“Sayang, kamu menangis?”
Alana yang berdiri di pojok ruangan langsung berlari ke dekapannya. Chandra dengan cekatan memeluknya, terheran karena bahu Alana berguncang hebat.
“Apa yang terjadi?”
Alana menatapnya sejenak. Wajahnya pucat. Matanya merah. Butuh beberapa detik sebelum Alana bicara.
"Ayah… Memberiku ultimatum semalam," suaranya nyaris seperti bisikan. “Valestra Group diambang kebangkrutan. Aku ga tahu sejak kapan, Tapi tadi Ia berkata ... satu-satunya cara menyelamatkan semuanya adalah dengan menjualnya ke Ravenshade.”
Chandra mendengarkan. Napasnya mulai berubah.
Alana melanjutkan. “Tapi mereka bukan cuma mau perusahaan. Mereka mau ... aku.”
“Aku harus menjadi pendamping putra mereka, menikah dengan Brian Ravenshade sebagai bagian dari kesepakatan. Kalau nggak … Ratusan karyawan kehilangan pekerjaan.”
Alana menunduk. “Ayah bilang ini pengorbanan yang harus aku lakukan demi keluarga. Demi perusahaan. Demi semua orang.” Air matanya menetes.
Chandra mengulurkan tangan, menggenggam jemari Alana yang dingin dengan kuat.
“Alana, denger. Nggak ada siapa pun di dunia ini, yang punya hak mutusin hidup kamu,” katanya pelan, tapi pasti. “Aku ga akan ngebiarin mereka merebutmu gitu aja.”
Alana menarik napas panjang. Suaranya lebih tenang saat berkata, “Aku tahu. Kalau mereka bisa bikin keputusan seenaknya ... kita juga bisa.”
Chandra menatapnya dalam-dalam. “Apa maksudmu?”
Alana mengangguk kecil, lalu berbisik, “Kita pergi. Kita bangun hidup baru jauh dari mereka. Berdua. Kamu mau kan?”
Chandra tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan genggaman tangannya. Itu cukup.
Mereka tidak tahu ke mana atau bagaimana. Tapi yang pasti, mereka harus meninggalkan semua ini. Cinta mereka bukan bagian dari perjanjian bisnis mana pun.
Mereka tidak perlu menunggu lama, mereka segera menyusun pelarian.
“Kata ayah,” ujar Alana sambil membuka tabletnya, “Jet pribadi Brian Ravenshade dijadwalkan mendarat besok, jam dua siang. Penerbangan langsung dari Tokyo.”
Alana menatap layar tanpa benar-benar membaca isinya.
Chandra memotong. “Oke, kita pergi jam tiga sore. Saat semua perhatian mereka tertuju padanya.”
Ia menoleh, mencari reaksi Alana. “Kita jadikan ini sebagai ... simbol. Balasan atas kesemena-menaan mereka.”
“Kita ketemu dimana?” tanya Alana tegas.
Chandra tidak ragu. “Taman tempat aku nembak kamu.”
Alana mengangguk. Tidak ada pilihan yang lebih tepat. Di sana, kisah mereka bermula. Dan sekarang mereka akan memulai ulang lagi dari sana.
Malam itu Alana tidak tidur. Ia mengulang-ulang rencana di kepalanya, membayangkan setiap langkah, setiap kemungkinan. Tapi tidak sekalipun ia merasa ragu.
Pagi berikutnya, rumah terasa berbeda. Bagi Alana semuanya terasa lebih mencekam.
Ayahnya, Silvano Valestra sudah duduk di ruang makan, Ia sedang membahas detail penyambutan Brian dengan salah satu asisten yang berdiri di sisi meja. Nadanya lugas, formal, dan dingin.
Ibu dan adiknya juga ikut sarapan. Wajahnya tanpa cela, tapi mata mereka memindai Alana dari ujung rambut ke kaki.
“Tim penyambutan sudah siap di bandara,” kata Ayahnya sambil melipat koran. “Jet Brian akan mendarat tepat pukul dua siang sesuai rencana. Dia langsung ke hotel, baru kesini untuk makan malam bersama. Semuanya harus sempurna.”
Alana menahan mualnya dengan mengunyah perlahan. Ia hanya mengangguk pelan dan menelan rasa sesak yang menggumpal di dada.
Dina mengangkat wajah dari ponselnya, lalu menoleh ke arah ayahnya.
“Ayah yakin? Kak Alana kan ... sudah punya kak Chandra,” ucapnya pelan. “Kalau mau gadis Valestra, aku bersedia gantiin kakak … kalau itu bisa nyelamatin perusahaan.”
Keheningan sesaat mengisi ruang makan.
“Ini bukan tentang rela atau nggak,” kata Silvano akhirnya, “Ayah Brian sudah menyebut nama Alana sejak awal. Kita ga berada dalam posisi tawar.”
Ibunya menimpali tanpa menoleh ke siapa pun. “Lagipula ya, siapa sih Chandra? Arsitek lepas tanpa nama, masa depannya ga jelas. Dibandingkan Brian? Jauh banget lah.”
Setiap kata itu terasa menusuk Alana. Tapi juga memperkuat tekadnya.
Setelah selesai, ia berpamitan dengan alasan klien VIP ingin berkonsultasi langsung. Tidak seorang pun mempertanyakan, bahkan ayahnya hanya mengangguk sambil menatap layar ponselnya.
Ransel kecil berisi dokumen, uang tunai, dan beberapa potong pakaian sudah diselipkan ke dalam bagasi sebelumnya, lewat bantuan Riana, asisten pribadinya yang setia dan diam-diam membantu.
Alana melangkah keluar tanpa menoleh. Ia tidak menggunakan mobil pribadi. Taksi online yang ia pesan datang lima menit kemudian. Supirnya ramah, tidak banyak bicara.
Saat kendaraan itu melaju perlahan meninggalkan gerbang rumah besar yang selama ini mengurungnya, Alana tidak bisa menahan diri untuk menoleh.
Jantungnya berdebar kencang. Ada kecemasan yang tajam, menusuk, menekan.
Tapi di sela-sela itu, muncul rasa yang lain. Rasa yang belum pernah ia kenali sebelumnya. Sensasi ringan... hampir seperti terbang.
Kebebasan.
Tak lama, Sebuah pesan masuk. Alana membuka ponselnya dengan tangan gemetar yang tak ia sadari sejak tadi.
"Aku udah jalan. Bentar lagi kita ketemu ya. Aku nggak sabar."
Ia menatap kata-kata itu beberapa detik lebih lama dari yang perlu. Sebuah penegas bahwa ia tidak sendiri. Bahwa keputusannya bukan keputusasaan, tapi keberanian.
Bangku kayu di bawah pohon rindang itu masih ada, tak berubah. Tempat itu dulu menyaksikan Chandra dengan tangan gemetar menyatakan cinta untuk pertama kalinya, dan Alana menerima dengan air mata bahagia. Kini, tempat yang sama akan menyaksikan permulaan baru mereka.
Ia duduk. Punggungnya tegak, napasnya pendek-pendek. Waktu di ponselnya menunjukkan pukul dua lima puluh lima. Lima menit menuju kebebasan.
Getaran kedua datang. Alana membuka layar.
"Aku udah sampai, tinggal nyebrang ke taman."
Alana langsung berdiri. Matanya menyapu jalanan di depannya. Lalu ia melihatnya.
Di seberang jalan, Chandra melambaikan tangan. Wajahnya teduh, lega. Pandangannya tertuju padanya, utuh. Ia melangkah pelan, bersiap menyeberang saat lampu lalu lintas berubah.
Alana mengangkat tangannya setengah, bibirnya mulai tersenyum.
Tapi tiba-tiba, Suara decitan ban memecah keheningan. Tajam. Mendadak. Memekakkan.
Semua orang menoleh. Sebuah sedan melaju liar tidak terkendali. Mobil itu oleng ke arah kiri, langsung menuju trotoar tempat Alana berdiri.
Tubuh Alana membeku. Ia tidak bisa bergerak. Udara mendadak menghilang dari paru-parunya. Matanya terpaku pada mobil yang semakin mendekat. kepanikan menggulung cepat di dalam tubuhnya.
Dari seberang jalan, Chandra melihat semuanya. Sorot matanya melebar. Tangannya terangkat, dan dari jauh, berteriak.
“ALANA, AWAS!”
Ruang rapat Maxwell Capital tenggelam dalam ketegangan yang hampir bisa disentuh. Semua mata tertuju pada Clarissa. Beberapa menunggu ledakan emosi, beberapa lain berharap ia akan menyerah. Namun wajah Clarissa justru berubah. Raut tegang yang tadi menguasai garis-garis wajahnya lenyap, digantikan ketenangan yang nyaris mengintimidasi.“Anda semua benar,” katanya, suaranya mantap dan jernih. Kalimat itu bergema di ruangan yang baru saja penuh desakan. Tidak ada nada defensif, tidak ada tanda panik. “Reputasi Maxwell Capital adalah yang utama. Tak ada apapun yang sepadan dengan itu. Kita tidak boleh membiarkan gosip tak berdasar ini merusak kepercayaan.”Beberapa anggota dewan saling bertukar pandang, terkejut mendengar pengakuan yang bukan pembelaan melainkan pengendalian. Mereka bersiap mendengar penyerahan diri, tetapi yang muncul adal
Jantung Clarissa mencelos saat membaca artikel itu. Kata-kata yang tertulis seakan dirangkai dengan racun yang disamarkan sebagai analisis. Artikel itu tidak menyerangnya secara frontal, melainkan dengan gaya elegan penuh insinuasi. Fakta-fakta tentang pertemuan bisnisnya dipelintir, dipotong dari konteks, lalu digabungkan dengan gosip personal yang tak pernah ia bayangkan bisa keluar dari ruang privatnya. Di layar, dirinya tergambar sebagai wanita yang terobsesi, tidak profesional, CEO yang mempertaruhkan masa depan Maxwell Capital demi mengejar mantan kekasih.Tangannya yang berusaha menahan tablet itu bergetar. Clarissa menarik napas panjang, namun dadanya justru semakin sesak. Ia tahu cara kerja opini publik. Sekali narasi ini menempel, hampir mustahil untuk dilucuti.“Ini bukan sekadar gosip murahan,” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. “Ini eksekusi reputasi.”Asistennya masih berdiri di ambang pintu, ragu ingin bicara, namun takut menambah beban. “Nyonya Maxwell, tele
Hati nurani Clarissa akhirnya bicara dengan suara yang terlalu nyaring untuk diabaikan. Selama bertahun-tahun ia telah melatih dirinya untuk kebal, untuk tidak membiarkan rasa bersalah atau simpati menjadi beban. Namun kali ini berbeda. Ada sesuatu yang menusuknya terlalu dalam, sesuatu yang menuntut balasan.Ia berdiri di depan jendela suite yang menghadap Danau Jenewa. Air tenang membentang luas, seakan menertawakan kegaduhan di dalam hatinya. Clarissa menarik napas panjang. Ia tahu, jika ia memilih diam, ia akan selamat. Nama baiknya tetap terjaga, bisnisnya di Eropa tetap aman. Tetapi di balik semua itu, ada luka lain yang akan terus berdarah, luka pada harga dirinya sendiri.“Tidak,” gumamnya pelan, nyaris seperti doa. “Aku nggak akan dipermainkan siapa pun lagi.”Ia berbalik, langkahnya mantap menuju meja kerja. Tablet masih menampilkan dua berita dari Kaliandra, dua potongan cerita yang kini ia pahami sebagai kepingan dari permainan yang jauh lebih besar. Jemarinya berhenti di
Suite hotel itu sunyi. Dari balik jendela lebar yang terbuka ke arah danau Jenewa, air berkilau memantulkan cahaya matahari pagi yang lembut. Clarissa Maxwell berdiri mematung, lengannya terlipat di depan dada. Permukaan danau tampak tenang, kontras dengan pikirannya yang kalut.Di meja marmer dekat tempat tidurnya, sebuah tablet menyala, menampilkan dua berita utama dari Kaliandra. Keduanya tampak tak berhubungan, namun Clarissa tahu ada benang merah yang menjahit erat keduanya.Berita pertama adalah laporan tentang kecelakaan mobil yang menimpa Alana Ravenshade. Judul besar berbunyi tegas,“Pengorbanan Seorang Suami: Brian Selamatkan Istrinya dari Maut.” Foto-foto dramatis menghiasi halaman. Salah satunya menampilkan mobil yang ringsek di tepi jalan, dengan api masih menjilat kap mesin. Dalam foto lain, tubuh Brian tampak ditopang oleh paramedis, wajahnya dipenuhi darah, tetapi tangannya tetap menggenggam erat tangan Alana.Clarissa menarik napas panjang, menelusuri ulang berita it
“Bukan hanya itu,” kata Brian, suaranya datar tapi tegas, matanya tak beranjak dari grafik yang terus merosot. “Dia mempertaruhkan reputasinya. Dan sekarang… dia kehilangan semuanya. Apalagi dia melakukannya dengan dana perusahaan. Itu tidak akan pernah dimaafkan.”Alana menatapnya, ada rasa lega sekaligus ketegangan baru. Mereka tahu pukulan ini bukan sekadar soal uang. Reputasi Leo di mata keluarganya, di mata ayah mereka, telah hancur berantakan.Di kantor Leo, telepon meja berdering lagi. Nada yang menusuk, berulang-ulang, seakan menjadi pukulan tambahan ke dadanya yang sudah penuh sesak. Dia melirik ID penelepon.Darahnya langsung terasa membeku. EDGAR RAVENSHADE.Jari-jarinya gemetar saat ia mengangkat gagang telepon. Ia bahkan tak sempat membuka mulut ketika suara itu datang, datar, berat, dingin.“Ke ruanganku. Sepuluh menit lagi.”Klik. Sambungan terputus. Tak ada teriakan. Tak ada amarah yang meledak-ledak. Tapi bagi Leo, itu jauh lebih buruk.Ia berdiri terpaku di ruangann
Keesokan paginya, langit masih kelabu di atas kota, seolah enggan memberi cahaya.Di penthouse, Alana dan “Brian” sudah terjaga sejak lama. Tidak ada tidur yang bisa meredakan adrenalin malam sebelumnya. Mereka duduk di ruang tengah yang remang-remang, lampu gantung sengaja tidak dinyalakan.Satu-satunya cahaya berasal dari layar laptop di meja, menampilkan angka hitung mundur, 00:14:32, kurang dari lima belas menit waktu tersisa sebelum pasar Tokyo dibuka.Alana menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin, matanya terpaku pada angka-angka yang terus berkurang. “Aku deg-degan banget, kayak lagi ada di pinggir jurang,” gumamnya pelan.“Brian” hanya mengangguk, rahangnya tegang. “Ya, Sekarang tinggal lihat siapa yang jatuh lebih dulu.”Suara ping terdengar. Layar menyala, menampilkan wajah Rayhan yang bergabung lewat panggilan video. Berbeda dengan keduanya, ekspresinya tetap tenang, seolah ini hanya rutinitas pagi biasa.“Siaran pers sudah dikirim ke semua media finansial utama di Asia