เข้าสู่ระบบRumah terasa lebih hidup daripada beberapa minggu sebelumnya. Tidak ada suara muntah dari kamar mandi—yang biasa disertai langkah tergesa-gesa seseorang yang panik mencari obat atau air putih.Kehamilan Sheza sudah memasuki bulan ketiga.Tubuhnya memang belum sepenuhnya kembali seperti sebelum hamil, tetapi pagi-pagi seperti ini mulai terasa lebih mudah. Mual masih sesekali datang, terutama kalau perutnya terlalu kosong, tetapi tidak lagi sampai membuatnya menghabiskan separuh hari di tempat tidur.Pagi ini bahkan Sheza sudah mandi, merapikan rambut, dan mengenakan pakaian rumah yang nyaman dan cantik.Ia sedang sibuk di ruangan yang belakangan sudah ditempel tulisan manis ‘Studio Sheza’. Ruangan kosong di belakang garasi dan berbatasan langsung dengan ruang keluarga—yang sekarang semakin terlihat lengkap dan benar-benar menyerupai studio berkarya. Ruangan kecil itu perlahan berubah menjadi tempat kerjanya. Ada meja, rak penyimpanan, kamera, tripod, beberapa lampu, serta berbagai pro
“Papa jatuh kasihan kepada Satria.” Suara Salim terdengar lebih pelan. “Waktu itu Papa melihat dia dan terpikir anak sendiri. Papa cuma berpikir … bagaimana kalau kamu yang berada di posisi dia?”“Papa nggak kasihan sama Satria.”Salim mengangkat wajah.“Papa cuma mementingkan diri Papa sendiri.”“Nadine!”Bentakan Salim membuat ruangan itu seketika terasa lebih sempit.“Bukan Papa yang meledakkan kapal itu!” suaranya meninggi. “Bukan Papa yang membuat kapal orang tua Satria mengangkut bahan kimia berbahaya dengan manifest palsu!”“Harusnya Papa cari Bram Hanggodo, bajingan itu!”“Sudah!” Salim menghantam telapak tangannya ke atas meja. “Sudah, Nadine!”Napasnya memburu.“Papa sudah cari dia. Papa bayar banyak orang untuk mencarinya. Kalau bajingan itu ditemukan, KSD Holding nggak perlu tutup!” Salim menunjuk dokumen di atas meja. “Kamu tahu apa yang akan terjadi kalau kasus itu terus berjalan? Papa bisa ikut ditahan. Kamu mau jadi anak seorang narapidana?”Nadine terdiam.“Kamu pikir
Untuk sesaat Nadine menatap Salim tanpa berkedip. Ia membasahi bibirnya sedikit gugup seraya mengangguk pelan. “Dan Papa pikir aku akan mudah percaya gitu aja?”Salim menggeleng. “Papa nggak pernah berpikir akan dengan mudah meyakinkan kamu.” Terdengar helaan napas panjang. “Meski Papa tau hari ini pasti akan datang.”Salim kemudian berdiri dan pergi ke lemari besi yang berdiri kokoh di sisi lain ruangan. Itu adalah lemari berkasnya. Setelah memasukkan angka kombinasi, ia kembali mendekati meja dan meletakkan clear holder.Nadine mengambil benda itu dan membukanya. Isinya bukan berkas melainkan kliping berita dari koran. Untuk sesaat lamanya ia membalik-balik tiap lembar dan membaca tanggalnya. Semua kliping itu berisikan berita kapal MV Satria Elang yang meledak. Nadine membaca lebih cermat dan di bagian akhir menemukan seorang manajer yang kemudian dijadikan tersangka dan raib sejak paska ledakan.“Dia memang menghilang. Mungkin pelariannya terlalu bagus sampai sekarang nggak perna
“Nggak nyaman …,” ulang Nadine pelan. Tatapannya tak bergeser sedikit pun dari sang ayah yang juga sedang menatapnya. Anehnya … tatapan pria yang sangat dekat dengannya itu tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.Bukan … bukan. Itu bukan sorot takut. Seorang Salim Prajogo tidak sedang memandangnya dengan sorot takut. Itu sorot sedih. Atau … itu sorot menyerah?“Kenapa Papa nggak nyaman menyebut nama itu?” Nadine tidak mengalihkan pandangan. “Karena itu perusahaan yang sudah lama nggak ada?”Salim mengembuskan napas. “Bukan cuma itu.”“Lalu apa?”Salim menyandarkan tubuhnya ke kursi.Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan. “Kamu sudah bertemu siapa?”Nadine mengerutkan kening. “Kenapa tanya begitu?”“Karena kamu nggak mungkin tiba-tiba bertanya tentang PT. SEpelayaran kalau nggak ada yang memberitahumu sesuatu.”Nadine tersenyum tipis. “Nggak harus ketemu siapa-siapa. Bisa aja aku ketemunya berkas, bukan ketemu orang.”“Kalau kamu nggak bisa menyebut n
Nadine biasanya pulang lebih lama dari orang-orang di rumahnya.Kadang ia baru tiba di rumah sekitar pukul sepuluh malam. Kalau ingin menghindari kemacetan, paling cepat ia bisa sampai sekitar pukul delapan. Namun yang jelas, hampir tidak pernah Nadine sudah berada di rumah pada sore hari.Ia juga tidak menggunakan sopir.Bukan karena tidak mampu atau tidak memiliki orang yang bisa mengantarnya. Nadine hanya lebih suka menyetir sendiri. Ia merasa lebih bebas berbicara melalui telepon tanpa khawatir ada orang lain yang mendengarkan percakapannya.Entah kenapa, ia memang tidak pernah nyaman jika ada sopir yang seakan-akan bisa selalu menyimak apa yang sedang dibicarakannya. Selama masih bisa menyetir sendiri, Nadine akan melakukannya.Karena sudah berjanji akan berbicara dengan papanya, Nadine sengaja pulang lebih cepat. Bahkan ketika tiba di rumah, hari masih menyisakan cahaya sore.Alih-alih langsung menuju kamarnya, Nadine justru melangkah ke kamar Nayla.Biasanya ia hanya membuka p
“Begini, Bu. Kami sebenarnya ingin mengatur pertemuan dengan Ibu terkait progres proyek. Sekaligus memperkenalkan arsitek yang akan melanjutkan pekerjaan—”“Saya lagi nggak bisa.” Nadanya langsung berubah ketus.Perempuan di seberang sempat diam. “Maaf, Bu?”“Kalau soal proyek itu, hubungi sekretaris saya saja.”“Tapi, Bu, kami ingin—”“Saya bilang, hubungi sekretaris saya. Dia yang akan mengatur waktu pertemuan. Nggak pernah ke saya langsung karena saya juga nggak tau kapan waktu saya kosong.” Nadine menekan pelipisnya. “Sekarang saya sedang ada urusan.”“Baik, Bu. Tapi kalau memungkinkan, kami berharap—”“Sekretaris saya akan mengatur jadwalnya,” ulang Nadine. Kali ini suaranya lebih tegas. “Terima kasih.” Ia langsung memutus panggilan dan meletakkan ponsel di pangkuan.“Proyek segala macam. Kenapa harus dilimpahkan ke aku lagi, sih,” gerutunya.Beberapa detik kemudian, Nadine menghela napas. Ia tahu perempuan tadi tidak salah apa-apa. Hanya saja hari ini bukan hari yang tepat untuk







