INICIAR SESIÓNAnisa dan Dimas saling memandang. Keduanya sama-sama sedikit bingung kenapa Lydia datang selarut ini.Percakapan yang beberapa saat lalu dipenuhi ketegangan pun sedikit mencair. Meski begitu, Anisa tidak berniat mundur. Dia tidak sanggup membiarkan suaminya memikul beban sebesar itu sendirian.Kalaupun dia tidak bisa banyak membantu, setidaknya dia bisa tetap berada di sisinya untuk mendengarkan."Ya, Lydia, masuklah," jawab Anisa.Entah keputusan ini benar atau tidak, tetapi sejak tadi Lydia memang gelisah. Dia sudah tidak sanggup lagi memendam semuanya sendirian."Eee ... apa aku mengganggu?" tanyanya dengan canggung. "Sebenarnya aku bisa membicarakan ini besok pagi, hanya saja ....""Nggak, sama sekali nggak," sela Dimas. "Kalian ngobrol saja dulu. Aku akan menyusul nanti.""Kalau bisa, aku ingin bicara dengan kalian berdua," kata Lydia.Anisa dan Dimas kembali saling bertukar pandang. Lydia jarang sekali mengatakan hal seperti itu."Ada apa?" tanya Anisa."Oke, tunggu sebentar," uj
Dimas terkekeh pelan. "Sudah. Tadi aku makan malam sama Alvin.""Syukurlah kamu nggak melewatkan makan malam," ujar Anisa sambil terkekeh pelan. "Kalau begitu, aku akan siapkan air hangat untuk kamu mandi.""Nggak usah," cegah Dimas dengan lembut. "Kamu pasti sudah lelah mengurus semuanya. Aku bisa mengurusnya sendiri. Duduk saja di sini dan tunggu aku."Anisa menatapnya, tidak mampu menyembunyikan rasa khawatirnya."Aku serius." Dimas mengecup keningnya. "Nikmati tehmu, Sayang. Aku nggak akan lama.""Baiklah," jawab Anisa yang akhirnya mengalah.Dia sebenarnya masih ingin mengatakan sesuatu. Namun, Dimas sudah lebih dulu berjalan menuju kamar.Anisa akhirnya mengurungkan niatnya. Beberapa hari terakhir, Dimas memang sering seperti ini. Tubuhnya ada di dekatnya, tetapi pikirannya seolah-olah berada di tempat lain.Dari luar, sikapnya memang tidak berubah. Namun, Anisa bisa merasakan beban berat yang sedang dipikulnya.Dari percakapan yang tanpa sengaja didengarnya, obrolan Dimas dengan
"Selamat malam, Grace," bisik Anisa sambil mengecup lembut kening putrinya.Dia memastikan lampu tidur memancarkan sinar yang hangat dan nyaman, mengecek apakah putrinya sudah diselimuti dengan rapi, lalu mengatur suhu ruangan agar tetap terasa hangat.Grace sudah terlelap setelah mendengarkan dongeng sebelum tidur seperti biasanya. Meski begitu, tadi dia sempat beberapa kali bertanya tentang ayahnya yang masih belum pulang.Anisa menenangkannya dengan lembut, menjelaskan bahwa ayahnya sedang sibuk bekerja. Untungnya, Grace adalah anak yang sangat pengertian, bahkan jauh lebih dewasa daripada usianya.Langkah Anisa kemudian membawanya ke kamar Jevan yang berada tepat di sebelah. Malam ini Jevan tidur lebih larut dari biasanya. Katanya, dia sempat menghabiskan waktu bersama Daniel. Mungkin membicarakan hewan peliharaan terbaru mereka.Jevan dan Daniel memang sama-sama menyukai hewan. Anisa bahkan sudah tidak bisa menghitung berapa banyak hewan yang kini berkeliaran di taman belakang.Me
Eli tidak sanggup menjawab.Jevan mengembuskan napas pendek. "Kamu nggak perlu menjawabku. Tapi dengarkan baik-baik."Dia berhenti sejenak. "Kalau lain kali kamu datang kepadaku dengan permintaan seperti itu lagi, kamu nggak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.""Aku nggak menuntut apa pun," bantah Eli dengan lirih."Tapi ucapanmu terdengar seperti tuntutan," jawab Jevan dengan tenang, tanpa sedikit pun meninggikan suara. "Seperti yang sudah kukatakan, itu bukan sesuatu yang bisa kuputuskan.""Aku nggak punya wewenang untuk itu. Kalau kamu ingin aku membantu mengatur pertemuan dengan Nenek, maaf, aku nggak bisa membantumu."Penolakan Jevan yang tegas pun membuat Eli kehilangan kata-kata. Dia hanya bisa kembali tertunduk. Dadanya terasa sesak karena kegelisahan. "Maaf kalau aku membuatmu nggak nyaman."Jevan membuka pintu mobil, lalu turun.Tindakan itu membuat Eli terpaku. Jadi ... bahkan usahanya membujuk Jevan agar mau membantunya pun gagal?Meski terasa begitu berat, Eli akhirny
"Boleh ... aku bicara sebentar denganmu?" tanya Eli segera. "Kalau kamu nggak keberatan."Jevan melirik ke sekeliling, lalu kembali menatap Eli. "Sekarang?"Dia sudah menyadari begitu banyak pasang mata yang tertuju kepada mereka. Bagaimana mungkin tidak? Eli berdiri di sana dengan mengenakan seragam Santo Loris.Sekolah itu dikenal sebagai rival terbesar Akademi Surya. Sekarang, salah satu siswinya datang menghampirinya secara langsung tanpa pemberitahuan."Kalau sekarang bukan waktu yang tepat, nggak apa-apa," kata Eli tergesa-gesa, terlihat sangat canggung.Sejujurnya, dia tidak akan melakukan semua ini jika bukan karena perintah ibunya yang terus terngiang di kepalanya."Aku bisa ....""Kamu membuat banyak orang memperhatikan kita," sela Jevan sambil mengusap keringat di wajahnya. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"Wajah Eli langsung memerah karena malu. Dia mundur selangkah sambil menunduk. "Maaf ....""Ikut denganku," ujar Jevan sambil mulai membereskan barang-barangnya.Eli berked
"Aku ... belum tahu," jawab Eli dengan hati-hati. "Nenek sedang sibuk. Setahuku, butiknya sedang memasuki musim koleksi baru.""Kamu nggak punya alasan lain?" Selly mendecakkan lidah dengan kesal. "Jawaban itu sudah pernah kamu pakai. Masa aku harus terus menerima jawaban yang sama?"Eli menelan ludah. "Aku nggak ingin mengganggunya, Bu."Selly mendengus pelan. "Mengganggunya? Kamu cucunya. Sejak kapan cucu dianggap mengganggu saat menghubungi neneknya sendiri?"Eli terdiam. Dia mengenal nada bicara itu. Ibunya sedang mendesaknya untuk kembali menemui Riana. Tidak boleh ditunda lagi, tidak boleh ada alasan lagi.Padahal Eli sudah berusaha. Setidaknya dia sudah menghubungi untuk menanyakan kabar Riana dan mencari tahu kapan Riana memiliki waktu luang."Dengar," lanjut Selly sambil melangkah mendekati Eli yang duduk di meja belajarnya. "Kesempatan nggak datang dua kali. Kamu harus makin dekat dengannya. Kalau nggak, mereka hanya akan anggap kamu sebagai tamu yang sesekali datang.""Aku s







