Share

Masih lolos.

Penulis: Azzurra
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-07 23:03:56

Bab 5

Pintu di buka pelan, Angga berjalan perlahan menuju ranjang. Di tatapnya Kinanti yang tertidur pulas di sana, terlihat gurat kelelahan dan kekhwatiran di wajah gadis ayu ini. Angga menjulurkan tangan, menyibak rambut yang menutupi wajah. Iris legamnya terus menatap wajah Kinanti.

Jemari kokoh lelaki ini menelusuri pipi hingga rahang, tapi sepertinya Kinanti tak merasakannya, dia terlihat begitu damai di alam mimpinya. Setelah puas mengamati wajah gadis cantik ini, Angga keluar dari kamar.

 Pintu kamar terdengar menutup perlahan, Kinan membuka mata pelan. Dia menghembuskan nafas lega, setidaknya malam ini dia aman. Kembali Kinanti melanjutkan tidur, walaupun banyak pertanyaan di benaknya.

Kumandang adzan subuh membangunkan tubuh yang terasa segar pagi ini. Gadis ini segera bangun mandi lalu melakukan solat subuh.

Setelah itu dia keluar dari dalam kamar. Mulut Kinanti ternganga melihat luar kamarnya. “ini rumah apa istana?” batin Kinan. “Jadi Angga sekaya ini? gue baru tau.” Kaki Kinan melangkah, netranya memindai setiap detail di rumah ini, hingga penglihatannya mendapati Angga sedang berada di taman dengan seorang gadis kecil.

“Itu kan anaknya, Pak Angga.” Hati Kinan teriris. “Ya Allah, kalo bener Pak Angga nikahin gue, pasti ada hati yang pastinya tersakiti.”

Kinan balik badan masuk lagi ke dalam kamar tak jadi melanjutkan langkah. Ingatan-ingatan masa lalu terekam kembali. “Ya Allah karma apa yang sedang aku jalani,” gumam Kinan, menatap cermin yang memantulkan dirinya.

Seumur hidup tak ada niatan bagi Kinan untuk menjadi istri kedua apalagi pelakor, tapi sekarang keadaan benar-benar menjadikannya wanita murahan, menjual diri demi uang.

Pintu di ketuk dari luar, masuk seorang pelayan. “Permisi Non, di tunggu Pak Angga di ruang makan.”

“Saya, Mbak?” tanya Kinan menunjuk dirinya.

“Iya, mau saya bantu merias diri?” tanya pelayan itu.

“Nggak usah, Mbak. Mau makan doang kan?” tanya Kinan.

“Iya, Non. Saya pamit dulu.”

Kinan mengangguk, lalu mengikuti pelayan tadi keluar kamar. Di meja makan Angga dan gadis kecil sudah menunggu.

“Permisi Pak.” Kinan menganggukkan kepala.

“Duduk.” Suruh Angga tanpa menatap.

“Pah, siapa ini?” Si gadis kecil bertanya.

“Ini Mama Kinan.”

“Berarti Kayla punya dua mamah??” tanya gadis ini polos.

“Iya.” Angga tersenyum kikuk.

Kinan mengigit bibir, hatinya selalu teriris jika mengingat dia hanya istri simpanan, hatinya juga terguris mengingat ibu anak ini, memangnya tak marah mengetahui suaminya memiliki istri lagi?? Hati Kinan terus bertanya.

“Mamah, kenalan boleh?” tanya gadis ini, netranya berbinar.

Kinan mengangguk, “Boleh, nama kamu siapa cantik.” Kinan mencubit pipi Kayla.

“Kayla, Mah.”

“Aku Kinan.”

Mereka bersalaman. Sepanjang makan Kayla tertawa bahagia, bahkan Kayla makan banyak di suapi Kinan. Angga menatap kedua wanita beda usia ini. Kenapa mereka bisa langsung akrab?

Setelah makan, Angga bersiap ke kantor. “Kayla main sama Mbak Ning, ya, papa mau ganti baju dulu.”

Gadis ini mengangangguk, mengandeng jemari wanita yang sejak tadi berdiri di dekat Kayla.

“Siapkan pakaianku, aku mau ke kantor.”

“I-iya, Pak.”

Kinan mengikuti Angga masuk ke dalam kamarnya. Gadis ini langsung menuju lemari mencari kemeja dasi dan celana memadukan warna yang pas.

Sedang fokus pada warna, tetiba ada tangan yang melingkar di pinggang rampingnya. Kinan menahan nafas, jantungnya tersentak kaget.

“P-Pak. M-mau pake baju warna a-apa?” Kinan bicara terbata karna Angga mencium tengkuknya.

“P-Pak, jangan, kita belum halal bersentuhan.” Kinan berusaha mengingatkan karna tangan Angga sudah mulai berkelana.

Angga melepas pelukan berjalan menuju laci nakas. Mengambil kertas yang kemarin Kinan tanda tangani.

“Sekarang kamu milikku." Angga menatap dingin pada Kinan, menunjukkan surat pernikahan mereka.

“Aku sudah menikahimu kemarin, sekarang kamu milikku.” Angga duduk di kursi pojokan kamar, menatap datar pada wanita ini, sejenak menunggu reaksi Kinan.

Tapi tak ada reaksi apapun dari gadis ini. “Pake walinya siapa Pak?”

“Wali hakim, 'kan kamu sama seperti aku, kita sama-sama tak memiliki orang tua. Kemari.” Angga menjentikkan jemari menyuruh Kinan mendekat.

Gadis ini melangkah ragu. Setelah dekat Angga menarik tangan Kinan. Gadis ini terduduk di pangkuan Angga. “Kamu kan nggak mau pacaran makanya aku langsung nikahin kamu.” Angga menyibak rambut Kinan yang menjuntai hingga dada.

Mendengar ucapan Angga Kinan menjadi merasa bersalah.

“Pak, maafin aku.” Kinan menundukkan kepala, membuang pandangan ke arah samping.

“Maaf untuk apa?” Angga mendekatkan wajah mencium ceruk leher Kinanti.

“Harum kamu masih seperti dulu, Ki.” Suara Angga rendah.

Kinan menahan nafas, tak mau terbuai, “Pak, bapak bukannya mau ke kantor.” Kinan berusaha mendorong tubuh Atletis ini.

Bibir Angga tersungging menyeringai. Menghentikan ciumannya di kulit leher wanita di pangkuannya. “Ambilkan pakaianku.”

Kinan lekas bangun mengambil pakaian dan celana. Gadis ini memasangkan dasi, netra mereka saling tatap sepersekian detik. Kinan menundukkan pandangan. Debaran aneh kembali muncul di dadanya, “dia bukan Angga yang dulu Ki,” batin Kinan bersuara.

Angga mencapit dagu Kinan agar menatapnya. Perlahan Angga mendekatkan wajah, dada gadis ini berirama lebih cepat dari biasanya. Apa lagi jarak mereka sudah semakin dekat. Kinan menutup mata rapat, Hingga.

“Papah.”

Suara gadis ini membuat Angga dan Kinan seketika menjauh dan terlihat kikuk. Angga mendekat pada gadis kecilnya, lalu menggendong, “Ada apa? Sudah mau pulang.” Kayla mengangguk.

“Aku harus les musik pagi ini.” Suara Kayla menggemaskan.

“Ya sudah, ayo papah juga sudah siap.”

Mereka menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu.

“P-pak.”

Angga menengok.

“B-boleh aku minta ponselku?” tanya Kinanti pelan.

“Barang pribadimu ada di nakas kamarmu,” jawab Angga datar.

Setelah Kayla naik ke dalam mobil Angga berdiri menghadap pada Kinanti.

“Nanti malam bersiap, aku akan menghapus semua jejak Bram di tubuhmu.”

Kinanti membeku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
takut banget diunboxing jangan dulu angga belom halal...
goodnovel comment avatar
Rafli123
Nah loh, hayo Kinan siap2 tuh ntar malam waktunya Angga anu anu
goodnovel comment avatar
YOSSYTA S
nah loh, kira2 apa yang bakalan terjadi dengan Kinan nanti ya?? jadi makin penasaran deh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Kecurigaan Kinanti.

    Matahari terasa cerah, bukan hanya karena cahaya yang menembus jendela, tetapi juga karena suasana hati Kinanti. Ia berdiri di hadapan Angga, merapikan dasi di leher suaminya dengan gerakan telaten. Tangan Angga sudah jauh membaik. Gips itu memang telah dilepas, meski lengannya masih ditopang pengait yang melingkar di leher. Namun sorot matanya kembali utuh—tegas dan hidup. “Pak Angga makin tampan saja,” goda Kinanti sambil tersenyum. Angga menunduk sedikit, membalas senyum itu. Kinanti meraih wajah lelaki di hadapannya lalu mengecup bibir Angga singkat. Awalnya hanya sekilas, tapi Angga tak segera melepaskan. Tangannya yang sehat melingkar di pinggang Kinanti, menahan tubuh itu lebih dekat. “Mas …” Kinanti tertawa kecil ketika Angga memperpanjang ciuman. Saat akhirnya Angga melepasnya, Kinanti memukul pelan dada suaminya. “Selalu begitu,” keluhnya manja. Namun Angga justru semakin merapat, membuat Kinanti menggeliat kecil

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Kegelisahan

    Setelah Lisa meninggalkan meja makan, suasana ruang makan kembali sunyi. Kinanti masih duduk di kursinya. Tangannya terlipat di atas meja, matanya mengikuti punggung Lisa yang menjauh hingga tak lagi terlihat. Ia tahu—sejak awal Angga tidak benar-benar menginginkan situasi ini. Tapi jangan lah bersikap seperti itu di hadapan Lisa. Ia menoleh ke arah suaminya. “Mas…” Kinanti membuka suara pelan. “Maaf ya kalau kamu jadi nggak nyaman.” Angga diam beberapa detik. Lalu ia menoleh, tatapannya singkat, datar. “Udah malam. Kamu istirahat aja,” katanya. “Aku masih banyak kerjaan.” Ia berdiri, menarik kursinya pelan agar tak menimbulkan suara berisik. Kinanti ikut bangkit. “Mas, kamu marah?” Angga berhenti melangkah, tapi tidak menoleh. “Kalau kamu dari awal nggak mau terima Lisa, bilang aja,” lanjut Kinanti, suaranya mulai bergetar halus. “Jangan begini. Aku jadi nggak enak sama semua orang.”

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Satu Meja Makan.

    Ningsih membuka pintu dan mempersilahkan Lisa masuk dengan senyum sopan. “Silakan masuk, Non. Non Kinanti sebentar lagi turun." Lisa melangkah masuk perlahan. Begitu kakinya menapak lantai rumah itu, matanya langsung berkelana, memindai setiap sudut yang tertangkap pandangan. Ruang tamu yang luas, tata letak yang rapi, pencahayaan alami yang jatuh lembut—semuanya terasa hangat, elegan, dan hidup. Hatinya berdecak kagum. "Keren banget kamu, Ki. Bisa tinggal di rumah kaya begini." Rumah yang selama ini hanya ia dengar dari bayangan Lisa, kini dia berdiri nyata di hadapannya. Bukan sekadar besar atau mewah, tapi terasa penuh—seolah setiap sudutnya menyimpan kebahagiaan yang selama ini asing baginya. Lisa masih terpana ketika sebuah suara lembut memanggil namanya. “Lisa?” Ia tersentak kecil. Menoleh. Kinanti berdiri beberapa langkah darinya, tersenyum hangat seperti biasa. Tak ada raut curiga di wajah

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Melepas kegundahan.

    Pagi itu garasi rumah tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa koper besar tersusun rapi di belakang mobil, sementara kantong-kantong berisi oleh-oleh memenuhi hampir seluruh bagasi. Angga memastikan semuanya tertata dengan baik, sementara Kinanti berdiri di sampingnya, memperhatikan dengan wajah yang terlihat lebih cerah dari hari-hari sebelumnya. Ada cahaya berbeda di mata Kinanti. Lebih ringan. Lebih bahagia. Angga bahagia melihat Kinanti bahagia, tetapi bukan kebahagiaan seperti ini yang Angga ingin, lelaki ini menginginkan Kinanti lepas dari keterikatan dengan masa lalu, apalagi dengan wanita bernama Lisa. “Kebanyakan nggak sih?” tanya Kinanti sambil tersenyum kecil. Angga menutup bagasi dan menoleh. “Buat keluarga, mana pernah kebanyakan.” Kinanti tertawa pelan. Ia meraih tangan Angga, menggenggamnya erat, seolah ingin menyimpan perasaan bahagia itu lebih lama. "Nanti susah nggak di bandara, harus di bayar kargo juga." Kinanti merasa tak enak. "Nggak apa-apa, buat kamu

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Permintaan.

    Lisa baru saja melangkah masuk ke dalam rumah ketika pintu di belakangnya terbuka kasar. Ia bahkan belum sempat mengunci kenopnya. Bram berdiri di ambang pintu. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, matanya menatap Lisa tanpa berkedip. “Kamu dari mana?” Nada suaranya dingin, tapi amarahnya terasa jelas. Lisa refleks menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat, tapi ia memaksa wajahnya tetap tenang. “Keluar sebentar,” jawabnya ringan. “Aku butuh udara.” Bram melangkah masuk dan menutup pintu dengan hentakan keras. “Keluar sebentar ke mana?” Lisa meletakkan tasnya, sengaja memperlambat gerakan agar terlihat biasa. “Ngopi. Ketemu teman.” “Teman siapa?” Bram mendekat satu langkah. Lisa menegakkan bahunya. “Teman lama. Apakah semua kegiatanku harus kamu ketahui?" Lisa menantang matahari Bram. Hening menggantung di antara mereka. Bram menatap Lisa lekat-lekat, seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah yang kini terlalu berhati-hati. Matanya bergerak dari mata Lisa, ke bibir, lalu

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Memulai permainan

    Lisa menarik napas panjang sebelum mulai bicara. Tangannya masih saling menggenggam di pangkuan, jemarinya dingin. perlahan dia menatap Gerry, nafasnya menghela pelan. “Aku yakin kamu mengetahui kecelakaan Pak Angga adalah sabotase." Mereka saling tatap, Gerry masih tetap diam tak bergeming. Lagi Lisa menghela nafas. "Bram nyuruh aku masuk ke rumah tangga Kinanti,” ucapnya akhirnya, suaranya lirih tapi jelas. “Bukan cuma buat cari celah … tapi buat menjebak mereka.” Gerry masih tidak menyela. Ia hanya berdiri di dekat jendela, menyandarkan tubuhnya, masih terus menatap Lisa mendengarkan dengan penuh perhatian. “Dia pengin aku bikin Kinanti ragu terhadap Pak Angga.” lanjut Lisa. “Bikin Angga kelihatan bersalah. Pelan-pelan. Supaya rumah tangga mereka retak dari dalam.” Lisa menunduk. “Dan kalau sudah hancur … Bram mau ambil semuanya. Usaha, nama baik … bahkan hidup Kinanti. Dia tak mau berhenti, sepertinya dia benar-benar penuh obsesi.” Hening, tak ada tanggapan dari Ger

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status