مشاركة

Bab 6

مؤلف: Mita Yoo
last update تاريخ النشر: 2026-07-09 14:51:23

Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika suara motor berhenti  di halaman. Arumi bangkit cepat, tangannya merapikan daster  yang ia kenakan.

Elang masuk dengan langkah lelah. Tas ransel di punggungnya, wajahnya kusam, tapi senyum tipis terukir di bibirnya.

“Mas Elang, sudah pulang?” sapa Arumi hangat. “Saya sudah siapkan makan malam.”

“Hm. Terima kasih.” Elang melepas sepatunya di teras. “Aku mandi dulu. Capek banget.”

Arumi mengangguk. Sementara Elang mandi, ia menata meja makan. Ayam goreng, sayur asem, dan sambal terasi. Menu favorit Elang sejak seminggu terakhir.

Setelah mandi, Elang makan dengan lahap. Arumi menemaninya sambil sesekali bertanya tentang pekerjaannya di kota. Percakapan mereka mengalir dengan nyaman dan hangat.

Setelah selesai, Arumi mengumpulkan piring dan mulai mencuci. Elang duduk di ruang tamu, menonton televisi.

Lalu Arumi teringat sesuatu. “Mas Elang, saya mau cuci baju kotor.”

Elang mengangkat wajah. “Iya. Pakai aja mesin cuci ya, biar kamu nggak capek.”

“Baik, Mas.”

Arumi membawa keranjang berisi pakaian kotor ke belakang rumah. Di sana, sebuah mesin cuci tua berwarna putih kusam berdiri di sudut, dengan panel tombol yang cukup rumit.

Arumi menatapnya bingung. “Ini ... tombolnya banyak banget.

Ia mencoba mengingat bagaimana Elang menggunakan mesin itu kemarin. Tapi ingatannya kabur. Dengan ragu, ia menekan beberapa tombol, memutar kenop, lalu menekan tombol start.

Mesin bergemuruh. Arumi tersenyum puas.

Tapi beberapa menit kemudian …

Suara aneh terdengar. Mesin bergetar hebat. Arumi terkejut. Ia melihat air berbusa keluar dari celah mesin, dan dari dalam, terdengar suara robekan.

“Eh? Kenapa ini?”

Ia buru-buru mematikan mesin, membuka pintu. Pakaian di dalamnya basah kuyup dan yang lebih buruk lagi—beberapa di antaranya robek.

Arumi mematung. Matanya berkaca-kaca. Kaus yang tempo hari dipakai Elang, berwarna hitam polos, kini robek besar di bagian depan.

“Ini ... ini kaus Mas Elang. Jadi rusak …”

Air matanya mulai mengalir. Ia berjalan ke ruang tamu dengan kaus robek di tangannya.

“Mas Elang …”

Elang menoleh. Begitu melihat Arumi menangis, wajahnya langsung berubah. Ia buru-buru berdiri dengan cepat.

“Arumi? Ada apa?”

Arumi mengangkat kaus robek itu. “Maaf, Mas. Saya ... saya salah pencet tombol mesin cuci. Bajunya robek. Saya bodoh. Maafkan saya. Saya benar-benar bodoh …”

Tangisnya semakin keras. Bahunya bergetar. Ia merasa sangat malu.

Seharusnya ia bisa melakukan hal sederhana seperti mencuci. Tapi ia gagal.

“Arumi, Arumi …” Elang mendekat. Tangannya terulur, mengusap puncak kepalanya pelan. Gerakannya lembut, penuh perhatian.

Arumi menunduk, tubuhnya masih bergetar karena isak tangis. Elang terus mengusap kepalanya, jari-jarinya menyisir rambutnya pelan-pelan.

“Sudah, nggak apa-apa. Itu cuma kaus biasa, bisa beli lagi.”

“Tapi, Mas—”

“Nggak apa-apa, Arumi.” Suara Elang lembut. “Kamu baru belajar. Nggak apa-apa kalau salah.”

Arumi masih menangis. Elang mengusap kepalanya dengan lembut, sesekali tangannya turun ke pipinya untuk menghapus air mata. Arumi hanya berdiri diam, menikmati sentuhan hangat itu.

Lalu Elang berkata, “Arumi, lihat aku.”

Arumi mengangkat wajahnya. Mata merahnya bertemu dengan mata Elang. Elang tersenyum kecil, tangannya masih di pipi Arumi.

“Kamu tidak bodoh. Kamu hanya manusia biasa. Dan semua orang pernah salah.”

Arumi menatap Elang. Dadanya berdebar. Air matanya mulai berhenti, digantikan oleh perasaan lain yang aneh di dadanya.

Dan tiba-tiba, ia sadar.

Tangan Elang masih di pipinya. Matanya masih menatapnya. Jarak mereka kini sangat dekat.

Arumi merasakan wajahnya memanas. Ia menunduk cepat, mundur selangkah. Tangannya menggenggam ujung daster erat-erat, gugup.

“Ma-maaf, Mas,” katanya terbata-bata. “Saya ... saya …”

“Kenapa?” Elang menatapnya heran.

“Tidak, tidak apa-apa. Cuma …” Arumi menggigit bibir, canggung.

Elang terdiam. Lalu ia tersenyum tipis.

“Kamu lucu,” kata Elang pelan.

Suaranya nyaris berbisik, tapi Arumi mendengarnya dengan jelas. Kata-kata itu seperti kupu-kupu yang terbang masuk ke dadanya dan mengepak-ngepakkan sayap.

Arumi segera menghindar. Wajahnya memerah. Ia segera mencari alasan untuk kabur dari situasi yang mendadak terasa begitu canggung.

“Saya nyiapin masakan buat besok dulu ya, Mas Elang!” katanya cepat, hampir terbata-bata.

Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan cepat menuju dapur. Di belakangnya, Elang tersenyum kecil, menatap punggung Arumi yang bergegas pergi. Gadis itu benar-benar lucu. Mudah malu, cepat panik, tapi tulus.

Arumi masuk ke dapur dan menutup pintu sedikit, cukup untuk memberi jarak. Dadanya naik turun. Ia menggenggam ujung dasternya erat-erat.

Kenapa Elang mengatakan itu? Apakah dia bercanda? Atau serius?

Arumi menggeleng, mencoba fokus.

Ia membuka kulkas, mengeluarkan bahan-bahan untuk masakan besok. Sayuran, telur, dan ayam potong. Ia mulai memotong bawang, mencoba menenangkan pikirannya yang sempat kacau.

Beberapa menit kemudian, ia menyadari bahwa sampah dapur sudah penuh. Arumi mengikat kantong plastik dan membawanya keluar melalui pintu belakang.

Di belakang rumah, ada tempat sampah besar di samping sumur. Arumi berjalan di bawah cahaya rembulan yang redup, angin malam berdesir di antara pepohonan.

Tapi saat ia hendak membuang sampah—

“Miaaaw.” Suara lembut dari balik semak-semak.

Arumi menoleh. Di bawah cahaya rembulan, seekor kucing kecil berbulu oranye dengan bercak-bercak putih berdiri di dekat pagar belakang. Tubuhnya kurus, matanya besar dan sayu, ekornya bergerak lamban.

Arumi tersenyum. “Eh, ada kucing.”

Ia membungkuk, mengulurkan tangannya pelan. Kucing itu awalnya ragu, lalu perlahan mendekat. Hidungnya mengendus-endus jari Arumi.

“Kamu lapar ya?” Arumi mengusap kepala kucing itu lembut. “Kasihan, kamu kurus sekali.”

Kucing itu mengeong pelan, seperti menjawab.

Arumi meraih kucing kecil itu dan menggendongnya.

“Kamu nggak usah kesepian lagi, Meng,” bisik Arumi sambil mengusap-usap bulu kepalanya. “Ada aku. Mulai sekarang aku kasih makan ya.”

Kucing itu mendengkur pelan, menempelkan kepalanya di dada Arumi. Matanya yang sayu kini berbinar.

Arumi tertawa kecil. “Ya ampun, aku jadi bawel bicara sama kucing. Tapi nggak apa-apa, Meng. Kita sama-sama butuh teman.”

Ia duduk di kursi kayu dekat pintu belakang, memangku kucing itu. Tangannya terus mengusap bulunya lembut, dari kepala hingga ekor. Kucing itu semakin nyaman, bahkan mulai memejamkan mata.

“Besok aku kasih makan ikan ya,” lanjut Arumi. “Aku suka ikan. Pasti kamu juga suka.”

Arumi tersenyum. “Kamu mirip aku,” bisiknya. 

“Kesepian. Tapi sekarang kita punya satu sama lain.”

Di kejauhan, dari balik pintu dapur yang sedikit terbuka, Elang berdiri diam.

Ia baru saja hendak meminta air minum, tapi langkahnya berhenti begitu melihat pemandangan di halaman belakang. Arumi, duduk di kursi kayu di bawah rembulan, memangku seekor kucing kecil.

Tangannya mengusap-usap bulu kucing itu dengan lembut, dan senyumnya yang tulus dan damai, terpancar di wajahnya.

Elang hanya terdiam, menatap datar sebelum berbalik pergi dari sana.

***

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 56

    Usai suasana sedikit tenang, Elang menatap Darsono yang masih duduk di ruang tamu dengan kepala menunduk. Arumi sudah menyiapkan teh hangat, tapi Darsono tidak menyentuhnya. Tangannya masih gemetar.Darsono mengangkat wajah, terkejut. “Mas Elang ...?”“Pak Darsono,” kata Elang pelan, “saya ingin bicara empat mata dengan Bapak. Di halaman belakang.”Darsono mengangkat wajah, sedikit terkejut. Tapi ia hanya mengangguk, lalu berdiri perlahan mengikuti Elang ke luar rumah. Arumi ingin mengikuti, tapi Elang menggeleng halus. “Kamu di sini saja. Jaga Ibu.”Arumi menurut, meskipun hatinya gelisah. Ia berdiri di dekat jendela, mengamati dari kejauhan.Di halaman belakang, di bawah rembulan yang samar, Elang dan Darsono berdiri berhadapan. Elang menyilangkan tangannya, matanya tajam. Darsono menunduk, tidak berani menatap langsung.“Pak Darsono …” Elang memulai dengan suara pelan. “Apa yang membuat Bapak sepe

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 55

    Arumi dan Wati saling berpandangan. Terdengar ketukan di pintu depan.Arumi berjalan ke pintu dengan langkah hati-hati. Ia mengerutkan dahi. Siapa yang datang jam segini?Di balik pintu, bayangan tiga orang terlihat. Arumi membuka pintu perlahan.“Bapak?! Astaga! Kenapa malam-malam begini ke sini? Dan siapa ini?”Darsono berdiri di ambang pintu. Wajahnya kusut, matanya merah, seperti orang yang tidak tidur semalaman. Tapi di belakangnya, dua pria berpakaian serba hitam berdiri dengan sikap tegap dan menakutkan.“Bapak, jawab! Ada apa Bapak kemari?” tanya Arumi, mencoba tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang.Darsono menatapnya dengan tatapan dingin. “Arumi. Bapak minta uang.”Arumi menggeleng cepat. “Arumi nggak punya uang, Pak. Sudah Rumi bilang berkali-kali kalau …”“Kamu bohong!” bentak Darsono. “Bapak tahu kamu punya uang! Elang pasti sudah kasih kamu uang! Ba

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 54

    Elang menatap Arumi dengan mata yang tidak berkedip. Ia mengangguk.“Ya. Seperti itu saja. Kita menikah. Aku akan daftarkan pernikahan kita di catatan sipil.”Arumi merasakan dadanya seolah berhenti berdetak. “Mas Elang ... serius?”Ada keraguan di mata Arumi, seperti ia tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.Elang mengangguk sekali lagi. “Ya.”“Tapi Mas ... apa kata orang nanti?” Arumi masih ragu. “Apa kata tetangga, apa kata Mak Tijah, apa kata mereka kalau Mas menikahi saya yang—”“Aku tidak peduli kata orang.” Elang mengepalkan tangannya lebih erat. “Aku tidak bisa membiarkan orang-orang terus berasumsi yang tidak baik.”Arumi terdiam. Lalu perlahan, ia mengangguk. “Baik, Mas. Saya ikut saja.”Elang tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan.“Besok. Aku daftarin pernikahan besok.”***Esoknya, pagi-pagi sekali, mer

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 53

    “Pak Karto, tolong antar kami ke rumah saya. Ibu Arumi perlu mendapatkan perawatan,” kata Elang.Pak Karto mengangguk sigap. Ia membantu Elang mengangkat Indah ke jok belakang mobil. Arumi duduk di samping ibunya, sementara Elang mengiringi mereka dengan motornya.Sepanjang perjalanan, Arumi tidak banyak bicara. Ia hanya memegang tangan ibunya, berdoa dalam hati. Kadang ia menatap ke belakang, ke arah rumah tuanya semakin menjauh, dan Darsono tidak terlihat sama sekali.Sesampai di rumah Elang, suasana berbeda. Rumah itu terasa lebih hidup dengan kehadiran Indah. Elang langsung bergerak cepat, ia mengambilkan kotak P3K, air hangat, dan handuk bersih.Salju menggonggong sebentar saat melihat orang asing, lalu diam saat Elang menenangkannya.“Arumi, bantu Ibu duduk di kursi,” perintah Elang. “Aku periksa lukanya.”Arumi menuntun Indah ke kursi ruang tamu. Perlahan, Elang memeriksa luka-luka di tangan d

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 52

    Motor Elang melaju kencang meninggalkan pasar. Arumi duduk di belakang, tangannya memegang ujung jaket Elang. Pikirannya masih tertuju pada ibunya. Indah yang sakit, ayahnya yang memaksa, dan kalung yang gagal ia jual.“Mas Elang,” teriak Arumi di antara deru angin, “kita ke mana?”“Yang tadi udah kubilang, ke rumahmu,” jawab Elang. “Kita lihat ibumu.”Arumi terkejut. “Tapi Mas …”“Aku tahu kamu khawatir. Aku juga tahu Bapakmu datang semalam.” Suara Elang tegas. “Aku sudah tahu dari tetangga.”Arumi tidak bisa berkata-kata. Elang sudah tahu.Mereka melaju melewati sawah-sawah hijau, melewati kebun-kebun sayuran, menuju desa Kanigara, tempat Arumi lahir dan dibesarkan. Rumah-rumah mulai tampak, atap-atap seng yang sudah berkarat, pagar-pagar bambu yang reyot.Motor Elang berhenti di depan rumah tua yang hampir roboh. Arumi turun dengan cepat, tapi sebelum kakinya menginjak tanah—

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 51

    Esoknya Arumi bangun lebih pagi dari biasanya. Ia masih memikirkan ibunya yang sakit, ayahnya yang memaksa, dan kalung emas di laci lemari.Setelah merapikan rumah dan memberi makan Oren serta Salju, ia bergegas menuju pasar dengan kotak beludru biru tersembunyi di dalam tas kecilnya.Pasar pagi sudah ramai. Pedagang sayur, buah, dan ikan saling bersahutan menawarkan dagangan. Arumi berjalan cepat menuju deretan toko emas di ujung pasar. Ia masuk ke salah satu toko dengan perasaan gugup.“Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” sapa penjaga toko, seorang pria paruh baya dengan kacamata di ujung hidung.Arumi mengeluarkan kotak beludru itu, membukanya dengan hati-hati. Kalung emas dengan liontin berbentuk hati berkilauan di bawah cahaya lampu toko.“Saya mau menjual ini, Pak,” katanya pelan.Penjaga toko mengambil kalung itu, memeriksanya dengan teliti. Ia memutar-mutar, menimbang, lalu melihat

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status