Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / 234. Sebuah Kepastian 

Share

234. Sebuah Kepastian 

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-06-03 23:57:29
"Kalau begitu saya juga nggak akan buru-buru menjawab sesuatu yang belum pantas saya jawab. Mana ponsel staf saya?”

Satria tersenyum samar.

Pak Hendra melanjutkan, "Dan kalau kamu memang mau ikut mengurus peninggalan Prabu, mungkin kamu juga harus mulai memikirkan uang saya yang dibawa dia.”

Satria menelan ludah pelan. Kalimat yang baru saja diucapkan Pak Hendra baru pertama kali didengar Satria.

Selanjutnya ia bisa saja bertanya langsung soal bagaimana praktik money laundry yang terjadi di pel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (31)
goodnovel comment avatar
Ratu Tety
Mas Satria sudah benar2 kehilangan rasa sungkan sama manusia tua licik ini.
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
pak hendra,, kenapa dirimu begitu kejam syekali,,
goodnovel comment avatar
Tini Wartini
Licik & kejam ternyata...pk Hendra
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 236. Kesalahan Sama, Orang yang Berbeda

    “Yang menarik itu ... cara Anda berhenti peduli.”Pak Hendra tidak menjawab.Satria memutar pelan ponsel di atas meja.Lalu meletakkannya kembali.“Sebenarnya saya juga nggak terlalu peduli dengan ponsel ini.”Tatapan Pak Hendra sekilas tertuju pada ponsel.“Padahal isinya lumayan menarik.” Sudut bibir Satria bergerak tipis. “Ada rekaman suara. Ada potongan video. Ada beberapa percakapan yang seharusnya cuma diketahui orang-orang tertentu.”Pak Hendra tetap diam.“Anda pasti nggak menyangka orang-orang yang paling dekat dengan Anda ternyata menyimpan rasa takut juga.” Jari telunjuk Satria mengetuk ponsel itu sekali. “Takut kalau suatu hari mereka mengalami nasib yang sama seperti orang-orang sebelumnya.”Ruangan kembali sunyi.“Makanya saya bilang ponsel ini menarik.” Satria menggeleng kecil. “Bukan karena nilainya sebagai barang bukti.”Ia membalas tatapan Pak Hendra. “Tapi karena benda ini membuat saya memahami satu hal.”Pak Hendra menyipitkan mata. “Oh, ya? Apa itu?”Satria tersen

  • KAMAR KEDUA   Bab 235. Kenyataan yang Semakin Pahit

    “Empat puluh miliar tidak akan membuat perusahaan saya goyah.”Satria menyandarkan tubuhnya.“Tapi Anda dan saya sama-sama tahu itu cukup untuk menghancurkan Prabu.”Pak Hendra diam beberapa saat.Ia mengusap bibir cangkir tehnya dengan ibu jari sebelum akhirnya tersenyum tipis.“Tidak.”Satria mengangkat alis.“Yang menghancurkan Prabu bukan empat puluh miliar itu.”“Lalu apa?” Bagaimana pun juga ia tidak suka seseorang bicara buruk tentang temannya.“Keserakahannya,” kata Pak Hendra.Suara pendingin ruangan kembali terdengar ketika dialog mereka terhadap. Satria memandangi pria tua di depannya. Pak Hendra terlihat jauh lebih santai sekarang.Seolah akhirnya mereka sampai pada bagian cerita yang ingin ia sampaikan sejak awal.“Awalnya Prabu datang ke saya sebagai pengusaha yang sedang kesulitan,” lanjut Pak Hendra. “Itu manusiawi, kan? Banyak orang datang dengan masalah yang sama. Awalnya Prabu bahkan tidak pernah bertanya apa usaha saya. Begitu kesulitan, dia datang lagi.”Rahang S

  • KAMAR KEDUA   234. Sebuah Kepastian 

    "Kalau begitu saya juga nggak akan buru-buru menjawab sesuatu yang belum pantas saya jawab. Mana ponsel staf saya?”Satria tersenyum samar. Pak Hendra melanjutkan, "Dan kalau kamu memang mau ikut mengurus peninggalan Prabu, mungkin kamu juga harus mulai memikirkan uang saya yang dibawa dia.”Satria menelan ludah pelan. Kalimat yang baru saja diucapkan Pak Hendra baru pertama kali didengar Satria.Selanjutnya ia bisa saja bertanya langsung soal bagaimana praktik money laundry yang terjadi di pelabuhan dan di bawah kontrol pria itu selama ini. Tapi tentu saja dunia ini berjalan tidak semudah itu."Sebenarnya kapan Bapak mulai mengenal Prabu?” Satria merasa itu adalah pertanyaan paling aman yang akan dijawab Pak Hendra. Pria tua itu licin dan hati-hati.“Sudah cukup lama,” sahut Pak Hendra.Jawaban yang belum bisa memberi gambaran jelas baginya. Masih terlalu hati-hati."Saya anggap kita sama-sama paham kalau percakapan hari ini tetap ada di ruangan ini.” Satria mengingatkan bahwa harusn

  • KAMAR KEDUA   Bab 233. Orang Tua yang Tidak Suka Kalah

    Esok harinya setelah pertemuan di halaman belakang rumah, Satria akhirnya menghubungi Pak Hendra dengan cara yang sama saat pria tua itu menghubunginya untuk bertemu di gudang nomor tujuh belas.Pesan yang netral dan datar. Namun masih menyiratkan kesopanan bicara seorang muda pada yang lebih tua.‘Selamat siang, Pak Hendra.’‘Bagaimana kalau Senin depan pukul 10 pagi kita ngobrol sambil ngopi di ruang private Estate cafe?’Dan sesuai tebakan Satria, jawaban dari Pak Hendra tak perlu menunggu waktu lama. Seolah Pak Hendra memang sudah menunggu.‘Boleh saja. Senin pagi di Estate cafe pukul 10 pagi.’Satria memandang pesan singkat itu dengan senyum di salah satu sudut bibirnya.“Seperti biasa … selalu optimis, ramah dan percaya diri,” ucapnya setelah membaca ulang pesan Pak Hendra.__________Pagi itu langit kota terlihat pucat. Mendung tipis menggantung sejak pagi tanpa benar-benar berubah menjadi hujan.Satria datang tepat waktu.Restoran yang dipilihnya bukan tempat mewah yang ramai

  • KAMAR KEDUA   Bab 232. Malam Kesimpulan

    Pertanyaan itu cukup penting karena mereka semua tahu beberapa bulan terakhir ada terlalu banyak kejadian aneh di sekitar Satria dan Sheza.Satria menggeleng. “Udah nggak ada.”Arga langsung memperhatikan. “Yakin?”“Yakin.” Tatapan Satria bergerak ke arah rumah sesaat. “Nggak ada lagi yang ngikutin, nggak ada lagi yang nongkrong depan komplek karena nunggu kapan gue pulang.”Roman ikut mengangkat alis. “Bener-bener bersih?”“Bersih.” Satria mengambil gelasnya. “Dan gue cukup yakin orang yang ngikutin itu memang si kidal sama temennya.”“Lo yakin?” tanya Julian.Satria mengangguk. “Posturnya sama. Caranya juga.”“Temennya si kidal yang di gudang gimana?” tanya Roman. “Masih hidup?”Arga menggeleng. “Udah nggak. Menyusul si kidal beberapa waktu lalu.”“Wah … kebetulan, ya. Untung lo, Sat. Nggak ada yang sisa buat balas dendam.” Roman terkekeh-kekeh.“Kalau menurut gue harusnya dia masih bisa hidup, sih …. Kayak sengaja dihabisin aja. If you know, you know,” kata Arga.Semuanya menghela

  • KAMAR KEDUA   Bab 231. Cross Check

    Asap dari panggangan masih bergerak tipis ke udara malam. Gelas-gelas mulai berkurang isinya. Wajah-wajah yang tadi tampan santai dan penuh tawa, kini mulai berubah sedikit serius.Terutama Satria.Pria itu meletakkan gelasnya di meja. Tatapannya berpindah dari Roman ke Julian, lalu ke Arga dan Vian.“Ada satu hal yang mau gue minta,” ucapnya dengan nada suara cukup tenang tapi membuat suasana berubah. Semua yang di situ mengenal Satria. Nada suara seperti itu berarti bukan lagi membahas soal Sheza, bayi, anak-anak atau kehidupan rumah tangganya.Arga ikut meletakkan gelasnya lalu menegakkan punggungnya. “Kita semua nyimak, Sat,” ucapnya.Satria diam beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Gue mau kita nginget lagi semuanya.”Julian mengernyit.Lalu Satria kembali menyambung, “Kita harus inget semua yang terjadi sejak Prabu pergi.”Tiba-tiba angin malam bergerak melewati halaman belakang. Angin itu hangat membelai wajah mereka. Semua terlihat menghela napas pelan. Karena nama yang baru

  • KAMAR KEDUA   Bab 87. Yang Datang Terlalu Cepat

    Sheza memasukkan stik tespek kembali ke plastiknya. Saat melangkah keluar kamar mandi, ada harapan bodoh yang menyelip bahwa semua ini hanya mimpi, dan sebentar lagi ia akan terbangun.Tapi plastik kecil itu nyata di genggamannya. Ia tidak berani menatapnya lagi. Lututnya masih terasa lemas, seolah

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • KAMAR KEDUA   Bab 86. Pagi yang Terlalu Ringan

    Ia berhenti bicara saat Satria menatapnya. Tatapan itu tenang, tapi penuh keputusan. Sheza mengisi mug lagi dan meneguknya seteguk kecil, seolah menunda. “Aku mau tidur,” katanya pelan. “Besok juga baikan.” Satria tidak membantah. Ia hanya mencondongkan tubuh, satu lengan menyelip ke bawah lu

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • KAMAR KEDUA   Bab 84. Apa Mungkin?

    “Banyak perempuan merasa mual, gampang kedinginan, atau seperti mau sakit di awal kehamilan,” ujar dokter sambil mencatat. “Selama tidak disertai keluhan berat, itu tanda tubuh sedang merespons hormon kehamilan. Jadi jangan langsung khawatir.” Satria masih ingat betul masa itu. Sepuluh tahun lalu,

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • KAMAR KEDUA   Bab 85. Hangat yang Dipaksakan

    Satria meletakkan mangkuk sup di meja kecil di samping sofa. Uap tipis masih naik perlahan, membawa aroma jahe dan bawang yang lembut. Ia tidak langsung menyodorkannya. Ia justru berdiri sebentar, mengamati Sheza yang masih meringkuk, dengan selimut menutup bahunya. “Duduk, yuk,” katanya pendek.

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status