Share

Sebuah Rahasia

Penulis: Shu Li
last update Tanggal publikasi: 2025-12-16 22:40:48

“Tidur bareng?” 

Nara berbalik tanya membuat kedua sahabatnya melongo. “E...Iya sih, tidur bareng-”

“APA?” Wina dan Lusi serentak dengan nada tinggi.

“Kamu beneran tidur bareng sama Aland?! Gila kamu Na!” sentak Wina.

“Win! Mulutmu!” hardik Nara dengan isyarat tangan. Seketika Wina membungkam mulutnya sendiri. Alih-alih takut orang lain akan mendengarnya dan salah paham.

“Kalian tahu maksudnya tidur bareng nggak sih?” tanya Nara pelan. “Kita tuh sering kali, waktu kecil tidur bareng, dan semalam kita tidurnya ya tidur aja biasa aja, nggak ngapa-ngapain kok!” ungkapnya santai.

Lusi menghela napas lega. Berbeda dengan Wina seolah tak terima, istilah tidur bareng baginya adalah merujuk pada hal intim.

“Tidur biasa? Tanpa adegan dewasa maksudnya?” cecar Wina,”Mana mungkin?” logikanya nggak mungkin lelaki nganggurin gadis secantik Nara apalagi dalam kondisi mabuk.

Namun penjelasan Nara agaknya buat Wina merasa sesuatu,“Tunggu-tunggu! kau bilang waktu kecil?” Wina mencoba berpikir dan menerka. 

Anggukan polos Nara jawabannya.”Kamu kenal Aland dari kecil Na?” tanya Wina memastikan. Sekali lagi Nara mengangguk, sambil membuka buku menu kantin.

“Kalian mau pesan apa?” seling Nara mengesampingkan reaksi Wina.

“Bentar Ah!” Wina menutup buku menu kantin yang Nara pegang.”Jelasin dulu, kok aku nggak ngerti sih? Eh Lusi, kau udah ngerti Nara kenal Aland dari kecil?”

Lusi mengangguk ragu sambil melirik Nara, “Wah!  kalian berdua bener-bener ya!” respon Wina kecewa.

Meja di sudut kantin tiba-tiba hening. Lusi menyenggol lengan Nara agar segera menjelaskan. 

“Sorry Win, sorry banget. Sebenarnya memang kita nggak pernah go public jika kita berteman dari kecil. Lusi tahu pun itu karena nggak sengaja.” 

Penjelasan Nara dipersingkat. “Intinya kita memang teman dan tetangga dari kecil bahkan sampai saat ini.”

Nara mulai lesu ketika harus mengingat status sebenarnya dengan Aland.

“Trus, kenapa selama ini kalian nggak pernah berinteraksi satu sama lain? Kalian satu jurusan loh, cuma beda kelas!” Wina masih penasaran.

“Itu... ada hal yang membuat kita jauh.” Nara menunduk tak mau menjelaskan runtut, ia masih sakit jika mengingat kejadian malam itu.

Lusi mengambil alih, dia berjanji akan menceritakan pada Wina lain kali. Lusi merasa jika Nara yang bercerita mungkin akan membuka luka lama.

“Oke deh! Tapi yakin semalam kamu nggak diapa-apain?” tanya Wina lantang.

“Ihh!! Jangan keras-keras Wina!” hardik Lusi dengan suara tertahan. Kali ini Lusi ikut geram karena Wina begitu antusias.

“Nggak Wina sayang, percaya deh!” yakin Nara terlihat jengkel.

Wina masih heran, mana mungkin cowok model Aland, yang citranya adalah cowok bejat ngelewatin kesempatan emas gitu aja. Wina merasa ada yang nggak beres.

“Serius ya Na, kamu nggak ada sakit kan bagian ... itu tuh!” ucapnya sambil melirik bagian sensitif wanita.

“Hus! Wina!” tegur Lusi. Nara terlihat memegang pelipisnya berharap semoga nggak ada yang yang menyadari reaksi Wina. “Kau nggak percaya sama Nara? Tahu sendiri kan dia begitu menjaga diri dari si Abyan, pasti Aland sebagai teman kecilnya juga menjaga Nara kan.” Katanya meyakinkan Wina.

Tapi sejujurnya perasaan Wina merasa janggal. Bagaimanapun sesuai yang dia alami, mana ada cewek cowok seranjang terus birahinya nggak “ON”. Aneh banget kan.

“Iya juga ya, emang sedeket itu ya dari kecil?” tanya Wina dengan nada lebih rendah.

Anggukan polos Nara lagi-lagi menjawab. “Hebat juga ya si Aland!” pujinya.

“Tapi kenapa dia nggak bisa nahan dengan dosen itu ya?” imbuhnya penasaran, ada banyak hal ganjal yang Wina rasakan disini.

“Stop ya introgasinya, kita pesen makan!” 

***

Selesai makan di kantin Nara dan dua sahabatnya berbeda tujuan. Nara harus menghadap dosen berkaitan dengan proyek kampus yang merekrutnya. Kali ini hanya menginfokan jika akan ada penambahan mahasiswa yang direkrut.

Baginya tak ada masalah, ia yakin bisa membantu partner barunya untuk menjelaskan awal perencanaan. 

“Saya nurut saja kapan bisanya teman yang baru nanti pak,”ujarnya menyetujui pak dosen.”Kelihatannya dalam waktu dekat saya sidang jadi setelah itu jika tidak banyak revisi bisa bertemu lebih intens nanti pak.” paparnya memberi kepastian.

Nara sama sekali nggak penasaran siapa partner baru yang akan bergabung dalam proyek tersebut. 

Setelah keluar dari kantor dosen ia bergegas kembali ke asrama karena waktu sudah sore. Tiba-tiba saja langit berubah mendung, awan hitam dengan cepat merapatkan barisan di langit dan senja tak lagi terlihat.

Cepat-cepat Nara berjalan. Sebuah mobil menyandinginya, serasa tak asing.  setelah menoleh dan tahu itu Abyan, ia membuang muka tak peduli.

Din! Din!

Klakson mobil menggema. Nara tak menggubris. Langkahnya dipercepat. Bukan karena segera hujan tapi karena Abyan.

Mobil Abyan mencegatnya. Ia turun dari mobil dan mencoba menghentikan langkah Nara. Tangan itu meraihnya dan-

“Lepas!” tolak Nara. Langkahnya terhenti karena ia tak mau mencuri perhatian sekitar.

“Na- aku mau bicara!”

Nara mencoba tak peduli dan mengambil jalan dari sisi lain. Tapi Abyan terus mengikuti.

“TUNGGU!” 

Panggilan Abyan membuat beberapa pejalan kaki lain sejenak memperhatikan. Nara kikuk, dan memilih berhenti untuk mendengarkan Abyan.

“Mau apa sih kak?!” kesal Nara menahan amarah.

“Na, aku nggak mau kita putus. Aku janji. Aku janji nggak akan nglakuin itu lagi.” Bujuknya penuh harap. “Kita sudah bersama lama Na, aku akuin aku salah. Please, beri aku kesempatan kedua..” mata Abyan mencoba mencari pandangan Nara untuk meyakinkan.

Sempat ragu dan mengiba. Tapi, Nara merasa keputusannya benar. Dia nggak salah.

Tiba-tiba Abyan merubah posisinya, berlutut di hadapannya. Nara mundur selangkah dan merasa orang-orang sekitar memperhatikan bahkan ada yang berhenti untuk menyaksikan.

Terdengar gemuruh dari langit, hujan tak lama lagi pasti turun. “Apa-apaan kak! Berdiri nggak?!” gertak Nara tertahan. “Semua mata melihat kita.” tekannya.

“Kak aku bilang berdiri kak-” Byan bandel, ia sengaja berlutut dan memancing reaksi orang sekitar.

“Nggak Nara! Aku nggak akan berdiri sampai kamu memaafkanku!” tegasnya.

Dan pada akhirnya hujan turun begitu lebat. Nara hendak melangkah pergi tapi tangan Abyan menahannya. Siapapun yang menyaksikan mereka pasti nggak ada yang berani ikut campur. Hubungan keduanya hanya bisa diselesaikan bersama bukan dengan orang ketiga.

Mereka yang menyaksikan sudah duluan mencari tempat teduh. Kini tinggal Abyan dan Nara di bawah hujan.

Nara muak dengan keadaan itu. “Aku sudah katakan, aku nggak mentolerir perselingkuhan! Kamu salah!” katanya tegas.

“Kalaupun aku memaafkanmu, mungkin bisa.” Air hujan menggenangi muka Nara. “Tapi-AKU NGGAK MUNGKIN BISA KEMBALI!” ucapnya terdengar lantang.

“Aku akan tetap nunggu kamu Na, sampai kamu mau memaafkan aku dan kembali padaku!” Byan ngeyel nggak ada obat.

Nara lelah. Manusia di hadapannya sama sekali tak tahu diri. Sebuah payung terbuka menggantung di atas kepalanya. Meneduhkan tubuhnya, seketika Nara menengok. Ia cukup terkejut melihatnya.

Aland?’

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 113 Sabtu Nara

    Wajah Nara berubah kecewa, muncullah Irene dari dalam rumah menyapa ramah Nara seperti biasanya. “Nara kenapa tidak masuk saja, ayo tante bikin makanan enak banget-” “Maaf tante, Nara hanya mampir mau menanyakan tentang Aland tapi kata om Roy Aland sudah berangkat ke luar negeri kemarin, kenapa begitu mendadak tante?” Nara tak sungkan bertanya lebih jelas pada nyonya rumah itu. Irene hendak menjawab, langkah gusar suaminya mengalihkannya sejenak. Orang itu bahkan masuk ke dalam tanpa pamit. Sebagai istrinya ia juga sengit melihatnya. “Maaf Nara, sebenarnya kabar ini sangat mendadak. Aland sebulan yang lalu diam-diam mencari informasi kuliah di luar negeri dan ia mendapat jawaban pun juga mendadak. Segera ia persiapkan dan ingin memberitahumu tapi kemarin kamu susah sekali dihubungin. Maaf ya sayang, pasti kamu terkejut dengan cara om Roy memberi tahu.” Irene bisa menduga seperti apa cara suaminya memberi tahu. “Baiklah tante, Nara nggak papa kok hanya berita ini cukup mengejutkan

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 112 Tentang Seseorang

    Aland baru saja sampai di Negara lain. Ia melihat ponselnya, tak ada tanda-tanda pesan balasan dari Nara. Nomornya tak aktif, membuat Aland berpikir macam-macam. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya. Aland menghubungi mamanya, namun tidak diangkat. Antara sudah tidur atau sedang sibuk yang lain. Ia memutuskan menghubungi nanti lagi setelah sampai di apartemen. Sepanjang perjalanan Aland hanya memikirkan Nara, mengulas lagi bagaimana mereka kembali berbaikan setelah beberapa tahun tak menjalin komunikasi. Nafasnya berhembus teratur dan senyumnya kembali menyungging. Aland tiba di sebuah apartemen yang akan menjadi tempat tinggalnya. Begitu masuk ruangan itu lebih bagus dari yang ia pikirkan. Dari gedung yang tinggi ia bisa melihat pemandangan kota dengan jelas. Lampu-lampu gemerlap menyilaukan mata. Membayangkan Nara mengetahuinya pasti ia akan sangat senang dan tiada henti terpukau. Sama seperti Dikta, ia melihat Nara lain saat wajah cerah dan semringah itu memandang gemerlap l

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 111 Sial Berakhir Mujur

    "Yuk!" Dikta membiarkan Nara mendahuluinya, ia mempersilahkan Nara memilih tempat. Hujan reda, sisa-sisa mendung masih terlihat. Namun sebentar lagi gelap, lampu-lampu kota akan menyala menggantikan mendung.Nara dan Dikta duduk di bangku paling sudut, sengaja Nara yang memilihnya agar bisa memotret pemandangan dari sudut dan mendapatkan lebih luas. Ckrek!"Wah, boleh juga nih hp! cantik nggak?" tanyanya girang.Netra Dikta berhenti pada wajah Nara, lalu menjawab, "Cantik. cantik banget!""Tuh, ya kan! coba kamera jarak jauhnya-" Nara sibuk mengeksplor ponsel barunya. Ia terlihat sangat senang dengan ponsel barunya. Tapi sayang, nomor lamanya tak bisa dibuka tandanya pencuri itu sudah mengotak-atik ponselnya.Sial sekali Nara, terlebih semua nomor-nomor temannya disana juga nomor penting lainnya. Nara mengambil nomor Mamanya dari ponsel Dikta, menyimpannya lal menelponnya. "Halo Ma-" dari balik telepon Laudya sedang mengungkapkan kekhawatirannya. Panjang lebar omelan itu dan Nara h

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 110 Perhatian yang Berlebihan

    “Nara!” Merasa ada yang memanggilnya ia menoleh, awalnya ia masih mencari-cari suara itu karena lalu lalang keramaian di stasiun. Nara berdiri ketika melihat Dikta. Dikta mempercepat langkah untuk sampai pada posisi Nara, wajahnya terlihat khawatir. “Nara- kamu nggak pa-pa?” tanyanya sembari mengusap rambut samping Nara. Nara menggeleng, ia melihat Dikta yang sekhawatir itu padanya. “Aku baik-baik saja kak, hanya ketinggalan kereta dan ponselku hilang.” Dikta menunjukkan muka yang sedikit lega karena Nara terlihat baik-baik saja, “ayo ke mobil.” “Pak-”Nara menggeleng cepat, memperbaiki sebutannya.”Kak- kamu naik mobil sendiri kesini?” Dikta mengangguk,”Ha?” wajah Nara menatap heran. Namun sebelum mengatakan sesuatu lagi Dikta sudah menarik tangannya. Ia membawanya ke luar stasiun, Dikta memarkir mobilnya di luar stasiun karena tempatnya yang penuh. Mereka masuk ke mobil, sesampainya di dalam Dikta mengambil handuk kecil di dasbor. “Pakailah-” katanya mengingatkan Nara pada sebu

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 109 Benarkah Perpisahan adalah Kesialan?

    “Bukankah dia yang menemani tante Laudya di rumah sakit?” ingatnya pada hari itu.”Ya, dia kan anak dari atasannya Tante Laudya, mereka sengaja di dekatkan atau -ah! sial!”hatinya panas, tapi bagaimanapun saat itu fokus Nara ingin pada Mamanya juga pekerjaan. Pada dasarnya Aland belum rela jika hubungan mereka berakhir. Hatinya juga kesal dengan Nara, dia merasa hanya sebagai pelarian dari keadaannya. Keluarganya selama ini selalu bersikap baik, terlepas kenyataan adanya masalah antara orang tua mereka.Tapi di sisi lain Aland juga masih marah dengan Papanya. Andai saja Papanya tidak memperingatkan Nara juga Mamanya mungkin ada celah untuk berjuang. Namun pikiran Aland hanya andai, andai dan andaikan.Terlepas dari kenyataan yang ada Nara berusaha tegas untuk memilah hati yang mendukung keadaannya.Jarum jam terus berputar tanpa henti, dan Aland masih belum bisa memejamkan mata meski sejenak. Ia kembali berdiri di depan jendela kamarnya. Langkahnya maju mundur mau membuka Jendela yang

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 108 Perayaan

    “Wah! Parah kamu Na, jahat banget! Coba kalian waktu itu kenalan, pasti udah jadi-” kalimat Wina terpotong karena Lusi membungkamnya, ia berontak berusaha melepaskan cengkeraman Lusi. Mata Lusi ,melotot ke arah Wina agar tidak sembrono berbicara lalu melepasnya. “Maksudnya jadi teman, gitu kan ya kak?” Wina mencari dukungan sementara Dikta tersenyum melirik Nara yang tetap tenang. Mereka sampai di sebuah restoran mewah. “Wah... aku merasa nggak menyesal deh mengikuti kalian, gas yok!” Wina terlalu bersemangat. Dia suka sekali di ajak ke tempat mewah. Tari mengumumkan jika ia yang akan mentraktir semuanya makan, sebagai acara pelepasan Laudya karena sudah mengabdi di kantornya selama 15 tahun ditambah acara kelulusan Nara dengan pencapaian sebagai mahasiswi terbaik. “Tari, nggak perlu repot aku sanggup mentraktir kalian makan disini-” “Patuh saja, bagiku kamu adalah teman spesial jadi sebagai tanda penghargaanku padamu patuh saja oke!” Tari tidak mau kalah, ia kekeuh pada keingina

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 107 Wisuda

    Nara berdiri untuk memeluk Laudya, ia benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu. Mungkin Laudya yang dulu adalah wanita yang merasa lemah karena ditinggal belahan jiwanya, meski demikian ia berhasil melewati semuanya. Kini luka itu membaik dan menyadari Nara adalah perisai kebahagiaannya. La

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 106 Rahasia Sofia

    Sofia merasa tak biasa terlebih dia merupakan pelayan Roy yang belakangan ini begitu setia. Karena di sapa, Sofia merasa harus datang, dengan sekejap wajahnya berbinar seperti biasanya. “Aland?” “Hai!” balasnya menyapa, terlihat santai. Ia paham sofia punya akses kesini, tidak heran, karena ia di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 85 Sebuah Peringatan

    Nara sadar, usia memang sudah ditentukan Tuhan. Saat ini ia hanya ingin melakukan yang terbaik terutama untuk Mamanya. Pagi itu Nara membantu Laudya ke kamar dan menyelimutinya. Menghapus keringat dingin di dahi mamanya. Setelah minum obat cukup tenang dan bisa istirahat. Ia keluar dari kamar Lau

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 60 Pikiran Orang Tua

    Mendengar pertanyaan Laudya, ia tak langsung menanggapi. Tingkahnya masih basa-basi, mengambilkan air putih di gelas untuk Laudya tanpa diminta. Merapikan selimut padahal tidak ada yang berantakan. “Mama kenapa tanya begitu?” Nara berkata dengan lembut. “Jawab saja dulu, baik apa tidak?” Pertany

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status