MasukLantai marmer di penthouse Valencia Adhitama memantulkan cahaya lampu gantung kristal dengan begitu sempurna. Ragnar melangkah masuk tanpa melepas sandal jepitnya yang kotor, meninggalkan jejak oli tipis di atas lantai yang biasanya dibersihkan setiap jam. Ia tidak nampak terpesona dengan kemewahan di sekelilingnya. Matanya justru menyisir setiap sudut ruangan dengan tatapan seorang predator yang sedang memetakan wilayah baru.
Valencia berhenti di tengah ruangan, berbalik dengan rahang yang mengeras melihat jejak kaki di lantainya. "Lepas sandal sampah itu, Ragnar. Di sini ada aturan."
Ragnar tidak segera menuruti perintah itu. Ia justru berjalan menuju sofa kulit asli berwarna putih gading dan mendaratkan tubuhnya di sana dengan santai. Ia menyandarkan punggungnya, merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa, dan menatap Valencia dengan senyum miring.
"Sofa ini cukup nyaman untuk seorang suami pajangan, Valencia," ujar Ragnar dengan suara rendah yang bergema di ruangan yang sunyi itu.
"Bangun!" bentak Valencia. Napasnya mulai memburu karena amarah. "I tidak membawa You ke sini untuk mengotori perabotan I. Pak Danu!"
Kepala rumah tangga itu muncul dengan wajah yang pucat pasi melihat pemandangan di depannya. Ia menatap Ragnar seolah-olah pria itu adalah virus yang harus segera dimusnahkan.
"Bawa dia ke kamar paling ujung. Pastikan dia mandi sampai baunya hilang, dan bakar semua pakaian yang dia kenakan tadi," perintah Valencia tanpa sedikit pun menatap Ragnar lagi.
Ragnar berdiri perlahan, namun sebelum mengikuti Pak Danu, ia melangkah mendekati Valencia. Ia berhenti tepat di depan wanita itu, memaksa Valencia untuk sedikit mendongak. Ragnar menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Valencia.
"Pakaian ini mungkin sampah, tapi setidaknya ini jujur. Tidak seperti gaun mahal yang Kamu pakai untuk menutupi ketakutanmu," bisik Ragnar.
Valencia membeku. Ia merasakan bulu kuduknya meremang saat hembusan napas hangat Ragnar menyentuh kulit lehernya. Sebelum ia sempat membalas, Ragnar sudah berjalan mengikuti Pak Danu dengan langkah santai, bersiul kecil seolah-olah ia sedang berada di bengkelnya sendiri.
─────── ༺♡༻ ───────
Malam itu, suhu di dalam penthouse mendadak naik. Sistem pendingin udara pusat mulai mengeluarkan suara menderu yang kasar, pertanda ada kegagalan teknis pada kompresor luar. Valencia keluar dari kamarnya dengan perasaan jengkel yang memuncak. Ia hanya mengenakan jubah tidur sutra tipis yang memperlihatkan siluet tubuhnya dengan sangat jelas di bawah cahaya lampu koridor yang temaram.
Ia menemukan Ragnar sedang berdiri di depan panel kontrol digital di dinding ruang tengah. Pria itu sudah mandi, rambutnya yang agak panjang nampak basah dan berantakan. Ia hanya mengenakan celana kain panjang tanpa atasan, memperlihatkan otot punggung dan bahunya yang lebar, penuh dengan jejak luka kecil yang maskulin.
"Kenapa You keluar kamar?" tanya Valencia, suaranya sedikit bergetar saat matanya tidak sengaja menyapu dada bidang Ragnar.
"AC di kamar saya mati. Dan suara mesin ini sangat mengganggu tidur saya," jawab Ragnar tanpa menoleh. Ia menempelkan telinganya ke dinding, mendengarkan getaran frekuensi di balik beton.
"Jangan sentuh panel itu! You akan merusaknya!" Valencia melangkah maju, mencoba menarik tangan Ragnar.
Namun, karena lantai yang baru saja dipel oleh pelayan dengan cairan pengilap, kaki Valencia tergelincir. Tubuhnya terayun ke belakang dengan keras.
"Ah!"
Secara instan, Ragnar berbalik. Tangannya yang kuat menyambar pinggang Valencia, menariknya dengan sentakan yang bertenaga. Valencia tidak menghantam lantai, melainkan menabrak dada keras Ragnar.
Srak!
Telapak tangan Ragnar yang besar dan kasar menekan kuat di punggung bawah Valencia, menembus tipisnya kain sutra. Valencia terengah-engah, wajahnya terkunci tepat di depan leher Ragnar. Ia bisa mencium aroma sabun mandi yang maskulin bercampur dengan aroma alami kulit pria yang baru saja selesai beraktivitas.
Ragnar tidak segera melepaskannya. Ia justru mempererat pelukannya, membiarkan tubuh mungil Valencia terhimpit di antara lengan kekarnya. Ia menatap mata Valencia dengan tatapan yang gelap dan penuh gairah.
"Pelan-pelan, Valencia," bisik Ragnar. Suaranya terdengar lebih dalam dan serak. "Kamu nampaknya sangat ingin berada di pelukan saya malam ini."
Valencia mencoba mendorong dada Ragnar, namun tangannya justru menyentuh kulit dada pria itu yang hangat dan berdenyut kencang. Jantung Valencia menggila. Ketegangan erotis di antara mereka terasa begitu nyata, seolah udara di sekitar mereka siap meledak hanya dengan satu percikan lagi.
"Lepaskan I," desis Valencia, meskipun tubuhnya sendiri seolah menolak untuk menjauh.
Ragnar tersenyum tipis. Ia melepaskan pelukannya secara perlahan, namun matanya tetap mengunci pandangan Valencia. "Panel ini hanya butuh tekanan yang tepat. Sama seperti Kamu."
Ragnar kemudian mengepalkan tinjunya dan menghantam bagian samping panel kontrol itu dengan sekali pukul yang presisi.
Dug!
Suara menderu itu hilang seketika. Deru halus AC kembali terdengar normal dan lampu panel berubah menjadi hijau stabil. Valencia tertegun. Ia menatap panel itu, lalu kembali menatap Ragnar yang kini berjalan kembali menuju kamarnya tanpa sepatah kata pun lagi.
Valencia berdiri mematung di tengah ruangan, menyentuh pinggangnya yang masih terasa panas bekas cengkeraman tangan Ragnar. Ia benci pria itu. Ia benci bagaimana pria miskin itu bisa membuatnya merasa begitu tidak berdaya hanya dengan satu sentuhan.
Tiba-tiba, bel pintu utama berbunyi. Bukan bunyi pendek, melainkan bel panjang yang menuntut. Layar interkom di dinding menunjukkan sosok Bella, namun ia tidak sendiri. Di sampingnya berdiri Pak Baskoro dan dua orang pria bersetelan jas gelap yang membawa tas dokumen legal.
Eksodus Abisal dan Pergeseran Realitas (Bagian 2)Saat Ragnar, Valencia, dan sang bayi melompat ke dalam pusaran merkuri, gravitasi seolah-olah berbalik arah, menarik setiap molekul tubuh mereka hingga terasa seperti benang cahaya yang halus.Mereka tidak lagi merasakan berat badan atau sentuhan air; sebaliknya, mereka terseret masuk ke dalam terowongan dimensi yang disebut "The Chronos-Tunnel", di mana waktu tidak lagi mengalir secara linear.Di dalam lorong cahaya yang memusingkan itu, Ragnar melihat kilasan sejarah masa lalu yang bertabrakan dengan bayangan masa depan—perang besar para Arsitek, pembangunan kota bawah laut, hingga kehancuran permukaan bumi.Sang bayi yang berada di dekapan Valencia bertindak sebagai navigator; setiap kali denyut jantungnya berdetak, arah cahaya di dalam terowongan tersebut bergeser, mencari celah di antara realitas yang retak.Ragnar melihat proyeksi dirinya sendiri dalam ribuan versi yang berbeda: satu di mana ia mati di Pulse Core, satu di mana ia
Eksodus Abisal dan Pergeseran Realitas (Bagian 1)Gelombang kejut dari hantaman pertama bom antimateri Maya merobek lapisan luar Katedral, menciptakan distorsi gravitasi yang membuat lantai logam di bawah kaki Ragnar melengkung seperti kertas yang diremas.Suara alarm dari sisa-sisa sistem Elias memekik dalam frekuensi tinggi, memperingatkan bahwa integritas ruang di dalam The Forge sedang menuju kehancuran total dalam hitungan detik.Ragnar mendekap Valencia dan bayinya sekuat tenaga, namun ia menyadari bahwa pelarian fisik menggunakan kapal penyelamat sudah mustahil; air laut di luar sana telah berubah menjadi plasma panas yang akan menguapkan baja apa pun dalam sekejap."Tekanan gravitasi ini... ia mulai melipat dimensi di sekitar kita, Ragnar!" teriak Elias sambil berusaha menahan konsol kendali yang mulai mengeluarkan percikan api biru yang mematikan.Plafon katedral yang megah mulai rontok, menjatuhkan pilar-pilar kristal raksasa yang hancur berkeping-keping sebelum sempat menye
Ritual di Jantung Katedral dan Pilihan Sang Pelindung (Bagian 2)Ragnar menyadari bahwa untuk melawan kekuatan janin yang bersifat digital-biologis ini, ia tidak bisa menggunakan senjata api, melainkan harus menggunakan "jangkar" dari darah dagingnya sendiri.Ia menarik belati taktisnya dan tanpa ragu menyayat telapak tangannya sendiri cukup dalam, membiarkan darah merah pekatnya yang telah terkontaminasi serum Guardians mengucur deras.Ragnar segera menempelkan telapak tangannya yang bersimbah darah itu tepat di atas perut Valencia yang membara, membiarkan cairan merahnya membasahi sirkuit hitam-emas yang sedang berpendar liar di sana."Ragnar... hhh... apa yang You lakukan?" rintih Valencia saat ia merasakan sensasi dingin dan kental dari darah suaminya mulai meresap ke dalam pori-pori kulitnya.Seketika, "The Singularity" di dalam rahim bereaksi hebat; darah Ragnar yang mengandung kode genetik murni sang ayah bertindak sebagai perisai biologis yang memaksa sang janin untuk kembali
Ritual di Jantung Katedral dan Pilihan Sang Pelindung (Bagian 1)Elias melangkah dengan kaku menuju pusat piramida terbalik, menyeret kakinya yang sebagian besar telah menyatu dengan logam katedral, sementara suaranya menggema seperti logam yang beradu."Selamat datang di The Forge, tempat di mana garis antara pencipta dan ciptaan dihapuskan selamanya," ujar Elias sambil menyentuh altar utama yang terbuat dari kristal hitam.Ragnar memapah Valencia masuk ke dalam ruangan melingkar yang sangat luas, di mana di tengahnya terdapat sebuah kolam berisi merkuri cair yang berpendar dengan energi panas bumi murni yang memancarkan uap berwarna ungu keperakan.Begitu Valencia berada di tepian kolam, seluruh Katedral seolah-olah bernapas kembali; dinding-dinding kuno itu mulai berpendar dengan garis-garis cahaya yang mengikuti denyut jantung Valencia.Langit-langit ruangan yang semula gelap gulita mendadak berubah menjadi layar hologram raksasa yang menampilkan proyeksi rasi bintang kuno yang su
Palung Tak Bertepi dan Suara dari Rahim (Bagian 2)Ragnar tidak bisa lagi hanya menjadi penonton saat melihat Valencia menderita dalam pergolakan batinnya, maka ia memutuskan untuk melakukan hal yang paling berbahaya: menyentuh pusat dari segala kekacauan itu.Ia berlutut di depan Valencia dan perlahan meletakkan telapak tangan besarnya tepat di atas perut istrinya yang terus berdenyut dengan pendar cahaya hitam-emas yang kontradiktif.Seketika, sebuah sengatan listrik statis menghantam telapak tangan Ragnar, namun ia menolak untuk melepaskannya, justru menekan lebih dalam untuk mencari resonansi dengan darah dagingnya sendiri.Pandangan Ragnar mendadak memutih, dan dalam sekejap, kesadarannya ditarik paksa masuk ke dalam sebuah ruang hampa yang disebut "The Neural Womb", sebuah dimensi mental yang diciptakan oleh sang janin.Di sana, Ragnar tidak melihat bayi yang mungil, melainkan sebuah proyeksi entitas raksasa yang tersusun dari jalinan saraf bercahaya dan kode-kode purba yang mel
Palung Tak Bertepi dan Suara dari Rahim (bagian 1)Kapal penyelamat eksperimental itu terus meluncur turun melewati batas kedalaman 11.000 meter, memasuki kegelapan yang begitu pekat hingga cahaya dari lampu kabin terasa seperti redupnya lilin di tengah badai.Sistem navigasi mulai mengeluarkan suara dengingan statis yang tidak beraturan, menandakan bahwa mereka telah memasuki wilayah "The Void", sebuah palung tak bertepi yang secara teknis tidak tercatat dalam peta maritim dunia.Di wilayah ini, hukum fisika seolah-olah mulai melengkung, di mana tekanan air yang seharusnya meremukkan baja kapal justru terasa seperti gravitasi yang menarik mereka ke dimensi lain.Ragnar menempelkan telapak tangannya pada jendela observasi yang terbuat dari berlian sintetis, menyaksikan pemandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri tegak.Di bawah sana, dasar samudra tidak dipenuhi oleh lumpur atau terumbu karang, melainkan oleh ribuan fosil mekanik raksasa yang tampak seperti bangkai naga logam dari
BAYANG-BAYANG MACAUDermaga nelayan di pinggiran Coloane menyambut mereka dengan aroma amis ikan dan hawa lembap yang menyesakkan paru-paru. Langit Macau yang kelabu menumpahkan rintik hujan tipis, menciptakan bunyi tik tik tik yang monoton di atas atap seng gudang-gudang tua. Ragnar merangkul ping
PELURU TERAKHIR DI KEGELAPANKegelapan di Level Zero bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya bagi Valencia. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia mulai melihat aliran energi statis yang merayap di dinding beton seperti urat emas yang berdenyut lemah. Namun, kekuatan itu tidak memberinya ketenangan
PILIHAN SANG PERMAISURIKeheningan di aula bawah tanah itu terasa lebih tajam daripada mata pisau. Cahaya dari layar monitor yang menampilkan wajah mendiang ibunya bergetar, memberikan efek distorsi bzzzt-klip yang membuat suasana semakin mengerikan. Valencia berdiri mematung di depan konsol digita
PROTOKOL PERMAISURI HITAMLift baja itu meluncur turun melampaui kedalaman yang masuk akal bagi sebuah bunker militer standar. Bunyi desing mesin hidrolik di luar ruang logam itu berubah dari raungan kasar menjadi dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga...whiiieee. Di dalam kotak logam







