LOGINArumi masih duduk di ruang tamu menggenggam ponsel, matanya menatap layar yang tetap gelap. Sudah lebih dari dua puluh menit Elang pergi, tapi belum ada kabar.
Pikirannya berkecamuk. Bayangan buruk tentang kecelakaan dan hal-hal yang bisa terjadi pada pria penyelamatnya itu melintas.“Semoga Mas Elang baik-baik saja,” bisiknya berulang kali seperti doa.Tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya.“Arumi ... Nduk …”Suara IAmbulans melaju kencang di jalanan malam yang sepi. Arumi duduk di samping ibunya, tangannya terus menggenggam tangan Indah yang dingin.Lampu merah berkedip-kedip di atasnya, menerangi wajah Indah yang pucat dan lelah. Sesekali Indah terbangun dan menatap Arumi dengan mata sayu, lalu kembali terlelap. Dalam setiap desahan napas ibunya, Arumi merasakan ketakutan yang semakin dalam.“Sebentar lagi sampai, Bu. Bertahan ya, Bu,” bisik Arumi, meskipun ia sendiri tidak yakin. Jalanan di luar tampak gelap, hanya sesekali lampu jalan yang menerangi. Suasana di dalam ambulans terasa sunyi, hanya terdengar suara mesin dan napas Indah yang tersengal.Setibanya di rumah sakit kabupaten, tim medis segera menyambut mereka. Indah dibawa ke ruang gawat darurat dengan tandu, sementara Arumi disuruh menunggu di ruang tunggu. Ia duduk di kursi plastik keras, memeluk tas kecilnya, matanya menatap pintu ruang perawatan yang tertutup rapat. Di ruang tunggu, ada
Setelah ibunya selesai diperiksa, Arumi duduk di kursi ruang tunggu puskesdes. Matanya masih merah, tangannya gemetar karena takut.Cahaya lampu neon di atasnya berkedip-kedip pelan, menambah suasana tegang yang menyelimuti ruangan. Bau antiseptik dan obat-obatan menusuk hidungnya, mengingatkannya pada kenyataan pahit bahwa ibunya sedang sakit parah.Galih keluar dari ruang perawatan dengan wajah serius, membawa berkas-berkas medis di tangannya. Ekspresinya yang biasanya santai kini berubah menjadi profesional dan penuh perhatian.“Mbak, Ibu Mbak Arumi sepertinya harus kita rujuk ke rumah sakit ya,” kata Galih dengan suara lembut. “Kondisi Ibu cukup parah. Asmanya kambuh dengan komplikasi di saluran pernapasan. Butuh perawatan intensif dan pemantauan terus-menerus.”Arumi merasakan dadanya sesak. Dunia terasa berputar di sekelilingnya. “Rumah sakit, Pak? Tapi biayanya biasanya mahal ya, Pak?” suaranya bergetar, h
Arumi masih duduk di ruang tamu menggenggam ponsel, matanya menatap layar yang tetap gelap. Sudah lebih dari dua puluh menit Elang pergi, tapi belum ada kabar.Pikirannya berkecamuk. Bayangan buruk tentang kecelakaan dan hal-hal yang bisa terjadi pada pria penyelamatnya itu melintas.“Semoga Mas Elang baik-baik saja,” bisiknya berulang kali seperti doa.Tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya.“Arumi ... Nduk …”Suara Indah dari kamar tamu. Pelan, terputus-putus, tapi terdengar jelas. Ada nada kesakitan di dalamnya.Arumi bangkit dengan cepat, jantungnya berdebar kencang. Ia berlari ke kamar tamu, membuka pintu dengan tergesa-gesa.Di dalam kamar yang remang, Indah terbaring di kasur dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin membasahi dahinya, kedua tangannya memegang dadanya erat.“Bu, Ibu kerasa sakit lagi ya?” tanya Arumi sambil duduk di samping ibunya, meraih tangan
Arumi sibuk di dapur, tangannya bergerak lincah memotong sayuran dan meracik bumbu. Sup ayam yang ia masak mulai mengeluarkan aroma harum yang menyebar ke seluruh ruangan. Di wajan lain, ayam goreng ungkep mulai berwarna keemasan, sementara sambal terasi yang diulek di cobek menguarkan aroma pedas yang menggugah selera.Aroma itu memenuhi rumah, membuat suasana malam terasa hangat dan nyaman. Elang yang sedang duduk di ruang tamu, menunduk membaca ponselnya, tiba-tiba mengangkat kepalanya.“Baunya wangi banget,” katanya sambil berjalan ke arah dapur.Arumi tersenyum mendengar pujian itu. “Pas dengan nasinya, Mas. Saya sudah dinginkan nasinya tadi,” jawabnya sambil terus mengaduk sup.Elang berdiri, berjalan ke dapur, dan menatap meja yang sudah tertata rapi. Sepiring nasi putih dingin, semangkuk sup ayam hangat, ayam goreng ungkep yang masih mengepul, dan sambal terasi menggugah selera. Arumi bahkan menyiapkan lalapan mentimun
Motor Elang melaju pelan memasuki halaman rumah. Langit mulai berwarna jingga kemerahan, menandakan sore akan segera berganti malam. Arumi turun dengan perasaan lega dan bahagia setelah hari yang cukup panjang.Elang segera berjalan ke kandang Salju di sudut halaman. Anjing putih kecil itu menggonggong gembira melihat tuannya pulang, ekornya bergoyang-goyang riang.“Sudah, sudah. Aku kasih makan,” kata Elang sambil mengelus kepala Salju. Ia menuangkan makanan ke mangkuk dan Salju langsung melahapnya dengan lahap.Arumi tersenyum melihat interaksi Elang dan Salju. Namun langkahnya segera berbelok menuju kamar tamu, di mana Indah terbaring di kasur dengan selimut tipis menutupi tubuhnya yang kurus.“Nduk, sudah pulang?” sapa Indah, matanya berbinar melihat Arumi masuk.Arumi duduk di samping ibunya, memegang tangannya dengan lembut. “Iya, Bu. Bagaimana keadaan Ibu sekarang? Batuknya sudah berkurang?”“
Motor Elang berhenti mendadak di pinggir jalan. Arumi yang sedang menikmati angin sore dan pemandangan sawah, tersentak kaget.“Ada apa, Mas?” tanyanya sambil menengok ke depan.Elang sudah menurunkan standar motornya, matanya tertuju pada sebuah pick-up tua yang terparkir di pinggir jalan. “Itu ... di depan ada pick up yang bocor ban. Kita turun dulu ya? Tolongin mereka.”Arumi segera turun dari motor. “Iya, Mas.”Ia mengikuti langkah Elang mendekati mobil itu. Seorang pria paruh baya dengan kemeja lusuh dan caping bambu sedang jongkok di samping ban depan kiri yang kempes. Wajahnya tampak kelelahan dan sedikit panik.“Pak, bannya bocor ya?” tanya Elang.Pria itu menoleh, matanya berbinar lega melihat ada yang menghampiri. “Iya, Mas. Mana masih jauh ini, Mas. Saya dari kebun mau ke pasar Lembur, baru setengah jalan udah bocor begini.”Elang mendekati ban yang bocor, memeriksanya dengan







