/ Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 115. Rumah yang Hidup

공유

Bab 115. Rumah yang Hidup

작가: juskelapa
last update 게시일: 2026-02-17 23:58:20

Sheza terbangun karena rasa mual yang datang seperti gelombang pelan tapi pasti.

Selimut hanya menutup setengah tubuhnya. Semalam ia tertidur tanpa mengenakan apa pun selain celana dalam tipis yang kini sedikit bergeser di pinggulnya. Perutnya mulai terlihat membulat dengan payudara yang semakin terlihat penuh dan berisi.

Sejak mereka benar-benar tidur seranjang sebagai suami istri, Satria memang memintanya seperti itu. Awalnya ia mengira bahwa itu memang cocok buat kondisinya yang sedang mabuk
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (21)
goodnovel comment avatar
Susy_berliana
usia baru 10 th, tp pola pikirnya udh dewasa kamu Nay........
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Ya ampun Nayla ...bikin mewek aja ,senang dan nangis karena ibun punya anak sama papanya ,biar papanya ada temannya
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Hahaha....tangan mas sat gerayangan lagi tidur usap-usap sana sini
댓글 더 보기

최신 챕터

  • KAMAR KEDUA   Bab 189. Yang Semakin Nyata

    Julian mengangguk ragu.“Prabu punya klien yang sama berulang-ulang,” kata Satria. “Perusahaan kecil. Nggak terlalu dikenal. Tapi frekuensinya tinggi. Yang sedang kita lihat ini.” Ia mengetukkan jari di atas kertas-kertas.Julian langsung menyela, “Itu biasa. Repeat client—”“Enggak,” potong Satria. Pendek dan tegas. “Bukan repeat biasa.”Ia menarik satu lembar kertas lagi. Lalu satu lagi. Menyusunnya berdampingan. “Perusahaannya beda nama. Direksinya beda orang,” lanjutnya, “tapi jalur dan caranya sama semua. Persis.”Julian menyipitkan mata. “Jalur itu sama dengan alur persetujuan semua dokumen di pelabuhan, sampai kapan bisa diberangkatkan?”Satria mengangguk, lalu terlihat ia menelan ludah pelan. “Awalnya gue kira normal, tapi … nama direksi dua perusahaan yang berusaha kita cek sama-sama tadi, ternyata orang dari lingkungan Pak De Hendra sendiri.”“Jadi … semua yang di pelabuhan itu keliatannya aja perusahaannya banyak. Tapi sebenarnya orang yang main itu-itu juga, kan?” Arga men

  • KAMAR KEDUA   Bab 188. Menyatukan Puzzle

    Tidak ada yang benar-benar bergerak beberapa detik setelah Satria tertawa.Tawa itu pendek, tapi cukup untuk menegaskan satu hal. Nama itu bukan kebetulan.Arga mengembuskan napas panjang, lalu menarik lagi satu map dari sisi kanan meja. “Kalau satu orang masih bisa dibilang lompat jauh…” gumamnya, membuka lembar demi lembar, “…gue mau lihat berapa banyak yang lompatnya bareng.”Julian mencondongkan tubuh. “Lo nemu lagi?”Tatapan Arga menyisir cepat. Jarinya berhenti di satu nama. Lalu ia membuka lembar lain. Mencari pembanding seperti yang dilakukan Satria tadi.Lalu Arga menaikkan alisnya. “Ini…,” katanya pelan.Satria menoleh. “Siapa?”Arga memutar kertas itu, menghadap teman-temannya. “Dimas Prasetyo. Direktur Keuangan PT. Gold Shipping.”“Direktur Keuangan. Oke … lalu?” Suara Satria rendah.Arga belum selesai. Ia menggeser kertas kedua. Kertas yang lebih tua dan kusam. “Dimas Prasetyo,” ulangnya, lalu mengetuk baris di bawahnya. “…mantan staf administrasi di PT. Wijaya Berlayar L

  • KAMAR KEDUA   Bab 187. Malam Sebelum Kejadian

    Sheza telentang di ranjang.Selimut yang ia tarik dengan setengah hati, hanya mampu menutup sebagian dadanya saja. Selebihnya ia berusaha mengendalikan gugup yang herannya masih saja hadir meski mereka sering bercinta.Ia tak tahu bagaimana penampilannya di bawah sana. Perutnya yang besar membuat pemandangan ke sana terhalang. Napasnya pun ikut sesak karena ia menopang berat bayi yang sudah maksimal di perutnya.Sheza hanya mengikuti apa yang dipinta Satria. Kini ia berbaring dengan sepasang kaki ditekuk dan paha terbuka. Satria sudah melepaskan pakaiannya sejak tadi. Pria itu sudah menunduk untuk merasakan bagian tubuhnya langsung. Membuat ia meringis karena gelenyar kenikmatan yang mengalir hingga ke ujung-ujung jarinya. Terutama … saat ia melihat otot lengan Satria yang terbentuk jelas. Padat dan hidup. Terlihat bergerak ketika pria itu menahan pahanya yang sesekali bergerak menutup. Satria di sana. Ia bisa melihatnya dengan jelas.Tatapan Satria tenang dan tidak terburu-buru. I

  • KAMAR KEDUA   Bab 186. Sebelum Hari Penentuan 

    Sheza menatap ibunya beberapa saat, lalu mengerling cangkir teh di depannya seraya tersenyum samar. “Bu ….” Suaranya tetap rendah dan tenang. “Aku nggak pernah mikir sejauh itu.”Bu Pur mengernyit sedikit. “Sejauh apa?”Sheza menarik napas kecil. “Menikah dengan siapa pun, aku nggak pernah kepikiran harta yang suamiku cari bakal jatuh ke siapa.”Nada suaranya tenang dan nyaris terdengar bosan dengan topik yang diutarakan ibunya.“Karena menurut aku …” ia berhenti sebentar,“…laki-laki yang bertanggung jawab pasti tahu apa yang harus dia jaga.” Kata bertanggung jawab keluar lebih pelan.Sheza diam mengambil jeda. Merasa kalau kata-katanya cukup jelas. Ia tidak mencari keributan dengan ibunya yang sengaja diundang Satria ke sana.“Satria itu lebih ramah dengan Ibu dibanding Prabu. Walaupun … hidupnya keliatannya lebih rumit.” Bu Pur menatap pintu ruang kerja Satria yang tertutup.“Mas Satria ramah bisa jadi karena belum terlalu kenal keluarga kita.” Sheza tertawa sumbang.“Jangan terlal

  • KAMAR KEDUA   Bab 185. Merasa Sendirian

    Telepon itu berakhir begitu saja.Tangannya masih memegang ponsel. Pikirannya kosong. Kekesalanmya tidak tersalurkan. Terasa bertumpuk-tumpuk di dadanya. Sampai akhirnya Satria pulang tiba-tiba bersama Nayla. Sheza bahkan belum sempat menenangkan dirinya sendiri.Di pintu, Nayla berlari ke arahnya dengan wajah cerah. Mereka sempat berpelukan sebentar dan ia mengusap pipi gadis kecil yang wajahnya seperti Satria.Sheza sudah membayangkan akan menghabiskan seharian itu bersama Nayla. Mungkin akan mengobrol soal sekolahnya, atau mereka akan menggunting dan menempel stiker seperti kemarin.Tapi belum lagi rencana itu diwujudkan, perutnya kembali terasa kencang. Entah karena ia melihat Nayla, lalu teringat soal Nadine. Atau kekhawatiran tentang bagaimana sikap ibunya di depan Satria.Sheza meringis.Detik itu, senyum Nayla langsung hilang dan Satria terlihat sedikit panik. Ya. Satria panik. Bisa dibilang baru kali itu ia melihat Satria gugup. Raut wajahnya berubah dan tangannya ikut mera

  • KAMAR KEDUA   Bab 184. Firasat Beberapa Hari Terakhir

    Entah itu bisa disebut firasat atau tidak. Atau hanya kecemasan kecil yang belakangan datang diam-diam dan menyusup di sela malam ketika kantuk justru enggan datang.Beberapa hari terakhir, Sheza tidak pernah benar-benar merasa tenang.Setelah Satria meninggalkan rumah pagi itu dalam keadaan belum sarapan, seperti yang diminta pria itu, Sheza langsung menghubungi ibunya lagi. Bukan karena panik atau benar-benar membutuhkan. Lebih seperti … berjaga-jaga.Ia ingin memastikan ada orang lain di rumah. Seperti saran Satria.Perutnya sudah sering terasa kencang. Datang dan pergi. Tidak teratur, tapi memang belum sakit. Meski cukup untuk membuatnya waspada.Sheza belum berani menyebutnya kontraksi.Hari kelahiran bayinya memang sudah sangat dekat. Bisa beberapa hari ke depan. Bisa juga … lebih cepat dari itu.Sebelum pergi, Satria selalu memeluknya lebih lama dari biasanya. Tidak pernah terburu-buru di bagian itu. Seolah waktu bisa ditahan sebentar di sana.Tangan Satria akan turun ke perutn

  • KAMAR KEDUA   Bab 132. Tak Lagi Sendirian

    Di parkiran rumah sakit, Nayla masuk ke mobil lebih dulu dan duduk masih dengan hasil cetak USG di tangannya. Sesekali ia mengangkat foto itu ke atas, lalu memandanginya seksama. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu, tapi usai memandang, ia kemudian mengangguk.“Aku duduk di belakang, y

    last update최신 업데이트 : 2026-04-03
  • KAMAR KEDUA   Bab 134. Jalur yang Dipinjam

    Papan kayu itu terangkat sepenuhnya.Debu tipis beterbangan saat Satria menyelipkan jarinya lebih dalam dan mengangkatnya hati-hati. Di bawahnya ada rongga yang dibuat rapi dan memang sengaja disiapkan untuk menyimpan sesuatu.Di dalamnya tersimpan map-map tebal yang dibungkus plastik bening, dilip

    last update최신 업데이트 : 2026-04-03
  • KAMAR KEDUA   Bab 123. Pelabuhan dan Cerita Bekal

    Pria itu menghindari tatapannya. “Ini prosedur, Pak.”Satria tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Prosedur tidak berubah dalam semalam.”“Kadang ada penyesuaian,” sahut pria itu lagi.“Penyesuaian atau intervensi?” suara Satria masih rendah, tapi setiap kata terdengar jelas.Petugas

    last update최신 업데이트 : 2026-04-02
  • KAMAR KEDUA   Bab 112. Cerita Pelabuhan Lama

    Di sisi lain ruangan, seorang pria berdiri berbicara dengan dua lelaki pelaku di dunia tambang yang usianya jauh lebih tua. Jas hitamnya pas di badan. Tidak banyak bergerak. Tidak banyak tertawa.Tapi semua orang mendengarkan saat ia bicara. Wajahnya tegas. Garis rahangnya jelas. Tatapannya tenang

    last update최신 업데이트 : 2026-03-31
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status