LOGINJam menunjukkan pukul delapan malam ketika suara motor berhenti di halaman. Arumi bangkit cepat, tangannya merapikan daster yang ia kenakan.
Elang masuk dengan langkah lelah. Tas ransel di punggungnya, wajahnya kusam, tapi senyum tipis terukir di bibirnya. “Mas Elang, sudah pulang?” sapa Arumi hangat. “Saya sudah siapkan makan malam.” “Hm. Terima kasih.” Elang melepas sepatunya di teras. “Aku mandi dulu. Capek banget.” Arumi mengangguk. Sementara Elang mandi, ia menata meja makan. Ayam goreng, sayur asem, dan sambal terasi. Menu favorit Elang sejak seminggu terakhir. Setelah mandi, Elang makan dengan lahap. Arumi menemaninya sambil sesekali bertanya tentang pekerjaannya di kota. Percakapan mereka mengalir dengan nyaman dan hangat. Setelah selesai, Arumi mengumpulkan piring dan mulai mencuci. Elang duduk di ruang tamu, menonton televisi. Lalu Arumi teringat sesuatu. “Mas Elang, saya mau cuci baju kotor.” Elang mengangkat wajah. “Iya. Pakai aja mesin cuci ya, biar kamu nggak capek.” “Baik, Mas.” Arumi membawa keranjang berisi pakaian kotor ke belakang rumah. Di sana, sebuah mesin cuci tua berwarna putih kusam berdiri di sudut, dengan panel tombol yang cukup rumit. Arumi menatapnya bingung. “Ini ... tombolnya banyak banget. Ia mencoba mengingat bagaimana Elang menggunakan mesin itu kemarin. Tapi ingatannya kabur. Dengan ragu, ia menekan beberapa tombol, memutar kenop, lalu menekan tombol start. Mesin bergemuruh. Arumi tersenyum puas. Tapi beberapa menit kemudian … Suara aneh terdengar. Mesin bergetar hebat. Arumi terkejut. Ia melihat air berbusa keluar dari celah mesin, dan dari dalam, terdengar suara robekan. “Eh? Kenapa ini?” Ia buru-buru mematikan mesin, membuka pintu. Pakaian di dalamnya basah kuyup dan yang lebih buruk lagi—beberapa di antaranya robek. Arumi mematung. Matanya berkaca-kaca. Kaus yang tempo hari dipakai Elang, berwarna hitam polos, kini robek besar di bagian depan. “Ini ... ini kaus Mas Elang. Jadi rusak …” Air matanya mulai mengalir. Ia berjalan ke ruang tamu dengan kaus robek di tangannya. “Mas Elang …” Elang menoleh. Begitu melihat Arumi menangis, wajahnya langsung berubah. Ia buru-buru berdiri dengan cepat. “Arumi? Ada apa?” Arumi mengangkat kaus robek itu. “Maaf, Mas. Saya ... saya salah pencet tombol mesin cuci. Bajunya robek. Saya bodoh. Maafkan saya. Saya benar-benar bodoh …” Tangisnya semakin keras. Bahunya bergetar. Ia merasa sangat malu. Seharusnya ia bisa melakukan hal sederhana seperti mencuci. Tapi ia gagal. “Arumi, Arumi …” Elang mendekat. Tangannya terulur, mengusap puncak kepalanya pelan. Gerakannya lembut, penuh perhatian. Arumi menunduk, tubuhnya masih bergetar karena isak tangis. Elang terus mengusap kepalanya, jari-jarinya menyisir rambutnya pelan-pelan. “Sudah, nggak apa-apa. Itu cuma kaus biasa, bisa beli lagi.” “Tapi, Mas—” “Nggak apa-apa, Arumi.” Suara Elang lembut. “Kamu baru belajar. Nggak apa-apa kalau salah.” Arumi masih menangis. Elang mengusap kepalanya dengan lembut, sesekali tangannya turun ke pipinya untuk menghapus air mata. Arumi hanya berdiri diam, menikmati sentuhan hangat itu. Lalu Elang berkata, “Arumi, lihat aku.” Arumi mengangkat wajahnya. Mata merahnya bertemu dengan mata Elang. Elang tersenyum kecil, tangannya masih di pipi Arumi. “Kamu tidak bodoh. Kamu hanya manusia biasa. Dan semua orang pernah salah.” Arumi menatap Elang. Dadanya berdebar. Air matanya mulai berhenti, digantikan oleh perasaan lain yang aneh di dadanya. Dan tiba-tiba, ia sadar. Tangan Elang masih di pipinya. Matanya masih menatapnya. Jarak mereka kini sangat dekat. Arumi merasakan wajahnya memanas. Ia menunduk cepat, mundur selangkah. Tangannya menggenggam ujung daster erat-erat, gugup. “Ma-maaf, Mas,” katanya terbata-bata. “Saya ... saya …” “Kenapa?” Elang menatapnya heran. “Tidak, tidak apa-apa. Cuma …” Arumi menggigit bibir, canggung. Elang terdiam. Lalu ia tersenyum tipis. “Kamu lucu,” kata Elang pelan. Suaranya nyaris berbisik, tapi Arumi mendengarnya dengan jelas. Kata-kata itu seperti kupu-kupu yang terbang masuk ke dadanya dan mengepak-ngepakkan sayap. Arumi segera menghindar. Wajahnya memerah. Ia segera mencari alasan untuk kabur dari situasi yang mendadak terasa begitu canggung. “Saya nyiapin masakan buat besok dulu ya, Mas Elang!” katanya cepat, hampir terbata-bata. Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan cepat menuju dapur. Di belakangnya, Elang tersenyum kecil, menatap punggung Arumi yang bergegas pergi. Gadis itu benar-benar lucu. Mudah malu, cepat panik, tapi tulus. Arumi masuk ke dapur dan menutup pintu sedikit, cukup untuk memberi jarak. Dadanya naik turun. Ia menggenggam ujung dasternya erat-erat. Kenapa Elang mengatakan itu? Apakah dia bercanda? Atau serius? Arumi menggeleng, mencoba fokus. Ia membuka kulkas, mengeluarkan bahan-bahan untuk masakan besok. Sayuran, telur, dan ayam potong. Ia mulai memotong bawang, mencoba menenangkan pikirannya yang sempat kacau. Beberapa menit kemudian, ia menyadari bahwa sampah dapur sudah penuh. Arumi mengikat kantong plastik dan membawanya keluar melalui pintu belakang. Di belakang rumah, ada tempat sampah besar di samping sumur. Arumi berjalan di bawah cahaya rembulan yang redup, angin malam berdesir di antara pepohonan. Tapi saat ia hendak membuang sampah— “Miaaaw.” Suara lembut dari balik semak-semak. Arumi menoleh. Di bawah cahaya rembulan, seekor kucing kecil berbulu oranye dengan bercak-bercak putih berdiri di dekat pagar belakang. Tubuhnya kurus, matanya besar dan sayu, ekornya bergerak lamban. Arumi tersenyum. “Eh, ada kucing.” Ia membungkuk, mengulurkan tangannya pelan. Kucing itu awalnya ragu, lalu perlahan mendekat. Hidungnya mengendus-endus jari Arumi. “Kamu lapar ya?” Arumi mengusap kepala kucing itu lembut. “Kasihan, kamu kurus sekali.” Kucing itu mengeong pelan, seperti menjawab. Arumi meraih kucing kecil itu dan menggendongnya. “Kamu nggak usah kesepian lagi, Meng,” bisik Arumi sambil mengusap-usap bulu kepalanya. “Ada aku. Mulai sekarang aku kasih makan ya.” Kucing itu mendengkur pelan, menempelkan kepalanya di dada Arumi. Matanya yang sayu kini berbinar. Arumi tertawa kecil. “Ya ampun, aku jadi bawel bicara sama kucing. Tapi nggak apa-apa, Meng. Kita sama-sama butuh teman.” Ia duduk di kursi kayu dekat pintu belakang, memangku kucing itu. Tangannya terus mengusap bulunya lembut, dari kepala hingga ekor. Kucing itu semakin nyaman, bahkan mulai memejamkan mata. “Besok aku kasih makan ikan ya,” lanjut Arumi. “Aku suka ikan. Pasti kamu juga suka.” Arumi tersenyum. “Kamu mirip aku,” bisiknya. “Kesepian. Tapi sekarang kita punya satu sama lain.” Di kejauhan, dari balik pintu dapur yang sedikit terbuka, Elang berdiri diam. Ia baru saja hendak meminta air minum, tapi langkahnya berhenti begitu melihat pemandangan di halaman belakang. Arumi, duduk di kursi kayu di bawah rembulan, memangku seekor kucing kecil. Tangannya mengusap-usap bulu kucing itu dengan lembut, dan senyumnya yang tulus dan damai, terpancar di wajahnya. Elang hanya terdiam, menatap datar sebelum berbalik pergi dari sana. ***Riyono tertawa dari seberang telepon. “Mungkin. Tapi kau punya waktu sampai besok pagi. Kalau tidak, kau tidak akan pernah melihat Arumi lagi.”Telepon terputus. Elang menatap ponselnya, lalu menekan nomor polisi lagi.“Pak, saya tahu siapa yang menculik istri saya. Ayah saya sendiri, Riyono.”“Baik, Pak. Kami akan segera melacaknya,” sahut petugas di telepon.Elang menutup telepon. Ia menatap ke luar jendela, ke jalanan yang mulai gelap. “Arumi, bertahanlah. Aku akan datang.”Di gudang tua di pinggir kota, Arumi terbangun dengan kepala berdenyut. Tangannya terikat, mulutnya disumpal. Ia melihat Riyono berdiri di depannya, tersenyum tipis.“Selamat datang, Arumi,” kata Riyono. “Kita akan menunggu suamimu datang.”Arumi mencoba berbicara. Namun, suaranya tertahan. Mulutnya disumpal dengan kain kotor yang berbau apek, membuatnya hampir muntah.Tangannya terikat ke belakang dengan tali tambang yang kasar, menggores kulit pergelangannya. Kakinya juga diikat ke kaki kursi kayu tua yang ber
Riyono tidak bergeming. “Gatot hanya korban keadaan. Dia disuruh oleh seseorang. Dia bukan pelaku utama.”“Siapa yang menyuruhnya?!” Elang melangkah maju, wajahnya memerah karena amarah. “Bapak, ‘kan? Apa Bapak juga yang menyuruhnya membunuh Rina?”Riyono tersenyum tipis—senyum yang membuat darah Elang semakin mendidih. “Kamu terlalu cepat menyimpulkan, Elang. Aku hanya ingin keadilan. Gatot punya keluarga. Dia punya anak. Kamu tega membiarkan dia membusuk di penjara?”“Keadilan?” Elang tertawa pahit.“Keadilan macam apa yang Bapak maksud? Rina dibunuh dengan kejam! Dia disiksa! Dia diperlakukan seperti binatang! Dan Bapak bicara tentang keadilan untuk Gatot?”Arumi yang berdiri di belakang, menggenggam lengan Elang erat. Ia bisa merasakan tubuh suaminya gemetar. “Mas, tenang …” bisiknya.Elang menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia menatap Riyono dengan tatapan yang tidak lagi mengenal rasa hormat. “Bapak, dengarkan. Aku nggak akan membebaskan Gatot. Dia sudah membunuh k
Pemakaman Rina berlangsung sakral. Langit pagi itu berwarna kelabu, seolah ikut berduka. Awan tebal menggantung di atas pemakaman umum desa Kanigara, menutupi sinar matahari yang biasanya terik.Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga-bunga yang diletakkan di atas pusara. Elang berdiri di depan liang lahat, tubuhnya tegap tetapi bahunya turun.Arumi berada di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Di belakang mereka, Sardi, Nining, Bibi Siti, Pak Darman, dan beberapa tetangga berdiri dengan kepala tertunduk. Seorang pendeta memimpin doa, suaranya pelan tapi jelas, mengiringi kepergian Rina.“Tuhan, terimalah hamba-Mu ini dalam kedamaian abadi. Ampuni segala dosanya, dan terimalah dia di rumah-Mu yang kekal. Amin.”Elang menutup matanya. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi pipinya yang pucat. Ia tidak menyekanya. Ia membiarkan air mata itu mengalir, seperti sungai yang akhirnya menemukan muaranya.“Selamat jalan, Mbak,” bisiknya. “Aku akan selalu ingat Mbak. Te
“Aku mau cerita. Ayahku … dia pernah mengurung aku di gudang. Di dalamnya banyak tikus. Aku masih kecil, aku nggak bisa keluar. Aku teriak, tapi nggak ada yang dengar. Sejak itu, aku takut sama tikus.” Mereka pulang dengan langkah ringan. Di rumah, Oren dan Salju menyambut dengan gembira. Arumi memasak makan siang yang lezat, dan mereka makan bersama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada ancaman yang menggantung di udara. Malam itu, setelah kepergian Wirsa, Elang dan Arumi duduk di ruang tamu. Lampu meja menyala redup, menciptakan cahaya keemasan yang hangat. Oren dan Salju sudah tertidur di sudut ruangan, sementara di luar, angin malam berdesir pelan. Elang menggenggam tangan Arumi, jempolnya mengusap punggung tangan istrinya pelan. Ia menatap ke arah jendela, matanya kosong, seperti sedang melihat sesuatu yang jauh di masa lalu. “Arumi,” kata Elang pelan. “Aku mau cerita sesuatu.” Arumi menoleh, menatap suaminya dengan penuh perhatian. “Iya, Mas?” Elang menarik
Esoknya, Elang pamit kembali ke rumah kontrakan di pinggiran kota. Ia dan Arumi berpamitan pada Bibi Siti dan Nining, mengucapkan terima kasih atas semua bantuan yang telah mereka berikan. Oren dan Salju ikut dibawa, dimasukkan ke dalam keranjang kecil yang diletakkan di atas motor Elang. “Jaga diri kalian baik-baik, ya. Semoga kalian selalu dilindungi Tuhan,” pesan Bibi Siti sambil memeluk Arumi. “Iya, Bi. Terima kasih untuk semuanya,” kata Arumi, matanya berkaca-kaca. Nining melambaikan tangan dari teras. “Kalau butuh apa-apa, telepon aku, ya, Rum!” “Pasti, Ning! Maaf aku nggak sempat nepatin janji mau jalan-jalan sama kamu.” Motor melaju meninggalkan rumah Bibi Siti. Sepanjang perjalanan, Arumi memeluk pinggang Elang erat. Angin pagi berhembus sejuk, membawa aroma sawah dan pepohonan. Untuk sesaat, suasana terasa damai. Sesampai di rumah kontrakan, mereka membersihkan rumah yang sudah beberapa hari ditinggalkan. Elang menyapu halaman, sementara Arumi membersihkan dalam rumah.
Sardi kemudian berusaha menjelaskan. “Aku tahu, Lang. Tapi kalau kamu memukulnya, kamu bisa masuk penjara. Dia akan bebas. Kamu mau itu?”Elang berhenti meronta. Napasnya terasa berat karena amarah. Matanya masih penuh dendam, tapi perlahan api amarahnya mulai mereda. Ia menatap Gatot yang masih tersenyum sinis.“Kau lihat?” kata Gatot. “Anak kecil sepertimu nggak bisa apa-apa, Elang. Kau cuma bisa diam.”Polisi yang bersama mereka segera memborgol Gatot dan membawanya keluar. Gatot masih berteriak-teriak, memaki, dan menyebut nama Elang. Namun Elang tidak menghiraukan. Ia berdiri diam, tubuhnya gemetar menahan marah.Sardi melepaskan cekalannya, menepuk bahu Elang. “Kamu melakukan hal yang benar, Lang. Jangan biarkan dia menyeretmu ke dalam dramanya. Levelmu beda dengannya.”Elang mengangguk pelan. Ia menutup matanya, mencoba menenangkan diri. Di dalam hatinya, ada amarah yang belum padam. Tapi ia tahu, Sardi ben







