Masuk"Nggak. Bukan apa-apa. Maksudku… Mas nggak istirahat juga?" Dinda cepat-cepat meralat.
Rafael mengamati reaksi Dinda dengan saksama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis sebelum akhirnya menarik tubuhnya perlahan.
"Ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini juga," jelas Rafael.
Setelah menyelipkan ponsel ke saku celana, pria itu bergerak ke arah lemari pakaian dan dengan satu gerakan cepat, memakai kaos abu-abu untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang berotot.
"Urusan? Urusan apa, Mas?" tanya Dinda pelan, lalu setelah teringat pesan Rafael agar jangan kepo, ia buru-buru meralat, "Maksudku... nggak apa-apa kalau Mas nggak mau cerita. Aku cuma kaget aja. Ini kan masih hari pernikahan kita."
“Bisnis hiburan nggak kenal hari libur, Din. Apalagi kalau ada masalah mendadak."
Dinda mengangguk, mencoba memahami. Ia tahu Rafael adalah seorang model dan aktor yang cukup laris akhir-akhir ini.
Awalnya, Rafael hanya model dan aktor figuran biasa, namanya tidak terlalu dikenal. Tapi sekitar beberapa bulan lalu, nama Rafael mendadak naik daun setelah media meliput nasib malangnya, yaitu ditinggal pergi oleh istri pertamanya ketika putri mereka yang baru berusia satu bulan.
Cerita tentang duda tampan yang harus membesarkan bayi sendirian menjadi magnet bagi simpati publik. Rafael berubah dari figuran menjadi bintang utama dalam waktu singkat.
Rafael lalu bicara kepada Dinda tanpa menoleh. "Aku pergi dulu.”
Dinda mengangguk.
"Kalau kamu butuh apa-apa, jangan hubungi aku. Bilang saja ke mbak Asti,” lanjut pria itu.
Mbak Asti adalah ART di rumah ini. Tadi Dinda sudah bertemu sekilas dengan Mbak Asti ketika wanita paruh baya itu membukakan pintu dan menyambut kepulangan mereka.
Dinda pun berusaha tersenyum meskipun ada sedikit kekecewaan menggantung di dadanya karena kehidupan setelah pernikahan ini jauh dengan yang ia idam-idamkan. Tanpa mengucapkan apa pun, Rafael pun lantas pergi meninggalkan Dinda begitu saja.
Dinda tidak sengaja ketiduran lalu sekarang dia dibangunkan oleh suara tangisan bayi. Karena suara tangisan itu tak kunjung mereda dan malah tambah kencang, Dinda pun memutuskan untuk keluar kamar dan memeriksa.
Di ruang tengah lantai dua, Dinda melihat Mbak Asti sedang duduk di sofa sambil memeluk bayi perempuan yang besarnya hanya separuh tubuh Mbak Asti. Tanpa bertanya, Dinda menebak bahwa bayi itu adalah Nikita–anak perempuan Rafael dari hubungan sebelumnya. Bayi berusia enam bulan yang kini menjadikan statusnya sebagai ibu tiri.
Dinda belum pernah bertemu langsung dengan bayi itu, hanya melihatnya dari foto yang ditunjukkan Rafael saat mereka membicarakan pernikahan.
Rafael tidak banyak bercerita tentang ibu kandung Nikita, hanya mengatakan bahwa wanita itu telah pergi dan tidak ingin terlibat dalam kehidupan sang anak.
"Bu Dinda! Maaf, Bu, jadi membangunkan ya? Non Nikita dari tadi rewel terus," ucap Mbak Asti begitu melihat Dinda. "Saya sudah coba semua cara, tapi dia masih nangis."
Dinda memaksakan senyum ramah. "Nggak apa-apa, Mbak. Saya cuma ketiduran tadi, bukan tidur malam kok," jawabnya, melangkah perlahan mendekati sofa. "Nikita kenapa, Mbak?"
"Saya juga bingung, Bu. Biasanya kalau habis minum susu langsung tidur, tapi kali ini nggak mau tidur, nangis terus. Padahal popoknya baru saya ganti."
Dinda mematung. Ia sama sekali tidak punya pengalaman dengan bayi.
Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, Dinda tidak pernah punya adik yang harus ia asuh. Sehingga merawat bayi kecil ini terasa seperti misi yang mustahil.
Namun, ada sesuatu dari tangis Nikita yang membuat hati Dinda tergerak sehingga akhirnya Dinda pun berkata kepada mbak Asti, "Mbak, boleh saya coba gendong?"
Mbak Asti tampak terkejut, tapi segera mengangguk cepat. "Tentu saja boleh, Bu. Silakan."
Dinda berdiri di sebelah Mbak Asti, tangannya sedikit gemetar saat diulurkan. Mbak Asti dengan hati-hati memindahkan Nikita ke tangan Dinda.
Seperti keajaiban kecil, tangis Nikita perlahan mereda setelah beberapa saat digendong oleh Dinda.
Mbak Asti terkesiap. "Wah, luar biasa, Bu Dinda! Padahal biasanya Non Nikita itu susah sekali tenang sama orang baru lho. Sepertinya Non Nikita cocok sekali sama Ibu sambungnya," celetuknya, lalu buru-buru menutup mulut sendiri. "Aduh... maksud saya bukan begitu, maaf ya Bu, kalau kata 'ibu sambung' kurang sopan."
Dinda tersenyum kecil, sambil terus mengelus punggung Nikita. "Nggak apa-apa, Mbak. Memang benar kok, saya sekarang ibu sambungnya Nikita. Saya menikah dengan Mas Rafael, otomatis saya jadi ibu sambung untuk Nikita."
Mbak Asti menghembuskan napas lega. "Maaf ya, Bu. Saya khawatir menyinggung perasaan Ibu."
"Nggak apa-apa, beneran. Yang penting sekarang Nikita sudah lebih tenang."
Dinda hanya memandangi wajah Nikita. Pikirannya lantas mulai kemana-mana.
Menikah dengan pria yang usianya 10 tahun lebih tua tidak ada dalam rencananya. Namun, ini seperti jalan hidup miliknya.
Ia mengingat-ingat percakapannya dengan ayah dan ibunya malam itu.
"Kamu harusnya merasa beruntung, Din," kata Santi saat itu. "Banyak perempuan di luar sana yang ingin jadi istrinya Rafael. Kamu ini ditawari jadi istrinya malah nolak!"
"Tapi Bu, aku sama sekali nggak suka dia!" Dinda ingat betul ia berteriak hingga suaranya serak. "Aku bahkan nggak kenal dia, Bu!"
Duduk di sebelah si Ibu, Joko hanya menggeleng pelan. "Suka bisa datang belakangan, Din. Yang penting dia bisa melunasi hutang Bapak, dan kamu bisa hidup enak. Kamu pikir Bapak sanggup lihat rumah kita disita bank? Atau kamu tega melihat kami dipenjara karena nggak bisa bayar kartu kredit?"
Saat itu, Dinda tahu ia sudah kalah.
Dengan berat hati, ia pun menyetujui pertunangan kilat, diikuti pernikahan kurang dari tiga bulan kemudian. Semuanya berlangsung seperti mimpi buruk yang tidak bisa ia bangunkan.
"Oh, tentu," jawab Dinda cepat. "Rafael sangat baik. Dia itu... dia sempurna."Nathan mengangguk pelan, tapi dari sorot matanya, Dinda tahu pria itu tidak sepenuhnya percaya. Mereka telah bersama selama lima tahun. Nathan mengenalnya terlalu baik untuk dibohongi."Dengar, Din," Nathan meletakkan cangkir kopinya. "Aku tahu ini mungkin bukan tempatku untuk bicara seperti ini. Kita ini kan sudah lama nggak ketemu, dan kamu sekarang sudah punya kehidupan baru. Tapi..." ia menarik napas dalam-dalam, "kita tetap teman, kan? Atau setidaknya, aku ingin kita bisa berteman."Dinda mengangguk pelan, tidak yakin ke mana arah pembicaraan ini."Dan sebagai teman," lanjut Nathan, suaranya melembut, "aku ingin kamu tahu bahwa kalau kamu butuh bantuan… bantuan apa pun, kamu bisa menghubungiku."Nathan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Kartu itu berwarna hitam dengan tulisan perak yang elegan. Di atasnya tercetak nama Nathan Leonard Sagara, diikuti titel Founder & CEO Sagara Innov
Nathan terkekeh, geli melihat kegugupan Dinda. Ekspresi jahilnya perlahan melembut menjadi senyuman hangat yang dulu selalu berhasil menenangkan Dinda di saat-saat sulit."Santai, Din," kata Nathan. Ia mengembalikan kedua buku ke tangan Dinda. "Aku nggak akan bilang siapa-siapa kok. Rahasia kita berdua."Dinda menerima buku-bukunya dengan tangan sedikit gemetar, lantas memasukkannya kembali ke dalam paper bag. "Makasih," gumamnya pelan, masih tidak berani menatap langsung mata Nathan."Jadi," Nathan melanjutkan, "mau ngopi bareng? Atau kamu buru-buru?"Dinda mengangkat wajah, akhirnya berani menatap Nathan. Pria itu tak banyak berubah, hanya saja sekarang tampak lebih matang. "Bo–boleh," jawab Dinda.Mereka berjalan bersama ke konter pemesanan. Nathan dengan santai bertanya, "Masih suka cappuccino dengan extra shot dan sedikit karamel?"Dinda tertegun. "Kamu masih ingat?""Ada beberapa hal yang sulit dilupakan, Din," ungkap Nathan. "Pesanan kopimu adalah salah satunya."Dinda terseny
Tujuh hari terasa seperti mimpi aneh. Pernikahan kilat dan mengurus bayi, semuanya terasa begitu baru bagi Dinda.Namun, setidaknya Dinda dapat menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Hari ini, ia pergi ke toko buku untuk mencari buku referensi.Mata Dinda menyapu judul-judul buku ekonomi makro yang berjajar rapi di rak. Beberapa terlihat familiar dari daftar referensi yang diberikan dosen pembimbingnya.Meski statusnya kini sudah berganti menjadi istri seorang aktor terkenal yang notabene mapan, Dinda tidak berniat meninggalkan kuliahnya begitu saja. Skripsinya masih menunggu untuk diselesaikan, dan ia bertekad untuk tetap lulus tepat waktu.Dinda sudah mendapatkan sebuah buku yang bisa ia jadiakan referensi skripsinya lalu berjalan menuju kasir. Sambil melangkah pelan, matanya sesekali menyapu rak-rak buku yang ia lewati. Ada novel romantis, buku self-help, komik Jepang yang sedang populer dan—Kakinya sontak terhenti.Di rak sebelah kanannya, sebuah buku dengan sampul merah muda me
"Nggak. Bukan apa-apa. Maksudku… Mas nggak istirahat juga?" Dinda cepat-cepat meralat. Rafael mengamati reaksi Dinda dengan saksama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis sebelum akhirnya menarik tubuhnya perlahan. "Ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini juga," jelas Rafael.Setelah menyelipkan ponsel ke saku celana, pria itu bergerak ke arah lemari pakaian dan dengan satu gerakan cepat, memakai kaos abu-abu untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang berotot."Urusan? Urusan apa, Mas?" tanya Dinda pelan, lalu setelah teringat pesan Rafael agar jangan kepo, ia buru-buru meralat, "Maksudku... nggak apa-apa kalau Mas nggak mau cerita. Aku cuma kaget aja. Ini kan masih hari pernikahan kita."“Bisnis hiburan nggak kenal hari libur, Din. Apalagi kalau ada masalah mendadak."Dinda mengangguk, mencoba memahami. Ia tahu Rafael adalah seorang model dan aktor yang cukup laris akhir-akhir ini.Awalnya, Rafael hanya model dan aktor figuran biasa, namanya tidak terlalu dikenal. T
Dinda menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Dia melepas sanggulnya, membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai. Setidaknya rambutnya bisa sedikit menutupi bagian dada yang terlalu terekspos.Dinda melangkah keluar kamar mandi dan menemukan Rafael duduk di sofa dekat jendela. Awalnya pria itu menunduk memandangi ponselnya. Tapi begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka, kepala pria itu langsung terangkat.Pandangan mereka bertemu. Dinda terpaku. Rafael kini bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang hitam. Dada Rafael berotot, sedikit berbulu di bagian tengah, dan perutnya... Dinda menelan ludah lagi.Untuk beberapa detik, Rafael menatap Dinda tanpa berkata apa-apa. Matanya turun-naik, seperti memindai seluruh tubuh Dinda dari atas hingga bawah. Dinda menundukkan wajah, tak mampu bertahan dalam tatapan Rafael. Jemarinya saling meremas di depan tubuh.Bagaimana dia harus bertindak sekarang? "Kamu cantik," ucap Rafael datar membuyarkan lamunan Dinda. Pria itu
"Lepas handukmu," perintah Rafael.Dinda yang baru selesai mandi langsung terkejut. Jantungnya berdegup kencang."M-mas? Kenapa tiba-tiba..." Dinda tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.Seketika itu, Rafael menarik tangan Dinda kuat-kuat, membuat tubuhnya tersentak maju hingga menempel ke tubuh Rafael. Posisi mereka begitu dekat sampai Dinda bisa mencium aroma aftershave yang bercampur keringat dan sesuatu yang mirip... alkohol?Dinda mendongak, mencari jawaban di mata suami dadakannya. Tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan dingin, diselingi kilatan amarah yang belum pernah ia saksikan sebelumnya."Apa yang terjadi, Mas? Apa aku berbuat salah?" Dinda berbisik, suaranya gemetar tanpa bisa ditahan."Kamu nggak perlu tahu," Rafael menggeram rendah. "Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah jadi istri penurut. Itu saja yang aku butuhkan darimu sekarang."Ada ancaman tersembunyi dalam suara Rafael, sesuatu yang membuat bulu kuduk Dinda berdiri. Ia mengangguk pelan, lebih karena takut dar







