登入Arumi tiba-tiba saja menoleh ke arah dapur, seolah merasakan tatapan seseorang. Elang cepat-cepat berbalik dan hendak menarik pintu, tapi terlambat. Mata mereka bertemu sesaat.
“Mas Elang?” Arumi berdiri, kucing itu masih di tangannya. “Mas denger obrolan saya sama Meng ya?” “Nggak.” Elang keluar dengan wajah datar. “Aku cuma mau minum air. Terus aku lihat kamu …” “Lihat saya?” “Lihat kamu ngobrol sama kucing.” Elang mendekat. “Kamu suka kucing? Mau pelihara dia?” Arumi mengangguk dengan cepat. “Iya, Mas. Kasihan dia. Kurus dan kedinginan. Boleh, 'kan?” Elang menatap kucing itu, lalu menatap Arumi. “Boleh. Tapi harus diurus. Aku nggak mau rumah bau pesing.” “Pasti!” Arumi bersemangat. “Aku akan rawat dia baik-baik. Nama dia ... Oren aja, Mas. Karena bulunya oranye.” “Oren?” Elang mendengus. “Namanya norak.” Arumi cemberut. “Lalu Mas Elang mau kasih nama apa?” Elang memandang kucing itu. Matanya bertemu dengan mata bulat dan sayu sang kucing. Lalu ia berkata, “Ruby.” Arumi terkejut. “Apa?” “Aku panggil dia Ruby.” Elang tersenyum. Arumi menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba merah. “Makasih Mas Elang …” “Tapi panggil Oren juga boleh.” Elang mengulurkan tangan, mengusap kepala kucing itu. “Halo, Oren. Selamat datang di rumah.” Kucing itu mengeong pelan, seolah menyambut Elang. Arumi tersenyum lebar. “Makasih, Mas Elang.” Elang masuk lebih dulu, Arumi masuk ke rumah dengan perasaan hangat di dadanya. Ia menaruh Oren di keranjang kecil yang ia buat dari kardus dan handuk bekas, lalu memberinya semangkuk susu. “Selamat tidur, Oren,” bisiknya sambil mengusap kepala kucing kecil itu. “Besok kita sarapan bareng ya.” Elang berdiri di ambang lorong, menatap Arumi dengan tatapan lembut yang jarang ia tunjukkan. “Kamu benar-benar sayang sama kucing itu.” Arumi menoleh, tersenyum. “Iya, Mas. Dia lucu.” Elang mengangguk. “Aku masuk duluan. Jangan lupa kunci pintu sebelum masuk kamar.” “Iya, Mas,” sahut Arumi patuh. Mereka berpisah di lorong. Arumi masuk ke kamarnya, mengunci pintu seperti yang diperintahkan Elang. Ia berbaring di kasur, memeluk bantal, dan tersenyum sendiri memikirkan hari itu. Arumi menggigit bibir, memikirkan perkataan Elang sebelumnya. “Apa maksudnya dia?” bisiknya ke dalam gelap. Tapi rasa kantuk mulai menyerang. Ia memejamkan mata dan perlahan tertidur, dengan senyum masih mengembang di bibirnya. Esok paginya, Arumi bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja mulai menyingsing ketika ia melangkah ke kamar mandi. Air hangat mengalir, membasuh tubuhnya yang masih kaku karena tidur semalaman. Ia bernyanyi kecil, menikmati kesegaran pagi. Tapi setelah selesai mandi, ketika ia hendak membuka pintu itu, pintu sama sekali tidak bergerak. Arumi mendorong lebih keras. “Eh?” Pintu tetap tak terbuka. Seolah terkunci dari luar, padahal ia yakin tidak ada orang yang iseng menguncinya. Arumi mendorong dengan kedua tangan. Tapi gagang pintu hanya bergetar tanpa membuka. “Astaga …” Arumi memegangi gagang pintu, mencoba memutar ke kiri dan ke kanan. Tidak ada hasil. Ia mulai panik. Di dalam kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk tipis yang melilit tubuhnya. “Mas Elang!” teriaknya. “Mas Elang!” Tidak ada jawaban. Arumi semakin panik. “MAS ELANG!” Arumi berteriak lebih keras, suaranya memecah keheningan rumah. “TOLONG! PINTU KAMAR MANDI MACET!” Beberapa detik berlalu. Lalu suara langkah berat terdengar dari luar. “Arumi? Ada apa?!” “Pintunya nggak bisa dibuka, Mas! Dari dalam nggak bisa!” “Diam di situ! Jangan panik!” suara Elang dari balik pintu. Arumi mendengar suara Elang mencoba memutar gagang pintu. “Sial, macet banget,” gumam Elang. “Jadi gimana, Mas?” Elang terdiam sejenak. “Mundur, Arumi! Kamu harus jauh dari pintu!” “Kenapa, Mas?!” “Aku mau dobrak!” Arumi cepat-cepat mundur ke sudut kamar mandi, memeluk tubuhnya dengan kedua tangan. Ia mendengar Elang mengambil ancang-ancang. BAM! Pintu bergetar keras, tapi tetap tertutup. “Sekali lagi!” seru Elang. Kali ini, pintu terbuka dengan derit keras. Engselnya copot dari dinding, dan pintu itu jatuh ke lantai dengan bunyi menggelegar. Elang berdiri di ambang pintu dengan napas tersengal. Wajahnya berkeringat, rambutnya acak-acakan. “Kamu nggak apa-apa, Ar–” Elang berhenti. Arumi berdiri di sudut kamar mandi, hanya mengenakan handuk putih yang melilit tubuhnya. Handuk itu menempel pada lekuk tubuhnya. Air masih menetes dari rambut panjangnya yang tergerai, membasahi bahu dan dadanya. Elang membeku. Matanya membulat. Ia menatap Arumi sebentar hanya sedetik, tanpa berkedip. Lalu ia cepat-cepat berbalik. Punggungnya menghadap Arumi. Tangannya mengepal di sisi tubuh. “Maaf,” katanya cepat, suaranya serak. “Aku ... aku nggak sengaja. Aku nggak lihat apa-apa.” ***Elang menoleh, alisnya naik. “Kenapa? Kamu malu?”“Bukan malu, Mas. Tapi …” Arumi menggigit bibir. “Takut ada yang ngomongin.”Elang tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan tangan, menggenggam pergelangan Arumi, dan menariknya naik ke jok belakang.“Biarin aja mereka ngomong apa.” Suaranya datar, tapi tegas. “Ayo.”Arumi tidak bisa menolak. Ia duduk di belakang Elang, tangannya ragu-ragu di udara sebelum akhirnya mencengkeram pinggang Elang. Motor melaju pelan meninggalkan halaman rumah.Pasar Kanigara ramai seperti biasa. Pedagang sayur, buah, dan ikan berteriak menawarkan dagangan. Bau ikan asin bercampur dengan aroma rempah-rempah dan tanah basah.Arumi dan Elang berjalan berdampingan. Arumi berjalan ke lapak-lapak yang ia kenal, sesekali berhenti untuk memilih bawang atau menawar cabai.Elang mengikuti di belakangnya, sesekali mengangguk atau mengangkat alis saat Arumi menjelaskan bahan-bahan yang ia beli.“Mas, ini bawangnya bagus,” kata Arumi sambil memegang bebera
Arumi juga membeku di tempat. Wajahnya memerah sampai ke telinga. Tangannya merapatkan handuk di dadanya, meskipun Elang sudah membalikkan badan.“Tidak apa-apa, Mas,” jawabnya pelan, suaranya bergetar. “Terima kasih, Mas Elang.”Elang masih tidak menoleh. “Aku ... aku tunggu di ruang tamu. Pakai baju dulu. Nanti kita cari tukang buat perbaiki pintu.”Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan cepat menjauh, meninggalkan Arumi di kamar mandi dengan pintu yang roboh di lantai.Arumi berdiri diam beberapa detik. Dadanya berdegup kencang. Tangan yang memegang handuk sedikit gemetar.Ia tahu Elang tidak sengaja. Ia tahu Elang tidak bermaksud melihatnya. Tapi entah mengapa, melihat tatapan Elang yang membeku, lalu cepat-cepat berbalik membuat jantungnya berdebar-debar.Dengan tangan gemetar, ia berganti pakaian. Kemeja dan celana panjang sederhana. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.Di ruang tamu, Elang duduk di sofa dengan punggung menghadap lorong. Begitu mendengar langkah
Arumi tiba-tiba saja menoleh ke arah dapur, seolah merasakan tatapan seseorang. Elang cepat-cepat berbalik dan hendak menarik pintu, tapi terlambat. Mata mereka bertemu sesaat.“Mas Elang?” Arumi berdiri, kucing itu masih di tangannya. “Mas denger obrolan saya sama Meng ya?”“Nggak.” Elang keluar dengan wajah datar. “Aku cuma mau minum air. Terus aku lihat kamu …”“Lihat saya?”“Lihat kamu ngobrol sama kucing.” Elang mendekat. “Kamu suka kucing? Mau pelihara dia?”Arumi mengangguk dengan cepat. “Iya, Mas. Kasihan dia. Kurus dan kedinginan. Boleh, 'kan?”Elang menatap kucing itu, lalu menatap Arumi. “Boleh. Tapi harus diurus. Aku nggak mau rumah bau pesing.”“Pasti!” Arumi bersemangat. “Aku akan rawat dia baik-baik. Nama dia ... Oren aja, Mas. Karena bulunya oranye.”“Oren?” Elang mendengus. “Namanya norak.”Arumi cemberut. “Lalu Mas Elang mau kasih nama apa?”Elang memandang kucing itu. Matanya bertemu dengan mata bulat dan sayu sang kucing. Lalu ia berkata, “Ruby.”Arumi terkejut. “A
Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika suara motor berhenti di halaman. Arumi bangkit cepat, tangannya merapikan daster yang ia kenakan.Elang masuk dengan langkah lelah. Tas ransel di punggungnya, wajahnya kusam, tapi senyum tipis terukir di bibirnya.“Mas Elang, sudah pulang?” sapa Arumi hangat. “Saya sudah siapkan makan malam.”“Hm. Terima kasih.” Elang melepas sepatunya di teras. “Aku mandi dulu. Capek banget.”Arumi mengangguk. Sementara Elang mandi, ia menata meja makan. Ayam goreng, sayur asem, dan sambal terasi. Menu favorit Elang sejak seminggu terakhir.Setelah mandi, Elang makan dengan lahap. Arumi menemaninya sambil sesekali bertanya tentang pekerjaannya di kota. Percakapan mereka mengalir dengan nyaman dan hangat.Setelah selesai, Arumi mengumpulkan piring dan mulai mencuci. Elang duduk di ruang tamu, menonton televisi.Lalu Arumi teringat sesuatu. “Mas Elang, saya mau cuci baju kotor.”Elang mengangkat wajah. “Iya. Pakai aja mesin cuci ya, biar kamu nggak capek.”“
Arumi membuka kulkas. Isinya cukup lengkap. Telur, sayuran, ayam potong, dan bumbu-bumbu. Arumi tersenyum kecil.Memasak adalah satu-satunya hal yang ia kuasai, satu-satunya hal yang bisa ia berikan kepada orang yang baru saja menyelamatkannya dari pernikahan dengan pria tua bejat.Ia bergerak cepat. Memotong bawang, menumis bumbu, merebus ayam. Aroma haru. masakan mulai memenuhi ruangan. Mengingatkannya pada dapur rumahnya dulu—sebelum semuanya hancur.Tapi pikirannya melayang.Mas Elang. Siapa sebenarnya pemuda itu? Gatot menyebutnya keponakan, tapi jelas, Elang memusuhi pamannya sendiri.Elang tinggal di rumah mewah di tengah desa, tapi mengendarai motor, tidak ada mobil di garasinya. Dan hanya ada satu foto keluarga di rumahnya.Dan yang paling membingungkan, mengapa ia mau melunasi hutang keluarga Arumi?Tiga puluh juta. Bukan uang kecil. Arumi bahkan yakin jika Elang tidak mengenal Arumi sebelum kejadian ini.“Apa dia punya maksud tertentu,” gumam Arumi pelan sambil mengaduk kua
“Ke rumah Pak Elang?”Arumi hampir berteriak di atas deru mesin motor. Angin malam menghantam wajahnya, membuat matanya berair.“Jangan panggil Pak.” Suara Elang terdengar datar dari depan. “Aku belum setua itu.”“Ma-maaf, Mas Elang.”Arumi menggigit bibir. Ia masih bingung. Masih takut. Tapi sesuatu dalam diri Elang—sesuatu yang tenang dan tegas—membuatnya tidak berani membantah.Motor melaju semakin cepat. Jalan tanah berganti aspal, lalu berbelok ke sebuah gang sempit yang diapit pepohonan rimbun. Lima menit kemudian, Elang mengerem di depan sebuah pagar putih.Arumi tertegun.Rumah itu tidak besar, tapi terlihat bersih dan rapi. Dindingnya dicat krem.Halamannya dihiasi pot-pot tanaman hijau yang tersusun rapi. Lampu teras menyala hangat, menerangi pintu kayu jati dengan ukiran sederhana. Untuk ukuran desa, rumah ini terbilang mewah. Terlalu mewah untuk seorang pemuda biasa.“Ini rumahmu, Mas?” tanya Arumi pelan.Elang turun dari motor. Ia tidak menjawab, hanya menggantung jaketny







