LOGIN
Lantai lima puluh lima Adhitama Tower terasa seperti ruang hampa udara. Valencia Adhitama duduk di ujung meja marmer panjang, menatap tajam sepuluh direktur senior yang sejak tadi mencoba menguliti otoritasnya. Di tangannya, sebuah pulpen emas ia ketuk-ketukkan ke meja, menciptakan irama yang konstan dan mengintimidasi.
"Waktu kamu habis, Valencia," ujar Baskoro, pengacara senior keluarga, sambil menggeser map hitam di atas meja. "Kakek kamu sudah mengunci segalanya. Menikahlah dengan keturunan Surya dalam dua puluh empat jam, atau saham kendali itu lepas. Kamu akan keluar dari gedung ini tanpa membawa apa pun kecuali nama belakang Kamu yang tidak lagi berharga."
Valencia menarik napas panjang. Ia menatap ke luar jendela besar yang menampilkan cakrawala Jakarta yang berkabut. "Cari pria itu. Bawa dia ke hadapan I, hidup atau mati."
─────── ༺♡༻ ───────
Bengkel bubut itu pengap, berbau solar, dan penuh rongsokan besi yang disusun tidak beraturan. Di tengah kekacauan itu, seorang pria duduk di atas ban bekas sambil menghisap sisa batang rokoknya. Kaos hitamnya sobek di bagian lengan, memperlihatkan otot bisepnya yang kokoh namun ternoda oli.
"Duitnya mana, Ragnar!" Jago, preman pasar itu, menendang tumpukan kaleng oli di depan kaki Ragnar hingga isinya tumpah membasahi lantai semen.
Ragnar tidak bergerak. Ia justru menghembuskan asap rokoknya tepat ke wajah Jago. Matanya tajam, dingin, dan penuh tantangan. Tidak ada ketakutan di sana, hanya ada kebosanan yang mendalam terhadap gangguan kecil seperti Jago.
"Cek saku belakangmu," suara Ragnar rendah dan serak.
"Hah?" Jago merogoh saku belakangnya dan tersentak saat menemukan sebuah obeng panjang yang entah sejak kapan sudah terselip di sana, nyaris menusuk kulit pantatnya. Wajahnya memucat seketika.
"Lain kali, obeng itu akan masuk ke tempat lain jika kamu menendang barangku lagi," ujar Ragnar pelan. Ia berdiri perlahan, sosoknya tinggi dengan postur tubuh yang siaga, meski pakaiannya berantakan.
Langkah kaki yang tegas terdengar di ambang pintu bengkel. Valencia Adhitama melangkah masuk, sepatu hak tinggi miliknya berbunyi nyaring di lantai semen yang kotor. Ia berhenti tepat di depan Ragnar. Aroma parfum mahal Valencia bertabrakan dengan bau keringat dan logam dari tubuh Ragnar.
"Hentikan dramanya," ujar Valencia dingin. Ia menatap Jago dengan pandangan menghina, lalu beralih ke Ragnar. "Berapa utang pria ini?"
Baskoro maju satu langkah. "Lima puluh juta dengan bunganya, Nona."
Valencia mengeluarkan buku cek, menuliskan angka dengan gerakan cepat, dan melemparkannya ke dada Jago. "Pergi. Sekarang. Jangan biarkan I melihat wajah You lagi di sekitar sini."
Jago segera lari tanpa berani menoleh lagi. Kini hanya tersisa Valencia dan Ragnar di tengah bengkel yang remang-remang. Ragnar menatap Valencia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan senyum miring yang provokatif.
"Penyelamat yang cantik," gumam Ragnar. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga dada bidangnya hampir bersentuhan dengan bahu Valencia. "Apa harganya untuk saya?"
"Harga diri kamu," sahut Valencia tanpa berkedip. Ia menyodorkan dokumen pernikahan di atas meja kerja yang berkarat. "Tanda tangani ini. Kamu akan tinggal di tempat layak, utang ayah kamu lunas, dan sebagai gantinya, kamu menjadi suami pajangan I."
Ragnar mengambil dokumen itu, membacanya sekilas, lalu tertawa pendek. Ia mengambil pulpen dari tangan Valencia, namun sebelum menandatangani, ia menarik tangan Valencia. Ibu jarinya yang kasar mengusap pergelangan tangan Valencia yang halus dengan tekanan yang sengaja.
"Suami pajangan?" Ragnar menatap mata Valencia dengan intensitas yang dalam. "Hati-hati, Nona Valencia. Pajangan ini bisa menggigit."
Ragnar membubuhkan tanda tangan dengan gerakan kasar, lalu melemparkan kembali dokumen itu ke arah dada Valencia.
─────── ༺♡༻ ───────
Di dalam mobil mewah yang melaju menuju pusat kota, atmosfer berubah menjadi medan perang tanpa suara. Valencia duduk menyudut, berusaha menjaga jarak. Namun Ragnar justru duduk dengan santai, menyandarkan punggungnya dan merentangkan kedua tangannya di sandaran jok, seolah ia adalah pemilik sah dari kemewahan ini.
"Dengar, Ragnar," Valencia memulai, suaranya sedikit tertahan. "Di rumah I, You punya aturan. Jangan menyentuh I, jangan bicara kecuali I tanya."
"Wasiat itu bilang kita harus menikah secara sah, kan?" Ragnar memotong pembicaraan. Ia memutar tubuhnya menghadap Valencia. "Itu artinya saya punya hak atas banyak hal di hidup kamu."
Ragnar mendekatkan wajahnya ke arah leher Valencia. Ia bisa mencium aroma tubuh Valencia yang murni di balik kulit putihnya. Aroma jantan dari tubuh Ragnar yang belum mandi terasa begitu dominan, memenuhi kabin mobil yang sempit.
"Jangan pernah berpikir saya bisa dikendalikan dengan uang, Valencia," bisik Ragnar tepat di telinganya.
Mobil mengerem mendadak saat kerumunan wartawan menyergap di depan pintu gerbang utama. Tubuh Valencia terdorong ke depan dengan keras. Secara refleks, tangan Ragnar yang kuat segera melingkar di pinggang Valencia, menarik tubuh wanita itu hingga jatuh tepat ke atas pangkuannya.
Valencia tersentak, tangannya menempel kuat di dada Ragnar yang keras. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang tenang, sangat kontras dengan napasnya sendiri yang memburu. Ragnar menatap Valencia dengan tatapan predator, tangannya meremas pinggang Valencia dengan posesif sebelum akhirnya melepaskannya saat pintu mobil dibuka dari luar.
"Selamat datang di neraka, suamiku," desis Valencia sambil merapikan gaunnya yang berantakan.
Ragnar turun dari mobil dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya. Ia menatap gedung pencakar langit di depannya seolah ia baru saja menemukan mangsa baru yang menarik untuk ditaklukkan.
DI BALIK JENDELA SATU ARAHKeheningan di ruang rapat itu terasa lebih memekakkan telinga daripada suara sepatu bot tadi. Bella berdiri dari kursinya dengan tawa kemenangan yang tidak lagi disembunyikan. "Sudah I katakan, dia hanya sampah yang akan menyeret You ke dasar neraka, Valencia."Valencia tidak menoleh sedikit pun ke arah sepupunya. Matanya terpaku pada layar proyektor yang masih menampilkan bukti penggelapan dana milik Bella. Tangannya yang gemetar kini mengepal kuat di atas meja marmer yang dingin."Duduk atau I akan memastikan polisi tadi kembali untuk menjemput You, Bella," desis Valencia dengan nada yang begitu tajam. Suasana ruangan mendadak membeku saat ia menatap satu per satu direktur yang tadi berkhianat. "Rapat ini selesai dan siapa pun yang mencoba keluar dari gedung ini sebelum audit selesai akan berhadapan dengan pengacara I."Valencia melangkah keluar dari ruangan dengan langkah yang sangat cepat. Ia tidak memedulikan tatapan bingung para karyawannya di sepanjan
SKAKMAT DAN SURAT PERINTAHPak Baskoro memasukkan flashdisk tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar karena suasana yang semakin memanas. Layar proyektor besar di dinding belakang Valencia mendadak menyala menampilkan bagan alur transaksi keuangan yang sangat rumit. Seluruh orang di ruangan itu mendadak terdiam saat melihat data yang terpampang nyata di depan mata mereka."Ini adalah bukti penggelapan dana proyek infrastruktur di Kalimantan yang sangat besar," suara Valencia memecah keheningan dengan nada yang sangat dingin. "Totalnya mencapai dua ratus miliar rupiah dan semuanya berakhir di rekening perusahaan cangkang di Panama. Siapa yang bertanggung jawab atas rekening ini, Bella?"Seluruh direktur senior mendadak riuh dan mereka saling berbisik dengan wajah yang nampak pucat pasi. Ragnar berdiri dari kursinya lalu melangkah perlahan mengelilingi meja rapat layaknya serigala yang sedang mengincar leher mangsanya. Ia berhenti tepat di belakang kursi Bella dan meletakkan kedua ta
SERIGALA DI LANTAI MARMERGedung Adhitama Tower berdiri angkuh mencakar langit Jakarta dengan dinding kaca yang berkilau tajam. Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti tepat di depan lobi utama dengan suara derit rem yang halus namun berwibawa. Puluhan karyawan yang sedang berlalu-lalang mendadak mematung saat pintu mobil terbuka secara otomatis.Valencia Adhitama turun dengan langkah presisi, membiarkan sepatu hak tingginya menciptakan bunyi ketukan ritmis di atas lantai granit. Ia mengenakan blazer hitam dengan potongan tajam yang menegaskan otoritasnya sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Aura dinginnya mendadak pecah saat sosok di sisi lain mobil menampakkan diri ke hadapan publik.Ragnar keluar dengan gaya yang sangat santai, hampir terlihat seperti sedang berjalan di bengkel lamanya. Ia tidak mengenakan dasi, membiarkan kancing kemejanya terbuka hingga memperlihatkan pangkal dadanya yang kokoh. Ia mengabaikan tatapan memuja sekaligus bingung dari para staf wanita, lebih memili
PERJANJIAN DI BAWAH CAHAYA PAGICahaya matahari pagi menembus celah tirai sutra yang sedikit terbuka, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang dingin. Di atas ranjang besar itu, Valencia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sisa aroma maskulin yang masih tertinggal di bantal sebelahnya. Ia segera terduduk, merapatkan jubah tidurnya yang berantakan, dan menyadari bahwa sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong.Ragnar berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah pusat bisnis Jakarta. Pria itu sudah mengenakan celana kain hitam milik setelan semalam, namun ia membiarkan kemeja putihnya terbuka tanpa dikancingkan, memperlihatkan otot dadanya yang tegap serta guratan bekas luka di perutnya. Di tangannya, sebatang rokok menyala, meskipun ada larangan merokok di dalam seluruh area penthouse."You merusak udara di sini, Ragnar," ujar Valencia sambil turun dari ranjang. Langkah kakinya nampak sedikit ragu saat ia berjalan menuju me
PANAS DI BALIK SUTRALampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela besar nampak seperti taburan berlian yang tidak berarti di mata Valencia. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecah oleh suara napas mereka yang saling beradu secara tidak teratur. Valencia berdiri mematung di sisi ranjang, menatap seprai sutra yang berantakan dengan perasaan campur aduk."Kamu mau berdiri di situ sampai pagi, Valencia?" suara Ragnar terdengar rendah dari arah belakang.Valencia berbalik, mendapati Ragnar sedang duduk di tepi ranjang. Pria itu masih belum mengenakan atasan. Otot-otot perutnya nampak jelas di bawah cahaya lampu tidur yang remang, menciptakan bayangan yang menonjolkan setiap lekuk maskulin tubuhnya. Ragnar menatap Valencia dengan tatapan menantang, seolah sedang menikmati kegelisahan wanita itu."Jangan berpikir yang tidak-tidak. I melakukan ini hanya karena Bella," ujar Valencia dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. "You tidur di sisi kir
BUKTI DI ATAS SUTRAPintu kayu jati berukir itu terbuka lebar, menyingkap privasi terdalam dari seorang Valencia Adhitama. Bella melangkah masuk dengan senyum sinis yang sudah siap meledak, namun senyum itu membeku di detik pertama matanya menyapu seisi ruangan.Kamar yang biasanya tertata sangat rapi dan steril layaknya museum itu kini nampak kacau. Di atas karpet bulu domba seharga ratusan juta rupiah, tergeletak sepasang sepatu bot kulit yang kotor dan penuh noda oli. Di kursi rias desainer milik Valencia, tersampir sebuah kemeja denim lusuh yang aromanya, campuran keringat, bensin, dan tembakau, tercium hingga ke ambang pintu.Namun yang paling menyita perhatian adalah ranjang besar di tengah ruangan. Seprai sutra yang biasanya kaku tanpa lipatan itu kini berantakan hebat. Bantal-bantal berserakan di lantai, dan selimut tebalnya tergulung tak beraturan, menciptakan kesan kuat bahwa baru saja terjadi pergulatan intens di atas sana."Tidak mungkin," gumam Bella. Ia berjalan mendekat







