LOGINVio melangkah melewati gerbang Kos Lavender dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya. Namun, saat mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong lantai satu, dahinya sedikit berkerut. Suasana di sini teramat sunyi, hampir seperti tidak berpenghuni.Ketika bertemu dengan pengurus kos di lobi kecil, Vio tidak bisa menahan rasa penasarannya. “Permisi, Pak. Maaf mau tanya, memang kosan di sini sesepi ini, ya?”Pengurus kos itu sesaat tampak salah tingkah dan canggung. Ia berdeham kecil, mencoba menyembunyikan kegugupannya setelah menerima uang pelicin dan perintah mutlak dari pemilik baru gedung ini setengah jam yang lalu.“Ah, iya, Mbak Vio,” jawab pengurus kos itu dengan senyum yang dipaksakan. “Di sini kan konsepnya kos eksklusif. Jadi penghuninya rata-rata orang kantoran yang sibuk dan sangat tertutup. Kebanyakan di dalam kamar kalau jam segini.”Vio mengangguk, percaya begitu saja tanpa menaruh curiga sedikit pun.Keluguan Vio membuatnya tidak menyadari bahwa keheningan ini adalah
Kael duduk dengan santai di kursi kulit ruang kerjanya, menatap layar tablet dengan dahi sedikit berkerut. Jari-jarinya seakan menari-nari memantau riwayat aktivitas jaringan internet yang baru saja ia sadap dari ponsel Vio.Seringai tipis terukir di bibir Kael saat melihat notifikasi transaksi instan dari rekening kakaknya [Kost Eksklusif Lavender, Kamar Nomor 12.]Vio baru saja mentransfer uang muka dan menyatakan deal dengan pemilik kos.“Kelinci kecilku mencoba melompat keluar dari kandang,” gumam Kael rendah, suara baritonnya bergema di dalam kamar yang sepi itu.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kael meraih ponselnya dan menghubungi nomor pemilik kos yang tertera di data transaksi sadapan tersebut. Panggilan itu langsung tersambung.“Selamat siang. Saya Kael Mahendra. Saya ingin membeli seluruh gedung kos milik Anda sekarang juga,” ucap Kael tanpa basa-basi, nadanya begitu mutlak.Di seberang telepon, sang pemilik kos tentu saja terkejut dan menganggapnya gila. Namun, K
“Kael,” panggil Vio, suaranya agak bergetar, tetapi ia mencoba terdengar tegas. “Papa dan Mama memang menyuruhmu menjagaku, tapi itu bukan berarti kamu bisa mencampuri urusanku. Aku ingin punya privasi. Mulai sekarang, jangan pernah berani mengusik hidupku lagi!”Kael membalikkan tubuhnya perlahan. Alih-alih marah karena digertak, sudut bibirnya justru terangkat, menciptakan seringai tipis yang begitu menawan sekaligus berbahaya. Melihat Vio yang sedang marah-marah dengan napas memburu dan pipi yang merona merah justru membuat gairah di dalam diri Kael semakin meletup. Sisi pemberontak Vio adalah candu terbesar bagi Kael.Tanpa sepatah kata pun, Kael mulai melangkah maju.Vio terkesiap, refleks melangkah mundur. Satu langkah, dua langkah, hingga akhirnya punggung mungilnya membentur dinding dingin ruang tengah. Kael tidak berhenti sampai jarak di antara mereka benar-benar terkikis habis. Kini, tubuh tinggi besar Kael mengurung Vio sepenuhnya. Jarak wajah mereka hanya tersisa beber
Malam semakin larut di kediaman keluarga Mahendra, tetapi bagi Vio, kegelapan yang sesungguhnya ada di dalam dadanya sendiri. Ia meringkuk di atas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Sentuhan bibir Kael di balkon tadi seolah masih tertinggal, membakar permukaan kulitnya, meninggalkan jejak panas yang tak bisa dihapus oleh air dingin sekalipun.Bagaimana bisa dia melakukannya? Dan bagaimana bisa aku justru menikmatinya?Vio memejamkan mata erat, mencoba mengusir bayangan wajah Kael. Ia merasa seperti seorang pengkhianat. Pengkhianat bagi orang tuanya, bagi Adrian, dan yang paling parah ia juga merasa mengkhianati dirinya sendiri. Vio benci betapa mudahnya Kael meruntuhkan pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun hanya dengan satu ciuman.Di tengah lamunannya, tiba-tiba ponsel Vio bergetar di samping bantal. Sebuah pesan masuk dari Adrian.“Vio, apa perutmu masih sakit? Aku sangat khawatir. Maafkan aku tidak bisa membantu apa-apa.”Vio mende
Kael mematung sejenak, tetapi perlahan rahangnya yang kaku mulai mengendur. Sebuah senyum tipis menyerupai seringai predator yang baru saja menemukan mangsa untuk dipermainkan, perlahan terukir di wajah tampannya.Kael menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil yang dingin, lalu menoleh perlahan ke arah Shasya. Matanya yang tajam menatap wanita di sampingnya dari ujung rambut hingga kaki, seolah sedang membedah setiap inci kebohongan yang baru saja wanita itu lontarkan.“Hamil?” Kael mengulang kata itu dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan dengan rayuan, tetapi mematikan. “Shasya aku tidak menyangka kamu seberani ini.”Shasya yang melihat senyuman Kael merasa mendapat angin segar. Ia segera menghapus air matanya, berusaha memasang wajah paling menyedihkan yang ia miliki. “Kael, aku juga takut. Tapi ini kenyataannya. Aku sedang mengandung anakmu, dan aku tidak mau anak ini terlahir tanpa seorang ayah.”Kael terkekeh rendah. Tawa yang terdengar sangat hambar dan ke
Vio panik luar biasa. Ia berusaha sekuat tenaga mendorong dada Kael, tetapi pria itu seperti tembok yang tak tergoyahkan. Bukannya menjauh, Kael justru sengaja mengeraskan otot lengannya, mengunci Vio dalam dekapan yang sangat rapat tepat saat suara engsel pintu balkon berderit terbuka.Adrian berdiri di sana, tetapi ia tidak bisa melihat siapa wanita yang sedang didekap Kael. Posisi tubuh Kael yang menjulang tinggi membelakangi pintu, secara sempurna menutupi seluruh tubuh Vio yang mungil. Bagi Adrian, ia hanya melihat punggung Kael yang sedang memojokkan seorang wanita di pagar balkon.“Kael? Kamu di sana?” Suara Adrian terdengar ragu, langkah kakinya semakin mendekat.Vio gemetar hebat. Ia mendongak, menatap mata Kael dengan tatapan memohon. “Kael, pergilah! Aku mohon, menjauh sekarang,” bisiknya nyaris tak terdengar, suaranya tercekat di tenggorokan.Kael tidak bergerak. Alih-alih menjauh, ia justru semakin mencondongkan tubuhnya, mengurung Vio hingga punggung gadis itu mene







