Mag-log inUsai suasana sedikit tenang, Elang menatap Darsono yang masih duduk di ruang tamu dengan kepala menunduk. Arumi sudah menyiapkan teh hangat, tapi Darsono tidak menyentuhnya. Tangannya masih gemetar.
Darsono mengangkat wajah, terkejut. “Mas Elang ...?”“Pak Darsono,” kata Elang pelan, “saya ingin bicara empat mata dengan Bapak. Di halaman belakang.”Darsono mengangkat wajah, sedikit terkejut. Tapi ia hanya mengangguk, lalu berdiri perlahan mengikuti ElElang buru-buru melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Wajahnya berusaha tenang, meski ada ketegangan di rahangnya yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. “Bukan apa-apa,” katanya dengan nada santai. “Tidak perlu khawatir.” Arumi menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “Mas, saya sekilas lihat isinya. Apa itu tentang …” “Arumi.” Elang memotong pelan, matanya menatap Arumi dengan serius. “Aku bilang, tidak perlu khawatir. Aku yang akan urus ini.” Arumi menggigit bibir, ingin membantah, tapi melihat tatapan Elang, ia mengurungkan niatnya. “Baik, Mas.” Untuk mengalihkan perhatian, Arumi bertanya, “Mas sudah ketemu Mbak Sumirah? Tadi saya lihat Mas keluar sebentar untuk menemuinya.” Elang mengangguk. “Sudah. Nggak usah khawatir. Sumirah baik-baik saja.” Arumi menghela napas lega. “Syukurlah.” Namun sebel
Usai suasana sedikit tenang, Elang menatap Darsono yang masih duduk di ruang tamu dengan kepala menunduk. Arumi sudah menyiapkan teh hangat, tapi Darsono tidak menyentuhnya. Tangannya masih gemetar.Darsono mengangkat wajah, terkejut. “Mas Elang ...?”“Pak Darsono,” kata Elang pelan, “saya ingin bicara empat mata dengan Bapak. Di halaman belakang.”Darsono mengangkat wajah, sedikit terkejut. Tapi ia hanya mengangguk, lalu berdiri perlahan mengikuti Elang ke luar rumah. Arumi ingin mengikuti, tapi Elang menggeleng halus. “Kamu di sini saja. Jaga Ibu.”Arumi menurut, meskipun hatinya gelisah. Ia berdiri di dekat jendela, mengamati dari kejauhan.Di halaman belakang, di bawah rembulan yang samar, Elang dan Darsono berdiri berhadapan. Elang menyilangkan tangannya, matanya tajam. Darsono menunduk, tidak berani menatap langsung.“Pak Darsono …” Elang memulai dengan suara pelan. “Apa yang membuat Bapak sepe
Arumi dan Wati saling berpandangan. Terdengar ketukan di pintu depan.Arumi berjalan ke pintu dengan langkah hati-hati. Ia mengerutkan dahi. Siapa yang datang jam segini?Di balik pintu, bayangan tiga orang terlihat. Arumi membuka pintu perlahan.“Bapak?! Astaga! Kenapa malam-malam begini ke sini? Dan siapa ini?”Darsono berdiri di ambang pintu. Wajahnya kusut, matanya merah, seperti orang yang tidak tidur semalaman. Tapi di belakangnya, dua pria berpakaian serba hitam berdiri dengan sikap tegap dan menakutkan.“Bapak, jawab! Ada apa Bapak kemari?” tanya Arumi, mencoba tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang.Darsono menatapnya dengan tatapan dingin. “Arumi. Bapak minta uang.”Arumi menggeleng cepat. “Arumi nggak punya uang, Pak. Sudah Rumi bilang berkali-kali kalau …”“Kamu bohong!” bentak Darsono. “Bapak tahu kamu punya uang! Elang pasti sudah kasih kamu uang! Ba
Elang menatap Arumi dengan mata yang tidak berkedip. Ia mengangguk.“Ya. Seperti itu saja. Kita menikah. Aku akan daftarkan pernikahan kita di catatan sipil.”Arumi merasakan dadanya seolah berhenti berdetak. “Mas Elang ... serius?”Ada keraguan di mata Arumi, seperti ia tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.Elang mengangguk sekali lagi. “Ya.”“Tapi Mas ... apa kata orang nanti?” Arumi masih ragu. “Apa kata tetangga, apa kata Mak Tijah, apa kata mereka kalau Mas menikahi saya yang—”“Aku tidak peduli kata orang.” Elang mengepalkan tangannya lebih erat. “Aku tidak bisa membiarkan orang-orang terus berasumsi yang tidak baik.”Arumi terdiam. Lalu perlahan, ia mengangguk. “Baik, Mas. Saya ikut saja.”Elang tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan.“Besok. Aku daftarin pernikahan besok.”***Esoknya, pagi-pagi sekali, mer
“Pak Karto, tolong antar kami ke rumah saya. Ibu Arumi perlu mendapatkan perawatan,” kata Elang.Pak Karto mengangguk sigap. Ia membantu Elang mengangkat Indah ke jok belakang mobil. Arumi duduk di samping ibunya, sementara Elang mengiringi mereka dengan motornya.Sepanjang perjalanan, Arumi tidak banyak bicara. Ia hanya memegang tangan ibunya, berdoa dalam hati. Kadang ia menatap ke belakang, ke arah rumah tuanya semakin menjauh, dan Darsono tidak terlihat sama sekali.Sesampai di rumah Elang, suasana berbeda. Rumah itu terasa lebih hidup dengan kehadiran Indah. Elang langsung bergerak cepat, ia mengambilkan kotak P3K, air hangat, dan handuk bersih.Salju menggonggong sebentar saat melihat orang asing, lalu diam saat Elang menenangkannya.“Arumi, bantu Ibu duduk di kursi,” perintah Elang. “Aku periksa lukanya.”Arumi menuntun Indah ke kursi ruang tamu. Perlahan, Elang memeriksa luka-luka di tangan d
Motor Elang melaju kencang meninggalkan pasar. Arumi duduk di belakang, tangannya memegang ujung jaket Elang. Pikirannya masih tertuju pada ibunya. Indah yang sakit, ayahnya yang memaksa, dan kalung yang gagal ia jual.“Mas Elang,” teriak Arumi di antara deru angin, “kita ke mana?”“Yang tadi udah kubilang, ke rumahmu,” jawab Elang. “Kita lihat ibumu.”Arumi terkejut. “Tapi Mas …”“Aku tahu kamu khawatir. Aku juga tahu Bapakmu datang semalam.” Suara Elang tegas. “Aku sudah tahu dari tetangga.”Arumi tidak bisa berkata-kata. Elang sudah tahu.Mereka melaju melewati sawah-sawah hijau, melewati kebun-kebun sayuran, menuju desa Kanigara, tempat Arumi lahir dan dibesarkan. Rumah-rumah mulai tampak, atap-atap seng yang sudah berkarat, pagar-pagar bambu yang reyot.Motor Elang berhenti di depan rumah tua yang hampir roboh. Arumi turun dengan cepat, tapi sebelum kakinya menginjak tanah—







