Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 109. Malam yang Baru

Share

Bab 109. Malam yang Baru

Penulis: juskelapa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-14 00:53:18
Sheza tidak menjawab Satria yang memanggilnya dengan suara serak. Ia hanya bergerak turun perlahan. Sengaja. Ia menikmati saat Satria memandangnya dengan sorot penasaran, sekaligus tak sabar.

Bibirnya menyentuh dada Satria lebih dulu—sebuah ciuman kecil yang hangat, hampir seperti tanda kepemilikan yang dibisikkan lembut.

Tubuh pria itu langsung memberi respons. Napasnya berubah. Dadanya turun-naik lebih dalam. Otot-ototnya mengencang seolah seluruh tubuhnya menyatu pada satu titik yang sama
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (19)
goodnovel comment avatar
Uni Yuni
hayo loh yang bolak balik buat liat kak njus dah update lagi beluum hihihi
goodnovel comment avatar
nurlia nova
ternyata hari ini hanya 1 bab...
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Zee ..udah berani menerima satria ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 118. Menginap di Rumah Papa

    “Kangen?” Satria tersenyum tipis. “Aku di sini aja.” Jawaban Satria pelan. Tangannya masih di pipi Sheza ketika wanita itu mengerjap pelan.Sheza tersenyum tipis. “Kayaknya Nay ngantuk banget tadi .…” Ia pelan-pelan hendak bangkit, tapi Satria sudah lebih dulu menopang bahunya.“Pelan,” katanya rendah.Satria membetulkan posisi Nayla lebih dulu—menarik selimut kecil ke atas tubuh putrinya, menyibakkan rambut yang menutup wajahnya. Setelah itu barulah ia menarik Sheza mendekat ke dadanya. Sheza bersandar, napasnya masih sedikit berat. “Itu kamar Nayla udah diberesin?” tanyanya pelan.“Udah,” jawab Satria. “Tadi Tuti yang bantuin. Kamu juga sempat lihat kan?” Sheza mengangguk. “Aku baru tau itu kamar Nayla. Lengkap banget. Lemarinya, mejanya, rak bukunya … Dia pasti betah.”Satria tersenyum tipis. “Memang aku bikin supaya dia betah di sini.”Sheza menoleh, menatapnya.Satria melanjutkan lebih pelan, “Aku pengin rumah ini jadi rumah yang hangat. Buat setiap anak.”Sheza mengulang pelan

  • KAMAR KEDUA   Bab 117. Kenangan yang Tidak Pernah Selesai

    Ucapan Nayla membuat Sheza diam beberapa saat. Tangannya terus mengusap rambut gadis kecil itu dengan lembut. Baru kali ini merasakan kedekatan dengan anak perempuan seumuran Nayla.Kalimat Nayla tadi masih menggantung di udara.‘Sebentar sama Papa, sebentar sama Mama.’Bahkan di telinganya sendiri pun kata-kata itu terdengar pahit. Ia membayangkan adegan yang diceritakan gadis kecil itu. Mall yang ramai. Lampu terang. Orang-orang menoleh. Nadine marah sampai harus teriak. Lalu Satria memeluknya lama, di depan umum.Kalau sampai Satria—yang jarang menunjukkan emosi di depan orang—harus memeluk Nadine seperti itu, berarti amarah Nadine benar-benar besar. Ia tahu Satria pasti mencoba meredam amarah itu dengan pelukan. Dan … yang paling membuatnya ngilu adalah, Nayla melihat semuanya.Sheza menelan pelan.Ada sesuatu yang terasa nyeri di dadanya. Bukan cemburu atau rasa ingin tahu berlebihan. Ia sedih. Sedih karena seorang anak menyimpan potongan kenangan seperti itu sendirian. Tanganny

  • KAMAR KEDUA   Bab 116. Bukan Tentang Mall

    Kalimat itu membuat udara seperti berhenti sejenak. “Kalau Papa punya anak lagi … aku seneng,” lanjut Nayla. “Karena Papa nggak sendirian lagi. Apalagi sekarang ada Ibun.”Sheza menahan napas. Tangannya membelai rambut Nayla yang panjang dan lurus. Rambut lurus itu diambil persis dari mamanya. Karena Sheza melihat rambut Satria saat basah sedikit ikal. Nayla masih memeluknya dengan perasaan yang jauh lebih dewasa dari anak seusianya.Di belakang Nayla, Satria bersandar di kusen pintu teras. Tangannya terlipat di dada. Tatapannya tenang, tapi jelas memperhatikan Sheza.Sheza sadar itu.Dan tiba-tiba ia jadi salah tingkah.“Papa kamu itu …” Sheza mulai pelan, “sebenarnya nggak pernah benar-benar sendirian.”Nayla mendongak. “Enggak?”Sheza menggeleng kecil. “Papa itu kuat. Dia bisa urus dirinya sendiri.”Satria langsung menyahut, datar tapi ada nada godaannya. “Enggak juga.”Sheza menoleh cepat. “Mas .…”Satria melangkah mendekat. Berdiri tak jauh dari mereka. “Papa bisa urus banyak hal

  • KAMAR KEDUA   Bab 115. Rumah yang Hidup

    Sheza terbangun karena rasa mual yang datang seperti gelombang pelan tapi pasti.Selimut hanya menutup setengah tubuhnya. Semalam ia tertidur tanpa mengenakan apa pun selain celana dalam tipis yang kini sedikit bergeser di pinggulnya. Perutnya mulai terlihat membulat dengan payudara yang semakin terlihat penuh dan berisi.Sejak mereka benar-benar tidur seranjang sebagai suami istri, Satria memang memintanya seperti itu. Awalnya ia mengira bahwa itu memang cocok buat kondisinya yang sedang mabuk kehamilan parah. Tapi setelah tidur bersama Satria di sebelahnya, ia paham pria itu memang menginginkannya seperti itu. Di sela-sela tidur malam, Satria sering bergerak tanpa benar-benar bangun. Lengan besarnya akan mencari tubuh Sheza, menariknya lebih dekat. Tangannya mengusap punggungnya, turun ke pinggang, kadang berhenti di perutnya yang kini mulai membulat. Mengusap perlahan, seperti memastikan semuanya ada di tempatnya.Kadang Satria memeluknya dari belakang, dekat. Tubuh mereka menempe

  • KAMAR KEDUA   Bab 114. Kejutan yang Dinanti 

    Malam itu Satria menjabat tangan Pak Salim dengan mantap dan mengangguk sopan pada Nadine. Ia pergi dengan langkah tenang dan tak menoleh lagi ke belakang.Pintu ruang privat tertutup.Beberapa detik hening tersisa di antara ayah dan anak itu.Nadine tidak langsung bicara. Ia mengusap bibir gelasnya dengan ujung jari, seperti sedang memikirkan sesuatu yang baru saja berubah arah. “Apa menurut Papi dia selalu gitu?” tanyanya akhirnya, berusaha terdengar biasa saja.Pak Salim tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan ekspresi putrinya lebih dulu. “Gitu gimana?”“Seolah-olah dia nggak butuh siapa pun,” jawab Nadine.Pak Salim terkekeh kecil. “Dia bukan nggak butuh. Cuma orangnya nggak sembarangan.”Nadine menatap papinya. Ada kilat kecil di matanya yang jarang muncul.“Aku cuma komentar itu aja,” katanya ringan.“Tapi kamu tertarik,” potong Pak Salim lembut.Nadine tidak menyangkal. Ia hanya mengangkat bahu. “Lumayan.” Ia meneguk minumannya. “Semua teman-temanku sibuk membicarakan dia.”

  • KAMAR KEDUA   Bab 113. Nilai dan Peluang

    Restoran tempat Satria dan keluarga Salim Prajogo Kertasoedibyo bertemu tidak terlalu ramai. Pak Salim sudah meminta sekretarisnya memesan tempat sebuah restoran umum, tapi juga private. Menekankan kesan bahwa mereka sudah biasa masuk ke ruang publik tapi juga tidak berbaur sepenuhnya. Sebuah private room dengan dinding kayu gelap dan lampu kuning hangat yang meredam suara luar menjadi pilihannya.Satria datang tepat waktu. Dengan jas navy berpotongan sederhana yang dipadukan dengan jeans dan kemeja putih. Tidak berlebihan tapi terlihat mewah dan percaya diri.Pak Salim berdiri lebih dulu.“Satria,” ucapnya hangat, menjabat tangan pria itu dengan dua tangan. “Sudah lama kita nggak duduk semeja. Maafkan kalau belakangan saya sibuknya luar biasa.” Ia menberi jeda ucapannya, “Tapi belakangan kamu juga terlihat sangat sibuk, ya.” Nada suaranya tulus. Bahkan sedikit bangga.“Masih belajar mengatur waktu, Pak,” jawab Satria ringan. “Bisnis memang butuh perhatian.” Ia tersenyum tipis.“Jadi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status