Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 140. Di Meja yang Sama 

Share

Bab 140. Di Meja yang Sama 

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-03-10 23:56:20

Dira masih berhenti di dekat Sheza, seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ia cerna. Matanya bergerak dari wajah Sheza ke Satria, lalu kembali menatap perut Sheza.

Ia menatapnya sekali.

Lalu sekali lagi.

Seolah-olah otaknya sedang mencoba merangkai potongan cerita yang tiba-tiba berubah terlalu cepat di hadapannya.

Tangannya terangkat menutup mulut.

“Berarti … kejadiannya nggak lama sesudah pertemuan kita bareng Jenar?” Suara Dira tiba-tiba meninggi.

Sheza m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (27)
goodnovel comment avatar
Larose
kl aku diposisi Dira jg pasti banyak pertanyaan,cowok ganteng tajir yg sering kita ghibahin bareng teman kita bahkan sempat kita cari kantornya tiba² aja jadi suami teman kita itu
goodnovel comment avatar
Moelyanach
seneng lihatnya, aku ngebayangin ada diposisi mereka.........
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
abis ini giliran jenar yang ngomel2 krna merasa terakhir diberitahu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 316. Sebuah Pemahaman 

    Nadine duduk sendirian di meja kerjanya.Sejak pagi, beberapa pekerjaan sudah menunggunya. Ada dokumen yang harus diperiksa, beberapa pesan dari tim yang belum dibalas, dan agenda yang seharusnya ia selesaikan sebelum sore.Namun sejak kembali dari pertemuannya dengan Satria minggu lalu, tidak satu pun hal yang benar-benar masuk ke pikirannya.Ia kebanyakan duduk melamun. Pikirannya terasa belum selesai menyimpulkan sesuatu. Sekarang ia sedang menatap layar komputer yang sejak tadi tidak berubah.Entah kenapa ia mulai berani menyimpulkan beberapa hal yang terjadi di masa lalu mereka.Dulu, Nadine selalu menganggap pernikahan itu sebagai sesuatu yang seharusnya berjalan karena memang sudah diputuskan.Keluarga mereka sepakat.Mereka menikah.Selesai.Sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, ia baru berani mengakui bahwa memang tidak pernah ada cinta di awalnya.Pernikahan itu adalah kesepakatan.Sebuah pernikahan bisnis yang dibungkus dengan nama keluarga, hubungan baik, dan harapan

  • KAMAR KEDUA   Bab 315. Ketika Semua Harus Selesai

    Untuk beberapa saat, Pak Hendra masih memegang map itu. Sebuah nama yang juga harus berakhir.Sebenarnya, orang itu bukan siapa-siapa baginya. Bukan menantu atau bahkan kenalan yang cukup dekat. Namun keberanian dan kelancangan orang itu telah menyentuh egonya, sekaligus melukai harga dirinya. Sebagai seseorang yang sudah lama berkuasa dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya, ia tidak terbiasa membiarkan seseorang mempermainkannya. Ia lalu mencampakkan berkas yang telah dikumpulkannya setiap harus berurusan dengan orang yang harus disingkirkannya ke dalam api yang menyala. “Sudah selesai,” bisiknya.Tangannya kemudian beralih pada berkas terakhir.Ia masih duduk di kursi recliner dan beberapa saat menatap isi tong. Memastikan api melahap dan menghancurkan tiap lembarnya. Lalu tangannya meraih map paling akhir. Map yang paling lama ia simpan. Bahkan sudah hampir terlupa sampai Satria muncul di rumahnya siang itu. Bagian sudut-sudutnya mulai melengkung dimakan usia. Tint

  • KAMAR KEDUA   Bab 314. Seribu Rupa

    “Kalau suatu hari Bram ditemukan,” kata Satria perlahan, “dan dia bisa menjelaskan apa yang terjadi sebelum kapal Satria Elang berangkat ... nama Pak Salim mungkin bisa dibersihkan.”Pak Hendra tidak menjawab.Satria menunggu.Pria tua itu justru mengambil cangkir dan meminumnya sedikit.“Kalau dia ditemukan,” ulang Satria.Pak Hendra meletakkan cangkir seraya menghela napas. “Bram tidak akan ditemukan.”Satria menatapnya. Rahangnya mengeras. “Bapak yakin?”“Sudah terlalu lama,” ucap Pak Hendra. “Orang bisa tetap hidup puluhan tahun,” sahut Satria. Pak Hendra mengangguk. “Tapi ada orang-orang yang lebih baik tetap menjadi bagian dari masa lalu.”Satria tidak mengatakan apa-apa lagi.Ia menatap pria di hadapannya beberapa detik. “Kalau dia ditemukan,” ulang Satria, “Bapak kira apa yang akan dia katakan?”Pak Hendra menatapnya. “Saya nggak tahu.”“Mungkin tentang apa yang terjadi sebelum Satria Elang berangkat?”“Mungkin.”Satria mengangguk pelan. “Kalau gitu, seharusnya Bapak berhara

  • KAMAR KEDUA   Bab 313. Yang Tidak Pernah Ditemukan 

    Satria mengangguk samar. Langsung mengerti ke mana arah pembicaraan itu.“Saya nggak mau pura-pura nggak tahu, Pak.”Pak Hendra menatapnya.“Saya tau Ratri dan Raka udah pergi ke Swiss. Sebelum berangkat, Ratri memang cerita ke saya.”Pak Hendra tetap diam.Satria menarik napas pendek. “Dan saya rasa kita juga nggak perlu pura-pura nggak tau apa yang terjadi belakangan ini.”Tatapan Pak Hendra tidak berubah.Satria menatapnya beberapa saat. “Kita sama-sama tau kenapa Ratri pergi, kan, Pak?” Ucapannya seakan memaksa Pak Hendra untuk kembali mengingat pembicaraan panjang mereka di ruangan private restoran.Pak Hendra lagi-lagi tidak menjawab. Hanya tatapan matanya saja yang bergerak gelisah. Satria lalu mengangguk kecil. Ia tidak membutuhkan jawaban lebih jauh.Beberapa detik kemudian, pandangannya beralih ke arah ruang makan. Teringat pada boarding pass yang tadi terhampar di meja.“Bapak nggak menyusul mereka?” tanya Satria dengan suara pelan.Pak Hendra yang tadi sempat mengalihkan

  • KAMAR KEDUA   Bab 312. Seorang Orangtua 

    Satria berada di pelabuhan sejak sebelum matahari terlalu tinggi.Ia berdiri di dekat meja kerja sementara beberapa lembar manifest terbuka di hadapannya. Di luar ruangan, suara mesin kapal bercampur dengan bunyi rantai dan aktivitas pekerja mulai memenuhi area dermaga.“Yang ini belum lengkap.” Satria menunjuk bagian bawah salah satu lembar manifest.Pria di hadapannya segera mendekat. “Bagian pengirim sudah ada, Pak. Tinggal nomor dokumen pengangkut.”“Jangan diberangkatkan sebelum lengkap,” ujar Satria lagi. “Baik, Pak.”Satria menggeser lembar berikutnya. “Jumlah muatan di manifest ini beda dengan loading report.”Pria itu kembali melihat dokumen.“Selisih dua puluh tujuh ton, Pak.”“Kenapa?” Mata Satria masih mengawasi angka demi angka. “Masih saya cek ke tim lapangan,” sahut pria di depannya. “Saya tunggu sekarang. Kapal tinggal menunggu clearance.”“Baik, Pak.”Satria mengangguk lalu kembali memeriksa dokumen lain.Seharian itu ia sudah mengecek angka, nama barang, pemilik m

  • KAMAR KEDUA   Bab 311. Yang Tetap Ada

    Beberapa saat sebelumnya, setelah Satria pergi Sheza masih berdiri di dekat pintu. Ia masih berdiri di sana sampai mobil suaminya menghilang dari pandangan.Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak percakapan mereka tadi malam. Ia sudah mencoba meyakinkan dirinya bahwa Satria akan baik-baik saja, bahwa Nadine tidak akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap Nayla.Tetapi semakin ia mencoba tidak memikirkannya, semakin pikirannya kembali ke sana.Sheza melihat jam.Sudah lewat pukul sembilan.Ia berjalan menuju kamar Saga. Bayi itu masih terjaga ketika Sheza masuk. Beberapa menit kemudian ia menggendongnya dan mencoba menyusui seperti biasanya.Namun Saga hanya mengisap sebentar sebelum melepaskan mulutnya.Sheza mengernyit.Ia mencoba lagi.Tidak banyak yang keluar.Sejak kehamilannya memasuki bulan keempat, ASI-nya memang semakin sedikit. Kadang masih keluar, tetapi tidak lagi cukup untuk membuat Saga kenyang seperti sebelumnya. Akhirnya Nila menyiapkan susu formula untuknya.Mal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status