Share

Bab 7

Author: Mita Yoo
last update publish date: 2026-07-22 19:42:59

Arumi tiba-tiba saja menoleh ke arah dapur, seolah merasakan tatapan seseorang. Elang cepat-cepat berbalik dan hendak menarik pintu, tapi terlambat. Mata mereka bertemu sesaat.

“Mas Elang?” Arumi berdiri, kucing itu masih di tangannya. “Mas denger obrolan saya sama Meng ya?”

“Nggak.” Elang keluar dengan wajah datar. “Aku cuma mau minum air. Terus aku lihat kamu …”

“Lihat saya?”

“Lihat kamu ngobrol sama kucing.” Elang mendekat. “Kamu suka kucing? Mau pelihara dia?”

Arumi mengangguk dengan cepat. “Iya, Mas. Kasihan dia. Kurus dan kedinginan. Boleh, 'kan?”

Elang menatap kucing itu, lalu menatap Arumi. “Boleh. Tapi harus diurus. Aku nggak mau rumah bau pesing.”

“Pasti!” Arumi bersemangat. “Aku akan rawat dia baik-baik. Nama dia ... Oren aja, Mas. Karena bulunya oranye.”

“Oren?” Elang mendengus. “Namanya norak.”

Arumi cemberut. “Lalu Mas Elang mau kasih nama apa?”

Elang memandang kucing itu. Matanya bertemu dengan mata bulat dan sayu sang kucing. Lalu ia berkata, “Ruby.”

Arumi terkejut. “Apa?”

“Aku panggil dia Ruby.” Elang tersenyum.

Arumi menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba merah. “Makasih Mas Elang …”

“Tapi panggil Oren juga boleh.” Elang mengulurkan tangan, mengusap kepala kucing itu. “Halo, Oren. Selamat datang di rumah.”

Kucing itu mengeong pelan, seolah menyambut Elang.

Arumi tersenyum lebar. “Makasih, Mas Elang.”

Elang masuk lebih dulu, Arumi masuk ke rumah dengan perasaan hangat di dadanya. Ia menaruh Oren di keranjang kecil yang ia buat dari kardus dan handuk bekas, lalu memberinya semangkuk susu.

“Selamat tidur, Oren,” bisiknya sambil mengusap kepala kucing kecil itu. “Besok kita sarapan bareng ya.”

Elang berdiri di ambang lorong, menatap Arumi dengan tatapan lembut yang jarang ia tunjukkan. “Kamu benar-benar sayang sama kucing itu.”

Arumi menoleh, tersenyum. “Iya, Mas. Dia lucu.”

Elang mengangguk. “Aku masuk duluan. Jangan lupa kunci pintu sebelum masuk kamar.”

“Iya, Mas,” sahut Arumi patuh.

Mereka berpisah di lorong. Arumi masuk ke kamarnya, mengunci pintu seperti yang diperintahkan Elang. Ia berbaring di kasur, memeluk bantal, dan tersenyum sendiri memikirkan hari itu.

Arumi menggigit bibir, memikirkan perkataan Elang sebelumnya. “Apa maksudnya dia?” bisiknya ke dalam gelap.

Tapi rasa kantuk mulai menyerang. Ia memejamkan mata dan perlahan tertidur, dengan senyum masih mengembang di bibirnya.

Esok paginya, Arumi bangun lebih awal dari biasanya.

Matahari baru saja mulai menyingsing ketika ia melangkah ke kamar mandi. Air hangat mengalir, membasuh tubuhnya yang masih kaku karena tidur semalaman. Ia bernyanyi kecil, menikmati kesegaran pagi.

Tapi setelah selesai mandi, ketika ia hendak membuka pintu itu, pintu sama sekali tidak bergerak.

Arumi mendorong lebih keras. “Eh?”

Pintu tetap tak terbuka. Seolah terkunci dari luar, padahal ia yakin tidak ada orang yang iseng menguncinya.

Arumi mendorong dengan kedua tangan. Tapi gagang pintu hanya bergetar tanpa membuka.

“Astaga …” Arumi memegangi gagang pintu, mencoba memutar ke kiri dan ke kanan. Tidak ada hasil.

Ia mulai panik. Di dalam kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk tipis yang melilit tubuhnya.

“Mas Elang!” teriaknya. “Mas Elang!”

Tidak ada jawaban. Arumi semakin panik.

“MAS ELANG!” Arumi berteriak lebih keras, suaranya memecah keheningan rumah. “TOLONG! PINTU KAMAR MANDI MACET!”

Beberapa detik berlalu. Lalu suara langkah berat terdengar dari luar. “Arumi? Ada apa?!”

“Pintunya nggak bisa dibuka, Mas! Dari dalam nggak bisa!”

“Diam di situ! Jangan panik!” suara Elang dari balik pintu.

Arumi mendengar suara Elang mencoba memutar gagang pintu.

“Sial, macet banget,” gumam Elang.

“Jadi gimana, Mas?”

Elang terdiam sejenak. “Mundur, Arumi! Kamu harus jauh dari pintu!”

“Kenapa, Mas?!”

“Aku mau dobrak!”

Arumi cepat-cepat mundur ke sudut kamar mandi, memeluk tubuhnya dengan kedua tangan. Ia mendengar Elang mengambil ancang-ancang.

BAM!

Pintu bergetar keras, tapi tetap tertutup.

“Sekali lagi!” seru Elang.

Kali ini, pintu terbuka dengan derit keras. Engselnya copot dari dinding, dan pintu itu jatuh ke lantai dengan bunyi menggelegar.

Elang berdiri di ambang pintu dengan napas tersengal. Wajahnya berkeringat, rambutnya acak-acakan.

“Kamu nggak apa-apa, Ar–” Elang berhenti.

Arumi berdiri di sudut kamar mandi, hanya mengenakan handuk putih yang melilit tubuhnya. Handuk itu menempel pada lekuk tubuhnya. Air masih menetes dari rambut panjangnya yang tergerai, membasahi bahu dan dadanya.

Elang membeku. Matanya membulat. Ia menatap Arumi sebentar hanya sedetik, tanpa berkedip.

Lalu ia cepat-cepat berbalik. Punggungnya menghadap Arumi. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

“Maaf,” katanya cepat, suaranya serak. “Aku ... aku nggak sengaja. Aku nggak lihat apa-apa.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 128

    Pagi itu, Arumi membantu Elang berjalan menuju puskesdes. Langkah Elang masih tertatih, wajahnya pucat, dan setiap kali kakinya menyentuh tanah, ia meringis menahan sakit. Arumi memapahnya dengan hati-hati, tangannya melingkar di pinggang Elang untuk menopang tubuh suaminya yang lebih besar.“Sabar ya, Mas. Kita sebentar lagi sampai,” bisik Arumi, mencoba memberi semangat.Elang hanya mengangguk, napasnya berat. Luka-luka di tubuhnya yang semalam hanya terasa nyeri, kini mulai terasa perih. Mungkin karena ia terlalu banyak bergerak.Sesampai di puskesdes, Galih sudah siap dengan peralatan medis. Ia mempersilakan Elang duduk di tempat tidur periksa, lalu mulai memeriksa luka-luka di wajah dan tubuhnya dengan cermat.“Pak Elang bisa tahan sebentar. Ini tidak akan sakit,” kata Galih sambil mengoleskan antiseptik ke luka di pelipis Elang.Namun, begitu kapas menyentuh luka, Elang meringis keras. Tubuhnya menegang, dan tangannya refleks menggenggam tangan Arumi yang berdiri di sampingnya.

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 127

    Seorang pria berdiri di tepi kebun, tubuhnya tegap, wajahnya tegas. Ia menggenggam sebuah parang panjang di tangannya.“Sardi?” Elang mencoba memanggilnya.Damar mengerutkan dahi dan tersenyum meremehkan.Sardi melangkah maju, parang di tangannya terarah ke Damar dan dua pria bertubuh tambun di sisinya. “Lepaskan Elang. Atau aku yang akan membuat kalian berhenti. Aku nggak akan main-main, aku nggak kenal kalian!”Damar tertawa. “Kamu pikir kamu bisa ngelawan kami? Satu lawan tiga.”Sardi tidak menjawab. Ia melangkah lebih dekat, matanya tajam. “Aku nggak takut sama kalian. Dan aku tidak akan mengulangi. Lepaskan dia atau aku arahkan ini ke leher kalian!”Dua pria itu ragu, menatap Damar. Damar menghela napas, lalu memberi isyarat. Mereka melepaskan Elang dan mundur beberapa langkah.“Kita belum selesai, Elang,” kata Damar sambil mundur. “Aku akan balas perbuatan kamu. Dan lain kali, kau tidak akan selamat.”Damar berbalik dan menghilang di antara pepohonan. Dua pria itu mengikuti.Sar

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 126

    Elang menatap Arumi, lalu menghela napas. “Aku harus ke kebun. Ada yang merusak tanaman lagi.” Arumi merasakan kekhawatiran dan ketakutan seketika. “Siapa yang tega ngelakuin itu, Mas?” “Aku belum tahu. Tapi aku akan cari tahu.” Elang segera mengeluarkan kunci motor dari saku jaketnya. “Kita pulang dulu. Aku anter kamu ke rumah, terus aku lanjut ke kebun untuk lihat siapa yang ngelakuin cara culas kayak gitu.” Arumi mengangguk, mencoba tersenyum meskipun hatinya mulai gelisah. Hari yang sempurna harus berakhir dengan masalah baru untuk mereka. Mereka pulang dengan cepat. Di rumah, Arumi turun dari motor dan menatap Elang yang sudah bersiap pergi. “Mas Elang hati-hati ya,” pesan Arumi. “Iya. Aku pergi dulu. Kamu jaga rumah, ya.” Elang tersenyum, menepuk tangannya, lalu melaju pergi. Arumi berdiri di teras, menatap kepergian Elang. Di dalam hatinya, ia berdoa agar semuanya baik-baik saja. Sampai di kebunnya, Elang berdiri di hadapan tanaman cabai yang rusak. Batang-batang cabai

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 125

    Arumi menatap Elang, lalu menjawab, “Saya belum tahu. Tergantung Mas Elang aja.” “Ke kebun aja,” kata Elang santai. “Aku mau lihat cabe sama timun. Kamu bisa bantu aku.” Arumi mengangguk, tersenyum. “Baik, Mas.” Nining menggeleng. “Kalian ini. Liburan aja masih ke kebun. Nggak capek?” Elang tersenyum. “Itu liburan buat kami.” Nining tiba-tiba berseru karena sebuah ide terlintas di benaknya, “Eh, kenapa nggak coba pergi ke kota? Nonton bioskop. Kalian belum pernah nonton bareng 'kan?” Elang tersenyum lalu menatap Arumi. Matanya bertanya, lembut. “Kamu mau?” Arumi tersenyum kecil, tangannya memainkan ujung taplak meja. “Saya terserah Mas Elang saja.” Elang mengangguk. “Ya sudah. Besok kita coba ke bioskop.” “Asyik! Aku ikut ya, Mas?” Nining bertepuk tangan, matanya berbinar. Elang menole

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 124

    Arumi terbangun dari tidurnya dengan perasaan hangat yang menyelimuti tubuhnya. Matanya masih sayu, tapi ia segera menyadari sesuatu—tangan besar Elang melingkari pinggangnya, menjaganya sepanjang malam. Napas Elang terdengar teratur di belakang telinganya, hangat dan menenangkan.Arumi tersenyum, tapi ia tidak ingin membangunkan Elang. Perlahan-lahan, dengan gerakan hati-hati, ia melepaskan diri dari pelukan Elang dan turun dari tempat tidur. Kakinya menyentuh lantai semen yang dingin, dan ia berjalan pelan menuju pintu.Namun, saat ia hendak membuka pintu, suara Elang terdengar dari balik kasur.“Kamu mau ke mana?” gumam Elang, matanya masih setengah terpejam.Arumi menoleh, sedikit terkejut. “Ke kamar mandi, Mas. Aku mau mandi.”Elang mengangguk pelan, lalu tanpa sadar menambahkan, “Jangan lupa keramas, ya.”Arumi mengerutkan dahi, ingin bertanya alasannya. Tapi ia melihat Elang sudah memejamkan mata lagi, kembali tertidur. Arumi mengurungkan niatnya mengingat mereka sedang mengina

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 123

    Suara Nining terdengar ringan dan penuh canda. “Hayo… Mas Elang pasti udah mau mesra-mesraan sama Arumi ‘kan?”"Kamu ini, Ning!” jawab Elang dengan nada setengah malu, setengah kesal. “Udah ah, malah bahas aneh-aneh. Bapakmu ada di mana?”"Di ruang tamu. Katanya mau ngobrol serius sama kamu. Awas aja kalau kamu ketahuan mesra-mesraan sama Arumi, ya!” Nining masih melanjutkan godaannya, sebelum langkah mereka menjauh dan menghilang.Arumi tersenyum sendiri mendengar percakapan itu. Ia menutup matanya, mencoba tidur, tapi pikirannya masih melayang ke ciuman tadi, ke hangat sentuhan Elang, dan ke kata-kata yang diucapkan Elang padanya untuk kali pertama.Arumi memeluk bantal lebih erat, dan perlahan ia mulai tertidur dengan senyum di bibirnya.***Elang melangkah meninggalkan kamar diikuti Nining. Ia melintasi lorong menuju ruang tamu, tempat pamannya, Pak Darman—suami Bibi Siti, sudah duduk di sofa tua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status