LOGINTujuh hari terasa seperti mimpi aneh. Pernikahan kilat dan mengurus bayi, semuanya terasa begitu baru bagi Dinda.
Namun, setidaknya Dinda dapat menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Hari ini, ia pergi ke toko buku untuk mencari buku referensi.
Mata Dinda menyapu judul-judul buku ekonomi makro yang berjajar rapi di rak. Beberapa terlihat familiar dari daftar referensi yang diberikan dosen pembimbingnya.
Meski statusnya kini sudah berganti menjadi istri seorang aktor terkenal yang notabene mapan, Dinda tidak berniat meninggalkan kuliahnya begitu saja. Skripsinya masih menunggu untuk diselesaikan, dan ia bertekad untuk tetap lulus tepat waktu.
Dinda sudah mendapatkan sebuah buku yang bisa ia jadiakan referensi skripsinya lalu berjalan menuju kasir. Sambil melangkah pelan, matanya sesekali menyapu rak-rak buku yang ia lewati. Ada novel romantis, buku self-help, komik Jepang yang sedang populer dan—
Kakinya sontak terhenti.
Di rak sebelah kanannya, sebuah buku dengan sampul merah muda menarik perhatiannya. Judulnya Panduan Intimasi untuk Pasangan: Membangun Kehidupan Seksual yang Sehat dan Memuaskan.
Wajah Dinda memanas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura tidak tertarik, tapi pikirannya mengkhianatinya.
Sudah seminggu dia menikah dengan Rafael Hadinata, dan sampai detik ini Dinda masih belum disentuh. Jangankan sentuhan, tatapan manis dan kasih sayang pun tidak dirasa.
Komunikasi dirinya dengan Rafael begitu dingin dan formal. Jauh dari keharmonisan suami istri, bahkan terasa seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Dinda awalnya berpikir mungkin Rafael hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Mereka berdua sama-sama canggung, wajar kalau butuh proses untuk membangun kedekatan. Jadi Dinda berusaha.
Ia bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan meski ada pembantu yang bisa melakukannya. Ia menunggu Rafael pulang meski matanya sudah berat. Ia berusaha memulai percakapan, bertanya tentang syuting, tentang pekerjaannya.
Namun, jawaban Rafael selalu singkat.
Dua hari yang lalu, bahkan Dinda memberanikan diri untuk mengambil inisiatif dengan mengecup pipi suaminya yang baru bangun tidur.
Apakah dia tidak menarik?
Apakah tubuhnya tidak sesuai dengan standar Rafael yang terbiasa dikelilingi model-model cantik?
Atau, apakah ada yang salah dengan caranya bersikap?
Dinda kembali menatap buku bersampul merah muda di rak itu yang judulnya seolah mengejeknya.
Panduan Intimasi untuk Pasangan? Yang benar saja? Bagaimana bisa ada intimasi kalau suaminya saja tidak mau menyentuhnya?
Dinda meraih buku itu dari rak. Ia membaliknya, membaca sinopsis di bagian belakang.
Mungkin masalahnya memang ada pada Dinda. Mungkin dia tidak tahu cara menjadi istri yang baik.
Akhirnya, Dinda pun membawa buku itu menuju kasir.
Setelah membayar, Dinda memutuskan untuk mampir membeli kopi di cafe sebelah toko buku untuk mengusir kantuknya sebelum pulang. Aroma kopi panggang langsung menyambut indra penciumannya.
Tapi Dinda tidak langsung memesan. Perhatiannya teralihkan pada suara ribut dari pojok kafe.
Ada kerumunan kecil di sana. Beberapa orang berdiri dengan postur tegang, suara-suara mereka saling tumpang tindih dalam perdebatan yang sepertinya cukup serius.
Dinda tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka ributkan, tapi dari gestur tangan dan ekspresi wajah, sepertinya ada konflik yang perlu diselesaikan.
Di tengah kerumunan itu, satu sosok langsung menarik perhatiannya.
Pria yang tampak paling menonjol dengan setelan jas navy yang membalut tubuh tinggi tegapnya dengan sempurna. Rambutnya hitam, sedikit bergelombang, tertata rapi ke belakang. Rahangnya tegas, tulang pipinya tinggi, dan caranya berdiri memancarkan kepercayaan diri yang tenang.
Detik itu juga, Dinda merasa dunianya berhenti berputar.
Pria itu adalah seseorang yang pernah mengisi lima tahun hidupnya dengan kenangan-kenangan yang masih sering menghantuinya dalam mimpi dan di waktu-waktu sepi.
Nathan Leonard Sagara. Mantan kekasihnya.
Kaki Dinda terasa seperti terpaku di lantai. Jantungnya berdegup keras. Ada denyut nyeri di dadanya yang sudah lama tidak ia rasakan.
Dinda dan Nathan berpisah kurang lebih sudah dua tahun yang lalu. Lima tahun lebih mereka pernah bersama. Melewati masa-masa SMA dan kuliah bersama, serta berbagi mimpi dan rencana masa depan yang indah. Tapi semuanya berakhir begitu saja dalam satu pertengkaran yang tidak pernah benar-benar Dinda pahami.
Orang tua Dinda tidak pernah menyetujui hubungan mereka, terutama Ibunya yang selalu menganggap Nathan tidak cukup baik untuk putri bungsunya meski pria itu cerdas dan berprestasi.
"Dia memang sudah lulus kuliah, tapi dia belum mapan," kata ibunya waktu itu. "Kamu itu butuh seseorang yang sudah punya masa depan jelas, Din! Bukan laki-laki yang masih meraba-raba masa depan."
Tekanan itu menumpuk. Pertengkaran demi pertengkaran. Pada akhirnya, Dinda menyerah.
Ia memilih keluarganya. Tapi itu tidak berarti hatinya tidak hancur saat berpisah dengan Nathan.
Dan sekarang, di pojok kafe, pria itu sedang berbicara dengan nada tenang tapi tegas kepada dua orang yang sepertinya adalah pihak yang bertikai. Tangannya bergerak saat ia menjelaskan sesuatu, matanya bergantian menatap kedua pihak dengan perhatian yang sama.
Nathan selalu seperti itu. Pria itu punya kemampuan untuk menenangkan situasi, untuk menemukan solusi di tengah kekacauan.
Itu salah satu hal yang membuat Dinda jatuh cinta padanya dulu.
Kerumunan mulai bubar. Orang-orang yang tadinya berdebat kini berjabat tangan, wajah-wajah mereka lebih tenang dari sebelumnya. Nathan mengangguk pada mereka dan tersenyum tipis.
Lalu pria itu pun berbalik. Dan matanya langsung bertemu dengan mata Dinda.
Waktu seolah membeku.
Dinda bisa melihat perubahan di wajah Nathan. Di antara ekspresi terkejut pria itu, ada sesuatu yang lebih kompleks yang tidak bisa Dinda baca. Pria itu tidak bergerak selama beberapa detik, hanya berdiri di sana menatapnya seperti melihat hantu dari masa lalu.
Tangan Dinda yang memegang paper bag mulai gemetar. Ia ingin pergi, ingin berbalik dan keluar dari kafe ini.
Namun, paper bag itu malah terlepas dari genggamannya.
Dinda menatap ngeri saat kantong kertas itu jatuh ke lantai mengeluarkan isinya, termasuk buku bersampul merah muda jatuh tepat menghadap ke atas.
Judul buku itu terpampang jelas untuk dilihat siapa saja.
"Astaga—" Dinda buru-buru membungkuk untuk mengambil buku-bukunya, tapi Nathan sudah lebih dulu bertindak.
Pria itu menghampiri dan membungkuk di hadapannya, tangannya meraih buku itu. Dinda hanya bisa membeku, menatap jemari Nathan yang mengangkat buku-bukunya dari lantai.
Sudut bibir pria itu berkedut.
"Panduan Intimasi untuk Pasangan: Membangun Kehidupan Seksual yang Sehat dan Memuaskan," bacanya pelan, suaranya rendah dan dalam seperti yang Dinda ingat, tapi ada nada geli di sana yang membuat wajah Dinda semakin panas.
Nathan menatap Dinda dengan mata cokelat gelapnya yang berkilat jahil. Ia berpaling ke buku lain yang juga jatuh. "Dan Analisis Kebijakan Moneter? Benar-benar kombinasi bacaan yang menarik."
"Itu—" Dinda menelan ludah, otaknya mendadak kosong. "Itu bukan—maksudku, itu untuk—"
"Untuk penelitian?" Nathan menyela, senyumnya melebar. "Aku nggak tahu kalau sekarang fakultas ekonomi memperluas kurikulumnya sampai ke bidang... hubungan interpersonal."
Wajah Dinda terasa terbakar. "Eh, enggak. Bukan begitu," protesnya lemah. "Itu—aku cuma—"
"Oh, tentu," jawab Dinda cepat. "Rafael sangat baik. Dia itu... dia sempurna."Nathan mengangguk pelan, tapi dari sorot matanya, Dinda tahu pria itu tidak sepenuhnya percaya. Mereka telah bersama selama lima tahun. Nathan mengenalnya terlalu baik untuk dibohongi."Dengar, Din," Nathan meletakkan cangkir kopinya. "Aku tahu ini mungkin bukan tempatku untuk bicara seperti ini. Kita ini kan sudah lama nggak ketemu, dan kamu sekarang sudah punya kehidupan baru. Tapi..." ia menarik napas dalam-dalam, "kita tetap teman, kan? Atau setidaknya, aku ingin kita bisa berteman."Dinda mengangguk pelan, tidak yakin ke mana arah pembicaraan ini."Dan sebagai teman," lanjut Nathan, suaranya melembut, "aku ingin kamu tahu bahwa kalau kamu butuh bantuan… bantuan apa pun, kamu bisa menghubungiku."Nathan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Kartu itu berwarna hitam dengan tulisan perak yang elegan. Di atasnya tercetak nama Nathan Leonard Sagara, diikuti titel Founder & CEO Sagara Innov
Nathan terkekeh, geli melihat kegugupan Dinda. Ekspresi jahilnya perlahan melembut menjadi senyuman hangat yang dulu selalu berhasil menenangkan Dinda di saat-saat sulit."Santai, Din," kata Nathan. Ia mengembalikan kedua buku ke tangan Dinda. "Aku nggak akan bilang siapa-siapa kok. Rahasia kita berdua."Dinda menerima buku-bukunya dengan tangan sedikit gemetar, lantas memasukkannya kembali ke dalam paper bag. "Makasih," gumamnya pelan, masih tidak berani menatap langsung mata Nathan."Jadi," Nathan melanjutkan, "mau ngopi bareng? Atau kamu buru-buru?"Dinda mengangkat wajah, akhirnya berani menatap Nathan. Pria itu tak banyak berubah, hanya saja sekarang tampak lebih matang. "Bo–boleh," jawab Dinda.Mereka berjalan bersama ke konter pemesanan. Nathan dengan santai bertanya, "Masih suka cappuccino dengan extra shot dan sedikit karamel?"Dinda tertegun. "Kamu masih ingat?""Ada beberapa hal yang sulit dilupakan, Din," ungkap Nathan. "Pesanan kopimu adalah salah satunya."Dinda terseny
Tujuh hari terasa seperti mimpi aneh. Pernikahan kilat dan mengurus bayi, semuanya terasa begitu baru bagi Dinda.Namun, setidaknya Dinda dapat menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Hari ini, ia pergi ke toko buku untuk mencari buku referensi.Mata Dinda menyapu judul-judul buku ekonomi makro yang berjajar rapi di rak. Beberapa terlihat familiar dari daftar referensi yang diberikan dosen pembimbingnya.Meski statusnya kini sudah berganti menjadi istri seorang aktor terkenal yang notabene mapan, Dinda tidak berniat meninggalkan kuliahnya begitu saja. Skripsinya masih menunggu untuk diselesaikan, dan ia bertekad untuk tetap lulus tepat waktu.Dinda sudah mendapatkan sebuah buku yang bisa ia jadiakan referensi skripsinya lalu berjalan menuju kasir. Sambil melangkah pelan, matanya sesekali menyapu rak-rak buku yang ia lewati. Ada novel romantis, buku self-help, komik Jepang yang sedang populer dan—Kakinya sontak terhenti.Di rak sebelah kanannya, sebuah buku dengan sampul merah muda me
"Nggak. Bukan apa-apa. Maksudku… Mas nggak istirahat juga?" Dinda cepat-cepat meralat. Rafael mengamati reaksi Dinda dengan saksama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis sebelum akhirnya menarik tubuhnya perlahan. "Ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini juga," jelas Rafael.Setelah menyelipkan ponsel ke saku celana, pria itu bergerak ke arah lemari pakaian dan dengan satu gerakan cepat, memakai kaos abu-abu untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang berotot."Urusan? Urusan apa, Mas?" tanya Dinda pelan, lalu setelah teringat pesan Rafael agar jangan kepo, ia buru-buru meralat, "Maksudku... nggak apa-apa kalau Mas nggak mau cerita. Aku cuma kaget aja. Ini kan masih hari pernikahan kita."“Bisnis hiburan nggak kenal hari libur, Din. Apalagi kalau ada masalah mendadak."Dinda mengangguk, mencoba memahami. Ia tahu Rafael adalah seorang model dan aktor yang cukup laris akhir-akhir ini.Awalnya, Rafael hanya model dan aktor figuran biasa, namanya tidak terlalu dikenal. T
Dinda menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Dia melepas sanggulnya, membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai. Setidaknya rambutnya bisa sedikit menutupi bagian dada yang terlalu terekspos.Dinda melangkah keluar kamar mandi dan menemukan Rafael duduk di sofa dekat jendela. Awalnya pria itu menunduk memandangi ponselnya. Tapi begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka, kepala pria itu langsung terangkat.Pandangan mereka bertemu. Dinda terpaku. Rafael kini bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang hitam. Dada Rafael berotot, sedikit berbulu di bagian tengah, dan perutnya... Dinda menelan ludah lagi.Untuk beberapa detik, Rafael menatap Dinda tanpa berkata apa-apa. Matanya turun-naik, seperti memindai seluruh tubuh Dinda dari atas hingga bawah. Dinda menundukkan wajah, tak mampu bertahan dalam tatapan Rafael. Jemarinya saling meremas di depan tubuh.Bagaimana dia harus bertindak sekarang? "Kamu cantik," ucap Rafael datar membuyarkan lamunan Dinda. Pria itu
"Lepas handukmu," perintah Rafael.Dinda yang baru selesai mandi langsung terkejut. Jantungnya berdegup kencang."M-mas? Kenapa tiba-tiba..." Dinda tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.Seketika itu, Rafael menarik tangan Dinda kuat-kuat, membuat tubuhnya tersentak maju hingga menempel ke tubuh Rafael. Posisi mereka begitu dekat sampai Dinda bisa mencium aroma aftershave yang bercampur keringat dan sesuatu yang mirip... alkohol?Dinda mendongak, mencari jawaban di mata suami dadakannya. Tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan dingin, diselingi kilatan amarah yang belum pernah ia saksikan sebelumnya."Apa yang terjadi, Mas? Apa aku berbuat salah?" Dinda berbisik, suaranya gemetar tanpa bisa ditahan."Kamu nggak perlu tahu," Rafael menggeram rendah. "Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah jadi istri penurut. Itu saja yang aku butuhkan darimu sekarang."Ada ancaman tersembunyi dalam suara Rafael, sesuatu yang membuat bulu kuduk Dinda berdiri. Ia mengangguk pelan, lebih karena takut dar







