หน้าหลัก / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 116. Bukan Tentang Mall

แชร์

Bab 116. Bukan Tentang Mall

ผู้เขียน: juskelapa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-18 00:27:12

Kalimat itu membuat udara seperti berhenti sejenak. “Kalau Papa punya anak lagi … aku seneng,” lanjut Nayla. “Karena Papa nggak sendirian lagi. Apalagi sekarang ada Ibun.”

Sheza menahan napas. Tangannya membelai rambut Nayla yang panjang dan lurus. Rambut lurus itu diambil persis dari mamanya. Karena Sheza melihat rambut Satria saat basah sedikit ikal. Nayla masih memeluknya dengan perasaan yang jauh lebih dewasa dari anak seusianya.

Di belakang Nayla, Satria bersandar di kusen pintu teras. Tan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (25)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Nayla bisa akrab dgn ibun ,cerita dgn bebas ,beda dgn mamanya yg mgkin ga bisa bicara dgn baik
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Kasihan Nayla moment waktu mamanya marah sama papa nya di mall masih terekam jelas dan bilang itu terakhir kali nya papa nya meluk mamanya ,setelah itu dia kayak skr ini ,sebentar ke papa sebentar ke mama nya ,curhat Nayla ke ibun
goodnovel comment avatar
sirih cina
makasih njuss...sehat sll..selamat menunaikan ibadah puasa njuss
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • KAMAR KEDUA   Bab 364. Setelah Pemakaman

    Pelayat berangsur pergi. Satu per satu mobil meninggalkan area pemakaman, dan yang tersisa hanya bunyi cangkul petugas yang merapikan gundukan tanah. Julian, Arga, Vian, dan Roman menunggu di dekat gerbang, memberi Satria waktu tanpa perlu diminta.Ratri masih berdiri di tepi makam. Raka sudah digandeng Darto menjauh, duduk di bangku batu tak jauh dari sana. Anak itu memandangi gundukan tanah merah dari kejauhan. Ketika Satria mendekat, Ratri menoleh dan berusaha tersenyum, meski matanya masih sembap."Satria.""Ratri."Mereka berdiri berdampingan beberapa saat tanpa bicara. Angin bertiup pelan dan menggoyangkan kelopak-kelopak bunga di atas tanah."Terima kasih," ucap Ratri akhirnya. Suaranya serak, tapi tenang. "Kamu udah mempertemukan aku dengan Papa untuk terakhir kalinya. Kalau bukan karena kamu yang datang ke rumah itu, mungkin aku nggak akan pernah tau apa yang dilakukan Papa di hari-hari terakhirnya.""Aku cuma mengantar surat, Ratri.""Tapi kamu yang mengantar." Ratri menggel

  • KAMAR KEDUA   Bab 363. Hari Berduka Bagi Ratri

    Tentu saja semua berkomentar saat Roman akhirnya menggandeng seorang wanita di hadapan mereka. Arga bersiul, Vian menyikut istrinya sambil tertawa, dan Marina hanya menutup mulut dengan ujung jari, matanya berbinar. Rania semakin menunduk, tapi sudut bibirnya naik, dan Sheza dari ranjang melambaikan tangan memanggilnya mendekat.Satria memandangi ruangan yang penuh itu dari dekat jendela. Tawa, canda, dan suara bayi yang mulai merengek kecil. Rasanya hangat, nyaris cukup untuk menutupi hal lain yang masih menunggunya hari itu.Ia melirik jam. Pemakaman Pak Hendra dijadwalkan siang nanti. Julian, Arga, Vian, dan Roman sudah lebih dulu menawarkan diri untuk ikut, tanpa perlu ia minta.__________Ratri tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa selelah ini.Dua puluh jam perjalanan dari Jenewa, dengan transit yang terasa tak ada habisnya, meninggalkan tubuhnya seperti kain yang diperas kering. Sejak pesawat mendarat, semuanya terjadi seperti film yang diputar tanpa suara. Taksi, lorong r

  • KAMAR KEDUA   Bab 362. Sofia Rylee

    Sheza mengangguk lemah. Tangan bidan yang cekatan membuka kancing baju bersalin itu dan menyibaknya hingga dada Sheza terbuka. Kulitnya hangat dan basah oleh keringat, naik turun mengikuti napasnya yang belum sepenuhnya tenang. Dengan hati-hati bidan mengangkat bayi mungil itu dan meletakkannya telungkup tepat di antara kedua payudara ibunya, lalu menyelimuti punggung kecilnya dengan kain.Tangis bayi itu reda seketika. Pipinya menempel pada kulit Sheza, dan tubuh kecil itu bergerak pelan, menggeliat, seolah sedang mencari-cari sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu."Ya ampun…." Sheza tertawa kecil di sela tangisnya, satu tangannya refleks menopang punggung bayinya. "Mas, dia nyari.""Iya, dia tau." Satria sudah kembali ke sisi kepala ranjang. Tangannya bergerak sendiri, terlatih oleh pengalaman sebelumnya. Ia menyelipkan telapak tangannya di bawah kepala mungil itu, menyangga tengkuknya yang masih lunglai, lalu dengan jari yang lain menggeser tubuh bayinya sedikit ke bawah, sampai

  • KAMAR KEDUA   Bab 361. Yang Datang dan Yang Pergi

    Satria masih berdiri di sisi ranjang dengan tangan Pak Hendra di genggamannya, dingin dan kaku, sampai isakan Darto di ambang pintu menyadarkannya. Ia melepaskan tangan itu perlahan, merapikan selimut sebatas dada, lalu berbalik. Roman yang sejak tadi menahan orang-orang di pintu bergeser memberi jalan. Di belakangnya, Pak RT sudah mengangkat ponsel untuk menghubungi pihak-pihak yang diperlukan. Roman menepuk bahu Satria sekali, tanpa bicara.Dalam perjalanan keluar kamar, langkah Satria melambat di depan ruang makan. Ia berhenti.Meja itu bersih. Tidak ada surat perjanjian Bram Hanggodo, tidak ada koran lama yang ia lihat kemarin. Entah kapan, entah bagaimana, semuanya sudah lenyap, dimusnahkan mungkin tidak lama setelah Pak Hendra membaca surat dari Pak Salim.“Mungkin karena surat itu,” gumamnya.“Surat apa, Sat?” Roman yang menjadi langkah Satria ikut mendengar ucapan itu.“Surat Pak Salim yang gue antar ke sini semalam.”Pintu ruang kerja di ujung lorong masih terbuka. Satria mel

  • KAMAR KEDUA   Bab 360. Dua Jam

    Satria berdiri diam di koridor rumah sakit dengan ponsel masih menempel di telinga, sampai panggilan itu terputus dan hanya menyisakan suara langkah perawat yang lewat. Ia mengetik pesan dengan jari yang terasa kaku. Ia sedang di rumah sakit, Sheza sedang menjalani proses melahirkan, dan ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.Balasan Ratri datang tak lama kemudian. It's okay. Temani Sheza. Aku hubungi manajemen perumahan sekarang.Satria menatap layar itu beberapa detik sebelum menyimpan ponselnya dan kembali masuk ke ruang bersalin.Sheza berbaring miring di ranjang dengan satu tangan di atas perutnya. Wajahnya sesekali mengernyit ketika kontraksi datang, lalu mengendur lagi seperti ombak yang surut. Satria duduk di kursi di sisi ranjang, tetapi tak lama kemudian ia menumpukan siku di tepi kasur dan merebahkan kepalanya di dekat perut istrinya, seperti yang selalu ia lakukan sejak kehamilan Saga. Tangannya ikut mengusap perut itu pelan-pelan, mengikuti lengkungannya.Biasanya ia

  • KAMAR KEDUA   Bab 359. Dua Kabar dalam Satu Hari

    Pak Hendra menurunkan kertas itu perlahan, tangannya gemetar lebih hebat dari sebelumnya.Ia menatap ruangan di sekelilingnya. Foto-foto lama di dinding, lemari besi yang menyimpan rahasia puluhan tahun, kursi tempat ia sering duduk sendirian sejak Ratri dan Raka pergi.Matanya memanas. Untuk pertama kalinya sejak entah kapan terakhir, Hendra Kusuma Wijaya menangis tanpa berusaha menahannya, tanpa peduli ada yang melihat atau tidak.Ia meraih album foto yang tadi ditutupnya buru-buru, membukanya kembali. Halaman itu menunjukkan foto lama. Dua anak laki-laki berdiri di dermaga, tersenyum lebar, salah satunya mengenakan topi terlalu besar untuk kepalanya.Jarinya menyentuh foto itu pelan."Maaf, Salim," gumamnya, suaranya nyaris tidak terdengar di ruangan yang sunyi itu. "Maaf."Ia melipat surat itu kembali dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam amplop, lalu meletakkannya di atas meja, tepat di samping album foto itu. Dua benda yang menyimpan seluruh hidupnya, diletakkan berdampingan u

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status