LOGIN“Aku memang kepikiran,” ucap Sheza pelan.“Soal Nadine?”Sheza mengangguk kecil. “Bukan karena aku takut atau apa.” Ia menarik napas. “Aku cuma capek lihat Mas harus terus berhadapan dengan hal yang sama. Mau nggak mau aku jadi berpikir kalau konflik Mas dengan Mamanya Nayla akan selalu terulang.” Ia menunduk.Satria mengangguk tanda mengerti. Ia sebenarnya bisa langsung menjawab, tetapi memilih mendengarkan Sheza sampai selesai.“Kira-kira … Mas punya cara supaya nggak terus-terusan ribut sama Mbak Nadine? Terutama setiap urusan Nayla?” Sheza membasahi bibir. “Aku … aku juga kasihan sama Nayla.”Ia terdiam sebentar.“Kadang aku merasa Nayla sebenarnya pengin ke sini, tapi dia menahan diri karena takut Papa sama Mamanya ribut.”Satria menarik napas panjang. “Maaf.”Sheza mengangkat wajah.“Maaf kalau selama ini aku bikin kamu ikut cemas.” Satria meraih tangan Sheza di atas meja. “Aku juga minta maaf karena belum cerita semuanya.”“Bukan karena Mas nggak cerita,” jawab Sheza pelan. “Ak
Dio sudah tertidur lelap.Mungkin sebagian besar kenangan anak laki-laki itu tentang Prabu kelak hanya akan tersisa dalam potongan-potongan kecil.Suara.Wajah.Cara seseorang memanggil namanya.Pelukan yang samar-samar masih tersimpan di ingatan.Sheza menarik napas.Ia tahu perasaan itu.Kehilangan seseorang yang tidak mungkin kembali.Karena itu ia bisa memahami mengapa Nadine begitu takut kehilangan Nayla.Mungkin rasa takut perempuan itu memang membuatnya mengatakan banyak hal yang menyakitkan.Mungkin luka yang belum selesai membuatnya melihat Sheza sebagai seseorang yang mengambil sesuatu darinya.Padahal Sheza sendiri tidak pernah merasa sedang mengambil apa pun.Ia hanya menjalani hidup yang datang kepadanya.Dulu ia memiliki Prabu.Ia mencintai Prabu dan bahagia bersamanya.Lalu Prabu pergi, dan hidupnya berubah.Setelah itu Satria datang.Bukan sebagai pengganti Prabu.Bukan sebagai seseorang yang sengaja ia cari.Satria hanya hadir pada waktu yang tidak pernah direncanakan
Satria masih mengingat wajah Pak Hendra saat mereka bertemu terakhir kali. Lebih dari seminggu yang lalu.Tubuh Pak Hendra terlihat semakin lemah. Cara pria itu bangkit dari kursi dengan langkah yang tidak lagi tegap. Napas yang sesekali terdengar berat. Bahkan beberapa kali ia harus menahan dada dan batuk sebelum kembali berbicara seperti tidak terjadi apa-apa.Dulu, mungkin Satria akan melihat semua itu sebagai sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan apa yang telah dilakukan Pak Hendra.Sekarang ia tidak berpikir begitu.Bukan karena penyakit bisa menggantikan hukuman atas sebuah kesalahan. Tidak.Tetapi karena Satria tiba-tiba sadar bahwa manusia tidak selamanya punya waktu untuk membayar semua kesalahannya dengan cara yang kita inginkan.Pak Hendra sudah kehilangan Ratri.Sudah kehilangan Raka.Rumah yang dulu penuh orang kini hanya menyisakan seorang lelaki tua, beberapa ruangan yang terlalu besar, dan benda-benda yang tidak lagi memiliki siapa pun untuk diberikan.Satria tidak
Satria duduk di bangku panjang dan menatap lantai.Selama ini ia selalu mengingat perceraian mereka sebagai sesuatu yang terjadi karena Nadine terlalu banyak menuntut.Itu tidak sepenuhnya salah.Tetapi juga tidak sepenuhnya benar.Nadine memang terlalu sering meminta semuanya segera.Nadine ingin rumah tangga yang sempurna. Ingin suami yang selalu ada.Ingin semuanya berjalan seperti yang ia bayangkan. Dan keinginan itu sebenarnya tidak salah.Yang salah adalah mereka tidak pernah memberi waktu kepada satu sama lain untuk menemukan cara mencapai keinginan itu.Satria mengembuskan napas.Ia ingin membangun perusahaan.Nadine ingin membangun keduanya sekaligus dan dalam jangka waktu yang ia tentukan sendiri.Keduanya sama-sama memiliki tujuan.Masalahnya, mereka tidak pernah benar-benar belajar bagaimana berjalan menuju tujuan itu bersama-sama.Satria terobsesi membangun perusahaannya dan lepas dari bayang-bayang mertua.Nadine terlalu sibuk menuntut hasil.Dan di antara keduanya, tida
Nadine memperbesar foto itu.“Katanya namanya Sagara,” ucap Nadine. Ia melihat bagaimana Nayla dan adiknya sama-sama tersenyum ke kamera. Matanya berpindah dari wajah Nayla ke wajah bayi kecil di sampingnya.“Mereka mirip sekali,” gumamnya.Kali ini tidak ada nada mencemooh dalam suaranya. Kalimat datar yang berisi pengakuan. Ia menatap foto itu sedikit lebih lama.Sagara adalah adik Nayla. Anak dari papanya. Bagian dari keluarga yang sekarang dimiliki putrinya.Dan mungkin sudah waktunya ia berhenti melihat keluarga itu sebagai sesuatu yang merebut Nayla darinya.Ia justru ingin menjadi bagian dari kehidupan Nayla dengan cara yang lebih baik.Barangkali menjadi dewasa adalah ketika ia harus berhenti mencari siapa yang harus disalahkan dan mulai berani melihat kesalahan yang menjadi bagiannya. Nadine mengunci ponselnya.Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Nayla. Untuk sekarang, itu sudah cukup. Ia tidak membutuhkan pria baru. Tidak membutuhkan pernikahan baru. Tidak membutuhkan
Nadine duduk sendirian di meja kerjanya.Sejak pagi, beberapa pekerjaan sudah menunggunya. Ada dokumen yang harus diperiksa, beberapa pesan dari tim yang belum dibalas, dan agenda yang seharusnya ia selesaikan sebelum sore.Namun sejak kembali dari pertemuannya dengan Satria minggu lalu, tidak satu pun hal yang benar-benar masuk ke pikirannya.Ia kebanyakan duduk melamun. Pikirannya terasa belum selesai menyimpulkan sesuatu. Sekarang ia sedang menatap layar komputer yang sejak tadi tidak berubah.Entah kenapa ia mulai berani menyimpulkan beberapa hal yang terjadi di masa lalu mereka.Dulu, Nadine selalu menganggap pernikahan itu sebagai sesuatu yang seharusnya berjalan karena memang sudah diputuskan.Keluarga mereka sepakat.Mereka menikah.Selesai.Sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, ia baru berani mengakui bahwa memang tidak pernah ada cinta di awalnya.Pernikahan itu adalah kesepakatan.Sebuah pernikahan bisnis yang dibungkus dengan nama keluarga, hubungan baik, dan harapan







