แชร์

Bab 110. Irama yang Sama

ผู้เขียน: juskelapa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-14 21:53:29
Satria merasakan tubuh Sheza menyambutnya sepenuhnya. Di dalam, tubuh Sheza hangat, hidup dan … berdenyut bagai nadi mereka. Satria memejamkan mata, menarik napas panjang ketika tubuh mereka menyatu lebih dalam. Sensasi itu membuat rahangnya mengeras. Kenikmatan yang sulit digambarkan menggelenyar di sekujur tubuhnya.

Ada sesuatu yang berbeda malam ini. Sheza tidak lagi ragu. Tidak lagi setengah hati.

Satria merasakannya dengan jelas.

Setiap gerakan kecil Sheza seperti menjawab dorongannya. Seti
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (35)
goodnovel comment avatar
Larose
iya,sepuluh Minggu mbak?cepet kan?hehehe
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Itu istri benaran kali bukan pura2
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Dih..bilang aja kamu cemburu kalo istri Satria hamil
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • KAMAR KEDUA   Bab 199. Malam Kegaduhan

    Beberapa detik yang lama, gudang itu kembali sunyi. Hanya suara kipas tua di langit-langit yang berputar lambat. Berderit. Berulang. Membuat suasana terasa semakin sesak.Satria berdiri di tengah lorong gudang dengan tubuh sedikit miring. Posisi yang tampak santai, padahal seluruh ototnya sudah menegang penuh.Dua pria di depannya mulai menyebar pelan.Mengurung.Si kidal tersenyum kecil sambil memainkan sesuatu di tangannya. Cable ties hitam panjang.“Masih mau nyari handphone-nya Prabu?” tanyanya santai. “Handphone-nya udah gue remukin jadi abu. Sisanya gue buang ke sungai. Lo nggak akan bisa nemuin apa-apa buat dijadiin barang bukti.”“Kalau handphone lo? Isinya apa aja? Bisa jadi barang bukti?” Satria bertanya dengan nada penasaran yang wajar. Seperti sedang bicara dengan rekannya.“Jangan mimpi bisa pegang handphone gue.” Si kidal tertawa terbahak-bahak. “Isi handphone gue udah bukan kelas teri lagi,” lanjutnya.“Nggak perlu mimpi untuk itu,” sahut Satria. Langkahnya mundur. Kin

  • KAMAR KEDUA   Bab 198. Kebusukan Terorganisir 

    Mendengar itu Satria tak bergerak. Ia mengulangi kata-kata itu dalam kepala.“Pak Salim tahu. Tapi seperti biasa Pak Salim diam.”Detak jantungnya semakin cepat. Tangannya pasti sudah sedingin es.Artinya … Pak Salim punya kesempatan besar untuk mencegah hal itu terjadi.“Jangan marah, Sat,” ucap Pak Hendra. “Kan sudah saya bilang kalau Prabu masih hidup, kamu nggak akan memiliki yang kamu inginkan.” Ia kembali tertawa pendek. Seakan sedang menertawakan cucunya.“Prabu nggak akan sepicik itu mengelola perusahaannya. Kadang kucing memang suka mempermainkan tikus meski tidak benar-benar tertarik memakannya.” Ucapan Satria membuat senyum di wajah Pak Hendra menghilang.Pak Hendra berjalan pelan kembali ke meja. “Awalnya transaksi kecil,” lanjutnya. “Satu invoice. Dua invoice. Semuanya legal di atas kertas.”“Lalu lama-lama Prabu sadar uang yang muter terlalu besar?” tebak Satria.Pak Hendra menatapnya sambil mengangguk tipis.“Prabu bukan orang bodoh,” kata Satria. “Kalian pasti membuatn

  • KAMAR KEDUA   Bab 197. Kenyataan Penting dan Pahit

    Pak Hendra mencondongkan tubuhnya pelan. Tangannya mengambil botol air mineral kaca di atas meja kecil, lalu menuangkan isinya ke gelas kertas kosong di depannya.Gerakannya tenang. Seolah mereka hanya dua orang yang sedang mengobrol bisnis biasa di tengah malam.“Kenapa?” tanya Satria akhirnya.Suaranya rendah seperti bisikan.Tapi cukup berat untuk membawa semua hal yang sejak tadi menyesakkan dadanya.Satu pertanyaan untuk semuanya.Untuk Prabu. Untuk kecelakaan itu. Untuk darah di jalan. Untuk alasan kenapa sahabatnya harus mati.“Kalau semua masih bisa dibicarakan…” rahang Satria mengeras, “…dia nggak harus mati, kan?”Ia bahkan tidak mau menyebut nama Prabu di depan pria itu. Entah kenapa rasanya kotor. Pak Hendra seharusnya berada di rumah. Duduk santai menonton televisi bersama cucu-cucunya. Bukan berdiri di tengah gudang gelap seperti ini. Kontras itu justru membuat bulu kuduk Satria terasa dingin.Pak Hendra tersenyum kecil sambil mendorong gelas air ke arah Satria. “Kita se

  • KAMAR KEDUA   Bab 196. Gudang Nomor Tujuh Belas

    Satria meninggalkan rumah sakit dengan langkah cepat.Lorong persalinan masih terang saat ia berjalan menjauh. Suara monitor detak jantung bayi dan langkah perawat masih samar terdengar di belakangnya. Tapi kepalanya sudah penuh oleh hal lain.Sheza.Gudang nomor 17.Lalu ….Obrolan bersama Arga dan Julian.“Seluruh berkas di gudang nomor 17 untuk barang bukti dan memusnahkan berkas Prabu.”“Harus punya sesuatu untuk dibarter biar mereka bisa diam.”Rahang Satria mengeras. Rambutnya yang tadi rapi sekarang sedikit berantakan karena beberapa kali ia menyugar rambutnya.“Yang dibarter itu pasti harus besar dan berharga buat si tua itu,” Satria berbisik.Pintu lift tertutup di depannya. Pantulan wajahnya muncul samar di dinding stainless. Tegang. Letih. Lalu ponselnya kembali bergetar. Kali ini pendek-pendek. Satria membuka pesan masuk.‘Saya hanya ingin memastikan semuanya tetap tenang.’‘Saya rasa kita sama-sama tidak ingin keluarga kita terganggu, bukan?’Tatapan Satria meredup.Pak De

  • KAMAR KEDUA   Bab 195. Sesuatu yang Perlu Penyelesaian

    Mobil berhenti di depan pintu IGD. Satria keluar lebih dulu. Seorang satpam langsung membantu membuka pintu penumpang.“Saya minta kursi roda buat istri saya,” kata Satria pada satpam. Tak lama satpam itu kembali dengan sebuah kursi roda. Satria membantu Sheza turun dan tangannya sigap menopang tubuh Sheza. “Pelan,” katanya.Sheza memelankan gerakannya. Napasnya sedikit lebih berat, tapi masih terkendali. Seorang perawat lalu mendekat dan mengambil alih kursi roda sementara Satria meletakkan mobil ke sisi lain halaman. “Saya kontraksi ringan,” kata Sheza pada perawat.“Baik. Kita langsung ke bagian persalinan ya, Bu.”Tak lama Satria bergabung dan tiba di sebelah Sheza. Sementara Bu Pur terlihat melambatkan langkah di belakang. Hening memperhatikan perlakuan Satria pada putrinya.Sheza didorong masuk melewati lorong rumah sakit yang terang dan dingin. Suara roda kursi menyusuri lantai mengisi keheningan di malam yang sudah larut.Beberapa saat berjalan dengan keheningan dan pikiran m

  • KAMAR KEDUA   Bab 194. Menjelang Kelahiran

    Selama kurun kehamilan Sheza, Satria memang sudah banyak membaca. Kehamilan Nadine yang sebagian dihabiskan di luar negeri dan ditangani para dokter ahli dan kehamilan IVF yang spesial membuat ia hanya mengikuti apa yang diinginkan Nadine. Yang bisa dilakukannya saat itu adalah menjaga suasana hati Nadine. Beda dengan kehamilan Sheza saat ini. Ia bisa terlibat lebih banyak. Sheza memuaskan banyak sisi kelelakiannya.Tak hanya lebih banyak mendengar apa yang ia inginkan, Sheza juga selalu bercerita apa yang dirasakan tubuhnya. Itu membuat Satria merasa hubungan mereka perlahan menjadi lebih intim.Sheza membiarkan ia mengambil alih banyak hal. Membuat sisi dominannya menjadi terpuaskan.“Kamu pakai ini aja,” kata Satria, menambah lapisan kimono panjang di bagian luar dress pendek yang ia kenakan. Kimono katun itu turut menyamarkan bentuk tubuhnya.“Memang bloody show, kan?” Sheza memastikan lagi. Saat Satria mengusap lipatan luar kelembutannya tadi, ia hanya melihat permukaan jari Sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 51. Raga yang Perlu Jeda

    Dio keluar rumah hampir berlari. Langkah kecilnya berhenti mendadak di teras ketika matanya menangkap pot-pot yang tersusun rapi. “Ibun!” serunya. “Itu…itu bunga kita!” Sheza menoleh sambil tersenyum kecil. “Iya. Ibun bawa beberapa dari rumah kita.” Dio mendekat, berjongkok di depan pot mawar ya

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-22
  • KAMAR KEDUA   Bab 47. Belum Terlalu Lampau

    “Selamat malam, Zee,” ucap Satria. “Selamat malam, Mas,” sahut Sheza, meninggalkan Satria menuju kamarnya dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia baru saja kembali duduk di tepi ranjang dengan pintu kamarnya yang tertutup dan suasana kamar yang dipenuhi suara napas Dio yang ten

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-22
  • KAMAR KEDUA   Bab 49. Atas Nama Istri

    Pagi sebelum Sheza pergi ke rumah Dio. Ponsel di nakasnya bergetar ketika subuh belum sepenuhnya pergi. Langit masih pucat, dan rumah berada dalam sunyi yang belum disentuh aktivitas. Satria terjaga lebih dulu. Ia duduk bertelanjang dada; mengusap wajah dan menyingkirkan selimut yang menutup bagi

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-22
  • KAMAR KEDUA   Bab 44. Sah

    “Sah!” Suara Julian dan Arga hampir bertabrakan. Keduanya saling menoleh sebentar, lalu mengangguk kecil dengan senyum di bibir masing-masing. “Ya. Sah,” ulang petugas KUA sambil tersenyum. Kemudian doa dilantunkan dan selama itu Sheza menunduk. Ia perlu jeda agar jemarinya tidak bergetar. Napa

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-21
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status