LOGINKegelapan di lantai 50 itu terasa begitu pekat, seolah-olah malam baru saja menelan seluruh kemewahan penthouse ini. Hanya lampu darurat kemerahan yang berkedip lemah, memberi kesan horor pada suasana yang tadi sempat memanas.
"Rian?!" suara Alya melengking, penuh dengan keputusasaan. Di ambang pintu, adiknya berdiri dengan kondisi yang menghancurkan hati Alya. Wajah Rian yang biasanya ceria kini hancur, bengkak, dan berlumuran darah. Tangannya terikat ke belakang, dan sebuah rantai besi melilit lehernya—ditarik oleh sosok pria tinggi besar dengan tato kobra yang melingkar di lehernya. "Lepaskan dia!" Alya mencoba berlari maju, namun tangan kokoh Luciano menarik pinggangnya kembali dengan kasar. "Diam di tempatmu, Alya!" bentak Luciano. Kemeja hitamnya yang terbuka berkibar, mengekspos otot dada yang tegang dan perban berdarah di perut kirinya yang kini mulai merembes lagi. "Luciano... Bos besar Red Dragon yang legendaris," pria bertato itu tertawa, suaranya parau dan penuh kebencian. "Ternyata benar kabar burung itu. Kau sedang terluka, dan kau menyembunyikan seorang 'peliharaan' cantik di sini." Luciano tidak membalas provokasi itu. Tangannya yang memegang pistol Beretta sangat stabil, membidik tepat ke arah kepala pria bertato itu. "Kau membuat kesalahan besar dengan menginjakkan kaki di lantai ini, Marco." "Kesalahan? Tidak, Luciano. Aku datang untuk mengembalikan sampah ini..." Marco menyentak rantai di leher Rian, membuat anak itu jatuh tersungkur di lantai marmer. "Adik wanitamu ini mencuri dari kami juga. Dan sekarang, klan Black Cobra ingin bayaran yang setimpal." Tiba-tiba, mata Luciano menyipit. Dia melihat pantulan cahaya merah kecil di kaca jendela raksasa di belakang Alya. Sniper. "Alya, tiarap!" PRANG! Kaca setebal lima sentimeter itu pecah berkeping-keping. Sebelum Alya sempat memproses apa yang terjadi, Luciano menerjangnya. Tubuh besar pria itu menindih Alya, menjatuhkannya ke lantai. Bugh! Alya merasakan hantaman berat tubuh Luciano, disusul suara erangan rendah yang keluar dari tenggorokan pria itu. Alya menengadah, dan di bawah cahaya lampu darurat yang remang, ia melihat darah segar menciprat ke wajahnya. Bukan darahnya. Tapi darah Luciano. Peluru itu menyerempet bahu kanan Luciano, merobek dagingnya tepat sebelum menghantam dinding. Luciano meringis, namun ia tidak melepaskan perlindungannya pada Alya. Dia justru melepaskan dua tembakan balasan ke arah kegelapan di luar jendela dengan presisi yang mematikan. "Tuan! Anda berdarah!" Alya berteriak histeris, tangannya mencoba meraih bahu Luciano. "Tetap... di bawahku," desis Luciano. Napasnya memburu, bau darah dan mesiu menyatu dengan aroma sandalwood-nya yang khas. Di depan sana, Marco menggunakan kekacauan itu untuk menyeret Rian pergi kembali ke arah lift. "Ini baru peringatan, Luciano! Serahkan 'The Black Ledger' dalam 24 jam, atau kepala adikmu ini akan dikirim dalam kotak!" Pintu lift tertutup. Keheningan kembali merayap, hanya menyisakan suara napas Alya yang tersengal dan tetesan darah Luciano yang jatuh ke lantai marmer satu per satu. Luciano perlahan bangkit, duduk di lantai sambil memegang bahunya yang bersimbah darah. Dia menoleh ke arah Alya, matanya yang kelam menatap gadis itu dengan intensitas yang mengerikan. Alya menatapnya balik, terpaku pada luka baru dan luka lama di tubuh pria itu. Satu detik, dua detik, tiga detik... lima detik. Alya tidak bisa berpaling. "Kau melanggar Poin 2, Suster," bisik Luciano serak, senyum miring muncul di bibirnya yang pucat. "Kau menatapku terlalu lama. Apa kau begitu terpesona melihatku berdarah demi nyawamu?" Alya tidak peduli lagi dengan aturan itu. Dia merangkak mendekati Luciano, air mata mengalir deras. "Kenapa kau melakukannya? Kau sudah terluka parah di perut, dan sekarang..." Luciano menarik dagu Alya, memaksanya menatap lebih dekat. "Karena nyawamu adalah investasiku, Alya. Dan aku tidak suka jika investasiku disentuh oleh orang lain." Dia melepaskan dagu Alya dengan kasar, lalu berdiri meski tubuhnya sempat goyah. Dia menatap ke arah lift yang sudah kosong, lalu ke arah Alya yang masih terisak. "Berhenti menangis. Siapkan peralatan medismu," perintah Luciano dingin, kembali ke mode monster-nya. "Kau punya dua tugas malam ini: menjahit bahuku tanpa suara, dan memikirkan bagaimana cara menebus nyawa adikmu yang tidak berguna itu." Luciano melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Alya dalam kehancuran emosional yang total. Dia sadar, jerat obsesi ini baru saja mengencang di lehernya, lebih kuat dari rantai yang melilit Rian."Uhuk!"Suara batuk basah itu memecah keheningan kamar pengantin. Alya membekap mulutnya, namun cairan hangat merembes dari sela jari-jarinya. Ketika ia menarik tangannya, gaun pengantin putih gading itu kini ternoda oleh percikan merah yang mengerikan.Darah. Bukan darah dari luka luar, tapi darah dari dalam parunya yang mulai tergerus oleh Reflective Poison."Alya?"Luciano terbangun seketika. Efek euforia masih menyelimuti otaknya, membuatnya merasa ringan dan bahagia, namun insting predatornya langsung menyala saat mencium bau amis darah yang keluar dari mulut istrinya.Ia bangkit, sedikit terhuyung, dan meraih bahu Alya. "Kau kenapa? Kau sakit?"Alya menatap Luciano dengan pandangan kabur. Wajah pria itu masih terlihat damai, senyum tipis masih terukir di bibirnya—efek racun yang Alya berikan. Rasa bersalah menghantam Alya lebih keras daripada rasa sakit di dadanya."Aku... aku meracunimu, Luci," isak Alya, akhirnya pengakuan itu tumpah bersama darah di bibirnya. Tubuhnya merosot
Malam di menara Mansion Jati terasa begitu sunyi, seolah-olah dunia di luar sana telah binasa dan hanya menyisakan ruangan megah ini sebagai satu-satunya tempat berlindung. Cahaya bulan yang dingin menembus jendela kaca raksasa, menyinari debu-debu halus yang menari di udara, memberikan kesan magis yang menipu pada kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi penyatuan dua jiwa. Alya berdiri di dekat jendela, masih mengenakan gaun pengantin putih gadingnya yang kini terasa seberat rantai besi. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang, bertarung dengan aroma bunga bakung yang baunya mulai memuakkan. Di belakangnya, Luciano duduk di tepi ranjang king size bersprei sutra hitam, jas tuxedo-nya sudah terlempar ke lantai dengan sembarangan. Pria itu tidak lagi berdiri seperti raksasa yang mengintimidasi. Bahunya merosot, kepalanya tertunduk, dan napasnya terdengar berat namun teratur—sebuah efek dari Euphoric Paralysis yang mulai menjalar ke pusat emosinya. "Alya..
Lonceng kapel tua di sudut Mansion Jati berdentang lambat, suaranya menggema di antara batang-batang pohon jati yang bisu, terdengar lebih seperti lonceng perkabungan daripada lonceng pernikahan. Di dalam kapel, udara terasa begitu dingin hingga uap napas tipis keluar dari sela bibir Alya. Bau bunga bakung putih yang menghiasi setiap sudut ruangan terasa sangat mencekik, aroma kematian yang menyamar sebagai kesucian. Alya berdiri di ambang pintu besar kayu ek, gaun pengantin putih gadingnya yang menyapu lantai terasa seberat beban dosa klan Prawira yang kini harus ia pikul. Di ujung altar, Luciano berdiri tegak. Setelan jas hitamnya tampak kontras dengan latar belakang kapel yang pucat. Matanya yang tajam mengunci sosok Alya dengan pemujaan yang hampir gila—sebuah kemenangan absolut yang baru saja ia raih. Baginya, ini adalah penyatuan; bagi Alya, ini adalah eksekusi. Alya melangkah maju dengan kepala tegak. Di bawah sapuan lipstick merah yang sempurna, ia menyembunyikan lapisan for
Fajar di Mansion Jati tidak pernah terasa seindah ini, sekaligus semengerikan ini. Cahaya matahari yang pucat menyinari sisa-sisa kekacauan semalam—pecahan kaca yang sudah dibersihkan, namun noda darah yang seolah telah meresap permanen ke dalam pori-pori lantai marmer.Alya berdiri mematung di tengah kamar utama yang kini terasa seperti altar pengorbanan. Di sekelilingnya, empat orang wanita berpakaian hitam dengan wajah kaku bergerak seperti robot. Mereka bukan pelayan biasa; mereka adalah perias dan penjahit pribadi klan Prawira yang dikirim langsung oleh Luciano."Nona, tolong angkat dagu Anda sedikit," ucap salah satu wanita dengan suara tanpa nada.Alya mematuhinya. Bukan karena dia takut, tapi karena dia terlalu lelah untuk berdebat soal fisik. Di cermin besar di depannya, ia melihat sosok yang hampir tidak ia kenali. Gaun pengantin berwarna putih gading yang terbuat dari sutra terbaik membalut tubuhnya yang masih pucat. Gaun itu sangat indah, dengan sulaman perak yang membentu
Lantai kamar itu terasa sedingin es, namun tubuh Luciano yang bersandar di pelukan Alya justru terasa seperti bara api yang siap meledak. Napas pria itu pendek, tersengal, dan setiap ototnya berkedut liar akibat serangan stimulan yang menghancurkan sistem sarafnya. Alya menatap wajah Luciano. Pria ini—putra dari orang yang merenggut segalanya darinya—kini berada di titik paling rapuh. Alya bisa saja membiarkannya. Ia bisa saja berdiri, melangkah pergi, dan membiarkan jantung Luciano berhenti berdetak di depan makam ibunya sendiri. Namun, bayangan foto polaroid tua dan tulisan tangan ibunya kembali terlintas. "Ibu akan menciptakan dunia di mana kau tidak perlu membunuh untuk hidup." "Kau berhutang nyawa padaku lagi, Luci," bisik Alya dengan suara yang dingin, hampir mati rasa. Alya tidak bisa menggunakan jarum. Setiap gesekan logam akan memicu kejang hebat pada saraf Luciano yang sedang hyper-sensitive. Ia menarik napas panjang, lalu mulai melakukan satu-satunya cara yang ia tahu: M
Keheningan yang menyusul setelah pintu kamar dibanting dan dikunci otomatis terasa lebih menyesakkan daripada suara tembakan tadi. Bau mesiu dan darah masih menggantung tipis di udara, bercampur dengan aroma pembersih kimia yang baru saja disemprotkan oleh anak buah Luciano untuk melenyapkan jejak kematian di lantai marmer. Hanya ada mereka berdua. Di dalam sangkar emas yang kini terkunci rapat dari dunia luar. "Tuan... biarkan aku memeriksa lukamu," bisik Alya. Suaranya gemetar, namun insting perawatnya tetap mencoba berdiri tegak di tengah reruntuhan emosinya. Luciano tidak menjawab. Pria itu berdiri membelakangi Alya, tangannya mencengkeram pinggiran meja rias hingga kayu jati itu berderit protes. Punggungnya yang luas dan telanjang tampak berkeringat, otot-ototnya menegang seperti kawat baja yang ditarik hingga titik putus. "Tuan?" Alya mendekat selangkah. Tiba-tiba, Luciano berbalik dengan gerakan yang begitu cepat hingga Alya tidak sempat berkedip. Dalam sekejap, Lucian