MasukDanielle Martin isn't a typical girl in high school. She doesn't wear tight clothes or pounds of makeup, she isn't popular and isn't really a big fan of all the attention. Books and Netflix are her Friday nights, staying home and eating sweets and junk. She's small and vulnerable, shy because she doesn't have the life everyone thinks she does. But that all changes... Now, Blake Daniels is a stereotypical high school guy. Captain of the football team, unbearably attractive, and one of the most popular guys to walk the school. To anyone else, his life is amazing. But to him, it sucks. Family issues and lost battles leave him weak and vulnerable to the ones who want to break him more. But that also all changes... Will their newfound love save them from the struggles they face? Can they survive with all the drama and rumors being thrown at them? It all comes down to one thing in the end. Can they make it together?
Lihat lebih banyak“Hanya dua ratus juta, Tuan! Dua ratus juta, dan putriku yang per awan ini akan jadi milik Anda!”
Seruan Jack Gilbert terdengar lantang, menyebut harga untuk Serena, putri kandungnya yang menampakkan wajah ketakutan selagi dipaksa berlutut di lantai. Sebagai seorang pemabuk, penjudi, dan pembuat onar, Jack Gilbert menumpuk utang dan sering melakukan tindakan kriminal. Sikapnya yang keji kepada sang putri semakin menjadi-jadi saat istrinya meninggal dua tahun lalu karena penyakit. Karena harta benda sudah habis terjual dan tidak ada aset lain yang dia miliki, layaknya pria tak berhati, demi bisa kembali berjudi, Jack rela menjual putrinya sendiri! “Berapa usianya?” Suara berat terdengar berucap, membuat Jack tersentak dan langsung menatap pria yang terduduk di tengah ruangan. Mengenakan pakaian serba hitam yang senada dengan warna sepasang manik abunya, tatapan pria tersebut sungguh mengintimidasi Jack dan membuatnya terpaku. “Tuan Max sedang bertanya padamu! Cepat jawab!” bentak seorang pria lain dengan kacamata yang berdiri di sebelah pria itu—asistennya. Jack pun tersentak dan langsung tersenyum lebar selagi menjawab, “Serena baru tujuh belas tahun, Tuan! Dia masih segar, tidak pernah tersentuh. Saya yakin dia bisa memuaskan Anda!” Mendengar kalimat Jack, alis Max tampak menukik. Lalu, dia pun menutup mata tanpa sedikit pun memberikan balasan. Melihat ekspresi tuannya, sang asisten pun langsung mengerti maksud tuannya. Dia menatap Jack dan berkata, “Tuan Max tidak berminat. Bawa gadis itu pergi. Daripada menjualnya, lebih baik kamu rawat putrimu itu dengan baik! Masih begitu muda, tapi sudah harus menerima ketidakadilan sampai terlihat kumal seperti itu, ayah macam apa dirimu!?” Penolakan itu membuat Jack langsung menyeret paksa putrinya lebih dekat. “Tapi, Tuan Calvin, Tuan Max, lihatlah!” Gadis itu meringis saat rahangnya dicengkeram paksa, wajahnya didongakkan agar terlihat jelas. “Putri saya memang kumal, tapi dia cantik! Anda hanya perlu memolesnya sedikit sebelum dinikmati agar puas!” Namun, melihat Calvin dan Max hanya diam. Jack yang tidak berniat menyerah kembali berkata, “K-kalau dua ratus juta tidak bisa, s-seratus juta saja! Seratus juta dan putriku ini menjadi milikmu, Tuan!” Kalimat Jack membuat Calvin memasang ekspresi jijik. Dia pernah melihat berbagai macam orang yang bersikap rendah, tapi yang secara gamblang tidak tahu malu dan memperlakukan sang putri seperti barang jualan seperti ini … baru Jack saja! Mengangkat tangan untuk mengusir, Calvin membentak, “Pergi! Jangan buang waktu kami!” Merasa tidak lagi ada harapan, Jack pun menggeram. Dia menatap Serena dan menyesali keputusannya tidak mendandani putrinya lebih dulu sebelum datang. Tidak terima tapi tidak bisa menyalahkan dua pria di hadapan, Jack pun beralih melampiaskan pada gadis di sampingnya. “Dasar anak tidak berguna! Bahkan di saat begini pun kamu hanya bisa menyusahkan!” umpatnya selagi memukuli punggung Serena beberapa kali, sebelum kemudian menyeret sang putri keluar ruangan. “Karena Tuan Max tidak bersedia membelimu, akan kujual kamu ke rumah bordil!” Mendengar kalimat sang ayah, Serena terperanjat dan langsung memohon, “Tidak, Ayah! Jangan! Aku tidak mau ke sana. Aku tidak—” “Apa kamu punya hak menolak?!” Jack kembali menyeret paksa gadis itu keluar dari ruangan besar Tuan Max. “Kalau tidak mau aku memukulimu lagi, cepat berdiri!” “Tidak, Ayah! Kumohon, aku bersedia melakukan apa pun asal jangan ke rumah bordil!” Merasa semakin kesal, Jack pun berbalik dan mengangkat tangannya. “Gadis sialan! Berani melawan kamu sekarang ya?! Rasakan in—!” “Cukup!” Suara berat yang bergema itu membuat seisi ruangan hening. Semua pasang mata langsung beralih menatap sosok Max yang terduduk di tengah ruangan dengan ekspresi sedingin es. “Satu, dua kali aku menahan diri melihat sikapmu,” ucap Max dengan sepasang mata gelap yang tajam. “Tapi kali ketiga, percaya atau tidak aku akan menyingkirkanmu?” Tubuh Jack langsung bergetar. “M-maaf, Tuan Max!” serunya lantang seraya menundukkan kepala. “S-saya akan segera pergi dari sini!” ucapnya lagi, sebelum kemudian sedikit berlutut untuk meraih lengan Serena. “Cepat pergi, atau kamu mau mati di sini dengan mengenaskan!?” tegurnya. Namun, baru saja Serena berdiri setengah diseret paksa sang ayah, tiba-tiba suara Max kembali terdengar. “Tinggalkan gadis itu di sini.” Serena dan Jack tersentak, begitu pula dengan Calvin yang langsung menatap ke arah Max. Terlihat dari singgasananya, Max menatap lurus ke arah Serena yang masih bergetar ketakutan. “Aku akan membelinya.” Semua orang terkejut, terutama Calvin. “Tuan?!” Max menatap Calvin. “Berikan yang dia mau.” “T-tapi, Tuan—” Mata Max menyipit. “Kamu tahu aku tidak suka mengulangi perintahku, Calvin.” Tidak lagi berani membalas, Calvin pun berakhir hanya bisa menghela napas. Dia langsung mengeluarkan buku cek kosong, menuliskan nominal yang terakhir disebutkan oleh Jack, lalu melemparkan kertas tersebut ke arah pria itu. “Ini! Ambil dan enyahlah!” seru Calvin. “Ah! Terima kasih, Tuan Max!” seru Jack setelah menerima cek tersebut.. “Saya jamin putri saya tidak akan mengecewakan Anda! Selama diajarkan, dia pasti mampu memuaskan Anda dengan baik!” Memerhatikan sosok Jack, Max mendengus dingin sebelum kemudian berdiri dari kursinya. “Setelah ini, jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku, maupun putrimu itu.” Dia menambahkan, “Kalau tidak, aku akan melenyapkanmu saat itu juga.” Tubuh Jack bergidik, takut. Akan tetapi, mengingat bahwa dia sudah mendapatkan uangnya, dia juga tidak ingin berhubungan lagi dengan pria mengerikan di depan mata. “Tentu saja, Tuan! Saya pergi, saya pergi sekarang!” Tanpa menyempatkan diri untuk melirik putrinya lagi, Jack pun menghilang dari tempat tersebut. Ditinggalkan sang ayah, Serena berdiri di tempat itu dengan ekspresi bingung dan kehilangan. Dia … sudah benar-benar dijual sang ayah …. “Kamu ….” Serena tersentak mendengar panggilan itu, tapi dia memberanikan diri menoleh ke arah sumber suara. Yang memanggilnya tidak lain dan tidak bukan adalah pria yang baru saja membelinya, Max. “Tunggu di sini,” perintah pria tersebut seraya berbalik untuk meninggalkan ruangan, “seseorang akan segera menjemputmu.” Kemudian, pria itu berjalan pergi. Di belakangnya, Calvin mengikuti. Walau pelan, tapi samar bisa Serena dengar Calvin berucap, “Tuan, kenapa Tuan membelinya?! Terlepas dari harganya yang tidak sesuai, dia juga terlalu muda!” “Dia hanya akan menjadi pelayan, Calvin. Tidak lebih,” jawab Max, sebelum kemudian melirik Serena sesaat, menyebabkan gadis itu tersentak dan menunduk dalam. “Lagi pula, dia masih terlalu hijau untuk menjadi wanitaku.”"Blake..."He doesn't stop, not even the slightest bit.His lips fully capture mine, surrounding me with immediate warmth. A tingling sensation spreading all throughout my body. His fingertips burning every inch of skin he touches.I know this isn't right, it can't be right.But it feels so good...Every part of me craves him, it has for a long time.I finally come to my senses, using all of my strength to push him away.He loses his balance, gracefully crashing to the ground, shock written all over his face."I can't...we can't..." I shake my head, feeling a small pit of guilt form in my stomach."Why can't we, Danielle?" He stands up, stepping closer to me."Huh?""Because..." I keep my eyes trained on the ground."Because of Ryder? He shouldn't matter anymore, he wanted to break your heart.""But he didn't." I mumble out.A humorless laugh escapes his lips as he looks up towards the sky."So that makes it okay?""No, it's just that I-""You, what Danielle? Feel bad?""Maybe?""You
Blake's POV:What have I doneI pace around my room, hands tugging at my hair.I didn't think that she'd get so upset.I thought that she would just see me in the hall and run right to me for comfort.Man was I stupid.I try to think of what to do to make her come back to me.But, her words keep replaying in my head."Congratulations! You didn't win the girl..."Maybe, after that, I should leave her alone. Give her some space and time to get over what happened.I sit down on my bed, my breathing erratic as my racing thoughts cloud my mind.My fingers tap on my thigh, my knee bouncing up and down. The other hand up to my face as I subconsciously bite on my finger nails, racking my brain for any idea of what to do.Suddenly, I stop everything. Tapping, nail biting, breathing, everything.I shoot up from my seat on the bed and rush to grab my car keys. I run down stairs and out of the front door, not even bothering to close it.I have an idea.This better work. If it doesn't...I might no
Okay. Let's talk.""Thank you." Blake softly smiles.He starts to walk away, probably wanting me to follow. So I do.He leads me to a secluded area, where no eyes would be on us.I look up at him, his bright eyes resembling a turquoise ocean."What?" I accidentally ask rudely."Why won't you even look at me?" He sadly questions."I am looking at you." My attitude gets worse."No, I mean at school. You won't look at me. Every time I pass by you, you look away."Does he not remember everything that happened yesterday?"This is why you wanted to talk...because I wouldn't look at you?" I start to get frustrated."No, there's more to this, I promise."Promise...it's not the first time I've heard that."Okay...so, what is it?""First, can you answer my question." He crosses his arms."Fine, do you not remember yesterday?" I look at him, no emotion flashes across his face."When I woke up at your house?""Of course I remember." His jaw ticks as he turns his head away from me."Well, that's t
"Danielle..."I feel my body being shook."Danielle..." That voice says my voice again.It sounds familiar."Danielle!"They yell, and this time, I open my eyes.Green eyes bore into mine as his hands grip my shoulders."Blake?" My voice comes out raspy as I fully sit up.I only focus on him, the corner of his lips upturn into a slight smile.Butterflies flutter in my stomach, my breath hitches in my throat."Yeah? What's wrong?" His eyes fill with worry.I look around, people frantically run around, pushing and shiver their way through the doors and windows of the room."Where's Ryder?" I don't see him anywhere.Blake's face contorts into anger and hatred."He left you here, Danielle.""Oh, okay." I softly say, feeling my eyelids get heavy and my body get heavier.I start to fall over."Woah there." Blake says, his hands catching me before I fully drop."I got you." He whispers into my ear.His deep voice luring me into darkness.I jolt awake. The sight of an strikingly familiar room






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.