Home / Romansa / Jeratan cinta Tuan Lucian / BAB 8: Batas yang Melanggar

Share

BAB 8: Batas yang Melanggar

Author: Pita_eom
last update publish date: 2026-09-15 18:02:45

Darah menetes dari telapak tangan Elena, membasahi kain kemeja putih Lucian saat pria itu membopongnya masuk ke dalam kamar utama mansion.

"Lucian, turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri," protes Elena pelan, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan kokoh Lucian di pinggang dan lipatan lututnya.

Lucian tidak mengindahkan protes itu sedikit pun. Wajah tampan sang CEO tampak begitu tegang, dengan rahang yang mengeras rapat. Setelah insiden penyusupan di rumah sakit dan ancaman racun lambat yang berhasil digagalkan tim keamanannya, Lucian langsung membawa Elena kembali ke mansion di bawah pengawalan tiga kali lipat lebih ketat.

Brak.

Lucian mendudukkan Elena di tepi tempat tidur king-size. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lucian berbalik mengambil kotak P3K dari dalam lemari, lalu berlutut di lantai tepat di hadapan Elena.

"Berikan tanganmu," perintah Lucian dengan suara rendah dan bernada dingin yang tak terbantahkan.

Elena tertegun melihat pria paling berkuasa di kota ini berlutut di depannya. Tangan kanan Elena yang terluka akibat goresan pecahan kaca di kamar VVIP tampak gemetar. Saat Elena mengulurkan tangannya, Lucian menyambutnya dengan sangat hati-hati—seolah jemari Elena terbuat dari kaca tipis yang mudah retak.

Lucian mengambil kapas beralkohol, lalu mengusap luka di telapak tangan Elena.

"Argh!" Elena meringis pelan, refleks mencoba menarik tangannya kembali.

Cengkeraman Lucian di pergelangan tangan Elena mengencang lembut. "Tahan. Jangan bergerak."

Lucian menunduk, meniup perlahan telapak tangan Elena untuk meredakan rasa perihnya. Embusan napas hangat pria itu menyapu kulit Elena, mengirimkan desir asing yang membuat jantung Elena berdetak tidak beraturan. Dari jarak sedekat ini, Elena bisa melihat tatapan mata Lucian yang biasanya dingin bagaikan es, kini dipenuhi oleh gejolak rasa bersalah dan kecemasan murni.

"Kenapa kamu harus bertindak sejauh itu?" bisik Elena pelan, menatap garis rahang tegas Lucian. "Kamu bisa saja menyuruh pengawalmu menyelesaikan semuanya di rumah sakit tadi. Kenapa kamu sendiri yang harus menerobos masuk?"

Lucian menghentikan gerakannya yang sedang melilitkan kain kasa di tangan Elena. Pria itu mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Elena.

"Karena jika terjadi sesuatu padamu atau adikmu di bawah pengawasanku..." suara Lucian bergetar oleh kemarahan yang tertahan, "...aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."

Elena mengernyit halus. "Kamu melakukan ini semua hanya karena perjanjian kontrak kita?"

Lucian bangkit dari posisi berlututnya, mendudukkan dirinya di samping Elena hingga paha mereka bersentuhan erat. Suasana kamar yang sunyi mendadak dipenuhi oleh ketegangan emosional yang memabukkan.

"Awalnya memang begitu," aku Lucian serak. Tangannya terangkat, jemari panjangnya menyusuri garis rahang Elena hingga berhenti di belakang leher wanita itu. "Tapi keberanianmu hari ini... caramu mempertahankan adikmu tanpa rasa takut... membuktikan padaku bahwa kamu bukan sekadar wanita yang bisa diatur lewat selembar kertas."

Dinding pertahanan dingin yang selama ini dibangun Lucian perlahan runtuh di hadapan keberanian Elena. Pria yang terkenal tak berperasaan di dunia bisnis itu kini menatap Elena dengan sorot mata penuh obsesi dan kehangatan yang tak lagi tersembunyi.

Elena merasakan tenggorokannya kering. Jarak di antara wajah mereka terkikis habis. "Lucian..."

"Jangan bicara," bisik Lucian tepat di depan bibir Elena.

Lucian menunduk, mengunci bibir Elena dalam sebuah ciuman yang dalam dan sarat akan kerinduan. Ciuman kali ini tidak lagi didorong oleh tuntutan rasa dominasi atau efek obat seperti malam pertama mereka, melainkan sebuah bentuk perlindungan dan kelembutan murni yang membakar rasa hangat di dalam dada Elena.

Elena memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran gairah tersebut. Tangannya yang tidak terluka terangkat, meremas pelan bahu kokoh Lucian saat tubuh pria itu makin merapat, mengurungnya dalam dekapan yang posesif.

Batas perjanjian dingin di antara mereka resmi melanggar malam ini, berubah menjadi ikatan emosional yang makin sulit dipisahkan.

Keesokan harinya, suasana di markas pusat Vance Group berjalan seperti biasa, namun dengan pengawasan keamanan yang diperketat.

Elena memutuskan untuk mendatangi kantor Lucian siang itu untuk menyerahkan dokumen laporan keuangan anak perusahaan Restu Perdana yang baru saja ia ambil alih. Elena melangkah melewati koridor lantai eksekutif dengan gaun blazer warna merah marun yang memperlihatkan aura Strong FL-nya secara sempurna.

Namun, saat Elena hendak mendorong pintu ruang kerja pribadi Lucian, suara obrolan dari dalam ruangan menahan langkahnya. Pintu ruangan itu rupanya sedikit terbuka.

"Tuan Vance, Anda harus memikirkan kembali posisi wanita itu," suara seorang pria asing berwibawa terdengar dari dalam. "Keluarga Restu sudah hancur. Elena tidak punya nilai tawar politik untuk mendukung posisi Anda di rapat pemegang saham bulan depan."

Elena membeku di balik pintu.

"Posisinya sebagai istriku sudah final," sahut suara Lucian dingin dan tak terbantahkan.

"Tapi media mulai menggali masa lalu kematian ayahnya!" sela pria asing itu cepat. "Devan Pratama baru saja menghubungi beberapa wartawan senior. Dia mengancam akan membocorkan rekaman suara lama yang menyebutkan bahwa Anda adalah dalang utama yang sengaja memotong jalur pinjaman bank Restu Group sepuluh tahun lalu hingga ayah Elena bunuh diri!"

Jantung Elena serasa berhenti berdetak seketika. Tangannya yang memegang map dokumen gemetar hebat.

Di dalam ruangan, Lucian menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, matanya meredup berbahaya. "Biarkan Devan bicara apa saja. Suruh tim hukum membungkamnya."

"Masalahnya bukan Devan, Tuan!" tekan pria itu lagi. "Bagaimana jika Elena menemukan bukti rekaman itu sendiri? Bagaimana jika dia tahu bahwa bantuan yang Anda berikan selama ini hanyalah cara untuk menutupi dosa masa lalu Vance Group?"

Elena membelalakkan matanya di luar pintu. Napasnya tertahan saat mendengar kenyataan tersebut.

Sebelum Elena sempat menarik diri untuk pergi dari sana, langkah kaki cepat terdengar dari arah belakang koridor. Devan melangkah menghampirinya dengan senyum sinis yang penuh kemenangan di wajahnya, memegang sebuah peranti perekam suara kecil di tangannya.

Devan membungkuk di samping telinga Elena, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh dunia Elena runtuh seketika.

"Sudah kuduga kamu ada di sini, Elena. Mau mendengar suara asli suamimu saat dia memerintahkan pembunuhan ayahmu sepuluh tahun lalu?"

[BERSAMBUNG KE BAB 9]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 7: Ancaman di Rumah Sakit

    "Kalau Anda berteriak sedikit saja, nyawa adik Anda melayang detik ini juga."Suara berat dan dingin dari pria berjas kelabu itu menghentikan napas Elena di ambang pintu ruang tamu belakang. Pria asing yang mengaku diutus oleh kakek Lucian itu memutar amplop cokelat di tangannya dengan senyum sinis.Jantung Elena bertalu keras, namun kepalanya berpikir cepat. Pria ini sengaja memanfaatkan celah di mansion saat Lucian sedang tidak ada di tempat."Kakek Lucian?" Elena melangkah satu tingkat lebih dekat, berusaha menjaga raut wajahnya tetap tenang. "Kalau Anda benar-benar orang Tuan Besar Vance, Anda tidak akan sembunyi-sembunyi bertamu lewat pintu belakang dengan memanfaatkan pelayan yang dendam."Bibir pria itu menyunggingkan seringai tipis. "Nyonya Vance yang cerdik. Tapi sayangnya, amplop ini bukan berisi ancaman palsu." Pria itu melempar sebuah foto dari dalam amplop ke atas meja.Foto itu memperlihatkan dua orang pria be

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 6: RENCANA PEMBALASAN DIRI

    Napas Elena masih memburu. Pengakuan Lucian tentang dokumen Restu Group menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mencekam di dalam ruang kerja yang remang-remang itu.Elena menatap pria di hadapannya. Manik mata sehitam malam milik Lucian tidak memperlihatkan kebohongan. Yang tersisa di sana hanyalah ketegasan murni dan aura dominasi yang tak tergoyahkan."Ayahku... menjual rahasia perusahaannya sendiri?" bisik Elena dengan suara gemetar, menahan sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Lucian menurunkan cengkeramannya di pergelangan tangan Elena, lalu mundur satu langkah untuk memberinya ruang bernapas. Ia mengambil map cokelat tua di lantai, lalu meletakkannya kembali ke dalam brankas baja di balik lukisan."Ayahmu terjerat utang judi pada konsorsium gelap sepuluh tahun lalu," ujar Lucian dengan nada suara yang rendah dan dingin. "Dia mencoba menjual dokumen paten Vance Group yang dipercayakan padanya. Aku h

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 8: Batas yang Melanggar

    Darah menetes dari telapak tangan Elena, membasahi kain kemeja putih Lucian saat pria itu membopongnya masuk ke dalam kamar utama mansion."Lucian, turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri," protes Elena pelan, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan kokoh Lucian di pinggang dan lipatan lututnya.Lucian tidak mengindahkan protes itu sedikit pun. Wajah tampan sang CEO tampak begitu tegang, dengan rahang yang mengeras rapat. Setelah insiden penyusupan di rumah sakit dan ancaman racun lambat yang berhasil digagalkan tim keamanannya, Lucian langsung membawa Elena kembali ke mansion di bawah pengawalan tiga kali lipat lebih ketat.Brak.Lucian mendudukkan Elena di tepi tempat tidur king-size. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lucian berbalik mengambil kotak P3K dari dalam lemari, lalu berlutut di lantai tepat di hadapan Elena."Berikan tanganmu," perintah Lucian dengan suara rendah dan bernada dingin yang tak terb

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 5: Benih Keraguan dan Sentuhan Panas

    Kata-kata Devan terus bergema di kepala Elena bagaikandentang lonceng kematian.Lucian Vance adalah dalang di balik kebangkrutan dankematian ayahmu.Elena berdiri membeku di balkon, membiarkan angin malammenyapu wajahnya yang mendadak pucat. Saat berbalik untuk kembali ke ballroom, Devan sudahmenghilang dalam kegelapan, meninggalkan benih keraguan yang tertancap dalam dibenaknya.Apakah perlindungan dan sikap posesif Lucian selama inihanyalah topeng untuk menutupi rasa bersalahnya? Atau lebih buruk lagi sebuahcara untuk mengawasinya agar rahasia kelam sepuluh tahun lalu tak pernahterbongkar?"Elena?"Suara berat yang familier itu memecah lamunan Elena. Lucianberdiri di ambang pintu kaca balkon, memandangnya dengan kening sedikitberkerut. Pria itu melepaskan jas mewahnya, menyampirkannya di lengan, lalumelangkah mendekat."Kenapa berdiri di luar? Udara di sini dingin,"kata Lucian. Tanpa menunggu jawaban, ia melingkarkan jasnya ke bahu Elena yangterbuka. Aroma cologne mask

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 4: Pesta Selamat Datang dan Penghinaan

    Malam ini, ballroom Hotel Grand Hyatt dipenuhi lampukristal raksasa dan alunan musik klasik. Gala bisnis tahunan Vance Groupmenjadi pusat perhatian konglomerat dan media papan atas.Di sudut ruangan, Siska berdiri bersama para wanitabangsawan dengan senyum sinis. Setelah insiden di ruang kerja malam lalu, iasengaja menyebarkan rumor bahwa Lucian membawa wanita dari kalangan bawah demimenutupi noda reputasinya.Pintu ganda ballroom mendadak terbuka lebar. Suasanariuh seketika hening.Lucian Vance melangkah masuk dalam balutan tuksedo hitambesutan penjahit Italia, memancarkan aura dominan yang membekukan. Namun, perhatian seluruh tamu justru tertuju pada wanitayang jari lentiknya melingkar anggun di lengannya.Elena Restu tampil memukau dalam gaun malam hijau zamrudberpotongan off-shoulder yang memperlihatkan leher jenjangnya. Rambut hitamnya disanggul modern, menyisakan beberapa helaidi tepi wajahnya. Ia berjalan dengan kepala tegak, menatap lurus tanpa gentarmenghadapi ra

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 3: Masuk ke Kediaman Vance

    Mansion Vance berdiri megah di perbukitan elite. Namun bagiElena, bangunan berarsitektur klasik ini tak ubahnya sangkar emas yang dingindan mematikan.Sebuah Rolls-Royce hitam berhenti di depan pintu utama.Pengawal membukakan pintu. Elena melangkah keluar dengan anggun, mengenakangaun krem polos yang memancarkan aura berwibawa. Meski tubuhnya masih lelah dan memar, ia menolak terlihatlemah."Selamat datang di Kediaman Vance, Nona Restu,"sapa Roy. "Tuan Lucian sedang di ruang kerja mengurus dokumen pengalihansaham. Beliau meminta Anda langsung menuju kamar utama."Elena mengangguk. "Bagaimana kondisi adikku?""Nona Maya sudah dipindahkan ke ruang VVIP RumahSakit Medika. Tim dokter spesialis dari Jerman sudah merawatnya. Anda tak perlukhawatir," jawab Roy tenang.Jawaban itu memberi sedikit kehangatan. Setidaknya,penderitaannya tidak sia-sia.Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Saat Elena masukke aula utama berlantai marmer putih, tiga pelayan wanita paruh baya berdi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status