Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 116. Bukan Tentang Mall

Share

Bab 116. Bukan Tentang Mall

Author: juskelapa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-18 00:27:12

Kalimat itu membuat udara seperti berhenti sejenak. “Kalau Papa punya anak lagi … aku seneng,” lanjut Nayla. “Karena Papa nggak sendirian lagi. Apalagi sekarang ada Ibun.”

Sheza menahan napas. Tangannya membelai rambut Nayla yang panjang dan lurus. Rambut lurus itu diambil persis dari mamanya. Karena Sheza melihat rambut Satria saat basah sedikit ikal. Nayla masih memeluknya dengan perasaan yang jauh lebih dewasa dari anak seusianya.

Di belakang Nayla, Satria bersandar di kusen pintu teras. Tan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (25)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Nayla bisa akrab dgn ibun ,cerita dgn bebas ,beda dgn mamanya yg mgkin ga bisa bicara dgn baik
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Kasihan Nayla moment waktu mamanya marah sama papa nya di mall masih terekam jelas dan bilang itu terakhir kali nya papa nya meluk mamanya ,setelah itu dia kayak skr ini ,sebentar ke papa sebentar ke mama nya ,curhat Nayla ke ibun
goodnovel comment avatar
sirih cina
makasih njuss...sehat sll..selamat menunaikan ibadah puasa njuss
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KAMAR KEDUA   Bab 248. Makan Malam Keluarga 

    Itu adalah malam pertama Tante Vonny dan Om Franky berada di kediaman keluarga Rylee. Sebuah malam yang sering dipikirkan Satria sejak lama. Ia duduk di ujung meja makan meski makan malam belum dimulai. Tatapannya menyapu seisi ruangan. Ada Sheza yang menggendong Sagara dengan Nayla yang berusaha mengenakan sebelah kaus kaki bayi itu. Ada Dio yang sedang tertawa lepas karena mendengar lelucon Om Franky. Juga Tante Vonny yang masih berada di dapur bersama Tuti karena wanita itu bersikeras membantu menyiapkan makan malam. Tatapan Satria meredup. Rasanya … hidupnya semakin lengkap.Tak lama Tante Vonny datang dengan sepiring besar ayam goreng. “Ini resep ayam goreng yang biasa Tante masak, Sat.”Satria kini ikut melongok isi piring.“Harusnya kalau baru sampai jangan langsung repot. Banyak istirahat. Udah tua,” kata Satria.Tante Vonny menepuk punggung Satria. “Tua itu tidak bisa dihindari. Yang penting masih prima.” Ia terkekeh-kekeh. “Zee, sini. Kita makan.”Sheza mendekat bersamaan d

  • KAMAR KEDUA   Bab 247. Tamu dari Manado

    Sepanjang perjalanan menuju rumah, Nayla dan Tante Vonny tak berhenti bercerita. Namun topik pembicaraan mereka hanya satu.Saga.Kadang suara Nayla terdengar begitu ceria ketika menceritakan adik laki-lakinya yang sudah hampir tiga bulan itu."Saga sekarang udah bisa senyum kalau diajak ngobrol, Oma.""Iya?""Iya. Terus kalau Ibun nyanyi, dia suka diem. Anteng, tapi nggak tidur. Kalau Papa yang gendong, Saga sering ketiduran. Entah kenapa. Heran juga.”Vonny tertawa kecil mendengarnya."Lalu Saga udah bisa apa lagi?"Nayla langsung menghitung dengan jari-jarinya."Udah bisa tengkurap miring sedikit. Terus dia kalau lapar nangis. Suaranya kenceng banget. Tapi kalau kenyang lucu. Gampang ketiduran.”Namun beberapa saat kemudian, nada suara Nayla bisa berubah pelan. "Sayangnya aku nggak bisa sering-sering lihat Saga."Tante Vonny terdiam sejenak.Satria yang sedang menyetir melirik melalui kaca spion tengah.Nayla sedang memainkan ujung sabuk pengamannya."Tapi nggak apa-apa," lanjut Na

  • KAMAR KEDUA   Bab 246. Keluarga yang Berbeda

    Satria tetap berdiri di tempatnya.Sementara Nadine terlihat semakin sulit mengendalikan nada bicaranya. "Papaku cuma minta waktu ngobrol," ucap Nadine tajam. "Kenapa sesulit itu buat kamu?""Aku lagi sibuk.""Sibuk?" Nadine tertawa pendek. "Sibuk sampai nggak bisa balas telepon? Sampai orang lain harus nungguin kamu?""Aku punya prioritas lain."Jawaban datar itu justru membuat Nadine semakin kesal."Berasa kamu aja yang punya prioritas.”Tatapan Satria tetap tenang."Dulu waktu masih jadi bagian dari keluarga ini, kamu nggak pernah seperti ini."Satria memandang Nadine beberapa detik sebelum menjawab. "Dulu aku memang masih bagian dari keluarga ini."Kalimat itu membuat wajah Nadine menegang.Tepat saat itu, suara langkah terdengar dari dalam rumah. Pak Salim muncul dengan ekspresi yang lebih tenang dibanding putrinya."Nadine."Wanita itu mendecakkan lidah pelan sebelum bergeser.Pak Salim lalu memandang Satria. "Sebentar aja," katanya. "Saya cuma mau bicara."Satria menghela napas

  • KAMAR KEDUA   Bab 245. Rencana Kedatangan Tamu

    Sebuah malam yang biasa bagi sebuah rumah tangga. Tapi bagi Satria, kehangatan sesederhana itu pernah menjadi sesuatu yang tak berani ia impikan. Kini, ia hidup di dalamnya.Malam semakin larut.Satria baru saja menyelesaikan catatan khusus mengenai kasus Prabu yang selama ini ia telusuri dengan tangannya sendiri.Beberapa poin penting ia tuliskan sebagai kesimpulan akhir. Catatan itu nantinya akan diserahkan kepada Arga sebagai peninggalan terakhir yang berkaitan dengan sahabat mereka.Setidaknya, dari pengakuan Hendra Kusuma Wijaya serta isi ponsel si kidal yang sampai detik itu masih berada di tangannya, Satria menarik satu kesimpulan yang cukup jelas.Hampir seluruh pekerjaan kasar dalam rangkaian peristiwa itu dilakukan oleh si kidal dan orang-orang yang bekerja bersamanya.Pak Hendra bahkan nyaris tidak mengenal siapa Alina atau Anton. Ia juga tidak benar-benar peduli pada klien-klien Prabu yang dananya masih tertahan karena belum sempat dikembalikan.Bagi pria setingkat Hendra K

  • KAMAR KEDUA   Bab 244. Sebagai Sepasang Orang Tua

    Sheza menyimpan sore itu sebagai sesuatu yang istimewa.Bukan semata karena keintiman yang baru saja ia bagi bersama Satria, melainkan karena untuk pertama kalinya setelah menjadi orang tua baru, mereka kembali menemukan jalan pulang satu sama lain.Di antara tangisan Saga di malam hari, jadwal menyusui, botol ASI, dan rasa lelah yang datang bergantian, Sheza sempat takut bahwa sebagian dari dirinya akan tertinggal di sana.Bahwa ia hanya akan menjadi ibu, sementara bagian dirinya sebagai seorang istri perlahan memudar.Namun sore itu membuktikan sebaliknya.Satria masih memandangnya dengan cara yang sama. Masih menginginkannya dengan ketulusan yang tak pernah pandai ia ucapkan lewat kata-kata.Dan Sheza, yang selama ini selalu merasa harus kuat untuk semua orang, mendapati dirinya bisa begitu rapuh di dekat pria itu.Sore itu tidak hanya menjadi tentang mereka sebagai suami dan istri.Tetapi juga tentang dua orang tua baru yang sedang belajar bahwa cinta tidak berakhir ketika seorang

  • KAMAR KEDUA   Bab 243. Sore yang Hangat

    Sheza sampai lupa kalau siang telah berganti menuju sore.Padahal tadinya ia ingin membicarakan banyak hal dengan Satria. Tentang perlengkapan yang baru saja datang setelah dipesannya dari aplikasi online. Tentang ruangan dekat garasi yang akan disulap menjadi Studio Sheza, studio mungil yang sudah lama ingin ia miliki. Tempat untuk memulai proyeknya sendiri. Memanfaatkan media sosial yang pengikutnya terus bertambah sejak sebelum ia menikah.Namun sore itu, semua rencana pembicaraan itu menguap begitu saja.Entah kenapa, berada di dekat Satria selalu membuat pertahanannya melemah.Ia hanya ingin berada di dekat pria itu.Satria yang tidak banyak bicara justru membuatnya semakin penasaran. Membuatnya diam-diam ingin terus diperhatikan, disentuh, dan diinginkan oleh pria itu.Saat Satria berada di rumah, Sheza ingin suaminya tidak pergi jauh-jauh darinya.Kadang ia malu mengakuinya.Bahwa ia tidak suka Satria pulang terlalu larut. Bahwa ia tidak suka ketika nama Nadine terlalu sering m

  • KAMAR KEDUA   Bab 70. Kita yang Sebenarnya

    Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.

    last updateHuling Na-update : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 72. Sepertinya Belum Yakin

    Sebenarnya … ia tidak berniat mengatakan apa pun dengan nada seperti itu pada mertuanya. Setelah ponsel berpindah tangan ke Satria, Sheza merapikan meja makan pelan-pelan. Dio kembali ke kamar dan Tuti mencuci piring dengan gerakan yang menenangkan. Suara air dan denting piring seharusnya cukup un

    last updateHuling Na-update : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 68. Bukan Perasaan Sesaat

    Sheza tak sempat keberatan. Kenikmatan yang lembut dan halus perlahan menariknya. Ia seakan lupa bahwa langkahnya sukarela menuju kamar kedua. Yang pasti, kepalanya yang melayang ringan tak sempat membuat ia kikuk saat Satria menatapnya. Ah … seharusnya ia malu, rikuh. Satria menatapnya seperti

    last updateHuling Na-update : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 59. Hari yang Tidak Direncanakan

    Sebelum mendapat telepon dari Salim Prajogo, pagi itu Satria terpukau beberapa kali. Saat ia duduk menyantap seiris roti di meja makan, Sheza keluar dari kamar. Tatapannya langsung tertuju pada satu tempat tanpa ia sadari. Wanita itu mengenakan dress tanpa lengan dengan kerah kotak berwarna kuning

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status