Home / Romansa / Jeratan cinta Tuan Lucian / BAB 6: RENCANA PEMBALASAN DIRI

Share

BAB 6: RENCANA PEMBALASAN DIRI

Author: Pita_eom
last update publish date: 2026-09-15 18:59:18

Napas Elena masih memburu. Pengakuan Lucian tentang dokumen Restu Group menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mencekam di dalam ruang kerja yang remang-remang itu.

Elena menatap pria di hadapannya. Manik mata sehitam malam milik Lucian tidak memperlihatkan kebohongan. Yang tersisa di sana hanyalah ketegasan murni dan aura dominasi yang tak tergoyahkan.

"Ayahku... menjual rahasia perusahaannya sendiri?" bisik Elena dengan suara gemetar, menahan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 7: Ancaman di Rumah Sakit

    "Kalau Anda berteriak sedikit saja, nyawa adik Anda melayang detik ini juga."Suara berat dan dingin dari pria berjas kelabu itu menghentikan napas Elena di ambang pintu ruang tamu belakang. Pria asing yang mengaku diutus oleh kakek Lucian itu memutar amplop cokelat di tangannya dengan senyum sinis.Jantung Elena bertalu keras, namun kepalanya berpikir cepat. Pria ini sengaja memanfaatkan celah di mansion saat Lucian sedang tidak ada di tempat."Kakek Lucian?" Elena melangkah satu tingkat lebih dekat, berusaha menjaga raut wajahnya tetap tenang. "Kalau Anda benar-benar orang Tuan Besar Vance, Anda tidak akan sembunyi-sembunyi bertamu lewat pintu belakang dengan memanfaatkan pelayan yang dendam."Bibir pria itu menyunggingkan seringai tipis. "Nyonya Vance yang cerdik. Tapi sayangnya, amplop ini bukan berisi ancaman palsu." Pria itu melempar sebuah foto dari dalam amplop ke atas meja.Foto itu memperlihatkan dua orang pria be

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 6: RENCANA PEMBALASAN DIRI

    Napas Elena masih memburu. Pengakuan Lucian tentang dokumen Restu Group menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mencekam di dalam ruang kerja yang remang-remang itu.Elena menatap pria di hadapannya. Manik mata sehitam malam milik Lucian tidak memperlihatkan kebohongan. Yang tersisa di sana hanyalah ketegasan murni dan aura dominasi yang tak tergoyahkan."Ayahku... menjual rahasia perusahaannya sendiri?" bisik Elena dengan suara gemetar, menahan sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Lucian menurunkan cengkeramannya di pergelangan tangan Elena, lalu mundur satu langkah untuk memberinya ruang bernapas. Ia mengambil map cokelat tua di lantai, lalu meletakkannya kembali ke dalam brankas baja di balik lukisan."Ayahmu terjerat utang judi pada konsorsium gelap sepuluh tahun lalu," ujar Lucian dengan nada suara yang rendah dan dingin. "Dia mencoba menjual dokumen paten Vance Group yang dipercayakan padanya. Aku h

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 8: Batas yang Melanggar

    Darah menetes dari telapak tangan Elena, membasahi kain kemeja putih Lucian saat pria itu membopongnya masuk ke dalam kamar utama mansion."Lucian, turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri," protes Elena pelan, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan kokoh Lucian di pinggang dan lipatan lututnya.Lucian tidak mengindahkan protes itu sedikit pun. Wajah tampan sang CEO tampak begitu tegang, dengan rahang yang mengeras rapat. Setelah insiden penyusupan di rumah sakit dan ancaman racun lambat yang berhasil digagalkan tim keamanannya, Lucian langsung membawa Elena kembali ke mansion di bawah pengawalan tiga kali lipat lebih ketat.Brak.Lucian mendudukkan Elena di tepi tempat tidur king-size. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lucian berbalik mengambil kotak P3K dari dalam lemari, lalu berlutut di lantai tepat di hadapan Elena."Berikan tanganmu," perintah Lucian dengan suara rendah dan bernada dingin yang tak terb

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 5: Benih Keraguan dan Sentuhan Panas

    Kata-kata Devan terus bergema di kepala Elena bagaikandentang lonceng kematian.Lucian Vance adalah dalang di balik kebangkrutan dankematian ayahmu.Elena berdiri membeku di balkon, membiarkan angin malammenyapu wajahnya yang mendadak pucat. Saat berbalik untuk kembali ke ballroom, Devan sudahmenghilang dalam kegelapan, meninggalkan benih keraguan yang tertancap dalam dibenaknya.Apakah perlindungan dan sikap posesif Lucian selama inihanyalah topeng untuk menutupi rasa bersalahnya? Atau lebih buruk lagi sebuahcara untuk mengawasinya agar rahasia kelam sepuluh tahun lalu tak pernahterbongkar?"Elena?"Suara berat yang familier itu memecah lamunan Elena. Lucianberdiri di ambang pintu kaca balkon, memandangnya dengan kening sedikitberkerut. Pria itu melepaskan jas mewahnya, menyampirkannya di lengan, lalumelangkah mendekat."Kenapa berdiri di luar? Udara di sini dingin,"kata Lucian. Tanpa menunggu jawaban, ia melingkarkan jasnya ke bahu Elena yangterbuka. Aroma cologne mask

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 4: Pesta Selamat Datang dan Penghinaan

    Malam ini, ballroom Hotel Grand Hyatt dipenuhi lampukristal raksasa dan alunan musik klasik. Gala bisnis tahunan Vance Groupmenjadi pusat perhatian konglomerat dan media papan atas.Di sudut ruangan, Siska berdiri bersama para wanitabangsawan dengan senyum sinis. Setelah insiden di ruang kerja malam lalu, iasengaja menyebarkan rumor bahwa Lucian membawa wanita dari kalangan bawah demimenutupi noda reputasinya.Pintu ganda ballroom mendadak terbuka lebar. Suasanariuh seketika hening.Lucian Vance melangkah masuk dalam balutan tuksedo hitambesutan penjahit Italia, memancarkan aura dominan yang membekukan. Namun, perhatian seluruh tamu justru tertuju pada wanitayang jari lentiknya melingkar anggun di lengannya.Elena Restu tampil memukau dalam gaun malam hijau zamrudberpotongan off-shoulder yang memperlihatkan leher jenjangnya. Rambut hitamnya disanggul modern, menyisakan beberapa helaidi tepi wajahnya. Ia berjalan dengan kepala tegak, menatap lurus tanpa gentarmenghadapi ra

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 3: Masuk ke Kediaman Vance

    Mansion Vance berdiri megah di perbukitan elite. Namun bagiElena, bangunan berarsitektur klasik ini tak ubahnya sangkar emas yang dingindan mematikan.Sebuah Rolls-Royce hitam berhenti di depan pintu utama.Pengawal membukakan pintu. Elena melangkah keluar dengan anggun, mengenakangaun krem polos yang memancarkan aura berwibawa. Meski tubuhnya masih lelah dan memar, ia menolak terlihatlemah."Selamat datang di Kediaman Vance, Nona Restu,"sapa Roy. "Tuan Lucian sedang di ruang kerja mengurus dokumen pengalihansaham. Beliau meminta Anda langsung menuju kamar utama."Elena mengangguk. "Bagaimana kondisi adikku?""Nona Maya sudah dipindahkan ke ruang VVIP RumahSakit Medika. Tim dokter spesialis dari Jerman sudah merawatnya. Anda tak perlukhawatir," jawab Roy tenang.Jawaban itu memberi sedikit kehangatan. Setidaknya,penderitaannya tidak sia-sia.Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Saat Elena masukke aula utama berlantai marmer putih, tiga pelayan wanita paruh baya berdi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status