LOGINPagi itu, suasana rumah Opa Hartono kembali ramai dengan suara semangat yang nggak kira-kira.
“Kalian akan bulan madu ke Turki! Tiket udah Opa siapin, hotel udah dipesan, koper tinggal angkut. Gimana? Senang nggak?” Opa Hartono menyeringai lebar sambil mengangkat dua lembar tiket pesawat. Anaya melongo, Raka mendesah. “Opa... kita nikahnya nikah kontrak lho, bukan ikut kuis jalan-jalan gratis.” “Ssst! Jangan rusak suasana!” Opa pura-pura nggak dengar. Di Kamar, setelah segala rencana Opa. Anaya duduk di ranjang sambil menatap tiket yang sekaranf sudah di tangan mereka. “Mas…” katanya pelan. Raka menoleh. “Hm?” “Gimana kalau... tiket ini kita jual aja?” Raka nyaris keselek udara. “Apa?!” “Iya, kita bisa dapat duit lumayan! Terus tinggal pura-pura upload foto di Turki pakai AI, kan banyak sekarang…” Raka menggeleng pelan, lalu tertawa. “Kamu ini ya... yang paling semangat teriak ‘nikah kontrak’, tapi malah paling niat ngakalin semuanya.” “Lho, ini kan buat apa. nggak ada gunanya. Kita realistis dong, Mas.” Raka menggeleng lembut. “Aku nggak butuh bulan madu. Bukan buat malam pertama atau semacamnya tapi... aku pengen punya waktu buat kenal kamu lebih dalam.” Anaya diam. Raka terlihat lebih dewasa saat bicara serius. "Kenapa sih kadal buntung ini kadang bisa bikin jantungku nggak stabil?" bisiknya dalam hati. Keesokan harinya – Di Bandara Internasional Istanbul, Turki Angin dingin menyapa kulit mereka saat keluar dari bandara. Langit cerah, dan udara khas Eropa mulai menusuk lembut di kulit. Anaya menggeliat kecil sambil memeluk jaket. Lalu, ia mendekat ke Raka… sangat dekat… hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga suaminya. “Mas… Mas…” bisiknya pelan. Raka yang sedang fokus lihat G****e Maps, langsung kaku. Jedag. Jeduk. Sensasi hangat menjalar dari telinga sampai leher. “Kalau nanti aku diem aja... maaf ya. soalnya aku nggak bisa bahasa Turki. Bahasa Inggris aja terbata-bata... Bahasa Betawi sih bisa, Mas.” Raka melirik geli. “Selain itu bisa bahasa apa lagi?” Anaya mendekat lagi, kali ini lebih nakal, bibirnya masih di dekat telinga suaminya. “Bahasa isyarat...” Ia cekikikan sendiri sambil memegang pegelangan tangan Raka. “Sama bahasa tubuh, Mas. Hehe ...” Raka terdiam. Wajahnya memerah setengah geli, setengah... deg-degan. “Eh kamu... ini tempat umum, loh…” Tapi senyumnya nggak bisa disembunyikan. Mereka berjalan menyusuri jalanan Istanbul. Langkah pelan, suara tawa pelan, dan… kedekatan yang mulai terasa nyata. Hari ketiga di Istanbul. Langit sore berwarna keemasan. Aroma roti panggang dan teh apel menyeruak dari kios-kios di sekitar Grand Bazaar, tapi Anaya justru merasa... gelisah. Meski tempat-tempat wisata di Turki begitu indah, tapi... “Aku ngerasa kayak alien, Mas,” gumamnya sambil menarik lengan Raka. “Kenapa?” tanya Raka, tetap santai berjalan. “Aku nggak ngerti mereka ngomong apa. Semua orang terdengar keren, cuma aku yang plonga-plongo.” Raka menoleh dengan senyum geli. “Bukannya kamu jago debat di kampus?” “Itu kan pakai bahasa Indonesia... bukan Turki! Aku bahkan bahasa Inggris aja ngos-ngosan!” Mereka berhenti di pelataran luar Blue Mosque. Langit makin cantik. Orang-orang sibuk ambil foto. Anaya menarik napas, lalu berbisik pelan, lagi-lagi ke telinga Raka. “Mas... kalau ‘apa kabar’ dalam bahasa Turki itu apa?” “Nasılsın,” jawab Raka. “Kalau ‘senang bertemu denganmu’?” “Tanıştığıma memnun oldum.” “Kalau ‘aku tersesat dan ingin pulang ke Indonesia’?” “Sasetin kafası karışık,” kata Raka sambil menahan tawa. Anaya menyipitkan mata curiga. “Itu artinya apa?” Raka mengangkat bahu. “Coba tanya orang sini, kalau berani.” “Ish! Mas ini nyebelin!” Mereka duduk di bangku taman, menatap air mancur dan pepohonan yang mulai menggugurkan daun. Anaya sibuk menggerutu soal rute jalan, sedangkan Raka... justru terdiam lama. Matanya terpaku pada wajah Anaya, pipinya yang kemerahan tertiup angin, dan matanya yang berbinar penasaran, serta gaya bicara yang cerewet tapi manis. “Cantik banget…”pikir Raka. “Apa iya ini istri kontrakku?” Raka tersenyum kecil, lalu menunduk ke arah Anaya. Dengan suara pelan dan penuh makna, ia berbisik dalam bahasa Turki: “Sana ilk günden beri âşığım.” Anaya menoleh cepat. “Eh? Tadi Mas bilang apa?” Raka masih tersenyum, ekspresi jahilnya muncul. Artinya... Kemasan Saset, kamu jelek sekali.” “APA?!” Anaya mendelik, langsung mengambil botol air minum dan mengangkatnya. “Sini kepala Mas aku pukul. biar rusak tuh lidah!” Raka kabur sambil tertawa. “Heh! Nanti kucek di G****e Translate loh!!” “Silakan, Saset!” ** Hari kelima di Turki. Hari terakhir mereka di Istanbul sebelum kembali ke Indonesia. Anaya dan Raka tengah duduk di kafe pinggir jalan, menikmati kopi Turki dan baklava. “Enak juga ya hidup begini,” gumam Anaya. “Cuma duduk, makan manis-manis, dan... jalan jalan bareng suami kontrak.” Raka tertawa kecil. “Nikah kontrak nggak seburuk yang kamu bayangin, kan?” Anaya hendak menjawab, tapi suaranya tercekat karena wajah Raka tiba-tiba berubah. Mata pria itu tertuju pada seorang wanita yang baru masuk kafe. Rambutnya cokelat panjang, jaketnya elegan. Wanita itu menoleh, dan... “Raka?” Suara lembut itu langsung menggetarkan suasana. “Lara?” jawab Raka, setengah kaget. Anaya hanya bisa melirik cepat ke arah wanita itu. Cantik, matang, dan jelas... punya sejarah. "Mampus... mantannya?" batin Anaya. Lara duduk tanpa diminta. Ia tak menggubris Anaya, seolah menganggapnya asisten pribadi Raka. “Aku enggak nyangka ketemu kamu di sini. Masih suka teh melati?” “Sekarang lebih suka teh jahe,” jawab Raka sambil melirik Anaya sekilas. “Kamu ke sini sama siapa?” tanya Lara, manja. “Sama istri,” jawab Raka datar. Lara menoleh ke Anaya, matanya menelusuri dari atas sampai bawah. “Oh… kalian sudah menikah toh. Lucu juga. Muda banget ya.” Anaya tersenyum manis. “Iya. Aku juga kaget bisa nikah sama orang sepopuler Mas Raka.” Lara tersentak, tapi tetap tersenyum palsu. Setelah Lara pamit, Anaya terdiam cukup lama. Raka memecah hening. “Itu mantan aku waktu kuliah di sini. Dulu kami hampir tunangan.” Anaya pura-pura cuek. “Kok putus?” “Karena aku sadar, yang bikin hati tenang bukan yang sempurna, tapi yang... bikin hidup jadi rame.” Anaya menoleh. “Mas baru nemu itu dari quote I*******m?” Raka tertawa tapi matanya tetap menatap Anaya. “Nggak. Aku baru sadar waktu lihat kamu... lagi nggoreng telur ceplok gosong kemarin.” Anaya memukul lengannya. ***Anaya duduk di sofa ruang tengah, matanya tak lepas menatap Raka yang sedang menimang Raya.Bayi kecil mereka yang baru beberapa minggu lahir tampak nyaman di pelukan ayahnya. Setiap kali Raka berbicara lembut, bayi itu tampak menenangkan diri.Anaya tersenyum, merasa hangat sekaligus terharu melihat suaminya yang dulu dikenal serius dan kadang kaku, kini berubah total menjadi ayah yang penyayang, sabar, dan lembut.“Mas… makasih ya udah jadi papa terbaik buat Raya,” bisik Anaya pelan, suaranya hampir tercekat oleh perasaan haru.Raka menoleh, wajahnya yang biasanya penuh tawa kini serius tapi hangat.“Sayang… aku cuma ngelakuin apa yang aku rasain. Aku nggak bisa bayangin kalau nggak ada aku di samping kalian berdua,” jawabnya sambil menepuk lembut kepala Raya.Anaya menunduk, memandang suaminya dengan mata berbinar. Ia merasa jatuh cinta lagi, tapi kali ini cintanya lebih dalam dan tenang.Setia
Malam itu sunyi, hanya terdengar suara angin dan detak jam dinding di kamar Raya.Matahari sudah lama tenggelam, tapi bagi Raka dan Anaya, malam masih penuh dinamika. Tepat tengah malam, suara tangisan kecil dari kamar bayi terdengar.Kali ini bukan tangisan biasa Raya bangun dengan suara yang nyaring, menandakan ingin sesuatu.Raka yang sudah berpengalaman beberapa malam terakhir langsung duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya yang masih sedikit mengantuk.“Tenang, Sayang… Papa siap,” gumamnya pada Anaya yang ikut terbangun. Anaya masih setengah terpejam, rambut acak-acakan, tapi matanya berbinar menatap suami.Dengan sigap, Raka mengambil bayi mungil itu dari crib. Raya yang masih merengek digendongnya dengan hati-hati.“Sabar ya, Nak… papa udah jago sekarang,” kata Raka sambil menepuk punggung Raya lembut.Anaya tertawa kecil dari samping.“Mas… serius jaga? Aku takut liat
Suasana di rumah Raka terasa hidup sekali pagi itu. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menyoroti ruang keluarga yang dipenuhi mainan bayi, boneka, dan selimut lembut.Raya, bayi perempuan mungil yang baru berusia beberapa bulan, tengah terbaring di bouncer-nya, matanya yang bulat mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu.Anaya duduk di sofa, masih sedikit mengantuk tapi tersenyum lembut melihat tingkah anaknya. Ia mengusap lembut rambut Raya, yang sesekali menggerakkan tangan mungilnya seolah ingin meraih dunia.“Tuh kan, manis banget,” kata Anaya sambil tersenyum,“kayak mamanya, polos dan lugu.”Raka yang duduk di sampingnya ikut tersenyum, tapi matanya tak bisa lepas dari bayi mungil itu.“Iya, tapi jangan lupa, dia juga ada darah bandel papanya,” godanya sambil mengedip nakal ke arah Anaya.Belum sempat Anaya menanggapi, terdengar ketukan di pintu. Mama Anaya masuk dengan senyum lebar, diikuti Papa Anaya yang tampak b
Malam itu, rumah Raka–Anaya tampak semakin hidup dari biasanya.Lampu-lampu hangat menyoroti ruang tengah yang penuh dengan tawa, suara canda, dan aroma makanan ringan yang baru saja disiapkan oleh Bik Onah.Di tengah keramaian, Opa Hartono berdiri sambil menggendong Raya dengan penuh perhatian. Tangannya yang sudah keriput namun lembut itu menahan tubuh kecil bayi perempuan mereka, sementara matanya menatap penuh kasih sayang.“Cicit sayang…” suara Opa terdengar lembut namun bersemangat, seolah bayi mungil itu benar-benar mengerti setiap kata yang diucapkannya.“Kamu harus tau ya… karena campur tangan Opa, mama dan papamu bisa bersatu. Jadi, kamu lahir di keluarga yang penuh cinta ini.”Raka berdiri di samping, menatap ayahnya dengan wajah setengah geli, setengah terharu.“Opa… jangan terlalu lebay. Nanti Raya jadi terbiasa sama drama keluarga besar kita,” ujarnya sambil terseny
Malam itu suasana di rumah Hartono terasa hangat luar biasa.Lampu gantung di ruang keluarga menyala lembut, memantulkan bayangan hangat ke dinding, sementara aroma kue hangat dari dapur membuat semua orang merasa nyaman.Opa Hartono duduk di sofa, Raya kecil dalam pelukannya, tertawa kecil sambil mengangkat tangan mungilnya.“Nah kan… berkat opa, kalian punya cicit cantik sekarang!” serunya dengan suara keras namun hangat.Tawa lebar langsung pecah di seluruh ruangan. Raka yang duduk di samping Anaya ikut tersenyum lebar, memandang putrinya yang lucu sambil menggeleng.“Opa… keterlaluan deh. Tapi… iya, makasih, Opa,” Anaya berkata, pipinya memerah.Bik Onah dan sopir yang biasa ikut menjaga rumah pun ikut tertawa. Mereka melihat Raka dan Anaya yang sibuk bergantian menatap Raya, sementara Opa sesekali menggelitik pipi cucunya.“Aduh, lihat ini, imut banget! Opi seneng banget!” Opa berseru sambil tertawa ngakak.Raka menghela n
Suasana sore itu begitu hangat. Matahari mulai condong ke barat, menebarkan cahaya keemasan melalui jendela ruang keluarga besar, sementara tawa dan obrolan hangat masih mengisi udara.Raya tidur di gendongan Anaya, yang duduk di sofa dengan Raka di sampingnya.Semua anggota keluarga berkumpul, mulai dari Opa Hartono dan Ibu, hingga Pak Herlambang dan Bu Nia, orang tua Anaya. Bahkan sepupu-sepupu Raka ikut menyela dengan komentar kocak mereka.Tiba-tiba, Opa Hartono yang sejak tadi duduk sambil menimang Raya berdiri dan menepuk tangan.“Baiklah, sepertinya momen ini tepat untuk aku buka rahasia lama,” ujarnya sambil tersenyum misterius. Semua mata tertuju padanya, termasuk Raka dan Anaya yang saling berpandangan, penasaran.Ibu Hartono menimpali dengan senyum kecil,“Iya, ini sebenarnya sudah lama ingin kami ceritakan. Semuanya bermula dari ide gila Opa…” Suara Ibu sedikit serak menahan tawa, membuat semua oran







