홈 / Mafia / Jerat Obsesi Tuan Mafia / Bab 4: Pengkhianatan di Balik Pintu

공유

Bab 4: Pengkhianatan di Balik Pintu

작가: Murufu
last update 게시일: 2025-12-23 15:06:47

Kegelapan di lantai 50 itu terasa begitu pekat, seolah-olah malam baru saja menelan seluruh kemewahan penthouse ini. Hanya lampu darurat kemerahan yang berkedip lemah, memberi kesan horor pada suasana yang tadi sempat memanas.

"Rian?!" suara Alya melengking, penuh dengan keputusasaan.

Di ambang pintu, adiknya berdiri dengan kondisi yang menghancurkan hati Alya. Wajah Rian yang biasanya ceria kini hancur, bengkak, dan berlumuran darah. Tangannya terikat ke belakang, dan sebuah rantai besi melilit lehernya—ditarik oleh sosok pria tinggi besar dengan tato kobra yang melingkar di lehernya.

"Lepaskan dia!" Alya mencoba berlari maju, namun tangan kokoh Luciano menarik pinggangnya kembali dengan kasar.

"Diam di tempatmu, Alya!" bentak Luciano. Kemeja hitamnya yang terbuka berkibar, mengekspos otot dada yang tegang dan perban berdarah di perut kirinya yang kini mulai merembes lagi.

"Luciano... Bos besar Red Dragon yang legendaris," pria bertato itu tertawa, suaranya parau dan penuh kebencian. "Ternyata benar kabar burung itu. Kau sedang terluka, dan kau menyembunyikan seorang 'peliharaan' cantik di sini."

Luciano tidak membalas provokasi itu. Tangannya yang memegang pistol Beretta sangat stabil, membidik tepat ke arah kepala pria bertato itu. "Kau membuat kesalahan besar dengan menginjakkan kaki di lantai ini, Marco."

"Kesalahan? Tidak, Luciano. Aku datang untuk mengembalikan sampah ini..." Marco menyentak rantai di leher Rian, membuat anak itu jatuh tersungkur di lantai marmer. "Adik wanitamu ini mencuri dari kami juga. Dan sekarang, klan Black Cobra ingin bayaran yang setimpal."

Tiba-tiba, mata Luciano menyipit. Dia melihat pantulan cahaya merah kecil di kaca jendela raksasa di belakang Alya. Sniper.

"Alya, tiarap!"

PRANG!

Kaca setebal lima sentimeter itu pecah berkeping-keping. Sebelum Alya sempat memproses apa yang terjadi, Luciano menerjangnya. Tubuh besar pria itu menindih Alya, menjatuhkannya ke lantai.

Bugh!

Alya merasakan hantaman berat tubuh Luciano, disusul suara erangan rendah yang keluar dari tenggorokan pria itu. Alya menengadah, dan di bawah cahaya lampu darurat yang remang, ia melihat darah segar menciprat ke wajahnya.

Bukan darahnya. Tapi darah Luciano.

Peluru itu menyerempet bahu kanan Luciano, merobek dagingnya tepat sebelum menghantam dinding. Luciano meringis, namun ia tidak melepaskan perlindungannya pada Alya. Dia justru melepaskan dua tembakan balasan ke arah kegelapan di luar jendela dengan presisi yang mematikan.

"Tuan! Anda berdarah!" Alya berteriak histeris, tangannya mencoba meraih bahu Luciano.

"Tetap... di bawahku," desis Luciano. Napasnya memburu, bau darah dan mesiu menyatu dengan aroma sandalwood-nya yang khas.

Di depan sana, Marco menggunakan kekacauan itu untuk menyeret Rian pergi kembali ke arah lift. "Ini baru peringatan, Luciano! Serahkan 'The Black Ledger' dalam 24 jam, atau kepala adikmu ini akan dikirim dalam kotak!"

Pintu lift tertutup. Keheningan kembali merayap, hanya menyisakan suara napas Alya yang tersengal dan tetesan darah Luciano yang jatuh ke lantai marmer satu per satu.

Luciano perlahan bangkit, duduk di lantai sambil memegang bahunya yang bersimbah darah. Dia menoleh ke arah Alya, matanya yang kelam menatap gadis itu dengan intensitas yang mengerikan. Alya menatapnya balik, terpaku pada luka baru dan luka lama di tubuh pria itu. Satu detik, dua detik, tiga detik... lima detik. Alya tidak bisa berpaling.

"Kau melanggar Poin 2, Suster," bisik Luciano serak, senyum miring muncul di bibirnya yang pucat. "Kau menatapku terlalu lama. Apa kau begitu terpesona melihatku berdarah demi nyawamu?"

Alya tidak peduli lagi dengan aturan itu. Dia merangkak mendekati Luciano, air mata mengalir deras. "Kenapa kau melakukannya? Kau sudah terluka parah di perut, dan sekarang..."

Luciano menarik dagu Alya, memaksanya menatap lebih dekat. "Karena nyawamu adalah investasiku, Alya. Dan aku tidak suka jika investasiku disentuh oleh orang lain."

Dia melepaskan dagu Alya dengan kasar, lalu berdiri meski tubuhnya sempat goyah. Dia menatap ke arah lift yang sudah kosong, lalu ke arah Alya yang masih terisak.

"Berhenti menangis. Siapkan peralatan medismu," perintah Luciano dingin, kembali ke mode monster-nya. "Kau punya dua tugas malam ini: menjahit bahuku tanpa suara, dan memikirkan bagaimana cara menebus nyawa adikmu yang tidak berguna itu."

Luciano melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Alya dalam kehancuran emosional yang total. Dia sadar, jerat obsesi ini baru saja mengencang di lehernya, lebih kuat dari rantai yang melilit Rian.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 46: Bersujud di Kaki Ratu

    Tongkat naga emas itu terlepas dari genggaman Bramantyo. Suara logam yang menghantam lantai marmer memecah kesunyian yang mencekik ruang VVIP tersebut, bergema seperti dentang lonceng kematian. Bramantyo mundur selangkah, napasnya tercekat. Mulutnya terbuka setengah, namun tidak ada satu pun suara yang keluar dari tenggorokannya. Di sebelahnya, Salim sang pengacara mulai gemetar hebat hingga kacamata tebalnya nyaris jatuh. Mereka datang untuk melihat mayat seorang raja, namun yang menyambut mereka adalah iblis yang sedang berada di puncak kekuatannya. Selamat siang, Paman, sapa Luciano. Suaranya terdengar sangat tenang, tidak ada nada teriakan, namun cukup membuat udara di ruangan itu terasa membeku. Kau datang sedikit terlambat. Jam besuk untuk orang mati sudah ditiadakan. Luciano melangkah maju. Gerakannya begitu mulus, cepat, dan penuh tenaga. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kelumpuhan atau sisa luka di tubuhnya. T-Tuan Luciano... Anda... Anda sudah pulih... gagap Salim, me

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 45: Sang Raja yang Bangkit

    Api berkobar melahap laboratorium bawah tanah itu, mengubah sarang pualam Victor menjadi neraka yang menyala merah. Suara tembakan dan jeritan tertahan menggema di kejauhan, pertanda bahwa perintah sang Don sedang dieksekusi tanpa ampun oleh pasukan garis depan. Namun bagi Luciano, dunia luar sudah tidak ada artinya. Di dalam bangku belakang mobil SUV lapis baja yang melaju membelah badai Jakarta, seluruh fokusnya hanya tertuju pada wanita yang terbaring lemah di pangkuannya. Napas Alya terdengar putus-putus. Wajahnya sepucat mayat, dan kemeja putihnya telah berubah warna menjadi merah pekat oleh darahnya sendiri. Berikan vial itu, Rian! bentak Luciano dari kursi belakang. Rian, yang duduk di kursi penumpang depan, memutar tubuhnya dan menyerahkan tabung kecil berisi cairan biru keemasan itu. Tangan Luciano yang gemetar menerima vial tersebut. Ia menatap cairan itu, cairan yang dibayar dengan kelumpuhan istrinya. Tanpa ragu, Luciano menggigit tutup vial hingga pecah, persis sepe

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 44: Pengorbanan Berdarah

    Mesin ekstraksi itu akhirnya berhenti berdengung. Bagi Alya, suara itu terasa seperti datang dari alam bawah air. Pandangannya mengabur, telinganya berdenging hebat, dan napasnya tersengal-sengal di sela sabuk kulit yang masih digigitnya kuat-kuat. Keringat dingin membasahi seluruh meja operasi baja. Victor memutar katup terakhir dengan gerakan santai. Ia mencabut jarum panjang itu dari tulang belakang Alya dalam satu tarikan mulus. Darah segar seketika merembes dari lubang kecil di punggung Alya, menodai kulit putihnya dengan warna merah yang kontras. Selesai, ucap Victor, melepaskan sarung tangannya yang berdarah dan membuangnya ke tempat sampah medis. Kau bertahan lebih baik dari dugaanku, Nyonya Prawira. Sebagian besar pria militer akan pingsan di menit kedua. Alya memuntahkan sabuk kulit dari mulutnya. Bibirnya robek dan berdarah karena gigitannya sendiri. Ia mencoba mendorong tubuhnya untuk bangun, namun kenyataan mengerikan itu langsung menghantamnya. Dari pinggang

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 43: Pertukaran Takdir

    Keheningan di laboratorium bawah tanah itu terasa lebih mencekik daripada ruang kedap udara. Alya menatap wajah Victor yang menyunggingkan senyum malaikat pencabut nyawa. Tawaran itu bergema di kepalanya berulang kali. Setengah liter cairan sumsum tulang belakang. Tanpa anestesi. Risiko kelumpuhan delapan puluh persen. Jika dia setuju, dia akan menukar sepasang kakinya yang sehat dengan kaki Luciano yang kini mati rasa. Dia akan menjadi tawanan di atas kursi roda, tidak akan pernah bisa melarikan diri dari sang Don Mafia seumur hidupnya. Tetapi jika dia menolak, dalam tujuh hari, pria yang memeluknya erat di tengah halusinasi paranoid tadi pagi itu akan hancur menjadi debu. Alya memejamkan mata. Bayangan Luciano yang rela menenggak racun dan menodongkan pistol ke kepalanya sendiri di dermaga berkelebat di benaknya. Iblis itu membuang nyawanya demi satu tarikan napas Alya. Kini, alam semesta menagih utang yang setimpal. Lakukan, ucap Alya, membuka matanya. Suaranya terdengar sanga

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 42: Harga Sebuah Penawar

    Malam turun menyelimuti ibu kota seperti kain kafan hitam. Hujan gerimis mulai membasahi jendela kaca ruang VVIP, menghapus sisa-sisa keangkuhan hari ini. Alya berdiri di depan cermin kamar mandi, mengikat rambut hitamnya menjadi ekor kuda yang ketat. Ia mengganti jas dokternya dengan jaket kulit hitam dan celana kargo gelap. Ia harus bergerak cepat, tidak terlihat, dan mematikan. Saat Alya keluar dari kamar mandi, pandangannya langsung bersirobok dengan tatapan tajam Luciano. Pria itu masih terbaring di ranjang, wajahnya pucat namun matanya menyala dalam kegelapan ruangan yang sengaja tidak dinyalakan lampu utamanya. Kau benar-benar akan pergi sendirian, Alya? suara Luciano terdengar berat, memecah keheningan. Kau pikir aku akan membiarkan milikku berkeliaran di malam hari saat Bramantyo sedang mengerahkan anjing-anjing pelacaknya? Alya berjalan mendekati ranjang, mengancingkan jaketnya hingga ke leher. Jika aku membawa pasukan Rian, Bramantyo akan tahu aku pergi. Tempat yang ak

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 41: Kontaminasi Hitam

    Rian langsung melompat maju, mengunci kembali pintu ganda kamar VVIP dengan selot mekanis tambahan. Detik berikutnya, dia berbalik dengan wajah pucat melihat bosnya yang sedang mencengkeram dadanya sendiri dengan ekspresi yang sangat menderita. Nyonya! Apa yang terjadi pada Tuan Besar?! teriak Rian panik, tangannya gemetar di atas tombol darurat di dinding. Jangan tekan tombol itu, Rian! bentak Alya, suaranya melengking tinggi di antara bunyi alarm monitor EKG yang memekakkan telinga. Jika dokter rumah sakit ini masuk dan melihat darah hitam itu, rahasia kita selesai! Bantu aku membaringkannya! Rian dengan sigap menahan tubuh besar Luciano yang mulai kejang ringan. Darah hitam pekat yang keluar dari hidung Luciano kini mulai mengalir dari sudut bibirnya, mengotori seprai putih bersih dengan noda gelap yang berbau sulfur dan besi menyengat. Alya bergerak dengan kecepatan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia menyambar tabung oksigen darurat, memasangkan masker pernapasan k

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 14: Puing-Puing Masa Lalu

    Debu putih pekat menyelimuti udara, mengubah laboratorium bawah tanah itu menjadi neraka yang mencekik paru-paru. Suara ledakan Isabella masih berdenging di telinga Alya, namun suara yang lebih mengerikan adalah suara beton yang retak di atas kepala mereka."Rian! Cepat lewat bawah sini!" teriak Al

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 7: Ratu Ular

    Jam dinding digital di nakas menunjukkan pukul tiga pagi, namun bagi Alya, waktu seolah telah mati sejak Luciano melangkah keluar dari pintu itu.Dingin.Hanya satu kata itu yang kini mendefinisikan eksistensinya. Alya masih duduk meringkuk di sudut karpet bulu tebal di samping tempat tidur raksasa

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 6: Bayang-Bayang Masa Lalu

    Suara interkom itu mati, meninggalkan keheningan yang jauh lebih mencekam daripada suara tembakan tadi.Luciano melepaskan cengkeramannya di lengan Alya. Bukan dengan lembut, tapi dengan sentakan kasar seolah Alya tiba-tiba berubah menjadi benda panas yang membakar kulitnya. Dia mundur selangkah, m

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 5: Pengabdian di Bawah Luka

    Uap panas memenuhi kamar mandi luas yang berlapis marmer hitam itu, menciptakan kabut tebal yang menyamarkan pandangan. Suara gemericik air dari rain shower terdengar seperti genderang perang di telinga Alya.Luciano berdiri di bawah guyuran air, masih mengenakan celana kain hitamnya yang kini basa

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status