共有

Aksara Kuno

作者: Meymei
last update 公開日: 2026-03-14 09:11:15
Pagi itu, sinar matahari menembus kaca jendela gedung pencakar langit milik Adrian Laksmana. Di lobi utama, para karyawan tampak lebih tenang dari biasanya. Kedatangan Adrian yang menggandeng mesra istri kecilnya yang bercadar membuat suasana yang biasanya tegang menjadi lebih luwes. Tidak ada bentakan, tidak ada revisi mendadak, bahkan aura dingin Adrian sedikit mencair. Bagi mereka, Yasmina adalah penyejuk hati sang atasan.

Adrian tidak memedulikan tatapan kagum maupun penasaran para bawahann
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Jiwa yang Berbeda   Muara dari segala Aliran Waktu

    Sepuluh tahun telah berlalu sejak badai fitnah terakhir yang mencoba meruntuhkan pondasi keluarga mereka. Di halaman belakang kediaman Adrian dan Nafisa yang asri di pinggiran Yogyakarta, angin sore berhembus membawa aroma melati yang mekar dan mawar dengan sempurna. Keheningan yang ada bukanlah sunyi yang hampa, melainkan keheningan yang penuh dengan rasa syukur; sebuah muara dari perjalanan panjang dua jiwa yang pernah terlempar melintasi batas dimensi.Hari itu adalah hari yang istimewa. Meja panjang yang ada di teras halaman belakang telah ditata dengan berbagai hidangan tradisional. Nafisa, yang kini telah menginjak usia kepala lima namun tetap memancarkan aura ketenangan yang luar biasa, sedang merapikan piring-piring. Gerakannya masih selembut dahulu, namun ada kemantapan yang lebih dalam di setiap langkahnya."Mereka sudah sampai di gerbang depan, Sayang!" seru Adrian dari arah beranda.Adrian, dengan rambut yang kini memutih secara terhormat di bagian pelipisnya, melangkah m

  • Jiwa yang Berbeda   Fitnah dan Keteguhan Hati

    Dunia digital adalah pedang bermata dua, dan Siska tahu benar cara mengayunkannya untuk melukai. Hanya berselang dua puluh empat jam setelah keributan di panti asuhan, sebuah video berdurasi sepuluh menit muncul di berbagai platform media sosial. Dalam video tersebut, Siska tampil dengan wajah yang sengaja dibuat pucat, rambut yang sedikit berantakan, dan air mata yang mengucur deras."Saya hanya seorang ibu yang baru saja menebus kesalahan saya di penjara," isak Siska di depan kamera. "Tapi saat saya keluar, saya mendapati anak saya, telah dicuci otaknya oleh Nafisa. Dia menggunakan alasan masuk pondok untuk menjauhkan darah daging saya sendiri. Sekarang anak saya menolak saya. Tolong saya, netizen... Nafisa dan Emran pemilik `Banyu Grafika telah merampas segalanya dari saya, termasuk hak saya sebagai ibu."Video itu meledak. Dengan algoritma yang haus akan drama, pengakuan Siska menjadi viral dalam hitungan jam. Tagar #KeadilanUntukSiska dan #BoikotBanyuGrafika mulai bermunculan. N

  • Jiwa yang Berbeda   Badai Masa Lalu

    Satu minggu pertama tanpa Dion adalah waktu yang terasa berjalan merangkak bagi Nafisa. Setiap kali ia melewati kamar putra sulungnya itu, ia secara otomatis akan berhenti, berharap melihat senyuman Dion atau sekadar melihat tumpukan buku sekolah yang biasanya berserakan. Rumah terasa begitu luas dan sunyi, meskipun Arlan tetap berusaha meramaikan suasana dengan mainan robot-robotannya.Namun, di sore hari yang teduh, saat Nafisa sedang merapikan taman belakang, ponselnya bergetar. Panggilan dari nomor asing tertera di layar. Panggilan itu masuk di nomor pribadinya, tak banyak yang tahu kecuali sangat penting. Dalam hati ia bahkan berharap Dion yang menghubunginya. Dengan jantung yang berdebar kencang, Nafisa segera menggeser tombol hijau."Assalamu’alaikum, Mama..."Suara itu. Suara yang sedikit parau namun terdengar lebih mantap dari biasanya. Air mata Nafisa langsung menggenang tanpa permisi."Wa’alaikumsalam... Dion? Ini kamu, Sayang?" suara Nafisa bergetar hebat."Iya, Ma. Ini Di

  • Jiwa yang Berbeda   Estafet Cahaya dan Sebuah Keikhlasan

    Keputusan itu datang pada suatu sore yang tenang, saat semburat cahaya oranye matahari terbenam membasuh gazebo rumah mereka. Dion, yang kini telah menunjukkan guratan kedewasaan di wajah remajanya, duduk bersimpuh di hadapan Emran dan Nafisa. Tidak ada gadget di tangannya, tidak ada pula permintaan tentang hadiah ulang tahun. Yang ada hanyalah sebuah tekad yang telah ia simpan rapat-rapat selama berbulan-bulan."Mama, Papa... Dion sudah memantapkan hati. Dion ingin melanjutkan sekolah ke Pondok Pesantren di Jawa Timur," ucapnya dengan suara rendah namun stabil.Nafisa, yang sedang menuangkan teh, tertegun. Cangkir porselen di tangannya berdenting pelan saat bersentuhan dengan meja."Jawa Timur, Sayang? Itu sangat jauh. Kenapa harus ke sana? Di sini juga banyak pondok yang bagus, atau kita bisa panggil ustadz terbaik ke rumah untuk privat."Dion menggeleng pelan. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang membuat Nafisa teringat pada keteduhan yang sering ia liha

  • Jiwa yang Berbeda   Kabut Dieng dan Janji di Atas Awan

    Waktu mengalir seperti sungai yang tenang di kediaman Emran dan Nafisa. Kehidupan mereka telah mencapai titik keseimbangan yang sempurna. Banyu Grafika kini berdiri sebagai mercusuar industri kreatif di Yogyakarta, sementara Yayasan Aimallah terus menebar manfaat hingga ke pelosok desa. Namun, di balik semua kesuksesan profesional itu, kebahagiaan sejati mereka justru terpancar dari riuh rendah suara di meja makan setiap pagi.Dion telah tumbuh menjadi remaja awal yang cerdas dan penuh pengertian, sementara Arlan, si bungsu yang lincah, menjadi magnet keceriaan bagi siapa pun yang memandangnya. Nafisa, yang kini memasuki usia matang, tetap memancarkan kecantikan yang teduh; sebuah kecantikan yang lahir dari jiwa yang telah selesai dengan masa lalunya.Menjelang ulang tahun Nafisa yang ke-40, Adrian merencanakan sesuatu yang berbeda. Ia tidak ingin pesta mewah atau perhiasan mahal. Ia merindukan waktu berdua. Ia merindukan percakapan panjang tanpa interupsi tentang tugas sekolah atau l

  • Jiwa yang Berbeda   Kepulangan Sang Musafir Waktu

    Langit di atas Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) tampak muram, diselimuti mendung abu-abu yang seolah ikut merasakan duka yang merayap di bumi Kulon Progo. Angin laut selatan berhembus kencang, membawa aroma garam dan tanah basah, menyambut kedatangan sebuah pesawat kargo yang membawa peti jenazah berselimut kain hijau dengan bordir kaligrafi emas.Fatih telah berpulang. Ia menghembuskan napas terakhirnya di usia 63 tahun, meninggalkan dunia yang pernah begitu keras menempa jiwanya. Penyakit jantung yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat akhirnya menjemputnya di suatu sore yang tenang di Jakarta. Ia pergi dengan senyum tipis, seolah telah menyelesaikan seluruh kontraknya dengan kehidupan.Jasmine Aurora turun dari pesawat dengan langkah yang gontai. Wajahnya yang dulu penuh energi kini tampak layu, sembab oleh tangisan yang tak kunjung usai. Di belakangnya, Adrian dan Nafisa melangkah dengan khidmat. Mereka sengaja terbang ke Kalimantan segera setelah mendengar kabar duka itu

  • Jiwa yang Berbeda   Ambisi dan Keajaiban

    "Bi, tolong sampaikan ke Ayah, kalau beberapa hari ke depan Yasmin menginap di rumah sakit, ya," ucap Yasmin pelan sambil membenahi letak ransel di bahunya. Ia menatap Ratih yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan sendu. Meski jiwanya bukan lagi milik Jasmine yang malang, Yasm

  • Jiwa yang Berbeda   Luka Tak Kasat Mata

    Beberapa hari telah berlalu sejak Yasmin terbangun dalam raga yang bukan miliknya. Rutinitas barunya sebagai "Jasmine" mulai terasa akrab di kulit, meski di dalam lubuk hatinya, kehampaan tetap bertahta. Setiap kali ia menatap langit senja dari jendela kamar, kerinduan

  • Jiwa yang Berbeda   Takdir yang Tak Terelakkan

    Yasmin menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya yang seolah ingin meledak. Ia berdiri di tengah kamar yang asing, menatap pantulan dirinya yang kini terlihat jauh lebih muda, namun menyimpan beban yang begitu berat. Pikirannya melayang pada kehidupannya yang asli, sebagai ibu rum

  • Jiwa yang Berbeda   Raga Asing dan Janji yang Terbelenggu

    Harum lavender dan melati samar-samar menyapa indra penciuman Yasmin saat kelopak matanya perlahan terbuka. Sensasi pertama yang ia rasakan bukanlah kehangatan selimut miliknya, melainkan udara yang terasa lebih dingin dan asing. Ia tidak menemukan langit-langit kamar putih dengan retak

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status