Share

Bab 5 - Reuni dengan Mantan

Penulis: Ayumi Sarah
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-30 14:44:14

Nathan terkekeh, geli melihat kegugupan Dinda. Ekspresi jahilnya perlahan melembut menjadi senyuman hangat yang dulu selalu berhasil menenangkan Dinda di saat-saat sulit.

"Santai, Din," kata Nathan. Ia mengembalikan kedua buku ke tangan Dinda. "Aku nggak akan bilang siapa-siapa kok. Rahasia kita berdua."

Dinda menerima buku-bukunya dengan tangan sedikit gemetar, lantas memasukkannya kembali ke dalam paper bag. "Makasih," gumamnya pelan, masih tidak berani menatap langsung mata Nathan.

"Jadi," Nathan melanjutkan, "mau ngopi bareng? Atau kamu buru-buru?"

Dinda mengangkat wajah, akhirnya berani menatap Nathan. Pria itu tak banyak berubah, hanya saja sekarang tampak lebih matang. 

"Bo–boleh," jawab Dinda.

Mereka berjalan bersama ke konter pemesanan. Nathan dengan santai bertanya, "Masih suka cappuccino dengan extra shot dan sedikit karamel?"

Dinda tertegun. "Kamu masih ingat?"

"Ada beberapa hal yang sulit dilupakan, Din," ungkap Nathan. "Pesanan kopimu adalah salah satunya."

Dinda tersenyum tipis. Hatinya terasa hangat mengetahui Nathan masih ingat detail-detail kecil tentang dirinya. Hal-hal yang bahkan Rafael tidak pernah repot-repot untuk tahu.

Nathan memesan untuk mereka berdua. Satu cappuccino dengan extra shot dan sedikit karamel untuk Dinda, dan satu americano tanpa gula untuk dirinya sendiri. 

Sementara menunggu pesanan mereka, Nathan bertanya tentang kuliah Dinda. "Jadi, sudah sampai mana skripsimu? Kalau aku lihat dari buku yang kamu beli, sepertinya kamu masih fokus di ekonomi moneter?"

Dinda mengangguk, merasa lega bisa membicarakan topik yang aman. "Iya, masih di bab empat. Tinggal sedikit lagi sebenarnya."

"Kamu termasuk yang paling unggul di jurusanmu, Din," ujar Nathan. "Bahkan waktu kita masih pacaran dulu, aku selalu kagum sama cara kamu menganalisis kebijakan-kebijakan ekonomi."

"Ah, kamu berlebihan," Dinda tertawa kecil, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali. "Kamu yang selalu jadi bintang kampus dulu. Mahasiswa berprestasi dan lulusan terbaik teknik informatika. Semua dosen memuji kamu, Nat."

Tiba-tiba, seorang pria berjas abu-abu menghampiri mereka. Pria itu terlihat profesional dengan postur tegap dan tatapan tajam. "Mr. Sagara," panggilnya dengan nada hormat.

Nathan menoleh. "Ah, Mr. Tanaka. Sudah mau berangkat?"

"Ya, pesawat saya berangkat satu jam lagi. Sekali lagi terima kasih atas waktu Anda. Proposal kerjasama kita akan saya sampaikan ke dewan direksi segera setelah saya kembali ke Tokyo."

Nathan tersenyum dan menjabat tangan pria itu dengan mantap. "Sempurna. Saya yakin kolaborasi Sagara Innovations dengan Tanaka Corp akan menghasilkan terobosan besar dalam teknologi keamanan siber berbasis AI."

Dinda hanya bisa memperhatikan dalam diam. Nathan berbicara dengan percaya diri, menggunakan istilah-istilah teknis yang tidak sepenuhnya ia pahami. Ada aura wibawa yang memancar dari cara pria itu berdiri, nada bicara, serta gerak tubuhnya.

"Saya tunggu kabar baik dari Tokyo minggu depan," tambah Nathan sebelum Mr. Tanaka berpamitan dengan anggukan sopan.

Setelah pria itu pergi, Nathan berpaling kembali ke Dinda. "Maaf ya, tadi itu rekan bisnis dari Jepang. Kami baru selesai meeting di ruang VIP kafe ini."

"Sagara Innovations?" tanya Dinda penasaran. "Itu... perusahaanmu?"

Nathan mengangguk, ekspresinya tetap rendah hati meski Dinda bisa melihat kilatan kebanggaan di matanya. "Iya. Perusahaan software berbasis AI. Fokus utamanya di bidang keamanan siber dan privasi digital."

"Wow," gumam Dinda tulus. "Jadi kamu sekarang CEO perusahaan teknologi?"

"Founder dan CEO," Nathan mengklarifikasi dengan tawa kecil. "Tapi sebetulnya aku masih sama seperti dulu, Din, masih suka begadang ngoding sampai pagi buta."

Mereka tertawa bersama. Kemudian, pesanan mereka pun datang. 

Nathan dengan sigap mengambil keduanya dari barista, meletakkan cappuccino Dinda dengan hati-hati di hadapannya.

"Mau tambahan gula?" tanya Nathan, sudah setengah berdiri bersiap mengambilkan.

"Nggak usah, ini cukup kok," jawab Dinda, merasa aneh dengan perhatian kecil yang diberikan Nathan. Sudah lama ia tidak merasakan seseorang memperhatikan detail-detail kecil seperti ini.

Nathan kembali duduk. Saat Dinda hendak meraih sendok untuk mengaduk kopinya, tangan mereka tidak sengaja bersentuhan. Dinda menarik tangannya dengan cepat, seolah tersengat listrik.

Nathan menyadari reaksi Dinda. Matanya seketika melebar, dan ia tersadar. "Maaf," ucapnya cepat. "Aku nggak bermaksud… ehm, maksudku, kadang aku masih reflek bertindak seperti dulu. Itu nggak pantas, mengingat statusmu sekarang."

"Status?" 

"Ya, kamu sudah menikah sekarang," kata Nathan hati-hati. Ia menatap tangan kiri Dinda, di mana cincin pernikahan platinum berkilau di jari manisnya. "Dengan Rafael Hadinata. Aku tahu dari berita, pernikahan kalian cukup... yah, populer."

Dinda meremas pegangan cangkir kopinya. Tentu saja Nathan tahu. Semua orang tahu. Pernikahannya dengan Rafael Hadinata adalah berita besar dalam dunia hiburan negara ini. Foto-foto pernikahan mereka terpampang di berbagai majalah, portal berita, dan media sosial.

"Iya," Dinda menjawab canggung. "Sudah satu minggu tepatnya."

"Pengantin baru." Nathan tersenyum tipis. "Bagaimana rasanya menikah dengan seorang Rafael Hadinata?"

Dinda hampir tersedak kopinya. Betapa kontrasnya gambaran Rafael di mata publik dengan kenyataan yang ia alami setiap hari. Rafael yang dingin, yang hampir tidak pernah bicara padanya kecuali untuk memberi perintah. 

Rafael seolah hanya memperlakukannya seperti aksesori, bukannya istri.

"Dia—" Dinda menjeda, mencari kata-kata yang tepat. "Dia baik kok. Sangat baik. Kami masih menyesuaikan diri. Tapi semuanya berjalan lancar."

Nathan mengamati Dinda dengan saksama. Ia mengetuk-ngetuk jarinya di meja, kebiasaan lamanya saat sedang berpikir.

"Dan buku panduan intimasi itu?" tanya Nathan hati-hati. "Maaf kalau aku terlalu kepo, Din, tapi... itu bukan sesuatu yang biasanya dibeli pengantin baru yang sedang bahagia."

Wajah Dinda kembali memanas. "Oh, itu," ia tertawa gugup, "itu cuma... referensi tambahan. Kamu tahu kan aku selalu suka belajar tentang segala hal. Dan kupikir, sebagai istri, aku harus tahu lebih banyak tentang... yah, itu."

Nathan tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopinya pelan, matanya tidak lepas dari Dinda. Setelah beberapa saat hening, ia bertanya lagi, kali ini dengan nada lebih serius. "Dia memperlakukanmu dengan baik kan, Din?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Pernikahan: Rahasia Gelap Suamiku   Bab 6 - Ada Apa dengannya?

    "Oh, tentu," jawab Dinda cepat. "Rafael sangat baik. Dia itu... dia sempurna."Nathan mengangguk pelan, tapi dari sorot matanya, Dinda tahu pria itu tidak sepenuhnya percaya. Mereka telah bersama selama lima tahun. Nathan mengenalnya terlalu baik untuk dibohongi."Dengar, Din," Nathan meletakkan cangkir kopinya. "Aku tahu ini mungkin bukan tempatku untuk bicara seperti ini. Kita ini kan sudah lama nggak ketemu, dan kamu sekarang sudah punya kehidupan baru. Tapi..." ia menarik napas dalam-dalam, "kita tetap teman, kan? Atau setidaknya, aku ingin kita bisa berteman."Dinda mengangguk pelan, tidak yakin ke mana arah pembicaraan ini."Dan sebagai teman," lanjut Nathan, suaranya melembut, "aku ingin kamu tahu bahwa kalau kamu butuh bantuan… bantuan apa pun, kamu bisa menghubungiku."Nathan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Kartu itu berwarna hitam dengan tulisan perak yang elegan. Di atasnya tercetak nama Nathan Leonard Sagara, diikuti titel Founder & CEO Sagara Innov

  • Jerat Pernikahan: Rahasia Gelap Suamiku   Bab 5 - Reuni dengan Mantan

    Nathan terkekeh, geli melihat kegugupan Dinda. Ekspresi jahilnya perlahan melembut menjadi senyuman hangat yang dulu selalu berhasil menenangkan Dinda di saat-saat sulit."Santai, Din," kata Nathan. Ia mengembalikan kedua buku ke tangan Dinda. "Aku nggak akan bilang siapa-siapa kok. Rahasia kita berdua."Dinda menerima buku-bukunya dengan tangan sedikit gemetar, lantas memasukkannya kembali ke dalam paper bag. "Makasih," gumamnya pelan, masih tidak berani menatap langsung mata Nathan."Jadi," Nathan melanjutkan, "mau ngopi bareng? Atau kamu buru-buru?"Dinda mengangkat wajah, akhirnya berani menatap Nathan. Pria itu tak banyak berubah, hanya saja sekarang tampak lebih matang. "Bo–boleh," jawab Dinda.Mereka berjalan bersama ke konter pemesanan. Nathan dengan santai bertanya, "Masih suka cappuccino dengan extra shot dan sedikit karamel?"Dinda tertegun. "Kamu masih ingat?""Ada beberapa hal yang sulit dilupakan, Din," ungkap Nathan. "Pesanan kopimu adalah salah satunya."Dinda terseny

  • Jerat Pernikahan: Rahasia Gelap Suamiku   Bab 4 - Seseorang dari Masa Lalu

    Tujuh hari terasa seperti mimpi aneh. Pernikahan kilat dan mengurus bayi, semuanya terasa begitu baru bagi Dinda.Namun, setidaknya Dinda dapat menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Hari ini, ia pergi ke toko buku untuk mencari buku referensi.Mata Dinda menyapu judul-judul buku ekonomi makro yang berjajar rapi di rak. Beberapa terlihat familiar dari daftar referensi yang diberikan dosen pembimbingnya.Meski statusnya kini sudah berganti menjadi istri seorang aktor terkenal yang notabene mapan, Dinda tidak berniat meninggalkan kuliahnya begitu saja. Skripsinya masih menunggu untuk diselesaikan, dan ia bertekad untuk tetap lulus tepat waktu.Dinda sudah mendapatkan sebuah buku yang bisa ia jadiakan referensi skripsinya lalu berjalan menuju kasir. Sambil melangkah pelan, matanya sesekali menyapu rak-rak buku yang ia lewati. Ada novel romantis, buku self-help, komik Jepang yang sedang populer dan—Kakinya sontak terhenti.Di rak sebelah kanannya, sebuah buku dengan sampul merah muda me

  • Jerat Pernikahan: Rahasia Gelap Suamiku   Bab 3 - Mimpi Buruk

    "Nggak. Bukan apa-apa. Maksudku… Mas nggak istirahat juga?" Dinda cepat-cepat meralat. Rafael mengamati reaksi Dinda dengan saksama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis sebelum akhirnya menarik tubuhnya perlahan. "Ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini juga," jelas Rafael.Setelah menyelipkan ponsel ke saku celana, pria itu bergerak ke arah lemari pakaian dan dengan satu gerakan cepat, memakai kaos abu-abu untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang berotot."Urusan? Urusan apa, Mas?" tanya Dinda pelan, lalu setelah teringat pesan Rafael agar jangan kepo, ia buru-buru meralat, "Maksudku... nggak apa-apa kalau Mas nggak mau cerita. Aku cuma kaget aja. Ini kan masih hari pernikahan kita."“Bisnis hiburan nggak kenal hari libur, Din. Apalagi kalau ada masalah mendadak."Dinda mengangguk, mencoba memahami. Ia tahu Rafael adalah seorang model dan aktor yang cukup laris akhir-akhir ini.Awalnya, Rafael hanya model dan aktor figuran biasa, namanya tidak terlalu dikenal. T

  • Jerat Pernikahan: Rahasia Gelap Suamiku   Bab 2 - Orientasi Rumah Tangga

    Dinda menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Dia melepas sanggulnya, membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai. Setidaknya rambutnya bisa sedikit menutupi bagian dada yang terlalu terekspos.Dinda melangkah keluar kamar mandi dan menemukan Rafael duduk di sofa dekat jendela. Awalnya pria itu menunduk memandangi ponselnya. Tapi begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka, kepala pria itu langsung terangkat.Pandangan mereka bertemu. Dinda terpaku. Rafael kini bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang hitam. Dada Rafael berotot, sedikit berbulu di bagian tengah, dan perutnya... Dinda menelan ludah lagi.Untuk beberapa detik, Rafael menatap Dinda tanpa berkata apa-apa. Matanya turun-naik, seperti memindai seluruh tubuh Dinda dari atas hingga bawah. Dinda menundukkan wajah, tak mampu bertahan dalam tatapan Rafael. Jemarinya saling meremas di depan tubuh.Bagaimana dia harus bertindak sekarang? "Kamu cantik," ucap Rafael datar membuyarkan lamunan Dinda. Pria itu

  • Jerat Pernikahan: Rahasia Gelap Suamiku   Bab 1 - Kamar Pengantin

    "Lepas handukmu," perintah Rafael.Dinda yang baru selesai mandi langsung terkejut. Jantungnya berdegup kencang."M-mas? Kenapa tiba-tiba..." Dinda tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.Seketika itu, Rafael menarik tangan Dinda kuat-kuat, membuat tubuhnya tersentak maju hingga menempel ke tubuh Rafael. Posisi mereka begitu dekat sampai Dinda bisa mencium aroma aftershave yang bercampur keringat dan sesuatu yang mirip... alkohol?Dinda mendongak, mencari jawaban di mata suami dadakannya. Tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan dingin, diselingi kilatan amarah yang belum pernah ia saksikan sebelumnya."Apa yang terjadi, Mas? Apa aku berbuat salah?" Dinda berbisik, suaranya gemetar tanpa bisa ditahan."Kamu nggak perlu tahu," Rafael menggeram rendah. "Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah jadi istri penurut. Itu saja yang aku butuhkan darimu sekarang."Ada ancaman tersembunyi dalam suara Rafael, sesuatu yang membuat bulu kuduk Dinda berdiri. Ia mengangguk pelan, lebih karena takut dar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status