หน้าหลัก / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 105. Yang Tidak Pernah Diucapkan

แชร์

Bab 105. Yang Tidak Pernah Diucapkan

ผู้เขียน: juskelapa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-11 23:11:43

“Kapan terakhir lo ketemu Prabu?”

Suara Satria tenang. Terlalu tenang untuk pertanyaan yang berat.

Roman menatap lantai sesaat. Belum menjawab.

Arga yang lebih dulu bergerak. Nada bicaranya ringan, tapi sangat tepat.

“Man,” katanya, “gue mau nanya satu hal dulu.”

Roman mengangkat wajahnya.

“Kalau lo memang ketemu Prabu sebelum kecelakaan,” lanjut Arga, “kenapa lo nggak ngomong dari awal?”

Ada hening yang cukup lama.

“Itu kan informasi penting,” sambung Arga datar. “Dan lo simpan.”

Julian ikut m
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (45)
goodnovel comment avatar
~kho~
Lanjuuuut man....
goodnovel comment avatar
Mamah Aster
jadii penasaran Roman punya rahasia apa ya kira2
goodnovel comment avatar
Cha
kerenn kak.... terimakasih
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • KAMAR KEDUA   Bab 341. Percakapan Laki-laki

    Di teras belakang, Satria duduk di tepi kolam renang. Ia mengeluarkan rokok dari kantongnya dan meletakkannya ke meja kecil hingga menimbulkan bunyi sentakan pelan.Roman sedikit kaget melihatnya. "Udah lama nggak gini, Sat. Boleh? Soalnya sejak punya anak, lo ketat banget sama protokol kesehatan." Ia terkekeh.Satria mengambil sebatang dan menyulutnya. "Boleh. Kadang gue rasa perlu sesekali. Kalau ngomong begini, kita bisa lebih santai. Obrolan laki-laki."Roman ikut mengambil sebatang dari bungkus yang tergeletak di meja, menyulutnya, lalu duduk di kursi seberang Satria. Asap tipis mengepul di antara mereka, menyatu dengan udara sore yang mulai teduh."Udah berapa lama, Sat? Rokok terakhir kapan?" tanya Roman, mencoba membuka obrolan santai."Sejak Sheza hamil Sagara." Satria menghembuskan asap pelan-pelan, matanya menatap permukaan kolam yang beriak kecil. Ia lalu memandang temannya di sebelah. "Lo nggak ada mau cerita sesuatu ke gue?"Roman yang tadi memperlihatkan gurat senyum sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 340. Wawancara dari Sheza

    Saat Roman datang dan terlihat oleh Satria, pria itu langsung diajak ke belakang. Satria hanya memberi isyarat dengan dagu, dan seketika itu juga Roman paham maksudnya.Roman melangkah melewati meja makan, tempat Sheza dan Rania masih berdiri. Ia tersenyum sekilas pada keduanya. Siang itu ia mengenakan jeans dan kemeja lengan pendek bermotif ombak laut berwarna biru pastel dan putih."Hai…," sapa Roman. "Saya ke belakang dulu, ya. Dipanggil Mas Satria," katanya.Sheza terbelalak, kaget mendengar Roman memanggil suaminya dengan sebutan "Mas". Namun Roman sudah keburu berlalu sebelum sempat ditanya lebih jauh, mengikuti langkah Satria menuju bagian belakang rumah.Sheza masih menatap punggung dua pria itu yang menjauh, lalu berpaling pada Rania."Mas? Ada apa? Kenapa tiba-tiba manggil temennya dengan sebutan Mas? Biasa dia nggak gitu," kata Sheza, memandang Rania.Rania masih memandangi punggung Roman yang berjalan mengikuti Satria ke belakang. Ia lalu menoleh pada Sheza. "Biasa manggil

  • KAMAR KEDUA   Bab 339. Silaturahmi Kebetulan?

    Setelah selesai makan, Roman membayar dua porsi mie ayam. Rania sempat menawarkan untuk membayar bagiannya sendiri, tetapi Roman menolaknya."Kali ini biar aku aja," katanya.Rania mengangkat alis. "Kali ini?" Setelah kali ini, apakah artinya akan ada kali lainnya?, batinnya.Roman terdiam sebentar, kemudian tersenyum. "Kalau kamu mau."Rania tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil tasnya. "Ya sudah."Mereka meninggalkan gerobak pedagang. Udara malam terasa lebih sejuk. Jalan di depan rumah sakit mulai lengang, hanya beberapa kendaraan yang sesekali melintas."Kos kamu benar-benar dekat?" tanya Roman."Dekat.""Biasanya jalan kaki?""Iya. Di sana," katanya, menunjuk lokasi di seberang rumah sakit.Roman melihat arah jalan yang ditunjuk Rania. "Saya temenin.""Nggak usah, Mas.""Kenapa?""Sudah malam.""Karena udah malem, makanya ditemenin. Yuk."Rania terdiam, lalu akhirnya mengangguk. "Ya sudah."Mereka berjalan berdampingan. Tidak ada kendaraan di antara mereka, tidak ada jarak

  • KAMAR KEDUA   Bab 338. Percakapan di Tepi Jalan

    Pedagang mie ayam yang mereka datangi hanya berupa gerobak, meja panjang, dan bangku-bangku plastik yang disusun rapi. Malam itu bagian ujung meja terisi dua orang pekerja rumah sakit yang baru pulang, serta seorang pria muda yang tampilannya seperti mahasiswa yang tinggal di sekitar rumah sakit.Rania berjalan di samping Roman. Awalnya ia masih sedikit canggung, sesekali tangannya merapikan tali tas yang menggantung di bahu, sementara Roman berjalan santai di sebelahnya."Sering makan di sini?" tanya Rania."Lumayan." Roman merapikan bangku untuk Rania. "Kalau lagi praktik sampai malam, kadang mampir." Padahal yang barusan dikatakannya itu sebuah kebohongan kecil—ia tidak pernah makan di sana. Hanya melihat gerobak itu sesaat sebelum berbelok ke rumah sakit tadi.Rania duduk. "Berarti rumah sakit Mas Roman juga dekat dari sini?""Nggak terlalu dekat. Saya praktik di Jakarta Selatan.""Oh." Rania mengangguk kecil. "Kalau di sini Jakarta Barat, Jakarta Selatan itu jauh nggak, ya? Saya

  • KAMAR KEDUA   Bab 337. Saling Bercerita

    Pulang dari rumah sakit malam itu belum terlalu larut seperti kemarin. Rania langsung membereskan pakaian kotor dan bersih-bersih untuk bersiap tidur. Saat berbaring, ia mengingat-ingat lagi yang terjadi hari itu.Ia mengulang beberapa hal yang dipelajarinya—tentang membedakan kontraksi persalinan dengan kontraksi palsu, membaca perkembangan pembukaan dari partograf, sampai mengenali perubahan kecil pada kondisi ibu yang bisa menjadi tanda awal komplikasi. Ada pula beberapa tips dari bidan pembimbing tentang kapan harus lebih waspada dan kapan sebuah kondisi masih bisa diobservasi.Semakin lama berada di rumah sakit, Rania mulai memahami bahwa kebidanan bukan sekadar menghafal teori. Yang lebih sulit adalah membaca situasi dan mengambil keputusan pada waktu yang tepat.Namun, dari semua yang berputar di kepalanya malam itu, ada satu hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan rumah sakit.Roman.Pria yang hampir dua minggu ini terus menghujaninya dengan makanan enak.Rania mengerutk

  • KAMAR KEDUA   Bab 336. Percikan yang Mulai Tersebar

    Malam itu, Rania berbaring di kasur kosnya dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar yang sejak beberapa hari terakhir mulai terasa akrab, meski belum sepenuhnya terasa seperti rumah.Pikirannya kembali pada satu hal yang sejak tiga hari lalu belum juga terjawab.Saudara-nya Roman.Sudah tiga hari pria itu datang ke rumah sakit membawa makanan untuknya dengan alasan yang sama. Katanya, ada saudaranya yang juga sedang menjalani praktik klinik di rumah sakit tersebut.Tapi sampai sekarang, Rania belum pernah melihat orangnya.Tidak ada nama dan jurusan yang jelas.Bahkan tidak ada satu pun perawat atau mahasiswa praktik lain yang pernah menyebut ada peserta praktik baru yang memiliki hubungan keluarga dengan Roman—pria yang sering menunggunya di lobby.Rania mengembuskan napas pelan.Mungkin memang kebetulan.Bisa saja jadwal praktik mereka berbeda. Bisa jadi saudaranya berada di ruangan lain. Rumah sakit itu cukup besar dan mahasiswa prakt

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status