar di parkiran khusus taxi. “Pulang, Pak.” Angga menyuruh sang supir mengantarnya pulang ke rumah. Emosinya tak bisa dia kendalikan, dia frustasi tak bisa mengendalikan perasaannya. Rahangnya mengerat, tangan mengepal kesal. Lelaki ini memejamkan mata berusaha mengontrol rasa cemburu yang menguasai. Kenapa dia masih menginginkan Kinanti. Cinta, ambisi atau obsesi kah ini? Kepala Angga berisik dengan banyak pertanyaan. Di dalam kamar Kinan berdendang, dua hari di sini dia bagai ratu. Gadis ini keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk berniat melakukan ibadah pada sang pencipta. Apapun jalan hidup yang Kinanti rasakan pantang baginya untuk meninggalkan solat lima waktu. Baginya, dia membutuhkan Tuhannya setiap saat. Wanita ini mematut diri di cermin, menatap pantulan diri, bibirnya tersenyum, hatinya terasa ceria. Tetapi. Brak. Kinanti terjengkit kaget menengok ke arah pintu, gadis ini mengerat handuk yang melingkar di tubuh. “P-Pak.” Kinan segera mengenakan mukena, menutupi tubuh indahnya. Angga melangkah cepat menarik Kinanti, lalu mendorong ke atas ranjang. “P-Pak, saya mau solat udah jam satu.” Kinan kesulitan menelan ludah melihat kemarahan di wajah Angga. Tanpa menjawab Angga mencengkeram dagu Kinan, mendekat dan mencium paksa gadis yang berusaha menghindar. Tapi apalah daya dia hanya seorang gadis, tak mampu melawan lelaki dalam keadaan marah. Mukena sudah terlepas, lelaki ini menatap nyalang wanita yang meringkuk di atas tempat tidur dengan air mata meleleh, hatinya penuh pertanyaan kenapa tiba-tiba dia datang dalam keadaan marah?? “Aku hanya ingin menghapus semua yang tertinggal dari pria itu?” suara Angga rendah, penuh penekanan. “Lelaki siapa!! Belum ada lelaki yang saya izinkan menyentuh tubuh saya.” Kinan menatap Angga, suaranya bergetar penuh kepiluan. “Kamu kira saya percaya?” kembali Angga mengungkung gadis di bawahnya.Kamar rawat itu kini tak lagi berbau kecemasan. Cahaya matahari pagi masuk lewat celah tirai, menyentuh wajah Lisa yang sudah jauh lebih segar dibanding hari-hari pertama. Lehernya masih ditopang penyangga, bibirnya menyisakan bekas luka, tapi matanya—mata itu—kini lebih jernih. Pintu diketuk pelan. “Lis?” suara Kinanti terdengar lembut. Lisa menoleh. Senyum kecil terbit di wajahnya. "Kinanti…” Kinanti masuk perlahan. Angga mengizinkannya datang sendiri hari ini, dengan satu pesan singkat, jangan terlalu capek, jaga nafasmu, tetap dalam keadaan sadar pada nafas." Kinanti duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Lisa yang terasa lebih hangat dari sebelumnya. “Gimana rasanya hari ini?” tanya Kinanti. “Lebih baik,” jawab Lisa jujur. “Dan… lebih tenang," tanya Kinanti. Lisa mengangguk senyumnya terpancar ketenangan. “Bram sudah ditahan. Semua sudah selesai.” Lisa menghela napas panjang, seperti melepaskan beban bertahun-tahun. “Waktu aku dengar itu,” katanya pe
Angga berdiri beberapa langkah dari ranjang. Tatapannya tak lepas dari sosok Lisa yang terbaring lemah. Dadanya terasa sesak—bukan karena simpati berlebihan, tapi karena ia tahu tak satu pun manusia pantas menerima perlakuan seperti itu. Ia mengalihkan pandangan. Tangannya menyentuh pundak Kinanti dengan lembut. “Ki… aku tunggu di depan,” ucapnya pelan. Kinanti menoleh, mengangguk kecil. Angga pun melangkah keluar kamar, menutup pintu perlahan di belakangnya. Begitu berada di lorong, wajah Angga berubah. Ia meraih ponselnya, menekan nomor yang sudah tertera di aplikasi pesan. “Ger,” ucapnya begitu sambungan tersambung. Suaranya rendah—dingin. “Kerahkan orang.” Di seberang sana, Gerry langsung siaga. “Semua tinggal menunggu perintah, Bos.” “Bram harus segera ditangkap,” kata Angga tanpa ragu. “Sekarang.” Ia mengusap kelopak matanya dengan ibu jari, menahan sesuatu yang mengendap di dada. M
Angga menarik napas panjang saat layar televisi dimatikan. Dadanya terasa sedikit lebih lega—Lisa ditemukan. Masih hidup. Itu saja sudah cukup untuk membuat beban di pundaknya berkurang. Ia berbalik dan mendapati Kinanti berdiri kaku, wajahnya pucat, matanya kosong menatap ke depan. “Ki…” Angga mendekat, menggenggam kedua tangan istrinya. “Tenang ya.” Kinanti tak langsung menjawab. “Kamu harus ingat,” lanjut Angga lembut namun tegas, “ada bayi di perut kamu.” Ia menunduk sedikit, menyamakan tinggi pandang mereka. “Sekarang yang paling aku khawatirkan itu kamu.” Sejak hamil, Kinanti memang tak pernah benar-benar tenang. Satu demi satu kejadian datang tanpa jeda—kecelakaan Angga, kecemasan yang berlarut, lalu kini Lisa. Seolah hidup tak memberinya ruang untuk bernapas. Kinanti menggeleng pelan. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. “Aku nggak bisa baik-baik saja, Mas,” ucapnya lirih, suaranya pecah
Mobil itu terus melaju, menelan jarak dan waktu. Lisa terkulai di kursinya. Tubuhnya lemas, kepalanya pening, napasnya tersengal. Setiap getaran mobil terasa seperti menghantam sisa kesadarannya. Di balik kelopak matanya yang berat, ia masih mendengar suara Bram—dingin, penuh amarah yang tak lagi terkendali. “Cari tempat sepi,” perintah Bram pada sopirnya. “Sedikit jurang. Jangan ada orang.” Sopir itu ragu sejenak, namun tatapan Bram membuatnya memilih diam. Mobil keluar dari jalur utama, memasuki jalanan yang semakin sunyi. Lampu-lampu kota menghilang, digantikan gelap dan suara angin malam. Lisa tersadar sepenuhnya saat mobil berhenti. Hatinya mencelos. “Bram…” suaranya parau, nyaris tak terdengar. “Tolong… aku mohon… jangan lakukan itu.” Tangannya ditarik kasar. Tubuhnya diseret keluar dari mobil. Kakinya hampir tak mampu menopang, namun ia masih hidup—masih sadar—masih berharap. “Bram, aku nggak sal
“Aku tahu kamu mengkhianatiku, Lisa.” Ucapan itu dingin, sebelum tangan Bram melayang. Plak. Kepala Lisa terhentak ke samping. Dunia seketika berputar, dengungan keras memenuhi telinganya. Rasa panas menjalar di pipinya, asin darah terasa di bibirnya yang pecah. “Bram … ampun …” Lisa merintih, suaranya nyaris tak terdengar. Namun Bram seolah tuli. Amarah yang lama terpendam meledak tanpa kendali. Tangannya kembali terangkat, tubuh Lisa terhuyung tak berdaya di kursi mobil. Ia mencoba melindungi wajahnya, tapi Bram terus meluapkan kemarahannya, napasnya memburu, matanya gelap oleh kebencian. “Kamu pikir aku bodoh?” desis Bram. “Kamu pikir aku nggak tahu ke mana kamu pergi dan apa yang kamu lakukan?” Bram berteriak melampiaskan kemarahannya. Lisa menangis tertahan. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu ia ucapkan. Hanya rasa sakit—dan ketakutan yang menyesakkan dada. Mobil itu terus melaju, menelan jeritannya dalam gelap. Lisa hanya bisa pasrah, dia sudah menyerahkan dirinya pad
Angga dan Gerry saling bertatapan. Ada jeda singkat sebelum Gerry akhirnya bersuara, nada suaranya menahan emosi. “Kenapa dari awal kamu nggak bilang?” tanyanya. “Kalau kamu dan Bram sudah sejauh itu?" Angga tak langsung menjawab. Ia bangkit dari duduknya, melangkah pelan ke arah jendela. Tirai tipis bergoyang tertiup angin, memperlihatkan hiruk-pikuk kota di bawah sana. Dari luar, semuanya tampak normal—berlawanan dengan permainan kotor yang sedang mereka hadapi. “Sebenarnya itu masalah mudah bagi kami,” ujar Angga akhirnya, suaranya tenang, nyaris datar."Ger, urus ini dengan Tim, IT." Angga berbalik setengah badan menatap Lisa yang masih duduk gelisah. “Kami punya tim IT yang handal. Apa pun yang disimpan Bram—di ponsel, di cloud, di perangkat mana pun—bisa kami lacak.” Lisa yang duduk di seberang meja menegang. Jarinya mencengkeram tas di pangkuannya. Masih belum percaya jika Angga sehebat ini menyelesaikan masalah, kenapa dari awal dia tak datang ke sini. “Semua akan kami







