LOGIN"Oh, tentu," jawab Dinda cepat. "Rafael sangat baik. Dia itu... dia sempurna."
Nathan mengangguk pelan, tapi dari sorot matanya, Dinda tahu pria itu tidak sepenuhnya percaya. Mereka telah bersama selama lima tahun. Nathan mengenalnya terlalu baik untuk dibohongi.
"Dengar, Din," Nathan meletakkan cangkir kopinya. "Aku tahu ini mungkin bukan tempatku untuk bicara seperti ini. Kita ini kan sudah lama nggak ketemu, dan kamu sekarang sudah punya kehidupan baru. Tapi..." ia menarik napas dalam-dalam, "kita tetap teman, kan? Atau setidaknya, aku ingin kita bisa berteman."
Dinda mengangguk pelan, tidak yakin ke mana arah pembicaraan ini.
"Dan sebagai teman," lanjut Nathan, suaranya melembut, "aku ingin kamu tahu bahwa kalau kamu butuh bantuan… bantuan apa pun, kamu bisa menghubungiku."
Nathan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Kartu itu berwarna hitam dengan tulisan perak yang elegan. Di atasnya tercetak nama Nathan Leonard Sagara, diikuti titel Founder & CEO Sagara Innovations, serta nomor telepon dan alamat email.
"Ambil, Din," kata Nathan, menyodorkan kartu itu. "Semua kontakku ada di situ."
Dinda menerima kartu nama itu dengan tangan sedikit gemetar. "Makasih, Nat. Tapi kamu nggak perlu khawatir. Aku baik-baik aja, beneran."
"Aku tahu kamu wanita yang kuat, Din. Selalu begitu," kata Nathan dengan senyum tulus. "Tapi semua orang kadang butuh tempat bercerita."
"Aku masih punya Helen," kata Dinda, mencoba terdengar meyakinkan. "Kamu pasti belum lupa Helen kan? Dia selalu ada untukku. Bahkan saat masa-masa sulit setelah... yah, setelah kita putus."
Nathan mengangguk, ada kilatan pengertian di matanya. "Dia memang teman yang baik untukmu."
"Benar, dia yang membantuku melewati semuanya," lanjut Dinda, entah kenapa merasa perlu menekankan hal ini. "Aku nggak sendirian."
"Itu bagus," Nathan tersenyum, tapi senyumnya tidak mencapai matanya. "Tapi tawaranku tetap berlaku. Kapan pun, di mana pun."
Dinda tertegun mendengarnya. Sejujurnya, ia sedikit salah tingkah, namun tetap berusaha terlihat biasa saja.
“Te-terima kasih, Nathan,” katanya singkat.
Tidak butuh berapa lama hingga keduanya berpamitan.
Langkah Dinda begitu cepat menuju rumahnya.
Dinda berlari menuju kamar, menutup pintu kamarnya dengan terburu-buru, lalu bersandar di baliknya. Jantungnya masih berdebar-debar, wajahnya masih terasa panas.
Pertemuan tak terduga dengan Nathan berhasil mengacaukan semua ketenangan yang selama seminggu terakhir ia coba bangun dalam pernikahan barunya.
Dia bahkan tidak sempat melihat Nikita, padahal biasanya hal pertama yang ia lakukan setelah sampai di rumah adalah mengecek bayi mungil itu. Namun, isi kepalanya terlalu berantakan untuk melakukan apapun selain menutup diri di kamar.
Bayangan pertemuan di kafe tadi masih begitu jelas. Bagaimana mata coklat Nathan menatapnya dan bagaimana suara bariton pria itu masih bisa membuat jantung Dinda berdetak tak beraturan.
Dinda meletakkan tas dan paper bag yang berisi buku-bukunya di atas meja rias. Kepalanya berdenyut nyeri.
Ia pun memutuskan untuk mandi sore. Mungkin berendam di bathub bisa membantunya merasa lebih baik.
Dua puluh menit kemudian, Dinda merasa suasana hatinya sudah jauh lebih baik. Setelah mengeringkan tubuhnya dan memakai bathrobe, Dinda pun keluar kamar mandi.
Namun, langkahnya seketika terhenti di depan pintu. Ia dikejutkan oleh keberadaan Rafael yang sudah berdiri di dekat jendela besar dengan posisi membelakanginya.
Tubuh tinggi pria itu dibalut kemeja navy dan celana jeans hitam. i.
Kapan Rafael pulang?
Seingatnya, tadi tidak ada mobil Rafael di halaman ketika ia pulang. Apa mungkin pria itu sudah ada di rumah dan Dinda tidak menyadarinya?
Tidak, itu tidak mungkin. Rafael pasti baru saja tiba.
"M-Mas?" Dinda memanggil pelan.
Rafael berbalik dengan gerakan lambat. Dinda bisa melihat dengan jelas bagaimana mata Rafael menatapnya secara dingin dan penuh emosi tertahan.
Dinda menelan ludah setelah sadar ada yang tidak beres.
"Mas baru pulang?" tanyanya, berusaha tersenyum. "Hari ini syutingnya lancar?"
Rafael tidak langsung menjawab. Matanya hanya menatap Dinda intens.
Mungkinkah Rafael ada masalah di lokasi syuting? Dinda mencoba menenangkan diri.
"Mas mau mandi dulu? Aku bisa siapin air hangat kalau Mas mau. Atau handuk?" tawar Dinda. “Ehm, aku siapkan ya M—"
Dinda tersentak. Baru saja dia berbalik hendak menuju kamar mandi, tiba-tiba ia merasakan cengkeraman kuat di pergelangan tangannya. Ia menoleh, dan matanya langsung bertemu dengan mata Rafael yang menatapnya tajam.
"M-Mas? Kenapa?" tanya Dinda, mencoba tersenyum sambil menekan rasa cemas yang mulai merayapi tubuhnya. "Ada yang salah?"
Rafael tidak langsung menjawab. Matanya menyapu wajah Dinda dengan cara yang aneh, dingin dan menakutkan. Ini pertama kalinya Dinda melihat ekspresi seperti itu di wajah suaminya.
"Lepas handukmu," perintah Rafael tiba-tiba.
Mata Dinda membulat. Jantungnya berdegup kencang.
"M-mas? Kenapa tiba-tiba..." Dinda tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Seketika itu, Rafael menarik tangan Dinda kuat-kuat, membuat tubuhnya tersentak maju hingga menempel ke tubuh Rafael. Posisi mereka begitu dekat sampai Dinda bisa mencium aroma aftershave yang bercampur keringat dan sesuatu yang mirip... alkohol?
Dinda mendongak, mencari jawaban di mata suami dadakannya. Tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan dingin, diselingi kilatan amarah yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.
"Apa yang terjadi, Mas? Apa aku berbuat salah?" Dinda berbisik, suaranya gemetar tanpa bisa ditahan.
"Kamu nggak perlu tahu," Rafael menggeram rendah. "Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah jadi istri penurut. Itu saja yang aku butuhkan darimu sekarang."
Ada ancaman tersembunyi dalam suara Rafael, sesuatu yang membuat bulu kuduk Dinda berdiri. Ia mengangguk pelan, lebih karena takut daripada mengerti.
Rafael melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Dinda mundur satu langkah. "Lepas handukmu. Sekarang."
Dinda terpaku. Selama seminggu tinggal bersama, Rafael belum pernah meminta hal seperti ini. Bahkan, pria itu selalu menjaga jarak, selalu meninggalkan ruang pribadi untuk Dinda. Tapi kini, pria yang sama menatapnya dengan sorot mata yang begitu begitu asing dan mengancam.
Tangan Dinda bergetar saat ia mulai membuka tali bathrobe-nya. Sebenarnya, ia sudah lama mengharapkan momen intim dengan Rafael.
Namun tidak seperti ini. Tidak dengan perintah dingin yang menindas seperti ini.
Bathrobe putihnya melorot ke lantai, menyisakan tubuh Dinda yang telanjang. Wajahnya memanas oleh perasaan malu dan terhina.
"Jalan ke kasur," perintah Rafael lagi.
Dengan kaki yang mulai lemas, Dinda melangkah.
“Stop!” titah Rafael ketika Dinda sampai ke sisi ranjang.
Dinda hanya menurut, tidak berani bertanya atau membantah. Ada sesuatu dalam diri Rafael yang kini benar-benar menakutkan baginya.
"Sekarang, berbalik. Terus bungkuk. Taruh tanganmu di tepian kasur."
Dinda tercekat. "M-mas, aku—"
"Lakukan sekarang!" bentak Rafael, suaranya menggelegar memenuhi kamar.
"Oh, tentu," jawab Dinda cepat. "Rafael sangat baik. Dia itu... dia sempurna."Nathan mengangguk pelan, tapi dari sorot matanya, Dinda tahu pria itu tidak sepenuhnya percaya. Mereka telah bersama selama lima tahun. Nathan mengenalnya terlalu baik untuk dibohongi."Dengar, Din," Nathan meletakkan cangkir kopinya. "Aku tahu ini mungkin bukan tempatku untuk bicara seperti ini. Kita ini kan sudah lama nggak ketemu, dan kamu sekarang sudah punya kehidupan baru. Tapi..." ia menarik napas dalam-dalam, "kita tetap teman, kan? Atau setidaknya, aku ingin kita bisa berteman."Dinda mengangguk pelan, tidak yakin ke mana arah pembicaraan ini."Dan sebagai teman," lanjut Nathan, suaranya melembut, "aku ingin kamu tahu bahwa kalau kamu butuh bantuan… bantuan apa pun, kamu bisa menghubungiku."Nathan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Kartu itu berwarna hitam dengan tulisan perak yang elegan. Di atasnya tercetak nama Nathan Leonard Sagara, diikuti titel Founder & CEO Sagara Innov
Nathan terkekeh, geli melihat kegugupan Dinda. Ekspresi jahilnya perlahan melembut menjadi senyuman hangat yang dulu selalu berhasil menenangkan Dinda di saat-saat sulit."Santai, Din," kata Nathan. Ia mengembalikan kedua buku ke tangan Dinda. "Aku nggak akan bilang siapa-siapa kok. Rahasia kita berdua."Dinda menerima buku-bukunya dengan tangan sedikit gemetar, lantas memasukkannya kembali ke dalam paper bag. "Makasih," gumamnya pelan, masih tidak berani menatap langsung mata Nathan."Jadi," Nathan melanjutkan, "mau ngopi bareng? Atau kamu buru-buru?"Dinda mengangkat wajah, akhirnya berani menatap Nathan. Pria itu tak banyak berubah, hanya saja sekarang tampak lebih matang. "Bo–boleh," jawab Dinda.Mereka berjalan bersama ke konter pemesanan. Nathan dengan santai bertanya, "Masih suka cappuccino dengan extra shot dan sedikit karamel?"Dinda tertegun. "Kamu masih ingat?""Ada beberapa hal yang sulit dilupakan, Din," ungkap Nathan. "Pesanan kopimu adalah salah satunya."Dinda terseny
Tujuh hari terasa seperti mimpi aneh. Pernikahan kilat dan mengurus bayi, semuanya terasa begitu baru bagi Dinda.Namun, setidaknya Dinda dapat menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Hari ini, ia pergi ke toko buku untuk mencari buku referensi.Mata Dinda menyapu judul-judul buku ekonomi makro yang berjajar rapi di rak. Beberapa terlihat familiar dari daftar referensi yang diberikan dosen pembimbingnya.Meski statusnya kini sudah berganti menjadi istri seorang aktor terkenal yang notabene mapan, Dinda tidak berniat meninggalkan kuliahnya begitu saja. Skripsinya masih menunggu untuk diselesaikan, dan ia bertekad untuk tetap lulus tepat waktu.Dinda sudah mendapatkan sebuah buku yang bisa ia jadiakan referensi skripsinya lalu berjalan menuju kasir. Sambil melangkah pelan, matanya sesekali menyapu rak-rak buku yang ia lewati. Ada novel romantis, buku self-help, komik Jepang yang sedang populer dan—Kakinya sontak terhenti.Di rak sebelah kanannya, sebuah buku dengan sampul merah muda me
"Nggak. Bukan apa-apa. Maksudku… Mas nggak istirahat juga?" Dinda cepat-cepat meralat. Rafael mengamati reaksi Dinda dengan saksama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis sebelum akhirnya menarik tubuhnya perlahan. "Ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini juga," jelas Rafael.Setelah menyelipkan ponsel ke saku celana, pria itu bergerak ke arah lemari pakaian dan dengan satu gerakan cepat, memakai kaos abu-abu untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang berotot."Urusan? Urusan apa, Mas?" tanya Dinda pelan, lalu setelah teringat pesan Rafael agar jangan kepo, ia buru-buru meralat, "Maksudku... nggak apa-apa kalau Mas nggak mau cerita. Aku cuma kaget aja. Ini kan masih hari pernikahan kita."“Bisnis hiburan nggak kenal hari libur, Din. Apalagi kalau ada masalah mendadak."Dinda mengangguk, mencoba memahami. Ia tahu Rafael adalah seorang model dan aktor yang cukup laris akhir-akhir ini.Awalnya, Rafael hanya model dan aktor figuran biasa, namanya tidak terlalu dikenal. T
Dinda menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Dia melepas sanggulnya, membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai. Setidaknya rambutnya bisa sedikit menutupi bagian dada yang terlalu terekspos.Dinda melangkah keluar kamar mandi dan menemukan Rafael duduk di sofa dekat jendela. Awalnya pria itu menunduk memandangi ponselnya. Tapi begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka, kepala pria itu langsung terangkat.Pandangan mereka bertemu. Dinda terpaku. Rafael kini bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang hitam. Dada Rafael berotot, sedikit berbulu di bagian tengah, dan perutnya... Dinda menelan ludah lagi.Untuk beberapa detik, Rafael menatap Dinda tanpa berkata apa-apa. Matanya turun-naik, seperti memindai seluruh tubuh Dinda dari atas hingga bawah. Dinda menundukkan wajah, tak mampu bertahan dalam tatapan Rafael. Jemarinya saling meremas di depan tubuh.Bagaimana dia harus bertindak sekarang? "Kamu cantik," ucap Rafael datar membuyarkan lamunan Dinda. Pria itu
"Lepas handukmu," perintah Rafael.Dinda yang baru selesai mandi langsung terkejut. Jantungnya berdegup kencang."M-mas? Kenapa tiba-tiba..." Dinda tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.Seketika itu, Rafael menarik tangan Dinda kuat-kuat, membuat tubuhnya tersentak maju hingga menempel ke tubuh Rafael. Posisi mereka begitu dekat sampai Dinda bisa mencium aroma aftershave yang bercampur keringat dan sesuatu yang mirip... alkohol?Dinda mendongak, mencari jawaban di mata suami dadakannya. Tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan dingin, diselingi kilatan amarah yang belum pernah ia saksikan sebelumnya."Apa yang terjadi, Mas? Apa aku berbuat salah?" Dinda berbisik, suaranya gemetar tanpa bisa ditahan."Kamu nggak perlu tahu," Rafael menggeram rendah. "Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah jadi istri penurut. Itu saja yang aku butuhkan darimu sekarang."Ada ancaman tersembunyi dalam suara Rafael, sesuatu yang membuat bulu kuduk Dinda berdiri. Ia mengangguk pelan, lebih karena takut dar







