Partager

Bab 160

Auteur: Mita Yoo
last update Date de publication: 2026-10-12 22:06:26

Arumi menatap penginapan di hadapannya. Bangunan sederhana yang terdiri dari dua lantai, dengan cat putih yang mulai kusam, dan papan nama kayu bertuliskan “Penginapan Dermaga Indah” di atas pintu masuk.

Motor Elang berhenti tepat di halaman yang ditumbuhi rumput liar. Suasana pinggiran kota terasa asing bagi Arumi. Terdengar bising, ramai, dan tidak ada sawah hijau yang membentang.

“Arumi, untuk sementara kita menginap di sini dulu. Sambil nanti nyari kontrakan atau rumah baru untuk kita,” kat
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 175

    Arumi yang setengah tertidur, mendengar gumaman itu. Ia membuka mata, menatap Elang yang masih terlelap. “Mas?” bisiknya. Namun Elang sama sekali tidak terbangun. Ia hanya memeluk Arumi lebih erat, lalu kembali bernapas dengan teratur. Arumi menatap langit-langit, mencoba mencerna kata-kata Elang. “Orang yang aku sayangi?” Siapa yang Mas Elang maksud? Arumi tidak bisa bertanya. Ia hanya kembali menutup matanya, berharap besok akan menjadi hari yang lebih baik. Esoknya, Elang bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan sederhana. Dua porsi nasi goreng dan telur dadar—sementara Arumi masih tertidur. Setelah semuanya siap, ia membangunkan istrinya dengan lembut. “Dia nyenyak banget tidunya,” gumam Elang mengusap pipi Arumi. Ia lalu mendekat dengan lembut, “Arumi, bangun. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.” Arumi mengucek mata, duduk di kasur. “Ke mana, Mas?” “Kamu akan tahu nanti. Ayo, sarapan dulu.” Mereka sarapan bersama, meskipun Arumi masih sedikit bingung. Setelah selesai, El

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 174

    Elang masuk, matanya menyapu ruangan. Di sudut, ia melihat Arumi terikat di kursi, matanya merah, sumpal di mulutnya. Di seberang, Riyono berdiri dengan rokok di tangan, terkejut melihat Elang. “Elang!” Riyono melempar rokoknya, tangannya meraih pistol di pinggang. Tapi Elang sudah bergerak. Ia menerjang Riyono, menendang pistol itu dari tangannya. Pistol itu jatuh, meluncur ke sudut ruangan. “Bapak bilang aku harus datang,” kata Elang, napasnya berat. “Aku datang sekarang.” Riyono tertawa, meskipun wajahnya pucat. “Kau bodoh, Elang. Kau pikir bisa menyelamatkan istrimu sendirian?” “Aku tidak sendirian.” Pintu depan gudang terbuka dengan keras. Sardi dan polisi yang menyamar masuk, pistol terhunus. “Saudara Riyono, Anda ditahan atas tuduhan penculikan dan percobaan pembunuhan.” Riyono terbelalak. Ia menatap Elang, lalu ke pintu, lalu ke Arumi yang masih terikat. Wajahnya berubah pasrah. “Kamu ... kamu memang keras kepala, Elang.” Elang tidak menghiraukan perkataan itu. Ia be

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 173

    Riyono tertawa dari seberang telepon. “Mungkin. Tapi kau punya waktu sampai besok pagi. Kalau tidak, kau tidak akan pernah melihat Arumi lagi.”Telepon terputus. Elang menatap ponselnya, lalu menekan nomor polisi lagi.“Pak, saya tahu siapa yang menculik istri saya. Ayah saya sendiri, Riyono.”“Baik, Pak. Kami akan segera melacaknya,” sahut petugas di telepon.Elang menutup telepon. Ia menatap ke luar jendela, ke jalanan yang mulai gelap. “Arumi, bertahanlah. Aku akan datang.”Di gudang tua di pinggir kota, Arumi terbangun dengan kepala berdenyut. Tangannya terikat, mulutnya disumpal. Ia melihat Riyono berdiri di depannya, tersenyum tipis.“Selamat datang, Arumi,” kata Riyono. “Kita akan menunggu suamimu datang.”Arumi mencoba berbicara. Namun, suaranya tertahan. Mulutnya disumpal dengan kain kotor yang berbau apek, membuatnya hampir muntah.Tangannya terikat ke belakang dengan tali tambang yang kasar, menggores kulit pergelangannya. Kakinya juga diikat ke kaki kursi kayu tua yang ber

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 172

    Riyono tidak bergeming. “Gatot hanya korban keadaan. Dia disuruh oleh seseorang. Dia bukan pelaku utama.”“Siapa yang menyuruhnya?!” Elang melangkah maju, wajahnya memerah karena amarah. “Bapak, ‘kan? Apa Bapak juga yang menyuruhnya membunuh Rina?”Riyono tersenyum tipis—senyum yang membuat darah Elang semakin mendidih. “Kamu terlalu cepat menyimpulkan, Elang. Aku hanya ingin keadilan. Gatot punya keluarga. Dia punya anak. Kamu tega membiarkan dia membusuk di penjara?”“Keadilan?” Elang tertawa pahit.“Keadilan macam apa yang Bapak maksud? Rina dibunuh dengan kejam! Dia disiksa! Dia diperlakukan seperti binatang! Dan Bapak bicara tentang keadilan untuk Gatot?”Arumi yang berdiri di belakang, menggenggam lengan Elang erat. Ia bisa merasakan tubuh suaminya gemetar. “Mas, tenang …” bisiknya.Elang menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia menatap Riyono dengan tatapan yang tidak lagi mengenal rasa hormat. “Bapak, dengarkan. Aku nggak akan membebaskan Gatot. Dia sudah membunuh k

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 171

    Pemakaman Rina berlangsung sakral. Langit pagi itu berwarna kelabu, seolah ikut berduka. Awan tebal menggantung di atas pemakaman umum desa Kanigara, menutupi sinar matahari yang biasanya terik.Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga-bunga yang diletakkan di atas pusara. Elang berdiri di depan liang lahat, tubuhnya tegap tetapi bahunya turun.Arumi berada di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Di belakang mereka, Sardi, Nining, Bibi Siti, Pak Darman, dan beberapa tetangga berdiri dengan kepala tertunduk. Seorang pendeta memimpin doa, suaranya pelan tapi jelas, mengiringi kepergian Rina.“Tuhan, terimalah hamba-Mu ini dalam kedamaian abadi. Ampuni segala dosanya, dan terimalah dia di rumah-Mu yang kekal. Amin.”Elang menutup matanya. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi pipinya yang pucat. Ia tidak menyekanya. Ia membiarkan air mata itu mengalir, seperti sungai yang akhirnya menemukan muaranya.“Selamat jalan, Mbak,” bisiknya. “Aku akan selalu ingat Mbak. Te

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 170

    “Aku mau cerita. Ayahku … dia pernah mengurung aku di gudang. Di dalamnya banyak tikus. Aku masih kecil, aku nggak bisa keluar. Aku teriak, tapi nggak ada yang dengar. Sejak itu, aku takut sama tikus.” Mereka pulang dengan langkah ringan. Di rumah, Oren dan Salju menyambut dengan gembira. Arumi memasak makan siang yang lezat, dan mereka makan bersama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada ancaman yang menggantung di udara. Malam itu, setelah kepergian Wirsa, Elang dan Arumi duduk di ruang tamu. Lampu meja menyala redup, menciptakan cahaya keemasan yang hangat. Oren dan Salju sudah tertidur di sudut ruangan, sementara di luar, angin malam berdesir pelan. Elang menggenggam tangan Arumi, jempolnya mengusap punggung tangan istrinya pelan. Ia menatap ke arah jendela, matanya kosong, seperti sedang melihat sesuatu yang jauh di masa lalu. “Arumi,” kata Elang pelan. “Aku mau cerita sesuatu.” Arumi menoleh, menatap suaminya dengan penuh perhatian. “Iya, Mas?” Elang menarik

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status