Inicio / Romansa / Jeratan 4 Tuan Muda / Bab 1 Pindah Dunia

Compartir

Jeratan 4 Tuan Muda
Jeratan 4 Tuan Muda
Autor: Novelis Senja

Bab 1 Pindah Dunia

last update Fecha de publicación: 2026-10-31 14:48:44

Rasa dingin, bau getah ban terbakar, dan lengkingan rem yang memekakkan telinga masih bergema di kepala Victoria.

Ingatannya tentang detik-detik terakhir hidupnya terpatri amat jelas. Mobil balap rakitannya menabrak pembatas jalan dengan kecepatan di atas 180 km/jam setelah sistem remnya gagal total.

Sabotase.

Victoria tahu betul siapa di balik aksi kotor itu-musuh bebuyutan keluarganya yang frustrasi karena tidak bisa menumbangkan bisnis orang tuanya secara legal.

Sebagai seorang jenius muda yang menguasai berbagai keahlian-mulai dari hacking, ilmu beladiri, analisis strategi bisnis, hingga medis kedokteran-Victoria seharusnya memiliki masa depan yang cerah.

Kematian tragis akibat kelicikan musuh adalah akhir yang amat sangat tidak adil bagi sosok sehebat dirinya.

Namun, alih-alih kegelapan abadi atau rasa sakit tusukan pecahan kaca, rasa dingin yang dirasakannya kali ini terasa amat lembut.

Victoria membuka matanya perlahan.

Sensasi pertama yang menyapa inderanya adalah aroma lembut bunga lavender dan pendingin udara yang berembus konstan.

Pandangannya yang samar-samar mulai fokus, menangkap langit-langit kamar tinggi bernuansa putih bersih dengan lampu gantung kristal bergaya modern-minimalis.

"Di mana ini? Rumah sakit? Tidak... aroma ini bukan antiseptik," batin Victoria. Refleks kewaspadaannya langsung aktif.

Ia mencoba duduk, tetapi tubuhnya terasa luar biasa lemah dan asing. Dengan sisa tenaganya, Victoria menegakkan punggungnya dan mengamati sekeliling.

Kamar itu sangat luas. Dinding-dindingnya didominasi warna krem dan abu-abu muda, dihiasi furnitur kayu jati minimalis yang dipoles rapi. Sebuah jendela kaca raksasa dari lantai hingga langit-langit menampilkan pemandangan taman privat yang asri di luar sana.

Tempat tidur yang ia tempati berukuran king-size dengan sprei sutra berkualitas tinggi. Kemewahan di ruangan ini sangat tersirat, tenang, dan mahal.

Victoria tertegun. Ini sama sekali bukan kamar tidurnya, bukan pula penthouse miliknya.

Saat ia mencoba berdiri, kakinya tersandung dan ia terhuyung ke arah meja rias berbahan marmer di sudut kamar. Victoria berpegangan pada tepi meja, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap cermin berbingkai emas di hadapannya.

Napas Victoria tertahan. Jantungnya berdegup kencang secara instan.

"Ini... siapa?"

Sosok yang terpantul di cermin bukanlah bayangan Victoria yang bergaris wajah tegas, bermata tajam, dan memiliki bekas luka kecil di dekat alis akibat latihan beladiri.

Wanita di dalam cermin itu memiliki kulit seputih porselen yang agak pucat, rambut hitam bergelombang yang terurai halus hingga pinggang, serta mata bulat besar berwarna cokelat terang yang memancarkan aura lembut-bahkan cenderung tampak rapuh. Wajah itu sangat cantik, tetapi terlihat asing baginya.

Tiba-tiba, rasa sakit yang hebat menyengat kepalanya bagai ditusuk ribuan jarum. Victoria memegangi pelipisnya, meringis menahan gempuran ingatan asing yang membanjiri kesadarannya secara paksa.

Aurelia Celine

Nama gadis ini adalah Aurelia.

Seorang putri dari keluarga kaya raya yang hidup bergelimang harta. Namun, Aurelia terkenal sebagai sosok yang sangat pendiam, pasif, dan seperti 'malas hidup'—ia enggan berinteraksi, membiarkan hari-harinya berlalu tanpa gairah atau ambisi apa pun.

Hingga akhirnya, tubuh yang kekurangan energi dan stamina akibat gaya hidup apatisnya itu tak sanggup bertahan saat demam tinggi menyerangnya semalam...

Victoria memejamkan mata rapat-rapat, meresapi setiap ingatan tentang pemilik tubuh ini, lalu kembali membuka matanya. Tatapan mata di cermin yang semula pasif dan redup perlahan berubah—menjadi sangat tajam, hidup, dan penuh kalkulasi.

Victoria menatap jemari tangannya yang lentik dan halus, yang tampak tak pernah tersentuh kerja keras atau tantangan fisik apa pun.

"Victoria sudah mati dalam kecelakaan itu..." bisiknya lirih dengan suara lembut khas milik Aurelia, namun dengan intonasi yang begitu dingin dan berwibawa.

Sebuah senyuman tipis dan penuh arti terukir di bibirnya.

"Pemilik tubuh ini mungkin malas jalani hidup, tapi aku tidak. Dunia baru, identitas baru... mari kita lihat seberapa jauh keahlianku bisa menguncang kehidupan Aurelia yang membosankan ini."

Aku mengulas senyum tipis di depan cermin. Tatapan mataku yang dingin, tajam, dan penuh perhitungan tampak sangat bertolak belakang dengan raut wajah Aurelia yang biasanya polos dan ketakutan.

"Pendiam dan tak mencolok?" bisikku pada pantulan diriku sendiri. Suaraku terdengar lembut, namun ada getaran kejam di dalamnya.

"Sayang sekali... aku bukan tipe wanita yang mau menjadi latar belakang dalam cerita siapa pun."

Sebagai Victoria-seorang wanita yang bertahan hidup di duniaku sebelumnya dengan memanfaatkan kecerdasan, kecantikan, dan manipulasi psikologis tingkat tinggi-peran sebagai gadis kaya raya yang pasif adalah sebuah penghinaan.

 Jika takdir melempar jiwa penuh taktikku ke dalam tubuh boneka cantik ini, maka aku yang akan menulis ulang hukum permainan di dunia ini.

.........................................

SMA Elite Asteria bukan sekadar sekolah; itu adalah miniatur arena kekuasaan para penguasa kota. Gedung bergaya neoklasik dengan pilar-pilar marmer megah berdiri kokoh, menyambut deretan mobil mewah bernilai miliaran rupiah yang mengantarkan para pewaris tahta konglomerat.

Aku turun dari bagian belakang Rolls-Royce Phantom milik keluarga Celine. Seragam Asteria yang terdiri dari rok lipat di atas lutut dan blazer disesuaikan dengan sangat sempurna di tubuhku, memperlihatkan kaki jenjang yang mulus dan pinggang yang ramping.

Saat berjalan menyusuri koridor marmer yang ramai, atmosfer di sekitarku bergeser secara perlahan. Orang-orang biasanya terbiasa melihat Aurelia menundukkan kepala, berjalan menempel di dinding seolah takut menatap dunia. Namun hari ini, aku berjalan tegak. Dagu terangkat elegan, menatap lurus ke depan dengan pandangan datar yang tidak terjangkau.

Gumam bisik-bisik mulai terdengar dari para siswa yang melintas.

"Tunggu... itu Aurelia Celine, kan?" "Kenapa dia terlihat... berbeda?" "Lihat jalannya... dia cantik sekali, tapi kenapa auranya membuatku merinding?"

Aku mengabaikan mereka semua. Bagiku, manusia-manusia di koridor ini hanyalah bidak catur yang belum bernilai.

Tujuanku pagi ini adalah Gedung Utama kelas 12-A-tempat di mana keempat pusat gravitasi dunia ini berkumpul.

Ketika aku melangkah masuk ke dalam kelas, suasana yang tadinya bising mendadak hening untuk beberapa detik. Empat pria yang duduk di area terpisah di dalam ruangan itu adalah representasi dari kekuasaan mutlak.

Di sudut kanan dekat jendela, Dante Alister-sang ketua geng sekaligus pewaris tunggal konsorsium bisnis gelap Alister Group-sedang bersandar santai. Posturnya tegap, bahunya lebar, dengan wajah tegas berkulit sedikit kecokelatan yang memancarkan aura dominan dan berbahaya. Dia mengenakan kemeja seragam yang kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher kokoh dan aura maskulin yang pekat.

Di sebelahnya, duduk Gabriel Vance. Pria berkacamata dengan bingkai tipis itu tampak tenang membaca tablet finansialnya. Gabriel adalah sosiopat jenius, peretas, dan ahli strategi keuangan yang dingin. Di balik senyum tipisnya yang sopan, otaknya berputar merencanakan kejatuhan musuh-musuhnya.

Di barisan belakang, Julian Sterling sedang memainkan kunci mobil spornya di atas jari. Rambutnya sedikit acak-acakan, jaket kulit hitam terikat di kursi. Tatonya yang samar menyembul dari balik kerah kemeja, memancarkan kesan bad boy yang liar, impulsif, dan sangat sensual.

Dan di sudut depan, Adrian Wilford-pangeran berwajah malaikat dengan senyum hangat yang selalu menipu semua orang. Dia tampak seperti pria paling lembut dan penuh perhatian, padahal di balik dadanya bersemayam obsesi paling gelap dan tak terduga.

Di novel aslinya, hari ini adalah hari pertama Maya-sang gadis tomboi-pindah ke kelas ini dan menumpahkan kopi ke kemeja Dante, memicu ketertarikan liar keempat pria itu pada keberanian dan ketidakberdayaannya.

Tapi hari ini, aku memilih mengacak jadwal tersebut.

Aku melangkah dengan tenang menuju kursiku di barisan ketiga. Tepat saat aku melewati meja Dante, sebuah pulpen berukir emas milik Gabriel yang ada di tepi meja secara tidak sengaja tersenggol oleh tas kulitku dan jatuh, menggelinding tepat di dekat sepatu kets bernoda milik seorang gadis yang baru saja berdiri di ambang pintu.

Gadis itu adalah Maya. Dia baru saja masuk dengan wajah ceria, mengenakan seragam yang sengaja diperketat hingga menonjolkan lekuk tubuhnya yang seksi dan sensual.

Klek.

Langkahku terhenti. Aku tidak membungkuk untuk mengambil pulpen itu. Sebaliknya, aku hanya berbalik pelan, menatap pulpen di lantai, lalu mengalihkan pandangan cokelat terangku tepat ke arah Gabriel.

Tidak ada rasa takut di mataku. Tidak ada permohonan maaf yang panik seperti yang biasa dilakukan Aurelia yang lama. Hening selama lima detik. Aku hanya menatap mata Gabriel di balik kacamatanya dengan pandangan menilai yang begitu dalam, seolah aku bisa membaca seluruh isi otaknya.

Gabriel yang biasanya tidak peduli pada lingkungan sekitar, tertegun. Jarinya yang berada di atas layar tablet berhenti bergerak. Pupil matanya melebar tipis saat menangkap kedalaman tatapanku.

"Kau menumpahkan pulpenku, Aurelia," suara Gabriel terdengar berat, dingin, namun mengandung rasa ingin tahu yang tiba-tiba membakar.

Aku mengulas senyum paling tipis-sebuah senyuman samar yang terkesan sangat beracun dan memikat di bibir merah mudaku.

"Benda yang diletakkan di tepi tebing memang hanya menunggu waktu untuk jatuh, Gabriel," jawabku pelan. Suaraku bagaikan bisikan beludru yang halus namun menusuk. "Lain kali, amankan milikmu jika tak ingin tersenggol oleh orang lain."

Ruang kelas mendadak terasa makin dingin.

Dante yang tadinya membuang muka ke luar jendela, mendadak memutar kepalanya cepat. Mata elangnya yang tajam dan pekat mengunci sosokku. Ia belum pernah mendengar Aurelia bicara lebih dari dua kata, apalagi menyebut nama anggota geng mereka dengan nada tenang tanpa beban seperti itu.

Julian menghentikan putaran kunci mobilnya. Matanya yang liar menatap lekuk tubuhku dari belakang, lalu berpindah ke wajahku yang tenang tanpa setitik pun kepanikan. Ada seringai tipis yang perlahan terukir di bibirnya-seringai predator yang menemukan mangsa paling langka.

Sementara Adrian, sang pangeran berwajah hangat, memiringkan kepalanya sedikit. Senyum ramahnya menghilang, digantikan oleh tatapan intens yang seolah ingin membedah jiwaku saat itu juga.

Maya yang berdiri di ambang pintu mendadak merasa terasingkan. Dia sudah bersiap untuk menarik perhatian dengan suara cerianya, namun aura di dalam kelas telah sepenuhnya tersedot oleh keberadaanku. Keempat tuan muda itu bahkan tidak menoleh satu kali pun ke arah pintu tempat Maya berdiri.

Aku melangkah lanjut ke kursiku, duduk dengan anggun, dan membuka buku catatan tanpa memedulikan tatapan empat pasang mata yang kini tertancap di punggungku bagaikan pisau yang membara.

Saat jam istirahat tiba, aku sengaja tidak pergi ke kantin riuh yang penuh sesak. Aku memilih melangkah menuju perpustakaan tua di lantai tiga gedung barat-area terisolasi yang jarang dikunjungi siswa biasa karena hanya boleh diakses oleh siswa berprestasi tinggi atau anggota keluarga pendiri sekolah.

Langkah kakiku berbunyi halus di atas lantai kayu yang dipoles. Bau kertas tua dan aroma kayu jati menyambutku. Aku berjalan menyusuri lorong rak buku yang tinggi, mencari buku analisis strategi ekonomi modern.

Tepat saat aku menjangkau sebuah buku bersampul kulit hitam di rak bagian atas, sebuah tangan besar dengan jari-jarinya yang kokoh dan berurat mendahuluiku. Tangan itu mengambil buku tersebut, menyisakan jarak yang sangat tipis di antara kami.

Aroma parfum berkayu maskulin yang mahal dan dominan langsung menyergap indramu.

Aku tidak terkejut. Aku tidak melompat kaget. Aku hanya memutar tubuhku perlahan.

Dante Alister berdiri sangat dekat di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi besar menusuk pandangan, mengurungku di antara lengannya dan rak buku di belakangku. Wajah tampannya yang keras hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. Napasnya yang hangat dan berat terasa menyapu kulit pipiku.

"Aurelia Celine," bisik Dante. Suaranya rendah, serak, dan penuh intimidasi yang pekat. "Sejak kapan kucing kecil yang penakut belajar cara menatap mata serigala?"

Aku menatap tepat ke dalam manik mata hitamnya yang berbahaya. Tensi fisik di antara kami begitu pekat hingga udara di lorong sepi itu seolah bergetar. Aku bisa merasakan tatapan matanya menyusuri leher jenjangku, meneliti setiap senti perubahan dari diriku dengan obsesi yang mulai menjalar secara liar.

Aku tidak mundur. Sebaliknya, aku melangkah setengah senti lebih dekat, membiarkan dadaku hampir menyentuh kemejanya, memiringkan kepala sedikit hingga bibirku berada tepat di bawah rahang kerasnya.

"Kucing kecil?" bisikku sangat pelan, menyentuhkan aura keberanian yang sensual dan manipulatif tepat di urat nadinya. "Hati-hati, Dante... kadang-kadang, binatang yang kau kira jinak adalah satu-satunya alasan kenapa kau bisa kehilangan lehermu."

Mata Dante berkilat gelap. Tangannya bergerak cepat, cengkeraman jarinya yang kuat dan hangat menahan pinggangku, menarik tubuhku makin merapat ke tubuh kerasnya tanpa memberi ruang untuk melarikan diri.

Tepat pada saat itu, langkah kaki yang tenang terdengar di ujung lorong rak buku.

"Lepaskan tanganmu darinya, Dante," suara Gabriel terdengar dingin dari balik kegelapan lorong, diikuti sosok Julian yang bersandar di dinding sambil menatapku dengan mata yang sarat akan gairah posesif. Dan tak jauh dari sana, Adrian berdiri dengan senyuman paling gelap yang pernah kulihat.

Keempatnya telah datang. Dan perangkapku baru saja dimulai.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 13 Pantang Menyerah

    Keesokan harinya, atmosfer SMA Elite Asteria diliputi aura dingin yang membekukan.Maya berdiri di depan cermin toilet lantai dasar, memoles lipstik berwarna merah muda pucat yang memberi kesan rapuh dan menggiurkan.Jemarinya bergetar pelan, namun matanya memancarkan ketegatan yang nekat.Maya menolak untuk menyerah. Ia tahu betul ingatan masa lalunya: di kehidupan pertamanya, keempat tuan muda F4 juga tidak langsung jatuh cinta padanya.Di awal, mereka dingin, acuh, bahkan cenderung kasar. Namun, Maya berhasil menjaring mereka satu per satu dengan satu senjata pamungkas-pemanfaatan sensasi fisik dan daya tarik tubuhnya.Di kehidupan lalu, meski Maya mempertah

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 12 Maya Sang Protagonis

    Kepanikan adalah racun terbaik untuk membuat seseorang mengambil keputusan yang dungu.Maya membuktikannya hari ini. Ketakutannya yang memuncak setelah melihat perubahan total di Asteria memaksanya untuk bertindak cepat. Bagi Maya, alur cerita kehidupan pertamanya adalah kitab suci yang mutlak.Dalam ingatannya yang lalu, ia berhasil memikat hati F4 dengan satu formula sederhana: menjadi gadis polos, malang, pekerja keras, dan selalu hadir sebagai "pahlawan lembut" di saat keempat tuan muda itu membutuhkan kenyamanan emosional.Maka, ketika jam istirahat siang tiba di taman privat Asteria High, Maya memutuskan untuk menjalankan kembali taktik-taktik agresi "kepolosan"-nya secara serentak.Aku duduk

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 11 Memupuk Obsesi

    Suasana kelas unggulan Grade 12-A pagi itu terasa begitu tebal oleh ketegangan terselubung. Di ruangan bernuansa Dark Academia dengan meja-meja mahoni berukir dan jendela pualam tinggi, para pewaris tahta elit Asteria duduk di tempat mereka masing-masing.​Di barisan paling belakang, Dante Alister duduk kaku.​Pria tegap itu sama sekali tidak menyentuh buku atau penanya. Mata elangnya yang tajam—dipenuhi warna merah tipis dari malam tanpa tidur dan rasa bersalah yang menggerogoti dadanya—mengunci satu-satunya objek di dalam ruangan itu: Aurelia Celine.​Setiap helaan napasku, setiap jemariku yang memutar pena sutra, hingga pergerakan leher jenjangku tak luput dari pengawasan Dante.Pria

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 10 Sergapan di Toilet

    Sinar matahari pagi menyorot koridor lantai dua SMA Elite Asteria, memantulkan kilau kemewahan dinding pualam dan ukiran kayu mahoni. Lorong sekolah yang biasanya dipenuhi bisikan segan para siswa mendadak terasa makin mencekam pagi ini.Dante Alister melangkah dengan postur kaku. Pria berotot tegap itu mengenakan seragam resmi Asteria, namun dua kancing teratas kemeja hitamnya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan ketegangan di leher kokohnya. Lingkaran hitam tipis terukir di bawah mata elangnya—jejak nyata dari malam panjang tanpa tidur akibat mimpi liar jam dua pagi yang membakar otaknya.Sejak melangkah masuk ke gerbang sekolah, Dante berusaha keras bersikap acuh tak acuh.Dante sengaja memasang wajah dingin, tidak menyapa siapa pun, dan berusaha menghindar

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 9 Telp Tengah Malam

    Malam telah melarut di kawasan elit Asteria. Jam dinding Neoklasik di kamar utamaku menunjukkan pukul 01.45 dini hari.​Suasana kamar begitu hening dan damai. Lampu utama telah padam, hanya menyisakan pendar redup lampu tidur temaram di sudut ruangan. Aku tertidur lelap di atas ranjang king-size berseprai sutra hitam, terbungkus piyama sutra tipis berwarna krem yang lembut. Muka polosku tanpa riasan beristirahat tenang di atas bantal empuk, menikmati tidur nyenyak setelah seharian mengendalikan papan catur politik Asteria.​Drrr... Drrr... Drrr...​Getaran keras dari ponsel pribadiku di atas meja nakas mendadak memecah kesunyian malam.Drrr... Drrr... Drrr

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 8 Ring Tinju

    Suara benturan keras dari pukulan tangan berbalut handwrap yang menghantam sandsack kulit raksasa bergema memekakkan telinga di dalam Private Combat Gym Asteria High.Brak! Brak! Brak!Lantai kayu mahoni tua yang dilapisi matras hitam bergetar di setiap sabetan pukulan. Ruangan privat di ruang bawah tanah sekolah ini terisolasi total, beraroma minyak kayu cedar, kulit mahal, dan hawa panas yang membakar.Dante Alister berdiri di tengah ring tinju tanpa mengenakan atasan. Tubuh tegapnya yang dipenuhi otot padat memancar mengilap oleh lapisan keringat tipis. Dada bidangnya naik-turun memburu saat ia meluncurkan kombinasi pukulan hook dan uppercut dengan kecepatan serta kekuatan monster.Namun, gerakan tangannya tidak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status