LOGINDinda menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Dia melepas sanggulnya, membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai. Setidaknya rambutnya bisa sedikit menutupi bagian dada yang terlalu terekspos.
Dinda melangkah keluar kamar mandi dan menemukan Rafael duduk di sofa dekat jendela.
Awalnya pria itu menunduk memandangi ponselnya. Tapi begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka, kepala pria itu langsung terangkat.
Pandangan mereka bertemu. Dinda terpaku.
Rafael kini bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang hitam. Dada Rafael berotot, sedikit berbulu di bagian tengah, dan perutnya... Dinda menelan ludah lagi.
Untuk beberapa detik, Rafael menatap Dinda tanpa berkata apa-apa. Matanya turun-naik, seperti memindai seluruh tubuh Dinda dari atas hingga bawah.
Dinda menundukkan wajah, tak mampu bertahan dalam tatapan Rafael. Jemarinya saling meremas di depan tubuh.
Bagaimana dia harus bertindak sekarang?
"Kamu cantik," ucap Rafael datar membuyarkan lamunan Dinda. Pria itu mematikan layar ponsel tanpa mengalihkan pandangan. "Dan penurut. Nggak salah aku pilih istri."
Dinda menelan ludah. Kata-kata itu harusnya terdengar seperti pujian, tapi entah mengapa di telinga Dinda justru terasa seperti tuntutan.
Dinda tak tahu harus menjawab apa. Terima kasih? Atau malah pura-pura tidak mendengar?
Rafael beranjak dari sofa dekat jendela. Tubuhnya yang jangkung dan tegap bergerak dengan percaya diri.
Dinda membeku di tempat.
Beberapa saat lalu, ia masih mempertimbangkan untuk kabur kembali ke balik pintu itu, mungkin mengganti piyama satin ini dengan sesuatu yang lebih tertutup, atau sekadar menenangkan diri lebih lama.
Namun, kini terlambat.
Rafael berjalan mantap ke arahnya. Sementara itu, Dinda berusaha keras menjadi istri yang baik di malam pertama dan tetap berdiri di tempatnya. Jantungnya berdebar keras hingga ia cemas Rafael bisa mendengarnya.
"Kamu gugup?" tanya Rafael, kini berdiri tepat di depan Dinda. Jarak mereka hanya sekitar sejengkal tangan, cukup dekat hingga Dinda bisa mencium aroma aftershave yang bercampur dengan wangi keringat samar.
"Sedikit," jawab Dinda jujur. Ia tak berani menatap langsung mata Rafael, dan pandangannya justru terpaku pada dada telanjang suaminya.
Dari jarak sedekat ini, Dinda melihat jelas kontur otot dada Rafael yang terbentuk sempurna, hasil dari jam-jam latihan di gym yang selalu ia pamerkan di media sosial. Ada rambut-rambut halus di tengah dadanya, menjalur turun hingga ke perut, menghilang di balik celana hitam yang masih dikenakannya.
Dinda merasakan sensasi aneh di perutnya sendiri. Ini pertama kali ia melihat dada laki-laki secara langsung dan dari jarak sedekat ini.
Ia ingin mundur, tapi belum sempat bergerak, tangan Rafael sudah lebih dulu bertindak. Jemari pria itu yang panjang dan kokoh menyentuh rambut Dinda, membelainya perlahan dari pelipis hingga ke belakang telinga.
"Din," panggil Rafael yang lebih terdengar seperti gumaman, "jangan berubah. Tetap seperti ini, cantik dan penurut. Dengan begitu, aku jamin pernikahan kita akan langgeng."
Dinda terpaku. Di satu sisi, ia senang karena Rafael menilai dirinya sebagai sesuatu yang baik. Namun di sisi lain, ia sedih karena itu berarti ia tak boleh menunjukkan emosi yang tak sesuai dengan harapan Rafael, apalagi mengungkapkan rasa tidak nyamannya di hadapan suaminya sendiri.
Dinda pun mengangguk pelan, tapi masih belum berani mengangkat wajah.
"Kamu tahu kenapa aku milih kamu?" tanya Rafael. Tangannya beralih menyentuh dagu Dinda, mengangkatnya perlahan hingga mata mereka bertemu. "Karena kamu nggak banyak tanya. Kamu nggak kepo."
Dinda berkedip, tidak yakin bagaimana harus merespon pujian yang malah terasa seperti batasan itu.
"Aku benci orang yang kepo, Din," Rafael melanjutkan. "Selama ini aku sudah kenyang dengan wartawan dan fans yang selalu ingin tahu urusan pribadiku. Mereka bertanya-tanya tentang segalanya, tentang hubunganku, tentang pekerjaan, tentang kehidupan pribadiku. Aku nggak mau di rumahku sendiri, istriku juga jadi seperti mereka.” Rafael menarik napas, keningnya berkerut samar. “Jadi… mulai sekarang, kamu nggak perlu dan nggak boleh kepo soal urusanku. Ngerti?"
Tenggorokan Dinda seketika mengering. Ia tak pernah menyangka malam pertamanya akan diisi dengan semacam orientasi aturan main rumah tangga.
Ia ingin bertanya, apa alasannya? Bukankah sepasang suami istri harus ada keterbukaan? Kenapa sekarang urusan suami tidak boleh jadi urusan istri?
Berbagai macam pertanyaan ingin Dinda lontarkan, tapi suara itu hanya bergetar di rongga dadanya.
"Iya, Mas," jawab Dinda, akhirnya. "Aku ngerti."
Rafael mengangguk puas. "Bagus." Ia menurunkan tangannya dari dagu Dinda. "Sekarang, rebahan di kasur."
Dinda mengerjap. Perintah itu datang tiba-tiba.
Sejenak, ia ragu. Tapi mengingat janji untuk patuh, Dinda pun melangkah pelan ke arah ranjang.
Dengan gerakan kikuk, Dinda merebahkan diri, punggungnya terasa tenggelam di kasur yang empuk. Jantungnya kembali berdebar kencang, kali ini lebih keras dan lebih cepat, hingga ia takut akan pingsan.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Rafael akan langsung memintanya membuka baju? Apakah ini saatnya ia harus merelakan keperawanan yang selama 21 tahun dijaganya?
Dinda memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napas yang mulai memburu. Ia mendengar derit ranjang, merasakan kasur sedikit bergerak di bawah tekanan.
Dinda menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Namun, setelah sekian lama, ia tidak menerima perlakuan apa pun. Tidak ada tangan yang mengusap pipinya, tidak ada bibir yang menyentuh wajahnya, bahkan tidak ada desahan napas hangat mendekati kulitnya.
Dinda menunggu beberapa detik lagi dan tetap tak ada gerakan. Ragu-ragu, ia membuka mata dan menoleh, hanya untuk mendapati Rafael sudah tidak lagi di dekat ranjang.
Pria itu kini berdiri di dekat jendela, menatap layar ponselnya dengan serius.
Panas menjalar di wajah Dinda. Jadi, Rafael hanya membungkuk untuk mengambil ponselnya di atas nakas?
Dinda mendadak merasa bodoh karena terlalu percaya diri. Tentu saja Rafael tidak akan langsung melakukan 'itu'. Mereka bahkan belum bicara banyak dan belum saling mengenal.
Tapi apa yang ia pikir akan terjadi di malam pertama kalau bukan itu?
"Tidur, Din," perintah Rafael tanpa menoleh, jemarinya masih lincah mengetik sesuatu di ponsel.
Dinda mengerjap lagi. "Lho, Mas nggak..." ia menelan ludah, tak sanggup melanjutkan pertanyaan. Terlalu gengsi, terlalu takut terdengar bodoh.
Rafael tiba-tiba mengalihkan perhatiannya kepada Dinda. "Apa?" tanyanya dengan tatapan intens.
Dinda menegang saat Rafael mendekatinya. Pria itu berhenti tepat di sisi ranjang, lalu membungkuk sedikit, cukup dekat hingga Dinda refleks mencengkeram seprai.
“Kamu berharap kita ngapain?” tanya Rafael ringan, tapi tajam.
Dinda tercekat. “A-aku nggak—”
Rafael mencondongkan tubuhnya, wajahnya mendekat ke telinga Dinda tanpa benar-benar menyentuhnya. Suaranya turun, nyaris berbisik. “Kamu kebaca banget kalau lagi gugup.”
Ujung jarinya naik menyentuh helai rambut Dinda, menyibakkannya perlahan ke belakang telinga. Sentuhan ringan yang membuat kulit Dinda merinding lebih hebat.
“Jujur,” ucap Rafael rendah. “Apa yang kamu harapkan dariku malam ini?”
"Oh, tentu," jawab Dinda cepat. "Rafael sangat baik. Dia itu... dia sempurna."Nathan mengangguk pelan, tapi dari sorot matanya, Dinda tahu pria itu tidak sepenuhnya percaya. Mereka telah bersama selama lima tahun. Nathan mengenalnya terlalu baik untuk dibohongi."Dengar, Din," Nathan meletakkan cangkir kopinya. "Aku tahu ini mungkin bukan tempatku untuk bicara seperti ini. Kita ini kan sudah lama nggak ketemu, dan kamu sekarang sudah punya kehidupan baru. Tapi..." ia menarik napas dalam-dalam, "kita tetap teman, kan? Atau setidaknya, aku ingin kita bisa berteman."Dinda mengangguk pelan, tidak yakin ke mana arah pembicaraan ini."Dan sebagai teman," lanjut Nathan, suaranya melembut, "aku ingin kamu tahu bahwa kalau kamu butuh bantuan… bantuan apa pun, kamu bisa menghubungiku."Nathan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Kartu itu berwarna hitam dengan tulisan perak yang elegan. Di atasnya tercetak nama Nathan Leonard Sagara, diikuti titel Founder & CEO Sagara Innov
Nathan terkekeh, geli melihat kegugupan Dinda. Ekspresi jahilnya perlahan melembut menjadi senyuman hangat yang dulu selalu berhasil menenangkan Dinda di saat-saat sulit."Santai, Din," kata Nathan. Ia mengembalikan kedua buku ke tangan Dinda. "Aku nggak akan bilang siapa-siapa kok. Rahasia kita berdua."Dinda menerima buku-bukunya dengan tangan sedikit gemetar, lantas memasukkannya kembali ke dalam paper bag. "Makasih," gumamnya pelan, masih tidak berani menatap langsung mata Nathan."Jadi," Nathan melanjutkan, "mau ngopi bareng? Atau kamu buru-buru?"Dinda mengangkat wajah, akhirnya berani menatap Nathan. Pria itu tak banyak berubah, hanya saja sekarang tampak lebih matang. "Bo–boleh," jawab Dinda.Mereka berjalan bersama ke konter pemesanan. Nathan dengan santai bertanya, "Masih suka cappuccino dengan extra shot dan sedikit karamel?"Dinda tertegun. "Kamu masih ingat?""Ada beberapa hal yang sulit dilupakan, Din," ungkap Nathan. "Pesanan kopimu adalah salah satunya."Dinda terseny
Tujuh hari terasa seperti mimpi aneh. Pernikahan kilat dan mengurus bayi, semuanya terasa begitu baru bagi Dinda.Namun, setidaknya Dinda dapat menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Hari ini, ia pergi ke toko buku untuk mencari buku referensi.Mata Dinda menyapu judul-judul buku ekonomi makro yang berjajar rapi di rak. Beberapa terlihat familiar dari daftar referensi yang diberikan dosen pembimbingnya.Meski statusnya kini sudah berganti menjadi istri seorang aktor terkenal yang notabene mapan, Dinda tidak berniat meninggalkan kuliahnya begitu saja. Skripsinya masih menunggu untuk diselesaikan, dan ia bertekad untuk tetap lulus tepat waktu.Dinda sudah mendapatkan sebuah buku yang bisa ia jadiakan referensi skripsinya lalu berjalan menuju kasir. Sambil melangkah pelan, matanya sesekali menyapu rak-rak buku yang ia lewati. Ada novel romantis, buku self-help, komik Jepang yang sedang populer dan—Kakinya sontak terhenti.Di rak sebelah kanannya, sebuah buku dengan sampul merah muda me
"Nggak. Bukan apa-apa. Maksudku… Mas nggak istirahat juga?" Dinda cepat-cepat meralat. Rafael mengamati reaksi Dinda dengan saksama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis sebelum akhirnya menarik tubuhnya perlahan. "Ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini juga," jelas Rafael.Setelah menyelipkan ponsel ke saku celana, pria itu bergerak ke arah lemari pakaian dan dengan satu gerakan cepat, memakai kaos abu-abu untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang berotot."Urusan? Urusan apa, Mas?" tanya Dinda pelan, lalu setelah teringat pesan Rafael agar jangan kepo, ia buru-buru meralat, "Maksudku... nggak apa-apa kalau Mas nggak mau cerita. Aku cuma kaget aja. Ini kan masih hari pernikahan kita."“Bisnis hiburan nggak kenal hari libur, Din. Apalagi kalau ada masalah mendadak."Dinda mengangguk, mencoba memahami. Ia tahu Rafael adalah seorang model dan aktor yang cukup laris akhir-akhir ini.Awalnya, Rafael hanya model dan aktor figuran biasa, namanya tidak terlalu dikenal. T
Dinda menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Dia melepas sanggulnya, membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai. Setidaknya rambutnya bisa sedikit menutupi bagian dada yang terlalu terekspos.Dinda melangkah keluar kamar mandi dan menemukan Rafael duduk di sofa dekat jendela. Awalnya pria itu menunduk memandangi ponselnya. Tapi begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka, kepala pria itu langsung terangkat.Pandangan mereka bertemu. Dinda terpaku. Rafael kini bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang hitam. Dada Rafael berotot, sedikit berbulu di bagian tengah, dan perutnya... Dinda menelan ludah lagi.Untuk beberapa detik, Rafael menatap Dinda tanpa berkata apa-apa. Matanya turun-naik, seperti memindai seluruh tubuh Dinda dari atas hingga bawah. Dinda menundukkan wajah, tak mampu bertahan dalam tatapan Rafael. Jemarinya saling meremas di depan tubuh.Bagaimana dia harus bertindak sekarang? "Kamu cantik," ucap Rafael datar membuyarkan lamunan Dinda. Pria itu
"Lepas handukmu," perintah Rafael.Dinda yang baru selesai mandi langsung terkejut. Jantungnya berdegup kencang."M-mas? Kenapa tiba-tiba..." Dinda tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.Seketika itu, Rafael menarik tangan Dinda kuat-kuat, membuat tubuhnya tersentak maju hingga menempel ke tubuh Rafael. Posisi mereka begitu dekat sampai Dinda bisa mencium aroma aftershave yang bercampur keringat dan sesuatu yang mirip... alkohol?Dinda mendongak, mencari jawaban di mata suami dadakannya. Tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan dingin, diselingi kilatan amarah yang belum pernah ia saksikan sebelumnya."Apa yang terjadi, Mas? Apa aku berbuat salah?" Dinda berbisik, suaranya gemetar tanpa bisa ditahan."Kamu nggak perlu tahu," Rafael menggeram rendah. "Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah jadi istri penurut. Itu saja yang aku butuhkan darimu sekarang."Ada ancaman tersembunyi dalam suara Rafael, sesuatu yang membuat bulu kuduk Dinda berdiri. Ia mengangguk pelan, lebih karena takut dar







